MENCARI HIKMAH

SELALU ADA HIKMAH DI BALIK PERISTIWA

Si Bungsu yang Teraniaya

Biasanya, menjadi anak bungsu merupakan anugerah. Kenapa demikian? Anak bungsu umumnya menjadi anak kesayangan orang tuanya. Apapun yang dimaui, pasti dipenuhi. Apapun keinginannya, pasti dikabulkan. Bahkan, selain dari orang tua, si bungsu juga biasanya menjadi muara kasih sayang kakak-kakak yang telah terlahir dahulu. Intinya, menjadi anak bungsu adalah jaminan kebahagiaan.

Kenyataannya, tidak selamanya menjadi anak bungsu selalu menyenangkan. Bertolak belakang dari pandangan umum bahwa menjadi anak bungsu merupakan anugerah, sebenarnya terlahir paling akhir bisa jadi merupakan sebuah bencana. Kalo Anda tidak percaya, baiklah lanjutkan membaca postingan ini karena tulisan semacam ini hanya terdapat di sini. Kalo ada di tempat lain, berarti itu postingan copy paste dari blog ini (mode narsis ON :D)

Baiklah, saya tidak akan berpanjang lebar lagi. Akan saya upayakan untuk menjelaskan pendapat saya secara ringkas, padat, dan jelas. AKan tetapi, sebelumnya harus diingat bahwa yang akan saya tulis ini tidak berlaku umum. Ya seperti kata pepatah, di setiap teori pasti ada pengecualian.

Well, tapi saya kok capek banget ya...? Yawdah dech, bahasan tentang si bungsu yang teraniaya ini akan saya lanjutkan kapan-kapan saja biar lebih komprehensif. Ditunggu ya....

(Selang tiga hari kemudian)

Huff, rasanya dua hari sudah cukup bagi saya beristirahat. Kini tiba saatnya saya melanjutkan dan menyelesaikan tulisan ini. Siapa tahu ada yang sudah tidak sabar menunggu. (Narsis lagi... hehe).

Sebenarnya, banyak alasan yang saya miliki sehingga saya berkesimpulan bahwa menjadi anak bungsu tidaklah menyenangkan akan tetapi justru menyakitkan. Namun, di posting kali ini saya tidak akan mengemukakan semua alasan yang saya miliki. Dua alasan saja saya rasa sudah akan bisa meyakinkan Anda bahwa memang menjadi anak bungsu tidaklah semenyenangkan seperti yang Anda bayangkan selama ini.

Pertama, dalam sebuah keluarga dengan beberapa anak, anak bungsu pasti akan mendapatkan satu stigma yang tidak menyenangkan yakni selamanya ia akan dianggap kekanak-kanakan atau tidak dewasa. Stigma ini akan terus melekat pada anak bungsu mungkin hingga ajal menjemputnya (hihihi, tragis banget bahasanya. Ngeri sendiri saya membaca kalimat ini).

Lho, emangnya mendapat stigma kekanak-kanakan akan membuat hidup jadi tidak menyenangkan? Ya iya lah... stigma kekanak-kanakan akan membuat hidup kita jadi sangaaat tidak menyenangkan. Kenapa? Karena stigma ini akan menjadi awal dan alasan tindakan dan perlakuan tidak menyenangkan yang akan diterima si anak di masa yang akan datang baik dari keluarga sendiri (termasuk di dalamnya orang tua dan kakak-kakak) maupun dari orang lain.

Kok bisa demikian? Ya bisa lah... Sekarang coba Anda bayangkan. Jika Anda menganggap anak Anda atau adik Anda masih anak-anak, bagaimana perlakuan Anda pada anak atau adik Anda itu? Saya percaya, jawaban yang pertama kali akan Anda lontarkan adalah "saya akan menyayanginya sepenuh hati". Bagus, memang seorang anak kecil sangat membutuhkan kasih sayang orang tua dan kakak-kakaknya. Terus, kalo anak atau adik yang Anda anggap masih kecil itu punya keinginan yang berbeda dengan Anda, apa yang Anda lakukan? Kok diem? Bingung ya? Ayolah, ungkapkan saja isi pikiran Anda dengan jujur. Apa yang akan Anda lakukan jika kondisinya demikian?

Nah, itu dia. Itulah penjelasannya kenapa mendapat stigma tak pernah dewasa tidak menyenangkan. Karena dengan stigma demikian, hakikatnya sebagian atau lebih dari kemerdekaan seorang anak sudah terenggut. Kok saya bisa berkata demikian? Iya, karena saya yakin saat seorang anak atau adik yang Anda anggap masih kanak-kanak memiliki keinginan yang berbeda dari keinginan Anda, maka yang akan Anda lakukan adalah berusaha dengan berbagai cara agar si anak mau mengubah keinginannya dan menuruti keinginan Anda. Iya kan? Kenapa demikian? Karena saat Anda menganggap anak atau adik Anda masih belum dewasa, maka Anda pasti akan beranggapan bahwa dia belum bisa memilah antara yang baik dan buruk. Akibatnya, saat pilihan anak berbeda dengan pilihan Anda maka Anda pasti akan menyalahkan pilihannya dan membenarkan pilihan Anda. "Kan dia masih kanak-kanak, sedangkan aku sudah mengenyam asam garam kehidupan". Pasti begitu gumama Anda dalam hati. Benar begitu tho? Ayo ngaku...

Kedua, ada satu peraturan tak tertulis di masyarakat (khususnya masyarakat daerah tertentu. terutama di daerah K***s, hehehehe) bahwa anak bungsu berkewajiban menjaga orang tua. Nah, peraturan yang mewajibkan ini sangat-sangat-sangat tidak menyenangkan.

"Lho, ini alasan yang tidak bisa diterima. Ini alasan yang sama sekali tidak ada landasannya. Apapun alasannya, menjaga orang tua harus dilakukan dengan penuh keihlasan, tidak boleh menggerutu atau mengeluh karena orang tua juga telah menjaga kita saat kita masih bayi. Jadi menjaga orang tua khususnya saat mereka sudah tua memang sebuah kewajiban sekaligus cara kita membalas kebaikan mereka".

Saya yakin kebanyakan dari Anda akan menggerutu demikian dalam hati saat membaca alasan kedua yang saya kemukakan. Baiklah, saya tidak akan melarang Anda menggerutu. Tapi, sebelum Anda melanjutkan gerutuan, tolong dengarkan dulu penjelasan saya kenapa saya berpendapat demikian.

Begini, memang benar menjaga orang tua saat mereka sudah tua adalah salah satu cara untuk membalas kebaikan mereka pada kita. Saya setuju seratus persen dengan ini. Bahkan, saya berani menyatakan bahwa kebaikan yang kita lakukan dengan cara melayani mereka saat mereka sudah tua masih lah jauh dari kebaikan yang mereka lakukan pada kita. Jika seumur hidup pun kita mengabdi dan melayani mereka, itu belum seimbang dengan kebaikan yang telah mereka lakukan pada kita. (Puas???)

Jadi, saya tidak mempersoalkan kewajiban menjaga orang tua ini. Fokus saya adalah aturan tak tertulis tentang kewajiban ini yang seolah-olah 90 persennya hanya dibebankan pada anak bungsu. Ini yang tidak adil. Ini yang dzalim. Kok bisa? Iya, karena jelas bagaimanapun ini bukan hanya kewajiban anak bungsu. Menjaga dan melayani orang tua adalah hak dan kewajiban semua anak termasuk anak sulung, anak tengah, anak setengah tengah dan anak bungsu. Maka, membebankan kewajiban ini hanya pada anak bungsu, apalagi dengan alasan agama jelas merupakan tindakan tak adil yang merampas hak-hak anak bungsu.

Masih bingung dengan alasan kedua ini? Baiklah, akan saya perjelas dengan contoh. Bayangkan, Anda adalah anak sulung, atau anak kedua, atau anak ketiga (pokoknya jangan anak bungsu) dari sebuah keluarga. Bayangkan, suatu saat Anda jatuh cinta pada seseorang yang kebetulan berasal dari luar kota. Anda sangat mencintai dia dan diapun mencintai Anda. Dia mau menikah dengan Anda akan tetapi tidak bisa tinggal bersama dengan orang tua Anda karena pekerjaannya di luar kota. Nah, pada saat demikian apa yang akan Anda lakukan? Saya yakin Anda akan menerima syarat itu dan melanjutkan niat Anda untuk menikah dengan orang yang Anda cintai itu meski setelah menikah Anda berdua tidak lagi harus bersama dengan Orang tua Anda. Kenapa Anda berani mengambil keputusan semacam ini? Lagi-lagi saya yakin karena Anda merasa tidak berkewajiban untuk menjaga orang tua. "Toh, masih ada adik saya". Saya yakin Anda berpikir demikian. AYo ngaku.....

Sekarang, bayangkan Anda dan adik-adik Anda selain si bungsu sudah menikah dan keluar dari rumah orang tua (meskipun tidak keluar kota). Suatu ketika adik bungsu Anda jatuh cinta pada seseorang yang juga berasal dari luar kota dan kerjanya pun di luar kota. Adik Anda sangat mencintai orang itu dan begitu pula sebaliknya. Dan mereka pun siap untuk menikah. Nah, sebagai kakak, apa yang akan Anda lakukan dalam keadaan demikian? Apakah Anda akan dengan serta merta menyetujui pilihan Adik bungsu Anda itu?

Nah, iya kan? Anda pasti tidak akan begitu saja menyetujui pilihan adik bungsu Anda. Jika Anda seorang yang ekstrim, bisa jadi Anda akan secara mentah-mentah menolak pilihan Adik Anda itu. Anda mungkin akan berargumen ini itu untuk menguatkan penolakan Anda dan agar terdengar rasional. Padahal, saya yakin di dalam hati Anda takut jika adik Anda jadi menikah dengan orang luar kota, maka bisa jadi dia ikut keluar kota. "Kalau demikian, siapa yang akan menjaga orang tua". Pasti, Anda berpikir demikian. Ngaku-ngaku.... (hehehehe)

Pertanyaannya, jika Anda boleh memutuskan untuk menikah dengan seseorang dan kemudian meninggalkan rumah, kenapa Anda melarang adik bungsu Anda untuk melakukan hal yang sama? "Lho, dia akan anak bungsu. Dia harus menjaga orang tua" Nah, ketahuan kan alasan Anda. Berarti benar kan bahwa menjadi anak bungsu tidak menyenangkan karena ia dibebani oleh kakak-kakak dan masyarakat sekitarnya untuk memikul tanggung jawab menjaga orang tua.

Udah ah, cukup segitu dulu postingan kali ini. Kalo, tidak sepakat dengan pendapat saya, silakan kasih komentar.... Bye....

Lanjut...

Sedikit tentang Maryamah Karpov

Ini bukan review buku atau kritik sastra apalagi spoiler. Ini hanyalah kilasan-kilasan gagasan yang muncul di kepala saya dan ingin segera dicurahkan. Dan kebetulan pemicu gagasan ini adalah buku terakhir Pak Cik Andrea Hirata yang tentu saja berjudul Maryamah Karpov.

Di posting terdahulu kala saya pernah menyebutkan bahwa sebenarnya buku terakhir dari tetralogi laskar pelangi akan dirilis pada bulan April yang lalu. Ya maaf. Dulu saya berani menulis demikian bukan tanpa alasan. Waktu itu kabar yang beredar memang begitu. Bahkan, saat saya bertandang ke rumah mayanya Pak Cik Andrea Hirata, informasi valid tentang rilis buku Maryamah Karpov ya memang pada bulan April. Tapi, ternyata dan faktanya buku ini baru rilis akhir bulan November. Ya bukan salah saya dong. Tapi salahnya penerbit, ngapain ditunda-tunda. Tapi, meski ditunda rilisnya, Anda tidak akan kecewa kok kalo beli buku ini meski dibanding tiga buku sebelumnya harga buku terakhir ini terbilang mahal.

Baiklah, seperti yang sudah saya bilang di atas, tulisan ini bukanlah review buku Maryamah Karpov. Sekali lagi saya tegaskan: Ini bukan review! Posting ini hanya akan mengulas tentang judul yang digunakan yakni "Maryamah Karpov".

Jujur saja, ketika dulu membeli tiga buku lainnya, saya berpikir dalam hati kenapa buku terakhir diberi judul "Maryamah Karpov". Luar biasa, baru judulnya saja sudah membuat saya penasaran. Kok penasaran? Ya iyalah. Gimana gak penasaran kalo ada nama aneh samacam itu. Coba bayangkan: MARYAMAH KARPOV. Apakah mendengar nama ini telinga Anda tidak merasakan apa-apa? Kalo tidak mungkin memang Anda yang kurang peka. Sebab, Maryamah Karpov memang bukanlah nama khas Indonesia. Kalo Maryamah si emang Indonesia banget. Tapi Karpov? Setahu saya ini nama Rusia. Tahu kan Grand Master catur "Anatoly Karpov"?. Emang nama yang aneh kan? Jadi, boleh dong kalo saya penasaran. Pasti Anda juga iya.

Nah, jujur lagi, dulu saya menebak-nebak bahwa Maryamah Karpov ini adalah A Ling. Ya secara di edensor kan Ikal begitu rupa mencari-cari keberadaan A Ling sampai melintasi Eropa dan Afrika. Masih ingatkan bagaimana di Rusia Ikal begitu kuatir karena mendengar A Ling menjadi favorit di sebuah rumah bordil yang ternyata adalah merek obat kuat? Ketika membaca bagian ini saya menduga bahwa A Ling memang berada di Rusia dan karena satu dan lain alasan mengganti namanya menjadi Maryamah Karpov.

Ternyata saya telah tertipu dan ditipu oleh Pak Cik Andrea karena ternyata judul Maryamah Karpov tidak ada kaitannya sama sekali dengan petualangannya di Eropa. Ternyata (lagi) novel ini dijuduli demikian karena fokus kelucuannya adalah seputar nama. Iya, Anda akan dibuat tertawa terbahak-bahak hanya dengan membaca nama-nama tokoh yang diceritakan di novel ini. Jangan tanya kenapa. Karena saya tidak akan menjawabnya. Biar tahu, silakan Anda pergi ke toko buku dan siapkan uang 80 ribu rupiah. Setelah itu bacalah dengan sabar. Niscaya Anda akan tahu apa yang saya maksudkan. Selamat membaca.

Lanjut...

Disclaimer

Terpaksa saya mengikuti jejak salah satu rekan saya untuk membuat disclaimer di blog ini. Saya katakan terpaksa karena memang sebetulnya saya tidak ingin melakukannya (Ya iya lah, kalo ingin ya bukan terpaksa namanya). Sebetulnya saya masih ingin terus menjadi pencari hikmah. Ingin rasanya tiap hari saya menuliskan petualangan saya di rimba kehidupan ini dan berbagi hikmah dari setiap peristiwa dengan Anda semua. Jujur, saya merasa sangat bahagia bisa berbagi sesuatu (hikmah - red) yang mungkin bagi sebagian orang tidak kelihatan. Memang benar, kita akan lebih merasa bahagia saat kita memberi, bukannya menerima (wuih kok masih sok berhikmah-hikmah gini). Namun, apa daya perjalanan hidup memang tidaklah mudah. Banyak onak dan duri di kanan kiri. Kalo digambarkan, hidup ini lebih layak disamakan dengan jalan menanjak, berkelak-kelok, dan penuh dengan jurang terjal di kanan kiri. Itu hidup saya. Tapi saya yakin hidup Anda pun tidak jauh berbeda.

Nah, karena pengalaman hidup yang menanjak dan penuh onak dan duri itulah akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi menjadi pencari hikmah. Apakah Anda bertanya mengapa? Hmm, jawabannya singkat. Karena, meskipun saya bisa mengambil hikmah dari segala yang terjadi pada diri saya, toh hikmah itu tidak menjadikan saya lebih bijak. Kok bisa? Iya bisa lah, masak ya bisa donk. Karena sejauh ini saya hanya rajin mencari hikmah tanpa mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Misalnya, saya tahu bahwa Tuhan itu maha adil. Saya meyakini itu. Tiap kali ada hal-hal tidak menyenangkan yang menimpa saya, saya selalu mengacu pada hikmah di atas yakni bahwa tuhan maha adil. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa meski dengan pengakuan yang begitu tulus bahwa Tuhan maha Adil, toh tiap kali tertimpa masalah hati masih saya masih selalu bertanya-tanya "Kenapa Tuhan tidak adil? Kenapa tuhan tidak adil pada hambaNya yang mengakui bahwa Dia maha adil?" Begitulah. Jadi, pengetahuan saya akan keadilan tuhan itu masih hanya sebatas kata-kata. Dan karena pemahaman saya masih sebatas kata-kata itulah sehingga saya bisa membaginya dengan Anda.

Karena itulah mulai sekarang saya akan berhenti menjadi pencari hikmah. Di blog ini saya tidak lagi akan menuliskan pengalaman-pengalaman dengan hikmah-hikmah eksplisit. Sebaliknya, blog ini mulai saat ini hanya menjadi menjadi tempat saya menumpahkan isi kepala. Saya tidak mau lagi melabeli apapun yang saya tuliskan di sini dengan hikmah. Pokoknya apapun yang terlintas di kepala saya, dan saya berhasrat untuk menuliskannya, maka di blog inilah curahan isi kepala saya akan berlabuh.

Jadi, bagi Anda pengunjung setia blog ini (emang ada ya...?) mulai sekarang jangan berharap untuk mendapati postingan-postingan sok bijak. Saya jamin postingan-postingan semacam itu tidak akan lagi Anda dapati di sini karena mulai saat ini blog ini akan berubah. Ya, saya tidak mau lagi sok bijak. Di sini, saya akan menjadi diri sendiri seutuhnya. Kalo saya merasakan hidup saya berat dan saya ingin mengeluh, maka yang akan akan jumpai di sini adalah postingan keluhan. Kalo saya sedang marah pada keadaan ataupun pada diri sendiri, saya akan meluapkannya di sini. Begitu dech.....

Lanjut...

Doa Yang Aneh, Isn't It?

Barusan iseng-iseng blogwalking. Ketemu satu blog yang lagi "jengkel" sama Hanung Bramantyo lantaran film besutan terbarunya yakni "Doa Yang Mengancam" dianggap sama sekali tidak bagus. Eitss, tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini secara saya terlalu sering dikecewakan sama film-film Indonesia. Jadi, gak perlulah saya membahas film Indonesia di sini, apalagi menjelek-jelekkan. Kasian kan, udah jelek dijelek-jelekin.

Walah, kok jadi ngalur ngidul gini. Hmm, intinya gini, dari hasil blogwalking saya itu, ada satu doa yang menurut saya emosional tapi lucu. Selengkapnya doanya di bawah ini:

Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah… Tapi kalau bukan jodohku, Jodohkanlah….

Jika dia tidak berjodoh denganku, maka jadikanlah kami jodoh… Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, selain aku…

Kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, biarinkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku…

Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh, jodohkanlah kami kembali…

Kalau dia jodoh orang lain, putuskanlah! Jodohkanlah dengan ku….

Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar orang itu ketemu jodoh dengan yang lain dan kemudian Jodohkan kembali dia denganku…

Amin

Maaf, warnanya sengaja saya bikin merah, biar tambah sangar. Oya, gimana menurut Anda? Lucu kan? Memang lucu. Tapi, kalau Anda sangat mencintai seseorang, doa semacam itu jadi doa yang wajar. Nggak percaya? Baiklah, coba bayangkan Anda telah membina hubungan asmara dalam waktu yang sangat lama. Saat Anda siap untuk hidup bersama kekasih eh terjadi masalah. Ya masalahnya sih bisa macem-macem. Bisa jadi calon mertua menolak Anda, atau mereka tidak merestui, atau hubungan Anda tidak disetujui, atau oleh orang tuanya kekasih Anda dijodohkan sama orang lain (sama gak ya?). Nah, pada saat seperti itu pasti doa di atas akan menjadi doa yang wajar bagi Anda.

Yach, akhirnya saya serahkan semua pada Anda. Mau memanjatkan doa seperti di atas atau cukup doa seperti ini:

"Ya Allah, Engkau lah dzat yang maha mengetahui apa yang terbaik bagi hambaMu. Maka, tunjukkanlah kami jalan keluar terbaik atas persoalan yang sedang kami hadapi. Amien"

Silakan, doa mana yang lebih Anda sukai...

PS: doa di atas yang berwarna merah sama copas dari sini

Lanjut...

I Just Don't Care

Kadang, kita harus menyanyikan lagunya Melly Goeslow "I Just Wanna Say I Love You", tapi kadang kita juga terpaksa meneriakkan kalimat sebaliknya "I Just Don't Care". Tanya kenapa???

Lanjut...

Tentang Kawin Paksa Lagi :D

Sebetulnya, saya ingin melanjutkan kisah si kancil dan putri singa. Jangankan Anda, saya sendiri juga penasaran sama ending ceritanya. Swear! Gak tahu juga, akhirnya putri singa bisa benar-benar menikah sama si kancil ataukah mereka berdua harus berpisah. Semoga sih kisah ini berakhir bahagia. Amieen.

Tapi karena saya masih bingung bagaimana menyusun akhir cerita yang bahagia namun dengan cara yang senatural mungkin, akhirnya iseng-iseng saya buka statistik pengunjung blog ini. Eh, ternyata, tidak sedikit juga lho yang sampai ke sini lewat google dengan mengetikkan kata kunci terkait kawin paksa. Karena penasaran, saya coba juga googling untuk mencari tulisan-tulisan tentang kawin  paksa. Hmm, ternyata banyak juga lho yang membahasnya. Yang lebih yahud lagi pembahasannya juga dari berbagai aspek. Jika Anda penasaran akan tulisan-tulisan tentang kawin paksa yang saya baca, silahkan klik link-link di bawah ini. Oiya, link-link tersebut saya dapat dengan keyword "sikap rasulullah terhadap kawin paksa". Ok dech, ini dia link-link yang saya maksud:

http://www.komitsurabayaselatan2006.co.cc/2008/08/kala-nafas-cinta-terenggut-tanpa-daya.html
http://www.rahima.or.id/SR/14-05/Khazanah.htm
http://andypermana.blog.friendster.com/2008/04/
http://pacaranislami.wordpress.com/2007/07/26/walau-bukan-siti-nurbaya/
http://www.kaylapustaka.com/content/view/6/5/

Nah, masih terkait sama kawin paksa, saya juga coba googling "menghadapi penolakan calon mertua". Mau tahu hasilnya? Silakan dech klik link-link berikut ini:

http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0404/30/131135.htm
http://alfaroby.wordpress.com/2007/11/29/cara-menghadapi-calon-mertua/
http://pengusahamuslim.com/modules/smartsection/item.php?itemid=145&keywords=kelapangan
http://incridiblog.com/2008/07/16/adsense-dan-calon-mertua/
http://keluargabahagia.epajak.org/vcd/penolakan/

Ok, cukup segitu dulu ya. Semoga bermanfaat...

Lanjut...

Kancil dan Anak Singa

Setelah bertemu dengan sang raja hutan, kancil tetap teguh dengan niatnya untuk menikahi putri singa. Mengetahui niat kancil ini, banyak hewan di hutan yang berpendapat bahwa kancil sudah mulai gila dan kehilangan kewarasannya. Wajar karena semua penghuni hutan tahu betapa kerasnya pendirian sang singa. Apalagi, mereka juga menganggap bahwa si kancil masih punya banyak kesempatan untuk mendapatkan istri yang tidak kalah dari anak sang raja hutan itu.

Mendengar cemoohan dari warga hutan yang menganggapnya gila, kancil sama sekali tak peduli. Bahkan, saat keluarga besar kancil mulai menunjukkan keraguannya untuk terus mendukung niat kancil menikahi putri singa pun, dia tetap meneguhkan niatnya itu. Di dalam lubuk hati yang paling dalam kancil tahu bahwa dirinya atau putri singa akan sama-sama bisa bahagia tanpa harus memaksakan diri untuk hidup bersama. Dia tahu bahwa meski perpisahan dengan putri singa akan menggoreskan luka yang sangat dalam di hatinya, luka itu bukan tak terobati.

Namun, bagi kancil bukan hanya sekedar kebahagiaan yang ingin diraihnya. Yang ingin dia gapai adalah kebahagiaan hidup bersama orang yang selama ini telah begitu sabar menemaninya melewati kesulitan-kesulitan. Lebih dari itu, kancil juga tidak mau menjadi bagian dari golongan orang yang mudah mengucap janji semudah mereka melupakannya. Ya, kancil telah berjanji untuk menikahi putri singa apapun keadaannya dan bagaimanapun kesulitan yang akan dihadapinya untuk mewujudkan cita-citanya itu. Maka, selama putri singa belum menerima lamaran dan pinangan hewan lain, ia akan sekuat tenaga mempertahankan niatnya dan sekuat daya mewujudkannya. Dia telah berketetapan dalam hati bahwa perjuangannya akan berhenti saat putri singa menerima lamaran hewan lain dan menikah dengannya.

Sayang, keadaan memang tak kunjung memihak pada kancil. Meski berbagai cara telah dia lakukan untuk mendapatkan simpati dan restu singa, toh restu itu tak jua ia terima. Malah, tekanan yang dirasakan oleh putri singa untuk segera menerima pangeran singa dari hutan sebelah untuk menjadi suaminya semakin hari semakin besar.

Mengetahui betapa berat tekanan yang dirasakan oleh kekasihnya, kancil bermaksud menemui putri singa di tepat di hari ulang tahunnya. Maka kedua hewan yang sedang mengasihi dan menyayangi itu pun terlibat dalam perbincangan serius. Saking seriusnya obrolan mereka sampai-sampai canda tawa yang biasanya selalu mewarnai obrolan mereka hari itu seolah tidak ada. Dari detik ke detik putri singa hanya meneteskan air mata dan karenanya kancil pun tak kuasa untuk tidak berkaca-kaca.

"Kanda, aku tak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah melakukan segala cara agar ayahanda dan ibunda merestui hubungan kita. Tapi, tak sedikitpun usahaku membuahkan hasil. Mereka tetap tidak peduli dengan perasaan kita," ucap putri singa sembari mengusap air mata yang meleleh di pipinya.

"Iya dinda, aku paham betapa sulit posisimu saat ini. Aku tahu bahwa seberapapun besarnya cintamu padaku, mereka tetaplah orang tuamu. Maka sangat wajar jika engkau bingung harus memilih aku atau mereka" dengan tersendat-sendat kancil berusaha menenangkan perasaan putri singa.

"Dan aku sangat memahami jika pilihanmu adalah antara kekasih dan orang tua, tentu bobot orang tua jauh lebih besar dari pada kekasih. Apalagi si kekasih itu aku yang hanya seekor kancil," ucap kancil dengan suara yang semakin terbata-bata.

"Jangan bilang begitu kanda. Aku sangat-sangat mencintaimu meski engkau hanya seekor kancil. Bagiku engkau jauh lebih baik dari pada singa manapun di seluruh dunia ini" sergah putri singa yang menyadari perasaan kekasihnya sedang sangat terluka.

"Dalam hidup yang hanya sekali ini, kanda, aku ingin mencintai satu hewan. Dan itu adalah engkau" ucap putri singa sambil menggenggam tangan dan menatap tajam wajah kekasihnya yang sedang terluka itu.


* Bersambung (ngantuuuks, udah malem bangetttts). Tunggu kelanjutannya ya. Paling besok udah ada. Gak janji tapi. hehehe

Lanjut...

Romantic Sorrow...

Jangan Pisahkan

Biar cinta
Terhalang gunung dan samudera
Aku tetap
Memegang janjiku padamu

Biar jurang
Yang terjal ada di depanku
Takkan goyah
Sumpahku kepada dirimu

Kita bagai bunga dan kumbang
Hatiku pasti hatimu jua
Namun mengapa ada saja
Yang benci tulus cinta kita

( korus )
Jangan pisahkan, aku dan dia
Tuhan tolonglah, ku cinta dia
Biarkan kami tetap bersama
Di dalam suka dan duka...

Ayo Tebak, di atas lirik lagunya siapa? Terus kenapa saya mempostingnya di sini? Bagi yang tahu, silahkan kasih komentar. Komentar terbaik akan saya jadikan topik posting selanjutnya... Hehehehe

Lanjut...

Bencilah Rasa Benci

Teruntuk SheDia…
Wahai makhluk terindah yang pernah kukenal, ijinkan aku menuliskan hikmah yang baru saja kudapatkan. Hikmah yang secara tak sadar telah kau ajarkan kepadaku. Hikmah yang begitu penting artinya buatku sehingga ia mampu menenangkan jiwaku yang selama ini resah dan tak tahu arah.
Wahai makhluk yang paling kuinginkan, sungguh perbincangan terakhir kita telah menyadarkanku akan satu hal. Yakni, bahwa rasa benci adalah sumber dari segala sumber penyakit serta keburukan yang terjadi di dunia ini. Meskipun engkau tidak mengatakannya secara lugas padaku, aku tahu bahwa itulah maksudmu.

Masih terngiang-ngiang di telingaku ucapanmu semalam. Masih kuhafal kata-perkata dari nasehatmu yang penuh amarah itu. Dan melalui tulisan ini aku ingin berterima kasih kepadamu karena tindakanmu telah membuka mata hati dan pikiranku untuk menerima kebenaran dan hikmah meski engkau harus melakukannya dengan amarah.

Melalui tulisan ini pula, wahai makhluk yang kuidamkan, ingin kusampaikan nasehatmu kepada seluruh dunia. Biar tidak hanya aku saja yang mengerti. Biar bukan aku saja yang bisa mengambil pelajaran. Dan biar bukan aku saja yang tahu betapa bijaknya engkau.

Wahai alam, dengarkanlah dia yang semalam menasehatiku. Katanya, membenci tidak akan memberikan keuntungan apa-apa pada kita. Sebaliknya, ia hanya akan merugikan kita dengan satu dan lain cara. Hakikatnya, begitu dia berkata, kita tidak akan mampu menyakiti orang lain dengan cara membencinya. Justru, kita sendirilah yang tersakiti oleh kebencian kita. Itu pasti. Karena itu, dia melanjutkan, hanya satu perasaan benci yang boleh kita miliki, yakni membenci perasaan benci.

Wahai alam, jika engkau masih belum memahami nasehat dia yang selalu kupuja, cobalah kau benci seseorang dan lihatlah siapa yang lebih tersakiti oleh kebencianmu itu, apakah orang yang kau benci atau dirimu sendiri. Kuucapkan selamat mencoba…

Wahai SheDia, kutunggu nasehat-nasehatmu selanjutnya….

Seperti yang biasa kita lakukan, ijinkan kututup tulisan ini dengan sepenggal lirik lagu kita: “MORE THAN WORDS CAN SAY”.

P.S: SELAMAT ULANG TAHUN SEMOGA HARI-HARIMU SEGERA MENJADI HARI-HARIKU

Lanjut...

Tekuni Yang Kau Punya, Katanya

Boleh dikata, penyanyi nyentrik yang satu ini adalah idola saya. Tiap kali dia mulai memainkan gitarnya dan menyanyikan lirik-lirik lagu baik lawas atau baru baik dangdut atau pop, saya selalu merasa hanyut. Oh, kebisaannya menyanyikan hampir semua genre lagu merupakan salah satu nilai tambahnya di mata saya. Akan tetapi yang paling utama adalah keseriusannya dalam memainkan musik dan menyesuaikan suaranya.

Hampir tiap kali keluar kota, tanpa sengaja saya ketemu dengannya. Dengan pakaian seadanya, dia biasa naik ke bis jurusan antar kota antar propinsi. Tak pernah kulihat dia bermain musik di situ sendirian. Hampir tiap kali berjumpa dengan saya, dia selalu bersama dengan seorang rekannya. Ya, ini dia nilai tambah lain yang dia miliki. Karena, jika dibandingkan, memainkan musik bersama seorang rekan tentu jauh lebih meriah ketimbang sendirian. Apalagi, rekan yang diajaknya itu juga selalu orang yang memiliki kepiawaian bermusik yang hampir sepadan dengan kamampuannya.

Maka, tiap kali dia naik ke bis yang saya tumpangi, ada perasaan gembira yang saya rasa. Karena saya yakin, saat dia mulai menyanyi, tanpa saya sadari pasti saya akan ikut menyanyikan lirik-lirik lagu yang ia mainkan. Mungkin ada baiknya saya selalu membawa semua lirik lagu yang ada, mulai dari lirik lagunya peterpan, ungu, rhoma irama, elvi sukaesih, bahkan lirik lagunya the rollies, the beatles, koes ploes, dan lirik lagu lainnya. Ya biar saya bisa senantiasa ikut mengiringi alunan musik yang dimainkannya dengan sempurna.

Yach, seperti yang sudah bisa Anda duga, dia bukanlah artis kampung, artis daerah, apalagi artis papan atas ibu kota. Dia hanya seorang pengamen yang beroperasi di terminal Purabaya atau Bungurasih, Surabaya. Tapi, saya bisa memberikan jaminan pada Anda, jika Anda bertemu dengannya, pasti Anda akan menikmati suguhan yang ia berikan. Sayang, saya belum punya kesempatan untuk bisa mengambil fotonya. Seandainya saya punya foto idola saya itu, tentu akan saya pasang di sini sebagai tanda penghargaan saya pada keseriusan berkaryanya. Karena, keseriusannya telah memberi saya inspirasi. Tanpa sepatah katapun, dia telah berhasil bicara telak ke hati saya. Apa gerangan yang dikatakannya? Dia berteriak kepada saya "Untuk menjadi bermanfaat dan disukai, kita tak harus menjadi orang penting. Cukup seriusi saya apa yang engkau miliki. Maka, keseriusan kita akan menjadikan kita bermanfaat dan disukai...."

Ya ya ya, terima kasih pengamen idolaku.......

Lanjut...

Dialog Singa dan Kancil

"Katakan, kenapa engkau begitu gigih ingin menikahi putri kami?" Sang singa bertanya sambil menatap tajam ke arah si kancil.

"Berawal dari rasa kagum pada putri Anda, timbul rasa suka. Begitu kuat perasaan suka itu sehingga sulit untuk diredam. Bahkan, saat saya berniat melupakan perasaan itu, justru semakin kuat keyakinan saya bahwa ini bukan lagi perasaan suka, tetapi sudah berubah menjadi cinta. Ya, saya sangat mencintai putri Anda." Jawab si kancil mantap.

"Maka, tidak ada cara lain bagi saya selain menyatakan perasaan ini pada putri Anda. Meski tidak langsung, akhirnya putri Anda menerima saya setelah ia yakin bahwa perasaan ini bukan main-main." Kancil melanjutkan jawabannya.

"Setelah itu, kekaguman saya pada putri Anda semakin bertambah. Kelebihan-kelebihannya membuatnya semakin terlihat mempesona di mata saya" Kancil terus bicara seolah tak lagi mempedulikan sang singa di hadapannya.

"Di antara banyak kelebihan putri Anda,kejujurannya tidak menutup-nutupi kekurangan adalah hal yang paling saya kagumi." Kancil semakin fasih bicara.

"Benar, di hadapan saya putri Anda tidak hanya memperlihatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Dia juga secara jujur dan terbuka menunjukkan kelemahan-kelemahannya."

"Dan, saya pun memperlihatkan kekurangan-kekurangan saya kepadanya sehingga jika sekarang ini putri Anda bilang bahwa dia sangat mencintai saya, itu bukan karena dia hanya tahu kelebihan saya. Dia sangat memahami kekurangan saya"

"Jadi, saya dan putri Anda sudah sangat saling mengenal. Kami tidak hanya mengetahui kelebihan masing-masing. Yang lebih penting lagi, kami juga saling mengerti kekurangan masing-masing. Dan, dengan mengetahui kekurangan-kekurangan putri Anda saya tetap menyatakan bahwa saya sangat mencintai dia. Saya ingin menikahi putri Anda. Saya berjanji akan mencintai dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Saya yakin jika ditanya putri Anda juga akan bersedia saya nikahi karena dia mencintai saya dengan segala kekurangan dan kelebihan saya"

"Bolehkah saya bertanya pak?" ucap kancil.

"Apa?" jawab sang singa.

"Kapan Anda akan menikahkan putri Anda dengan saya?" kancil bertanya dengan senyum tersunggih di bibirnya.

"???? kami bahkan belum memberimu restu...!" kaget oleh pertanyaan kancil, sang singat sedikit berteriak.

"Saya yakin Anda orang yang baik pak. Saya yakin Anda ingin membahagiakan putri Anda. Dan saya yakin bahwa Anda yakin saya bisa membahagiakan putri Anda. Jadi, kapan Anda akan menikahkan kami???"


*Bersambung.....

Lanjut...

Sepeda

Kejadiannya memang sangat cepat sehingga tidak ada yang bisa kulakukan.

Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan perampok itu pun pergi sambil terbahak-bahak. Tampak tidak ada sedikitpun rasa kasihan pada bapak tua itu yang masih mendekap tangannya yang terluka oleh sabetan celurit para penjahat itu. Pupus sudah harapannya untuk membeli sepeda. Padahal keinginan itu sudah begitu lama dipendamnya. Sejak mulai membangun rumah tangga dua belas tahun yang lalu keinginan itu sudah bergelayut di sudut hatinya. Dalam batinnya ia membayangkan akan bisa mencukupi kebutuhan keluarganya jika berhasil membeli sepeda. Recananya waktu itu ia ingin berdagang ke desa-desa terpencil. Pakaian atau apapun yang penting bisa ia jual di daerah yang jauh dari tempat-tempat belanja. Dengan hasil seadanya, pikirnya, ia pasti akan bisa mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

Sedikit demi sedikit uang yang diharapkan itu pun terwujud. Tidak ada hari tanpa menabung. Mungkin kata itu pantas untuk menggambarkan keteguhan pak Sofyan mengumpulkan uang. Hasil jerih payahnya itu kini telah mencapai angka sepuluh juta, jumlah yang cukup untuk membeli sepeda baru. Namun apa mau dikata, sebelum dia sampai di dealer para penjahat telah keburu mendapatinya. Dan tanpa ampun uang itupun tanpa sisa diambil oleh mereka.

Kasihan. Andai saja para penjahat itu tahu betapa susahnya mengumpulkan uang sebanyak itu, mungkin mereka tidak akan tega merampasnya dari tangan Sofyan. Lagi pula uang sejumlah itu jika dibagi empat dan dibelanjakan oleh orang yang tidak merasakan beratnya mencari pasti akan cepat habis. Ah, betapa tidak adilnya dunia. Orang yang telah bekerja keras mencari rejeki halal tiba-tiba harus merasakan kehilangan. Tapi, eit, tunggu dulu. Dari warung di pinggir jalan dimana penjahat telah berhasil menggasak uang pak Sofyan terdengar suara radio yang sedang menyiarkan berita. Dan salah satu isi beritanya telah menyadarkan pak sofyan akan kemahaadilan tuhan.

“Pagi tadi seorang pengendara sepeda motor tewas menabrak tiang listrik di Jalan Gatot Subroto. Setelah diidentifikasi diketahui nama pengendara bernasib naas itu adalah Joko, 24 tahun. Menurut para tetangganya Joko memang masih belum pandai mengendarai sepeda. Kesaksian para tetangga korban itu dikuatkan oleh hasil identifikasi pihak yang berwajib bahwa sepeda itu masih tergolong baru.”

Alhamdulilllah, hanya uangku hilang sementara nyawaku tidak melayang. Begitu pikir sofyan sambil mengulum senyum meski dengan tangan terluka.

Lanjut...

Kisah Kawin Paksa

Seorang anak dipaksa oleh orang tuanya untuk menikah dengan calon pilihan mereka. Si anak telah memiliki pilihan sendiri. Cintanya pada pujaan hatinya begitu besar. Akan tetapi kecintaan pada orang tuanya dia rasa jauh lebih besar lagi. Maka, meski batinnya teriris-iris, dia membuang impiannya dan menuruti kehendak kedua orang tuanya.

Pujaan hati anak itu adalah seorang pemuda yang sangat rendah hati. Dia telah begitu banyak berkorban demi cintanya. Berulang kali dia membuang mimpinya sendiri demi rasa cintanya pada kekasih. Ketika kekasihnya memberi tahu bahwa dirinya sedang dalam dilemma, antara memilih cinta pada kekasih atau pada orang tua, si pemuda terdiam. Dalam hati dia begitu takut akan kehilangan kekasih yang sangat disayanginya. Akan tetapi, bagian hatinya yang lain memberitahunya bahwa bukan tindakan yang benar untuk mendapatkan cinta sang kekasih jika sang kekasih kemudian akan disebut anak durhaka. Dia berpikir bahwa pengorbanan terbesar dalam cinta adalah mengorbankan perasaan cintanya. Maka, jika selama ini dia telah begitu banyak berkorban demi kekasihnya, pengorbanan terpuncak dalam cintapun siap dia lakukan. Maka, kedua insan yang saling mencinta itupun berpisah dan berjanji untuk selalu saling mendoakan kebahagiaan pujaan hati mereka.

Pernikahan tak terhindarkan. Si anak hidup bersama orang yang pada mulanya tidak dia cinta. Hanya rasa bakti kepada orang tua lah yang membuat dia rela hidup dalam keadaan seperti itu. Meski wajah kekasihnya tak pernah bisa lepas dari pelupuk mata, dia tetap menjalani hidup dengan suaminya.

Hari berlalu, pasangan suami istri itu kini sudah hidup bahagia. Si anak, meski masih tetap menyimpan rasa cintanya pada pujaan hati, kini telah mulai bias mencintai suaminya. Karena memang si suami ini orang dengan kepribadian baik, maka diapun bias memperlakukan istrinya dengan penuh cinta. Maka, kebahagiaan akhirnya bisa menyelimuti kehidupan kedua insan ini.

Saat melihat kebahagiaan yang dirasakan si anak, kedua orang tua si anak itu merasa bangga bahwa mereka telah berhasil membahagiakan anaknya. Mereka semakin menganggap bahwa keputusannya untuk memaksa anaknya berpisah dari kekasih yang dia cinta dan memaksanya menikah dengan calon pilihannya adalah tindakan yang benar. "Buktinya, sekarang anak kita bisa hidup bahagia dengan suaminya”. Begitu ucap mereka dengan sangat bangga.

Tanpa diketahui dari mana datangnya, seorang pemuda tampan sudah berada di depan kedua orang si anak ini. Dengan pandangan sangat tajam, si pemuda berkata

"Wahai orang tua, bukan tindakan kalian yang telah memaksa anak kalian menikah dengan pilihan kalian yang membut dia bahagia. Tindakan kalian itu tetap salah. Kalaupun anak kalian sekarang bisa hidup bahagia, itu karena balasan dari keikhlasannya mengesampingkan cintanya sendiri demi untuk berbakti pada kalian. Bukan tindakan kalian yang telah membuatnya bahagia. Sampai kapanpun, tindakan kalian ini adalah tindakan salah yang tidak hanya telah menyakiti hati dan perasaan anak kalian, akan tetapi juga telah menghancurkan hati seorang pemuda yang telah tulus dan penuh pengorbanan mencintainya. Kini, karena keikhlasannya pemuda itu pun hidup sangat bahagia. Semoga Tuhan menyadarkan kalian karena jika kalian mati dan pemuda itu belum memaafkan kalian, maka akhiratmu akan terbebani.”

Lanjut...

Introspeksi

Maaf, postingan kali ini tidak akan panjang. Tapi, meski pendek insyaAllah ini ada gunanya. Berguna bagi saya dan berguna bagi Anda sekalian. Hanya saja, saya jamin ini tidak akan berguna kalau mata hati Anda sudah tertutup. Karena saya yakin hati kita semua tidak buta, maka kita akan mendapat manfaatnya.

Apa sih?
Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin bertanya pada diri sendiri (saya harap Anda pun menanyakannya pada diri Anda sendiri).

Apakah kita benar-benar sayang pada seseorang saat keinginan kita pada orang itu tak terturuti kemudian kita marah kepadanya?

Masih abstrak ya? Oke dech saya buat contoh konkrit saja...

Well, kalau Anda adalah orang tua dari anak-anak Anda sendiri, apakah Anda bisa dikatakan benar-benar sayang pada anak Anda jika mereka (anak Anda) punya keinginan yang berbeda dari keinginan Anda dan Anda marah karenanya?

Atau, apakah Anda masih bisa mengklaim diri Anda orang tua yang benar-benar menyayangi anak Anda jika Anda memaksa (benar-benar memaksa) anak Anda untuk menikah dengan pilihan Anda sementara dia sudah punya pilihan sendiri?

Ah, sungguh tidak masuk akal Anda bisa mengklaim diri sebagai orang tua yang menyayangi anak Anda jika bahkan pilihannya pun tidak Anda hormati. Mungkin Anda merasa bahwa dalam segala hal pilihan Anda jauh lebih baik dari pada pilihan anak Anda. Akan tetapi, jika anak Anda tidak menyukainya dan kemudian Anda tetap memaksa apalagi tanpa mau tahu seperti apa pilihan anak Anda, maka sungguh Anda tidak pantas, dan tidak layak menyebut diri Anda orang tua yang menyayangi anak Anda.

Kalau Anda beralasan bahwa ini demi kebahagiaannya, bahwa anak Anda pasti akan bahagia menikah dengan orang yang sudah mapan, taat beragama, terpandang, dan predikat baik lainnya yang mungkin benar ada pada calon pilihan Anda itu, maka saya yakin Anda perlu introspeksi. Coba renungkan kembali apakah semua predikat itu untuk kebahagiaan anak Anda ataukah demi kehormatan Anda. Karena, jika bagi Anda kebahagiaan anak Anda yang utama (bukan kehormatan Anda sendiri) maka Anda sebagai orang tua pasti rela mengorbankan apapun termasuk kehormatan Anda.

Maka, wahai para orang tua, introspeksi sikap Anda. Meskipun Anda orang terpandang, bahkan kyai sekalipun, Anda masih juga manusia yang penuh nafsu di dalam diri.

Akhir kata, bukti cinta yang sebenarnya adalah pengorbanan. Hanya mereka yang berani mengorbankan kepentingan sendiri lah yang layak disebut benar-benar mencintai. Dan, di antara pengorbanan terbesar adalah mengorbankan rasa cinta. Maka, demi cinta saya pun akan rela mengorbankan rasa cinta ini.....

Bagi mereka yang merasa mencintai dan menyayangi orang lain padahal sebenarnya mereka hanya menyayangi diri mereka sendiri, hanya ada satu kata: SADARLAH...

Lanjut...

Hanya memberi tahu

Ah.. Sudah lama betul saya tidak mengisi tulisan di sini. Seperti biasa, saya tidak punya alasan yang lebih masuk akal selain alasan sibuk. Ya, meskipun alasan ini masuk akal, akan tetapi sebenarnya itu bukan alasan yang sebenarnya. Masih ada alasan lain di balik kata sibuk ini. Kira-kira, kalau ditelusuri lebih lanjut, di balik alasan yang paling sering digunakan orang ini (sibuk) ada satu kata yang lebih tepat menggambarkan penyebab begitu lamanya saya tidak mengupdate blog ini. Saya yakin Anda semua tahu. Ya, malas. Rasa malas lah yang sebenarnya menghalangi saya untuk terus menulis dan berbagi dengan Anda.

Ok, karena saya telah jujur kini saatnya saya memulai tulisan ini. Meskipun di lihat dari judul posting serta isi paragraf pertama tampaknya tulisan kali ini hanya pengumuman, sebetulnya saya benar-benar akan berbagi sesuatu dengan Anda (tentu saja kalau Anda mau menerima :D). Jadi terima kasih kalau Anda semua tidak berhenti di paragraf pertama dan masih membaca paragraf ini.

Baiklah, sebelumnya biarkan saya bertanya. Tolong jawab dengan jujur. “Ketika membaca judul tulisan ini “hanya memberi tahu” apakah Anda berpikir bahwa tulisan ini hanya akan berisi pengumuman? Jika iya, maka mulai saat ini Anda sekalian harus mulai berhati-hati saat mendengar, membaca, menulis, dan berbicara. Dari tiga kata dalam tulisan ini, saya yakin ada satu kata yang begitu penting sehingga mempengaruhi pikiran dan tebakan Anda akan isi tulisan ini. Apakah Anda mengatakan kata itu adalah “hanya”? Jika demikian, maka menurut saya Anda sedikit banyak sudah bisa menebak apa yang akan saya jelaskan. Benar, saya memang akan sedikit mengulas penggunaan kata hanya dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Aku hanya ingin kau tahu betapa besarnya cintaku kepadamu" "Aku hanya ingin berbicara denganmu, itu saja" "Aku menelponmu hanya ingin bilang aku cinta kamu (I just call to say I love you)” “Aku hanya tak habis pikir kenapa dia tega melakukannya”

Saya yakin Anda sering mendengar, membaca, menulis, atau bahkan mengatakan kalimat-kalimat di atas. Dan inti dari semua kalimat itu ada pada kata “hanya”. Dan parahnya selama ini kita begitu cueknya dengan kata yang satu ini sehingga kita kurang memperhatikan arti sebenarnya yang terkandung oleh kata ini. Maksud saya begini, jika kita ingin menggunakan kata hanya dengan benar, maka kita harusnya hanya/benar-benar/sungguh-sungguh punya satu maksud dari kalimat yang kita buat.

Kenyataannya, hampir tidak ada satu orang pun di dunia ini (Anda boleh menyangkal asal ada alasan dan bukti kuat :D) yang pernah menggunakan kata hanya dan dia benar-benar hanya memiliki satu tujuan. Ambil lah contoh kalimat di atas “Aku hanya ingin kau tahu betapa besarnya cintaku kepadamu”. Di dalam kalimat ini, kalau kita benar-benar menggunakan kata hanya dengan benar maka seharusnya tidak ada maksud lain selain bahwa kita mau menunjukkan betapa besar cinta kita pada seseorang. Tapi apakah kita benar-benar hanya ingin menunjukkan rasa cinta pada seseorang saja, dan tidak ada keinginan lainnya setelah itu? Saya pikir dengan menggunakan kalimat di atas kita tidak berhenti hanya pada pengungkapan rasa cinta. Ada keinginan lain yang mungkin tidak kita akui. Misalnya “setelah kau tahu bahwa aku mencintaimu, balas dong cintaku ini” atau “aku ingin setelah kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu engkau mau kembali lagi kepadaku”. Nah, kalau memang demikian berarti kita belum bisa menggunakan kata hanya dengan benar.

Oiya, di dalam posting ini saya juga tidak hanya bermaksud memberi Anda informasi meskipun saya menggunakan kata hanya di dalam judul posting. Di samping memberi Anda informasi, saya juga ingin Anda setuju dengan pendapat saya. Nah, ini jelas contoh nyata bahwa kata hanya ternyata selalu digunakan tidak sebagaimana mestinya. Maka, hati-hatilah saat Anda membaca, mendengar, menulis, atau berbicara dengan menggunakan kata hanya....

Tapi terserah Anda sih, saya hanya ingin memberi tahu :D :D :D

Lanjut...

Cinta yang Membunuh

Akhir-akhir ini saya dihantui lirik lagunya D’masiv. Biar nggak penasaran, akan saya tulis potongan liriknya di sini:

Kauhancurkan aku dengan sikapmu
Tak sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah hati ini meyakinkanmu
Cinta ini membunuhku....

Nah, lirik di atas yang selalu menggangu saya. Saya katakan mengganggu karena setiap kali mendengar lagi ini entah di radio, atau di televisi, atau di komputer teman (kalau yang terakhir ini saya jamin mp3 yang bajakan :D), ada yang mau tidak mau saya pikirkan. Saya berharap Anda tidak penasaran tentang apa yang saya pikirkan. Akan tetapi, kalau ternyata Anda penasaran, saran saya baca terus posting ini.

Well, harus saya akui lagu ini memiliki arti tersendiri bagi saya. Apalagi setelah mendengar langsung dari penciptanya (lewat TV tentunya) bahwa lagu ini terinspirasi oleh pengalaman pribadinya. Apakah Anda bisa menebak kira-kira pengalaman seperti apa yang mendorong si pencipta yang personelnya D’masiv ini mencipta lagu yang ’thriller’ seperti ini?

Kalau Anda menebak pengalaman tragis cinta yang ditolak, maka dengan berat hati harus saya katakan tebakan Anda kurang tepat. Kenapa? Karena bukan hanya ’cinta yang ditolak’. Akan tetapi, 'cinta yang ditolak berkali-kali'. Kalau kata si penciptanya sih, dia sempat 'nembak' cewek yang disukainya lebih dari 7 kali. Dan yang benar-benar men’trenyuh’kan adalah semua usahanya yang sampai tujuh kali itu gagal. Alias dia ditolak. Bukan hanya ditolak. Lebih tepatnya ditolak habis-habisan. Atau bahasa lumrahnya ditolak mentah-mentah gitu lah.

Bayangkan, tujuh kali menyatakan cinta pada orang yang sama dan terus menerus ditolak. Bisakah Anda membayangkan bagaimana rasanya? Ah, sayang sekali kalau Anda tidak bisa membayangkan. Sayang sekali kalau Anda tidak pernah ditolak apalagi lebih dari sekali. Karena, kalau demikian Anda tentu tidak akan bisa menikmati lagu ini sepenuh hati. Paling-paling Anda hanya menikmati musiknya saja. Tidak sampai ke emosi yang dibawa oleh liriknya.

”Terus, Kenapa lagu ini mengganggu pikiran pencari hikmah?” Mungkin Anda mulai bertanya demikian. Baiklah, akan saya katakan. Tapi tolong simpan ini baik-baik. Jangan dikatakan sama siapapun. Ini rahasia besar. Jangan sampai bocor. Karena kalau sampai bocor maka saya harus memanggil mario si tukang ledeng. Wah, bisa keluar uang banyak saya untuk menyewa si mario. Jadi, plis ya, setelah membaca ini tolong sangat disebarluarkan.

Sebenarnya.... .... pengalaman tertolak ini, ehem ehem, juga pernah saya rasakan. Dan guess what. Sama seperti pencipta lagu ini, saya juga pernah ditolak oleh seseorang (lebih tepatnya wanita, lebih tepatnya lagi wanita tercantik di dunia :D). Dan sama halnya dengan personel D’masiv, penolakan yang saya rasakan juga lebih dari sekali. Mendingnya (ini bukan bahasa Indonesia baku lho), penolakan yang saya rasakan tidak sebanyak si D’masiv. Lebih mendingnya lagi, tidak seperti D'masiv yang sampai sekarang katanya si gadis tidak bisa menerima (ehem-ehem) cintanya, si wanita yang tercantik di dunia itu pada akhirnya tidak kuasa untuk tidak mengatakan ”iya” saat saya mengatakan ”aku cinta” untuk yang kesekian kali :D.
Itulah, kenapa lagu D'masiv bisa mengganggu saya.....

Dan, tahukah Anda bahwa saya merasa beruntung pernah merasa tertolak? Kenapa? Karena kalau tidak, saya tidak tahu apakah perasaan saya sama dia akan sebesar seperti saat ini :D.

Dan lagi, saya juga merasa beruntung pernah mengalami masa-masa kurang bahagia, masa-masa sulit. Karena pengalaman masa-masa seperti itu membuat saya semakin tegar menghadapi kesulitan dan bisa menikmati setiap bentuk kebahagiaan yang saya rasakan saat ini.

Well, so sweet kan?

Lanjut...

Emansipasi: Wahai Para Wanita, Jangan Menunggu Diberi

Hari ini saya dengan sangat terpaksa harus mengakui keunggulan salah seorang rekan kerja yang kebetulan berjenis kelamin perempuan. Namanya bu Yuni. Meski sudah mengeluarkan segenap kemampuan, tetap saja saat tadi bertanding tenis meja melawan rekan saya itu, saya ditaklukkan dua set langsung. Sebetulnya bukan hanya dalam pertandingan tenis meja saja saya takluk. Di pertandingan tenis lapangan saya juga masih harus menelan kekalahan dari dia. Berhubung saya adalah pencari hikmah, maka meski kalah saya tetap harus mencari hikmah. Dan, hikmah itu adalah pemahaman saya yang lebih mendalam (saya rasa) mengenai emansipasi wanita.

Hmm, ngomong-ngomong tentang emansipasi, jika mendengar kata yang satu ini, apa yang terlintas di benak Anda? Saya yakin nama R.A. (Raden Ajeng) Kartini berada di urutan teratas kilasan pikiran Anda. Lalu ketertindasan wanita menduduki tempat selanjutnya. Dan ketidakadilan peran kaum adam dan hawa di urutan ketiga. Apakah dugaan saya betul? Mudah-mudahan betul. :D

Sangat wajar jika nama Kartini segera terlintas di benak Anda. Bagaimana tidak? Lha wong sebagian besar dari kita pertama kali tahu kata emansipasi adalah dulu saat guru kita menjelaskan tentang Kartini. Ini terutama berlaku pada saya. Saya pertama kali mendengar kata asing yang ternyata dari bahasa Inggris ini ketika guru saya menjelaskan panjang lebar mengenai peran Kartini dalam pelajaran sejarah (kalau tidak salah dulu namanya PSPB). Meski waktu itu saya belum tahu betul artinya, sedikitnya saya sudah mulai tahu maksudnya dan kadangkala juga menggunakannya.

Ketertindasan wanita serta ketidakadilan peran laki-laki perempuan juga sangat mungkin dikaitkan dengan kata emansipasi. Kenapa? Sekali lagi karena Kartini. Lho kok Kartini lagi? Ya iya lah (masak ya iya dong :D). Kan beliau wanita pertama yang tercatat di dalam sejarah Indonesia yang dengan gigih memperjuangkan persamaan hak dan peran antara laki-laki dan perempuan. Katanya, dulu peran dan kedudukan wanita dipandang hanya sebelah mata (pegel dong matanya merem melek terus :D). Kalau ayah saya bilang, dulu peran wanita itu hanya tiga: macak, masak, manak (dandan, masak, dan melahirkan). Kalau Anda-Anda (para wanita masa kini) hidup di masa itu, bisakah Anda sekalian membayangkan bagaimana rasanya? Dari sekian banyak aktifitas yang bisa dilakukan, Anda hanya dibatasi untuk melakukan tiga hal di atas. Meski saya seorang pria, saya bisa membayangkan betapa tersiksanya wanita masa itu.

Nah, Kartini telah memulai gerakan untuk menentang pembatasan peran dan kedudukan wanita. Kini, wanita tidak lagi hanya berada di dapur (untuk masak), di depan cermin (untuk macak), di atas kasur (untuk siap-siap manak). Hampir di semua bidang kehidupan, wanita kini telah ikut ambil bagian. Wartawan wanita, banyak. Presiden perempuan, tidak sedikit. Menteri(wati), berlimpah. Bahkan, pimpinan perampok yang jenis kelaminnya perempuan juga sudah ada.

Sayangnya, meski sekarang sudah begitu banyak wanita yang menjabat posisi yang dulu hanya dipegang oleh kaum laki-laki, ternyata masih banyak juga kaum perempuan yang hanya menuntut emansipasi. Mereka tidak melakukan apa-apa untuk bisa mendapatkan peran yang diinginkan. Mereka hanya berteriak-teriak, merengek-rengek, dan meminta kaum adam untuk memberi posisi. Saat posisi sudah didapat dan peran baru sudah dijabat meski hanya sekedar pemberian, mereka baru bisa bernafas lega dan berani berkata bahwa di negaranya emansipasi wanita benar-benar ditegakkan.

Lho, lho, lho, kok jadi jauh begini pembahasan hikmah kali ini. Wah, mungkin saya masih emosi karena kekalahan saya sehingga jari saya jalan-jalan di atas keyboard tanpa saya sadari :D. Tapi, intinya Anda pasti bertanya apa hubungan antara Kartini, Bu Yuni, pemahaman yang lebih baik mengenai emansipasi, dan kekalahan saya dari bu Yuni. Kalau itu pertanyaan Anda, maka jawabannya adalah begini: Kartini memperjuangkan emansipasi wanita karena beliau melihat ketertindasan perempuan dari laki-laki. Untuk melakukan perjuangannya Kartini tidak hanya menuntut dan merengek-rengek pada kaum lelaki masa itu agar peran wanita tidak dibatasi. Sebaliknya, beliau berjuang dengan melakukan tindakan nyata yang membuktikan bahwa wanita juga bisa unggul dalam hal-hal yang dulu hanya dilakukan oleh laki-laki. Nah, di lain pihak, bu Yuni juga telah menunjukkan kepada saya bahwa wanita memang bisa lebih unggul dari laki-laki. Buktinya dia bisa mengalahkan saya dalam pertandingan tenis. Dia tidak hanya merengek untuk diperlakukan sama, tetapi melakukan tindakan nyata yang membuktikan bahwa dirinya (dan kaumnya) tidak kalah, bahkan bisa lebih unggul, dari kaum laki-laki.

Jadi, kalau Anda adalah kaum hawa yang sedang menuntut emansipasi, ada baiknya Anda meniru dua orang di atas, Kartini dan bu Yuni. Jangan hanya menuntut untuk diberi diperlakukan sama, akan tetapi buktikanlah dengan tindakan nyata bahwa Anda memang layak mendapat perlakukan sama.

Lanjut...

Menyanyi dari Hati

Menyanyi, siapa di dunia ini yang tidak suka menyanyi? Hmm, rasanya tidak ada dech. Dari Afrika sampai Amerika, semua orang sedari kecil sudah terbiasa menyenandungkan nada-nada meski dengan bahasa yang berbeda. Bahkan, seorang yang notabene tidak bisa bicara pun masih bisa dan suka bersenandung meski tanpa mengeluarkan kata-kata. Yach, seperti saat kita ingin bernyanyi tapi tidak mengerti atau hapal liriknya gitu dech. Mengerti kan maksud saya?

Nah, kalau seorang yang tunawicara saja mau dan mampu bersenandung, apalagi dengan Anda-Anda yang bisa bicara secara sempurna. Pasti, pasti Anda, seperti juga saya sangat menyukai senandung kata-kata yang tertuang dalam sebuah nyanyian. Kenapa bisa begitu? Kalau Anda bertanya demikian, maka jawaban saya adalah bahwa lagu bisa mewakili suasana hati. Sebuah nyanyian bisa menunjukkan kesedihan kita sekaligus kebahagiaan yang sedang kita rasa. Tidak percaya? Tidak mengapa. Tapi coba jawab pertanyaan saya, ketika Anda sedang patah hati karena ditinggal kekasih, misalnya, selain menangis dan curhat pada teman dekat, apalagi yang ingin Anda lakukan? Hmm, rasanya saya mendengar suara hati Anda yang sedang berkata ”saya ingin menyanyi lagu sedih, lagu yang memiliki cerita sama dengan keadaaan saya saat ini". Apakah benar demikian? Kalau demikian berarti pernyataan saya bahwa nyanyian bisa mewakili perasaan adalah benar.

Bukti lain bahwa menyanyi adalah kesukaan hampir semua orang adalah kenyataan bahwa saat ini di berbagai belahan dunia kontes yang paling banyak diminati oleh masyarakat adalah kontes menyanyi. Tengok saja kontes American Idol. Setiap tahunnya berapa juta orang yang ikut ambil bagian dalam audisi kontes tersebut? Menurut yang saya baca sih, jumlah orang yang berminat untuk ambil bagian dalam acara tersebut sangat lah tinggi. Itu baru mereka yang turut ambil bagian dalam kontes tersebut. Belum lagi para pemirsa yang setiap minggunya menyaksikan tayangan kontes dari televisi. Mereka bisa mencapai ratusan juta. Hmm, sekali lagi jumlah mereka yang ingin ikut ambil bagian serta mereka yang selalu menyaksikan kontes ini menunjukkan betapa menyanyi merupakan sesuatu yang sangat digemari. Dan, hal yang sama pun terjadi di belahan dunia lainnya. Anda tahu kan bahwa kontes idol-idolan ini sekarang tidak hanya ada di Amerika saja? Kontes berlisensi American Idol ini diadakan di hampir seluruh penjuru dunia, termasuk juga di Indonesia.

Nah, meski kita semua suka menyanyi, tidak demikian halnya dengar mendengar nyanyian. Tidak sembarang penyanyi bisa membuat kita suka kepadanya. Bahkan, seorang diva yang sudah terkenal pun belum tentu bisa memikat kita meski dengan suaranya yang indah bagai burung camar. Kenapa bisa demikian? Karena keinginan kita untuk menyanyi adalah keinginan yang datang dari hati. Maka, kita pun juga hanya akan menyukai lagu yang menyanyi dari hati. Sejalan dengan nasehat Mary T. Browne bahwa sesuatu hanya akan menarik sesuatu yang sama. Dalam hal ini kegemaran akan senandung yang datangnya dari hati hanya akan bisa dipuaskan oleh senandung yang dinyanyikan dari hati pula, bukan hanya di mulut saja. Hmm, so sweet :D :D :D.

Karena itulah, tidak semua pengamen yang sering kita jumpai di bus-bus bisa menarik perhatian kita. Hanya segelintir pengamen saja yang kita sukai dan membuat kita rela mengeluarkan sedikit uang untuk diberikan kepadanya. Yang sedikit itu pasti menyanyi dari hati. Sedangkan yang lainnya tentu hanya bersenandung di mulut saja.

Dan perlu diingat, ini tidak hanya berlaku dalam hal menyanyi saja. Dalam hal-hal lain dan aktifitas apa saja hukum bahwa sesuatu harus datang dari hati bisa diterapkan jika Anda ingin mendapatkan respon datangnya juga dari hati. Maka, saat berbincang dengan tetangga, saat ngobrol dengan bawahan, saat berkumpul dengan teman, bahkan saat bergurau dengan anak-anak Anda pun, cobalah lakukan semua itu dari hati.


P.S:   Selamat menikmati bulan baru, Juli 2008. Semoga di bulan ini kebaikan kita yang bertambah bukan sebaliknya. Amien.  :-)

Lanjut...

Kesamaan yang Menjauhkan

Saya amat-amati, akhir-akhir ini di Negara saya Indonesia raya tercinta sedang mewabah satu penyakit yang menurut saya sih jauh lebih berbahaya dari sekedar HIV AIDS. Yach, setidaknya penyakit yang baru saya sebut terakhir sudah mulai ketemu obatnya. Anda pernah dengar kan kalau buah merah yang banyak terdapat di Papua kabarnya telah terbukti bisa menanggulangi efek mematikan dari penyakit paling fenomenal abad ini tersebut? Sementara, penyakit yang saya sebut pertama bukannya tidak ada obatnya. Obatnya sudah tersedia sejak lama, meski tidak dijual di apotik dan toko obat. Hanya saja tentu suatu obat tidak akan ada manfaatnya kalau tidak diminum tho? Nah, para pengidap penyakit ini hampir semuanya tidak menyadari bahwa diri mereka sedang mengidap penyakit, karena itu obat yang ada pun tidak diminum. Akibatnya, penyakit ini semakin mewabah dan semakin parah.

Anda pasti bertanya-tanya apa sebenarnya penyakit yang saya maksudkan. Baiklah, tidak usah ditunggu lama-lama, langsung saja akan saya beberkan pengamatan saya atas kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitar saya, yang saya yakin juga terjadi di sekitar Anda.

Di sekitar tempat saya, terdapat dua golongan orang yakni kaya dan miskin. Saya yakin ini juga ada di sekitar Anda. Dua orang golongan ini memiliki gaya hidup yang berbeda (yang tentu dong :D). Aktifitas mereka berbeda, tempat bermain berbeda, pendidikan berbeda, bahkan sampai cara bicara pun berbeda. Jadi, hampir dalam segala hal kedua golongan ini berbeda.  Akan tetapi, di antara begitu banyak perbedaan itu, terdapat satu kesamaan. Sayangnya, kesamaan ini tidak menjadikan kedua golongan menjadi dekat dan saling mengerti. Kesamaan di antara mereka itu justru membuat mereka saling menyalahkan. Apakah Anda bisa menerka apakah kesamaan itu? Tidak bisa? Baiklah, kesamaan itu adalah bahwa mereka sama-sama salah menggunakan dalil. Ha?! Maksudnya apa, maksude opo? Maksud saya begini: di dalam ajaran agama saya ada dua dalil untuk kedua golongan tersebut, kaya dan miskin. Kira-kira dalil pertama berbunyi ”Di dalam harta yang kau miliki, ada hak orang-orang miskin". Sedangkan dalil kedua berbunyi "Jangan sekali-kali kau menggantungkan hidupmu pada orang lain".

Nah, menurut Anda, apakah kedua dalil itu berlaku untuk kedua golongan? Ataukah hanya satu dalil saja yang berlaku untuk satu golongan sedangkan dalil lainnya tidak berlaku? Kalau memang hanya satu dalil yang berlaku untuk suatu golongan, kira-kira dalil mana yang seharusnya digunakan oleh golongan kaya, dan dalil mana yang seharusnya dipegang oleh golongan miskin?

Saya yakin Anda bisa menjawabnya dengan benar. Ya, masing-masing dalil di atas hanya berlaku untuk satu golongan. Dalil pertama seharusnya dipegang oleh golongan kaya, sedangkan dalil kedua seharusnya menjadi pegangan golongan miskin. Kalau kedua golongan tersebut bisa memegang dalil secara tepat, tentu tidak akan ada saling salah menyalahkan di antara kedua golongna itu. Orang kaya tentu akan tanpa diminta memberikan sebagian harta yang dimiliki untuk orang miskin yang membutuhkan. Sedangkan orang miskin tidak akan menggantungkan dirinya pada orang kaya dengan cara meminta. Bukankah kalau demikian yang terjadi, hidup akan seimbang. Tidak akan ada rasa saling memandang sebelah mata? Orang kaya tidak akan mengolok-olok yang miskin karena mereka tidak pernah meminta-minta. Dan orang miskin tidak akan membenci yang kaya karena mereka tanpa diminta telah menafkahkan harta yang dimiliki.

Nyatanya, yang terjadi tidak demikian. Kedua golongan itu sama-sama mengambil dan memegang dalil-dalil yang seharusnya menjadi pegangan golongan lainnya. Orang kaya menggunakan dalil kedua, sedangkan orang miskin mengambil dalil pertama. Maka, terjadilah fenomena yang sangat tidak nyaman dipandang mata. Orang kaya menjadi pelit. Saat ada peminta-minta, meski memberi, dalam hati mereka mengutuki si peminta. Sedangkan orang miskin menjadi tidak mandiri dan lebih suka menggantungkan hidupnya pada orang kaya. Ya, demikianlah dampak dari satu kesalahan: salah menggunakan dalil.

Itu baru satu contoh kejadian. Masih banyak kejadian lain yang disebabkan oleh kesalahan menggunakan dalil yang kalau semuanya ditulis dalam postingan ini anda tentu akan kehilangan semangat membaca karena saking banyaknya. Maka, lebih baik saya cukup memberikan satu contoh. Tugas Anda adalah mencari contoh-contoh lainnya. Dan, kalau Anda telah menemukan contoh lain, berbaik hatilah untuk mencantumkannya di dalam komentar. :D.

Akhirul posting (hehehe, niru siapa hayo ?!) mari kita memiilih dan menggunakan dalil yang benar. 

 

Lanjut...

Antara Morpheous, Mariah Carrey, dan R. Kelly

Ada hubungan apa di antara ketiga orang tersebut? Ada yang tahu? Silahkan dipikirkan. Waktu kalian tidak banyak. Saya hitung sampai lima.

1
2
3
4
5

Jadi tidak ada yang tahu. Baiklah kalau begitu biar saya mulai cerita saya kali ini. Dengarkan baik-baik karena saya hanya akan bercerita sekali dan tidak akan mengulangi untuk kedua, ketiga, apalagi yang keempat kali. Semua HP harap dimatikan. Atau ringtone di silent saja biar tidak menganggu saya.

Baiklah, pertama akan saya bahas Morpheous. Dia adalah salah satu tokoh dalam film Trilogi The Matrix. Ingat? Bagi yang tidak ingat atau bahkan belum pernah menonton film ini, ijinkan saya sedikit menggambarkan film ini sekalian membeberkan seperti apa Morpheous. The Matrix merupakan salah satu film sukses Hollywood bertema science fiction atau fiksi ilmiah. Dan menurut pandangan subjektif pencari hikmah, film ini termasuk ke dalam kategori film berat yang tidak semua orang bisa menikmatinya. Ya bagaimana tidak berat kalau ceritanya begitu membingungkan secara nalar. Apakah Anda bertanya kenapa membingungkan? Seseorang bisa masuk ke dalam sebuah dunia yang benar-benar berbeda dari dunia yang dia tinggali hanya dengan cara menyambungkan diri dengan sebuah alat semacam komputer. Begitu kira-kira cerita film ini. Dan jika seseorang mati di dalam dunia yang dimasukinya lewat komputer itu, maka dia akan benar-benar mati di dalam dunia nyata. Membingungkan tho? Kalau tidak, berarti Anda patut bersyukur karena mungkin IQ dan kemampuan logika Anda termasuk Genius.

Lalu siapa Morpheous itu? Dia adalah salah tokoh utama yang perannya di dalam film secara keseluruhan tidak boleh dipandang sebelah mata. Neo, si tokoh utama, masuk ke dalam dunia matrix dan kemudian bermetamorfosa menjadi Sang Pahlawan tidak lain dan tidak bukan adalah karena Morpheous. Morpheous yang menemukan dan membimbingnya meski ketika Neo bertanya bagaimana Morpheous menemukan dirinya dia menjawab ”bukan aku yang menemukanmu, tapi engkaulah yang telah lama mencariku, dan kini kau menemukanku". Hmmm, filosofis banget ya.

Dan, ini yang penting. Morpheous bisa melakukan semua itu karena dia percaya. Dia percaya bahwa dia akan menemukan Neo seperti yang dikatakan oleh Oracle, tokoh lainnya. Dia juga percaya bahwa Neo lah sang terpilih yang akan bisa menyelamatkan the matrix. Dan, Kepercayaan serta keyakinan Morpheous ini kemudian menular kepada Neo yang akhirnya memang menjadi tokoh utama penyelamat dunia. Semua itu terjadi karena Morpheous percaya.

Cukup tentang Morpheous, sekarang biar saya cerita sedikit tentang Mariah Carrey. Kalau yang ini saya yakin Anda-anda sekalian sudah lebih paham dari pada saya. Benar, dia adalah salah seorang diva pop dengan suara (katanya) hingga minus 5 oktaf. Wow, luar biasa. Bayangkan minus lima oktaf! Atau sederhananya, dia bisa menyuarakan hingga lima nada di bawah nada Do (Si Cantik Al Qudsy pasti ketawa membaca ini dan mungkin akan bilang ”sok tahu”). Dengan suara yang sedemikian istimewa, ditambah body seksi serta wajah (menurut saya) kalem, maka tidak mengherankan kalau Diva yang satu ini menjadi penyanyi papan atas dunia yang album lagunya sangat ditunggu-tunggu.

Meski secara pribadi saya menyukai hampir semua lagunya, hanya satu lagu saja lah yang membuat dia masuk nominasi untuk disandingkan dengan Morpheous di dalam postingan ini. Lagu apa hayo???

“There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, It's hard to kill
Who knows what miracles, you can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe”

Itu sedikit liriknya. Ada yang tahu apa judul lagunya? Iya,  benar. When You Believe. Yach, kira-kira lagu ini adalah untuk mencapai sesuatu, yang pertama kali harus kita lakukan adalah mempercayai atau meyakini bahwa kita bisa meraih yang kita inginkan itu. So sweet kan? Nah, sekarang sudah tahu kan kaitan Mariah Carrey ini dengan Morpheous?

Lalu ada kesamaan apa sampai R. Kelly dikaitkan dengan kedua orang di atas? Santai saja man. Nggak usah grusah-grusuh. Pasti akan saya jelaskan kok.

Begini, salah satu lagu R. Kelly yang paling terkenal, fenomenal, dan inspiratif adalah lagu berjudul “I believe I can fly”. Bagi yang pernah membuka profile saya tentu sudah tahu bahwa lagu ini merupakan lagu favorit saya. Bagi saya lagu ini sedemikian inspiratif dan menggugah sehingga tiap kali diterpa masalah, mendengarkan lagu ini sanggup memulihkan semangat juang saya. Liriknya tidak usah saya tuliskan ya? Googling aja pasti ketemu kok (padune ora apal :D).

Demikianlah hubungan dekat ketiga orang itu (Morpheous, Mariah Carrey, dan R. Kelly). Ketiganya menyerukan satu pesan bahwa kunci penting untuk meraih sesuatu adalah dengan percaya. Lalu, apakah Anda mau meraih yang Anda inginkan? Kalau iya, mulai sekarang yakinkan diri Anda seyakin-yakinnya bahwa Anda bisa meraih keinginan itu. Cepat atau lambat, jika Anda tetap berpegang tegus pada keyakinan itu, keinginan Anda pasti akan tergapai.

Lanjut...

Sandal, Sandal, dan Sandal

Pernah punya sandal yang Anda sayangi dan tiba-tiba hilang entah ke mana? Pernah? Seperti semua orang pernah mengalami hal yang satu ini. Meski dalam tingkatan rasa sayang yang berbeda-beda, sepertinya semua orang pernah menyayangi sesuatu yang menjadi miliknya. Dan menurut saya sandal adalah barang yang tampaknya paling mungkin untuk disayangi oleh semua orang. Lebih dari itu, barang yang satu ini juga paling rawan hilang. Kenapa? Ya jelas lah, masak ya Jelas dong! Ya jelas karena tidak seperti barang lainnya yang bisa selalu kita kenakan atau kita bawa atau juga kita simpan, di beberapa tempat barang yang bernama sandal ini harus kita lepaskan dari kaki kita tak peduli betapa sayangnya kita padanya. Misalnya saja saat Anda harus ke masjid, mau tidak mau tentu sandal tidak bisa Anda pakai. Ia harus rela kita tinggal di depan masjid. Dan, karena memang di sinilah sandal harus di lepas, maka otomatis salah satu tempat di mana sandal sering hilang adalah di masjid.

Adapun saya, saya pernah beberapa kali kehilangan sandal kesayangan. Kadang sandal yang saya sayangi itu harganya mahal. Kadang juga si sandal tidak terlalu mahal tapi bentuk dan enak di pakai di kaki. Entah itu mahal maupun hanya karena pas di kaki, yang namanya sandal kesayangan jika hilang maka kita akan merasa kehilangan. Begitu pula dengan saya, meski saya sadar sesadar-sadarnya bahwa sandal hilang adalah hal biasa, dan bahwa harga sandal tidak terlalu mahal sehingga kita bisa dengan mudah mencari pengganti, saat sandal kesayangan saya hilang saya betul-betul merasakan kepahitan. Ada rasa sesak di dada.

Well, di antara momen-momen hilangnya sandal saya itu, saya masih ingat dua kejadian di antaranya. Yang pertama terjadi di Yogyakarta. Sedangkan yang kedua terjadi di Cirebon. Meski tempat terjadinya kedua kehilangan saya itu sangat jauh terpisah jarak, dan beda provinsi, namun ada kesamaan yang melatarbelakangi kepergian saya ke kedua tempat itu. Yakni, acara keagamaan.

Kejadian pertama yang di Yogyakarta terjadi saat saya masih berusia remaja. Kalau tidak salah saat itu berusia sekitar 12 atau 14 tahun. Saya pergi ke Yogya bersama keluarga saya untuk Piknik. Hampir semua tempat pariwisata di Yogya dan sekitarnya waktu itu kami kunjungi dengan penuh suka cita. Maklum, masih kecil dan pergi jauh ke luar kota bukan sesuatu yang bisa saya lakukan di hari-hari biasa. Hanya pada saat-saat istimewa saja yang bisa pergi keluar kota dan bersama keluarga lagi.

Nah, pada saat tiba gilirannya piknik di Kebun Binatang Gembiro Loka, kebetulan waktunya pas siang hari dan waktu sholat dzuhur pun tiba. Entah apa yang mendorong hati saya waktu itu, panggilan sholat di sebuah  musholla benar-benar telah menarik keinginan saya untuk sholat. Saya bahkan tidak mengajak satu orang kerabatpun untuk ikut sholat bersama saya. Maka, setelah wudlu saya langsung masuk ke musholla dengan tanpa ada pikiran apapun. Dan saat saya telah selesai sholat dan hendak berkumpul lagi bersama kerabat, oh no! sandal saya yang tadi saya tinggalkan dengan pedenya tidak ada lagi di tempat semula.

Saya yakin seyakin-yakinnya sandal saya bukan sandal ajaib. Karena itu tidak mungkin dia jalan-jalan sendiri saat saya sedang sholat. Saya juga yakin bahwa tadi tidak ada satu orang kerabat pun yang bersama saya ke musholla itu. Jadi, tidak mungkin si sandal di sembunyikan untuk menggoda. Maka, dengan hati agak kecewa (ya gimana nggak kecewa wong kehilangan kok) saya berusaha mencari-cari si sandal di semua sudut musholla. Setelah semua sudut saya telusuri dan si sandal tidak juga kelihatan batang hidungnya, maka saya ambil kesimpulan bahwa si sandal sudah diambil orang. Dengan dipaksa-paksakan, saya harus mengingat ajaran guru ngaji dulu bahwa sesuatu yang lepas dari kita tidak lah benar-benar hilang, hanya sedang diperlukan orang. Dalil inilah yang saya pakai saat kerabat-kerabat saya menanyakan ha ihwal sandal saya. Saat mereka bertanya “Sandalmu Ilang yo?” Dengan lantang saya menjawab “Tidak hilang, cuma sedang dipinjam. Pasti akan diganti.”

Yang kedua terjadi beberapa waktu lalu di Cirebon saat saya ikut ziarah wali songo. Saat hendak ke makam sunan gunung jadi, saya (sebetulnya bukan hanya saya saja, akan tetapi semua peziarah) harus melepaskan alas kaki. Kali ini dengan sangat pede saya juga meninggalkan sandal kesayangan tanpa ada rasa curiga atau firasat akan terjadinya kehilangan. Dengan khusyuknya saya bisa mengikuti ziarah di tempat itu. Dan saat hendak kembali ke bis, lagi-lagi si sandal telah tidak tampak batang hidungnya. Saya cari ke sana kemari, siapa tahu hanya posisinya yang berubah, tapi tak juga saya temukan. Maka, saya simpulkan sandal saya yang satu inipun telah tidak menjadi milik saya lagi. Dengan perasaan masgul yang ditahan-tahan saya kembali ke bis. Saat berjalan ke bis itulah tercetus satu pikiran di benak saya: pasti kejadian ini mengandung pesan khusus untuk saya, buktinya sebegitu banyak orang, dan dengan sandal yang lebih bagus dari milik saya, hanya saya seorang yang kehilangan sandal. Entah apa pesan dari kehilangan saya ini. Tapi saya yakin pasti ada.

Begitulah, sandal saya kini telah berubah. Sekembali dari ziarah, saya memutuskan untuk membeli sandal yang lebih bagus dan harganya jauh lebih mahal. Ya, setidaknya agar saya tidak lagi menyesali kehilangan itu. Dengan sandal yang lebih bagus saya berharap justru bisa mensyukuri hilangnya si sandal.

 

Lanjut...

Kaca Mata (Tanpa) Kuda

Rasanya kita semua memang selalu menginginkan apa yang tidak kita miliki. Dan setelah medapatkan yang kita inginkan itu, seringkali kita menyesalinya. Atau, kita tidak puas dengan apa yang didapatkan dan mengharapkan yang lebih dari yang sekarang bisa kita raih.

Dalam kasus saya, saya juga tidak hanya sekali dua kali mengharapkan sesuatu akan tetapi kemudian saat yang saya harapkan itu bisa saya raih, eh malah sesal yang saya rasa. Selain kasus kumis plus jenggot, ketika masih kecil juga pernah berharap untuk memakai kaca mata kelak jika sudah besar. Waktu itu, di mata saya, kaca mata merepresentasikan intelektualitas seseorang. Maka, jika orang berkacamata adalah orang yang intelek dan cerdas. Sedangkan orang yang tanpa kaca mata adalah orang-orang biasa.

Tentu saja, pandangan saya tentang pengaitan antara kaca mata dengan intelektualitas ini tidak tumbuh dengan serta merta. Ada sesuatu yang mendorong saya untuk berpikir demikian. Pendorong lahirnya pendapat semacam itu adalah tontonan di televisi yang selalu menempatkan dan mengidentikkan kaca mata dengan kecerdasan. Oh ya, dulu saya suka menonton “Oh, I Shrunk the Kid”. Kalau Anda termasuk penggemar atau setidaknya pernah menonton film ini tentu Anda tahu bahwa di situ ada satu karakter jenius yang penggambarannya adalah seorang anak berkaca mata, tebal lagi. Yah, sepertinya film ini ikut membentuk pendapat saya tentang hubungan kecerdasan dengan kaca mata.

Memang tidak hanya satu film ini. Banyak tayangan lain di televisi yang menggambarkan orang cerdas dengan cara yang sama, yakni memakai kaca mata. Bahkan, di majalah-majalah, koran, dan Tabloid pun, kecerdasan senantiasa divisualisasikan dengan kaca mata. Ya, kalau Anda belum percaya, coba tonton film-film tentang anak-anak jenius atau bukalah tabloid anak-anak dengan tema yang sama. Saya jamin Anda akan menemukan seperti yang saya gambarkan.

Itu hal pertama yang mempengaruhi saya. Adapun alasan kedua saya waktu itu berharap untuk menggunakan kaca mata adalah penilaian saya akan penampilan orang-orang berkaca mata. Ya, saya menganggap pemakai kaca mata kelihatan jauh lebih good looking atau lebih enak dipandang mata ketimbang orang-orang yang tidak berkaca mata. Tentu saja, kriteria good lookingness ini tidak mencakup semua pemakai kaca mata. Mereka yang kata matanya terlalu tebal, yang di tempat saya dulu sering disebut tesmak tidak masuk kategori good looking meski mereka berkaca mata. Hanya mereka yang kaca mata tidak menunjukkan kekurangan pada matanya saja lah yang terlihat semakin menarik dengan kaca mata bertengger di atas hidungnya.

Dan, harapan saya memang menjadi kenyataan. Ketika duduk di bangku kuliah, saya seringkali tidak bisa mencatat yang dituliskan dosen hanya karena tempat duduk saya tidak terdepan. Awalnya, saya mengira memang tulisan dosen tersebut yang terlalu kecil dan kurang bagusnya pencahayaan yang membuat tulisan dosen tidak terlihat. Akan tetapi, lama kelamaan saya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan mata saya. Setelah diperiksa, benar lah bahwa mata saya min. Tidak terlalu banyak sih, tapi sudah harus memakai kaca mata kalau ingin memandang segala sesuatunya dengan lebih jelas.

Maka, sejak saat itu saya harus menggunakan kaca mata. Awalnya, kebahagiaan jelas-jelas saya rasakan. Bagaimana tidak bahagia, lha wong saya meraih apa yang selama ini saya harapkan. Saya juga bahagia karena ternyata setelah begitu lama melihat dunia yang tidak begitu jelas, kini saya bisa menyaksikan sekeliling saya yang terang benderang. Rumput di lapangan terlihat begitu hijau, padahal sebelumnya rumput itu sama sekali tidak menarik perhatian saya. Ya, awalnya saya sangat bahagia.

Tapi yang terjadi kemudian, setelah berselang cukup lama, barulah saya menyadari bahwa dengan memakai kaca mata, saya sekian persen kemerdekaan saya terenggut. Yah, setidaknya saya tidak bisa lagi menonton TV dengan tiduran. Karena jika saya melakukannya, maka mata saya akan terasa sedikit sakit. Selain itu, jika saya naik sepeda dan kebetulan hujan turun, maka saya harus siap-siap berulang kali menyeka dan membersihkan kaca mata saya agar pandangan menjadi cerah dan jelas kembali.

Apa boleh buat, sekarang tanpa kaca mata saya tidak bisa beraktifitas dengan baik. Maka, meski kebebasan sedikit terenggut, kaca mata saya ini sedikit banyak telah juga memberikan sesuatu yang dulu pernah hilang, yakni pandangan dan pemandangan yang cerah dan jelas.

Setidaknya dua keinginan saya terkabul meski kemudian agak saya sesali. Maka, saya tidak akan lagi membuat keinginan seenak hati. Takut kelak menyesal lagi.

 

Lanjut...

Kumis, bukan kumis(kinan)

Ada satu bagian dari tubuh saya yang minimal tiga kali sehari harus saya perhatikan. Apabila saya melanggar hal ini maka penampilan saya akan terlihat tidak karuan. Dengan kata tidak karuan, maksud saya penampilan akan terlihat kurang begitu rapi, meski tidak bisa juga dikatakan awut-awutan. Gimana ya? Yach, intinya kalau kewajiban untuk memperhatikan bagian tubuh saya yang satu ini tidak saya jalankan maka penampilan saya yang biasanya imut dan bersih, plus rapi akan berubah menjadi sedikit kotor dan tampak kurang merawat diri.

Seperti yang tentunya sudah Anda semua duga, bagian tubuh yang satu ini adalah kumis. Apakah Anda juga memilikinya di bawah hidung Anda? Kalau Anda pria mungkin sekali Anda memilikinya. Akan tetapi, kalau Anda wanita sungguh mustahil bagian tubuh yang satu ini juga terdapat pada tubuh Anda.

Ya, kumis saya ini (plus jenggotnya) memang sekarang cukup merepotkan. Gimana nggak merepostkan kalau setidaknya setiap tiga hari saya harus merapikannya. Benar, jika  satu hari saja yang terlupa untuk menjalankan kewajiban, kumis dan jenggot saya ini sudah akan terlihat lebat. Sebenarnya kalau benar-benar lebat seperti yang dimiliki oleh Pak Raden sih malah enggak apa-apa. Lha milik saya ini tidak selebat kumisnya pak Raden. Kumis saya ini hanya terlihat hitam dan terjulur pendek-pendek. Sungguh sangat mengganggu penampilan saya.

Sebenarnya saya pernah punya niat untuk membiarkan kumis dan jenggot saya ini untuk tumbuh bebas tanpa harus saya perhatikan secara reguler. Dan, pernah saya benar-benar menjalankan rencana saya ini. Tapi apa yang terjadi, meski sudah dibiarkan cukup lama, jenggot dan kumis saya tidak tumbuh seperti yang saya inginkan. Kedua bulu di wajah saya ini memang bertambah panjang. Kumis yang letaknya di bawah hidung ini bahkan kadang sampai ke bibir, saking panjangnya. Begitu pula dengan jenggot saya. Saking panjangnya, saya sempat bisa mengelus-elusnya seperti yang sering dilakukan oleh Pepi di acara empat mata.

Tapi, sayangnya hanya cukup sampai panjang saja. Titik. Kumis dan jenggot saya kalau dibiarkan hanya bertambah panjang. Keduanya tidak dengan sendirinya menjadi rapi dan enak dipandang seperti yang saya harapkan. Dan karena hanya bisa tumbuh panjang tanpa bisa menjadi rapi ini, maka dengan semakin lamanya saya biarkan keduanya, semakin awut-awutan pula penampilan saya. Maka, dengan tekad bulat sejak saat itu saya berjanji akan selalu menjaga penampilan saya dengan secara teratur memotong kumis dan jenggot saya. Hasilnya, saya harus rela menyediakan waktu untuk memandang wajah saya di cermin dan memperhatikan apakah kedua bulu di wajah saya ini sudah saatnya dipotong atau belum. Hal ini cukup mengganggu. Tapi, ya harus saya nikmati.

Padahal, ketika kecil dulu saya selalu memimpikan untuk memiliki kumis dan jenggot yang cepat tumbuh. Menurut saya waktu itu, seorang pria yang tidak memiliki kumis dan jenggot tidak akan kelihatan kelelakiannya. Sebaliknya, seorang pria yang berkumis dan berjenggot lebat adalah simbol lelaki perkasa. Kini, saat harapan saya semasa kecil terkabul, dan kumis serta jenggot saya selalu tumbuh lebih dengan cepat, kenapa saya justru merasa tidak senang ya?

 

Lanjut...

Sakit Perut

Ini nih penyakit yang kalau saya amat-amati sering menimpa saya. Ya memang sih kalau dibandingkan dengan orang yang penyakitnya macam-macam dan memerlukan biaya sangat besar agar kembali sembuh ke keadaan normal, penyakit saya ini adalah penyakit kecil. Jadi, sudah selayaknya kalau saya memanjatkan syukur hanya dikasih penyakit seperti ini. Tapi, yang namanya penyakit, tetap saja kalau datang rasanya menyiksa. Dampaknya, aktifitas saya mau tidak mau harus terganggu.

Berkaitan dengan penyakit ini, salah seorang saudara saya suatu ketika kirim short message service (atau bahasa gaulnya SMS lah) pada saya. Isinya mengabarkan kalau dirinya sedang terhinggap oleh penyakit men****. Di dalam sms waktu itu dia mengatakan, “Kabarku lagi kurang baik nih, biasa penyakit nggak elite nya lagi datang. Aku sudah dua hari ini lagi men****”

Jadi oleh saudara saya ini, penyakit men**** yang dideritanya dianggap sebagai penyakit nggak elite. Saya yakin di balik sms itu, dia berpikir bahwa penyakit yang elite itu ya seperti penyakit jantung, paru-paru, gagal ginjal, stroke, dan penyakit-penyakit lain yang biasanya diderita oleh orang-orang berduit dan penyembuhannya juga memerlukan uang yang tidak sedikit.

Nah, menerima sms seperti itu, secara otomatis pikiran saya memberontak. Maka saya balas sms saudara saya itu. Intinya, saya tidak setuju dengan pandangannya. Ya, menurut saya men**** atau masuk angin, atau sakit perut, atau bahkan panu, kadas, kudis, kurap dan sebangsanya itu tidak bisa dikatakan sebagai penyakit tidak elite. Alasan saya sih sederhana, siapa saja berpeluang menderita penyakit-penyakit ini sebagaimana penyakit-penyakit seperti gagal ginjal, gagal jantung, dan kawan-kawannya yang juga berpeluang untuk diderita oleh siapapun tidak hanya oleh mereka yang berduit. Buktinya, tetangga saya pernah ada yang meninggal karena sakit paru-paru lebih tepatnya asma. Padahal tetangga saya itu bukan orang kaya. Dia bahkan sangat memenuhi syarat untuk disebut miskin dan karenanya berhak mendapat BLT. Dan memang pada tahap pembagian pertama, dia mendapat bagian BLT.

Selain itu, penyakit-penyakit yang oleh saudara saya itu sebut sebagai penyakit gak elite itu juga terbukti pernah menjadi penyebab kematian seseorang. Memang sih, belum pernah ada laporan dari media massa bahwa seseorang meninggal dunia lantaran penyakit panu. Tapi, tentunya sudah banyak dong laporan surat kabar yang memberitakan kematian seseorang karena masuk angin, atau men****, atau sakit perut. Nah, kalau demikian, berati benar penyakit-penyakit ini tidak boleh dianggap nggak elite. Yach, intinya penyakit-penyakit itu tetap harus dimasukkan ke dalam kategori elite.

Masalahnya kemudian penyakit seperti apa yang layak dimasukkan ke dalam kategori tak elite? kira-kira demikian balasan sms saudara saya itu kemudian. Menjawab smsnya, dalam sms saya selanjutnya yang saya masukkan ke dalam kategori penyakit nggak elite adalah penyakit-penyakit macam iri hati, dengki, sombong, lupa diri, wa ala aalihi wa ashabihi ajama’in. Alasan saya memasukkan penyakit-penyakit ini ke dalam kategori penyakit nggak elite adalah bahwa tak peduli betapa kayanya seseorang, kalau dia mengidap salah satu penyakit tersebut, sikapnya akan terlihat layaknya orang-orang tak berbudaya. Bayangkan saja seorang bos yang sombong. Pasti dia akan bersikap merendahkan para bawahannya. Nah, dalam budaya komunal dan kemasyarakatan di mana sikap saling menghargai adalah sebuah keharusan, sikap suka merendahkan orang lain yang ditunjukkan oleh si bos ini tentu tidak bisa diterima. Nah, kalau sikap seseorang tidak diterima oleh masyarakat, berarti sikap itu termasuk sikap tak berbudaya. Maka, orangnya pun juga bisa dimasukkan sebagai orang yang tak berbudaya. Orang tak berbudaya bisa disamakan dengan orang tak elit lah.

Jadi, kawan-kawan sekalian, tidak usah merasa malu kalau Anda langganan menderita sakit perut, masuk angin, atau mencret seperti yang saya alami. Karena penyakit ini termasuk penyakit elit, yang sama berbahayanya dengan penyakit lain seperti gagal jantung dkk. Sebaliknya, Anda boleh merasa malu kalau kawan-kawan masih sering suka iri hati, dengki, dan teman-temannya. Karena penyakit ini sama sekali elite. Karena semua penyakit ini hanya menunjukkan bahwa jiwa kawan-kawan tidak elite sama sekali.

 

Lanjut...

Pelajaran dari Ksatria Bergitar

Pesan sponsor, "Apapun makanannya, minumannya tetap Air".

Yach begitulah, apapun yang kita makan, kita tetap butuh hal yang sama setelah itu, yakni air. Tanpa air, rasanya apa saja kita makan tidak lagi terasa menyenangkan. Bisa jadi malah menyiksa kerongkongan dan perut kita. Apalagi kalau makanannya pedas. Uh, pasti deh air adalah keharusan.

Nah, kalau air adalah keharusan setelah makan, maka terkait dengan pekerjaan, agar pekerjaan itu menghasilkan dan menyenangkan serta menjadi andalan, ada juga satu keharusan yang harus dipenuhi. Apa itu? Biar Anda penasaran, biarkan terlebih dahulu saya bercerita mengenai pengalaman saya berhadapan dengan ksatria bergitar di sebuah terminal.

Eit! Tunggu dulu. Jangan dikira sang ksatria yang satu ini sama dengan ksatria yang sebelumnya sudah saya ceritakan. Itu tuh, sang ksatria bergitar yang tubuhnya dipenuhi tato yang menyadarkan saya bahwa saya masih belum bisa lulus ujian untuk senantiasa berbaik sangka. Ksatria yang satu ini beda. Bukan orang yang sama.

Anda mungkin berpikir dalam hati, "kok pencari hikmah ini belajarnya dari para pengamen sih?". Yach, sebagai pencari hikmah saya memang harus bisa mengambil pelajaran dari manapun, apapun, dan siapapun. Dan termasuk dalam katergori siapapun ini ya si pengamen. Dan, benar memang seringkali saya mendapatkan pelajaran saat ketemu pengamen.

Pernah suatu suatu ketika saya naik bis dan menumpanglah seorang pengamen dengan menenteng gitarnya. Perawakannya seperti seorang bintang film. Ganteng. Juga kekar, yach... kira-kira seperti George Rudy yang dulu pernah memerankan prabu Brama Kumbara di TPI. Tahu kan, ganteng, tinggi, gagah, kekar. Pokoknya semua yang baik-baik ada padanya. Tetapi, oh my godness, saat dia mulai memainkan gitar dan membuka mulut untuk bersenandung, gendang telingan saya ini terasa sangat sakit sehingga saya secara terang-terangan menutupi kedua kuping saya ini. Kenapa coba? Benar, dia tidak bisa memainkan gitarnya dengan benar. Asal genjreng saja seperti saat keponakan saya yang masih kecil memainkan gitarnya. Tapi, telinga saya sakit bukan hanya karena itu. Yang lebih mendorong saya untuk menutup kedua kuping saya adalah karena si pangamen tadi ternyata gagu, bisu. Bayangkan, sudah suara gitarnya sumbang minta ampun, ditambah nyanyian yang dibawakan bukanlah nyanyian. Hanya gremengan, atau teriakan-teriakan tak jelas nadanya. Benar-benar membikin telinga sakit dalam arti literal.

Nah, saat melihat si pengamen tadi saya berpkir bahwa seharusnya kita bekerja itu yang melihat-lihat kemampuan dan keterbatasan kita. Lucu kan, kalau seorang yang bisu (dalam arti yang sebenarnya) memaksakan diri untuk mencari uang dengan cara mengamen. Ya, harusnya kan orang yang bersikeras mencari uang dengan cara ngamen haruslah orang yang 1) bisa memainkan alat musik dengan baik, dan 2) bisa menyanyi dengan bagus, tanpa nada sumbang. Si pengamen yang barusan itu jelas-jelas tidak memenuhi kedua syarat di atas. Lha kok tetap maksa mencari nafkah dengan mengamen. Ini namanya tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Kata guru ngaji saya, orang yang tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya itu adalah orang yang dzalim. Dalam kasus pengamen tadi, dia tidak hanya menzalimi diri sendiri akan tetapi juga menzalimi orang lain.

P.S. Postingan berikutnya akan membahas tentang pengamen yang kehadirannya dinanti-nanti.
       Tunggu saja!

Lanjut...

Buruk Sangka

“Jangan lihat buku dari kovernya” itu kata pepatah. “Jangan lihat orang dari kasingnya” itu kata Tukul Arwana. “Jangan menilai orang hanya dari penampilan fisiknya” Itu kata saya. Mana di antara ketiga kata-kata itu menurut Anda yang paling benar? Yang paling benar ya ketiga-tiganya. Lha wong arti semuanya sama. Ya maksudnya seperti kata saya di atas, jangan menilai orang hanya dari penampilan fisiknya.

Saya yakin sebagian besar dari kita, atau bahkan kita semuanya sudah pernah mendengar dan mengerti nasehat kata-kata bijak ini. Setidaknya sedari SD kita telah diajari oleh bapak/ibu/saudara/saudari guru kita (coret yang tidak perlu) bahwa penampilan fisik tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan hati seseorang. Ya, meskipun para motivator juga sering kali menasehati kita jika ingin mengubah kepribadian maka pertama-tama yang harus diubah adalah penampilan. Tapi, saya cenderung lebih setuju dengan yang pertama tadi bahwa penampilan bukanlah patokan kepribadian.

Nah, saudara-saudara sekalian, meskipun kita semua telah pernah mendengar serta telah mengerti maksud dari kata-kata bijak itu, akan tetapi sebagian besar dari kita jarang sekali mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan saya juga termasuk dari sebagian besar orang itu. Meski sudah tahu setahu-tahunya, dan sudah paham sepaham-pahamnya kata-kata bijak itu, toh ketika diuji untuk mempraktikkannya, saya masih belum lulus. Saya gagal untuk berpikir positif terhadap orang di hadapan saya bagaimanapun bentuknya. Sebaliknya, saya malah terjebak dalam buruk sangka yang pada akhirnya harus saya sesali saat mengetahui pikiran negatif saya itu ternyata salah.

Begini ceritanya, suatu hari saat saya harus pergi keluar kota naik bis umum (hahaha, tidak berarti saya biasanya naik mobil pribadi lho ya), seperti layaknya bis lain, di tengah perjalanan ada seorang ksatria bergitar (pengamen - red.) masuk ke bis yang saya tumpangi. Nah, pada saat inilah pikiran negatif saya pada si ksatria tadi mulai bekerja. Setidaknya ada tiga pikiran buruk saya pada sang ksatria. Pertama, dia pasti sebenarnya tidak bisa memainkan gitar dengan baik. Yang kedua, meski dia bisa bermain gitar dengan baik, tentu dia hanya bisa menyanyikan lagu-lagu yang liriknya nggak bermutu, apalagi lirik-lirik yang religius. Dan, yang ketiga, dia pasti akan meminta dengan cara memaksa pada para penumpang untuk memberikan recehan.

Saudara-saudara, tidak dengan sendirinya sangkaan buruk saya itu mengganggu pikiran saya. Ada yang membangkitkannya hingga saya berpikir demikian. Dan, tahukah saudara-saudara sekalian, yang membangkitkan sangkaan buruk saya pada si ksatria tadi adalah penampilannya. Bayangkan saja, si ksatria tadi hampir seluruh tubuhnya dipenuhi oleh tato. Memang sih bukan semua bagian tubuhnya bertato. Saya hanya ingin mengatakan bahwa tatonya banyak dan gambarnya serta tulisannya pun sangar. Nah, dalam budaya Indonesia yang kalem ini, kalau kita melihat orang dengan penampilan semacam itu tentu tidak terlalu salah jika kemudian kita memiliki pikiran buruk pada orang itu. Kenyataannya kan memang tato sering kali dipakai oleh mereka yang disebut preman dan tato juga seringkali memang digunakan sebagai simbol kekerasan. Jadi, wajar lah kalau saya berburuk sangka pada beliaunya.

Tapi, apakah ketiga sangkaan buruk di atas tadi terbukti. Ternyata eh ternyata, saat si ksatria mulai memainkan jarinya pada senar gitar, sangkaan buruk pertama saya terpatahkan. Dia bisa memainkan gitarnya dengan cukup apik. Terbukti saya terbawa oleh alunan nada-nada yang dimainkannya. Kemudian, saat dia mulai membuka suara untuk menyanyi, terbukti pula lah bahwa sangkaan buruk kedua saya juga keliru. Yang keluar dari mulutnya adalah sebuah lagu religius. Yah, seperti lirik taubatnya seorang preman. Kira-kira begini liriknya
  
    Gema adzan subuh, aku ketiduran. Gema adzan dzuhur, aku         sibuk bekerja. …… Pantaskah surga untukku?!”

Nah loh, tidak seperti yang saya bayangkan to? Dan, selanjutnya saat lagu yang dinyanyikan sudah usai dan tiba saatnya bagi si ksatria untuk meminta imbalan, sungguh kata-kata yang diucapkannya sanggup meluluhlantakkan sangkaan buruk saya yang ketiga. Dengan sangat sopan si ksatria memohon pada semua penumpang untuk bisa memberikan recehan seikhlasnya. Dan, saat ada penumpang yang tidak memberinya recehan, dia tidak menampakkan wajah kecewa. Hanya satu kata yang terucap dari mulutnya “Nggih, matur nuwun”

Hahaha, lagi-lagi saya tidak lulus ujian untuk tidak menilai orang dari penampilannya. Capek dech!

Lanjut...