MENCARI HIKMAH

SELALU ADA HIKMAH DI BALIK PERISTIWA

Kuburan: Peringatan Keras yang Dilupakan

Baiklah, karena posting kali ini merupakan sambungan dari posting terdahulu, maka akan  saya mulai tulisan ini dengan kesimpulan. Intinya, manusia masa kini tidak lagi menganggap kuburan sebagai tempat angker dimana dedemit bersemayam. Kesan mengerikan kuburan sudah tak lagi setebal dahulu. Maka, kuburan tidak lagi dianggap sebagai situs yang menakutkan. Ia dipandang layaknya seperti tempat lainnya. Dan sebagaimana tempat lainnya, orang bisa melakukan apapun di kuburan.

Nyatanya, kuburan atau makam atau pemakamanan adalah tempat spesial. Ia tidak bisa begitu saja disamakan dengan tempat lainnya seperti lapangan sepak bola, perkebunan, ataupun persawahan. Karena itu, bagaimanapun kuburan tidak tidak bisa begitu saja diperlakukan sama seperti tempat-tempat lainnya. Dan karenanya, perilaku orang-orang masa kini yang cenderung menganggap dan memperlakukan kuburan layaknya tempat-tempat lain menarik untuk didiskusikan.

Sebagai manusia rasional, kita tentu setuju bahwa kuburan tidak perlu ditakuti. Kita juga pasti sekata bahwa merupakan tindakan bodoh jika kita mengasosiasikan kuburan dengan makhluk-makhluk mengerikan seperti pocong, tengkorak, kuntilanak, sundil bolong, dan sebangsanya. Mengapa? Karena sebagai tempat bersemayam orang yang sudah mati yang saat hidup mungkin kita kenal dekat mana mungkin kuburan menimbulkan bahaya pada nyawa kita. Kalaupun toh si mati yang kita kenal itu hidup lagi, apakah ia akan menyakiti kita? Juga, mana mungkin genderuwo dan kawan-kawannya itu tiba-tiba menjadi penghuni kuburan sementara yang dikubur di sana adalah mereka yang mungkin pernah dekat dengan kita. Secara rasional semua itu tidak masuk akal.

Sampai di sini, rasionalitas kita jelas memberikan manfaat besar. Hanya saja, jika dasar rasionalitas yang kita miliki itu hanya berhenti pada menyingkirkan rasa takut kita pada kuburan, tentu ini harus dikoreksi. Tidak. Seharusnya tidak hanya berhenti pada hilangnya rasa takut. Dasar rasionalitas yang kita miliki seharusnya lebih bisa membawa kita pada pemaknaan berarti terhadap keberadaan kuburan. Artinya, dengan rasionalitas kita harus mampu mengambil pelajaran setiap kali melihat kuburan.

Lalu, pelajaran atau hikmah apa yang bisa diambil saat melihat kuburan? Gampang saja. Kuburan adalah tempat orang mati dikebumikan. Dan di setiap prosesi pemakaman, yang dikubur hanyalah orang yang sudah mati. Meskipun dia seorang hartawan terkaya di dunia, saat ia mati hartanya tidak ikut dipendam bersamanya. Keluarga yang semasa hidup sangat dicinta dan mencintai si mati juga tidak bisa menemani. Mereka tidak akan sudi ikut dipendam bersama. Saya yakin kita semua telah mengerti hal ini.

Maka, jika kita mau menggunakan akal sehat atau rasio seharusnya tiap kali melihat kuburan kita berpikir pada kematian. Bukankah orang yang di kubur di sini dulu juga pernah hidup? Bukankah hanya dia seorang diri yang dipendam di sini meskipun kekayaannya berlimpah dan orang-orang yang mencintainya tersebar di mana-mana? Seharusnya pertanyaan seperti ini bergema di pikiran kita. Dan rasionalitas kita seharusnya menjawab pertanyaan tersebut: kalau orang ini dulu hidup dan sekarang telah mati kemudian di kubur di sini, tentunya saya yang sekarang ini masih hidup suatu saat juga akan mati dan dikubur, kalau orang ini dipendam sendiri meski banyak orang yang mencintainya maka pasti saya pun akan dipendam sendiri tak peduli berapa banyak pemuja saya. Jika sudah demikian, seharusnya tiap kali melihat kuburan perilaku kita akan membaik karena kesadaran kita akan kematian.

Sayangnya, bersama hilangnya ketakutan kita pada kuburan, kita juga menjadi cuek dengannya. Sekarang, kita tidak hanya berani lewat kuburan. Lebih dari itu kita juga menjadi kurang ajar. Maka, tempat yang seharusnya mengingatkan kita pada kematian dan karenanya membuat perilaku kita lebih baik, kini malah digunakan untuk berbuat kemaksiatan. Mulai berzina, mabuk-mabukan, mencuri, bahkan mencari wangsit nomor togel yang akan keluar kini lumrah dilakukan di areal kuburan. Sungguh, sangat berlawanan dari yang seharusnya dilakukan di areal kuburan.

Akhir kata, kalau peringatan yang jelas dan keras seperti kematian saja sudah tidak dipedulikan, lalu apalagi yang bisa menyadarkan kita?

Lanjut...

Kuburan: Dulu dan Sekarang

Tidak ada tempat yang lebih menakutkan dari pada kuburan. Bahkan hanya mendengar namanya disebut saja, khususnya saat matahari sudah terbenam rasanya bulu kuduk kita akan segera berdiri. Kalau ada orang yang bercerita dan ia mengawali ceritanya dengan satu kata ini maka kita harus bersiap-siap untuk mendengarkan cerita yang akan membuat kita tidak berani ke kamar mandi saat terbangun di malam hari oleh panggilan alam yang datang tiba-tiba. Dan kalau kita terpaksa pergi ke rumah seseorang yang untuk sampai ke sana harus melewati kuburan maka akan sangat wajar jika akhirnya kita tidak pulang kalau ketika hendak pulang itu malam mulai menjelang. Intinya, tidak akan ada orang yang menertawai jika kita takut untuk lewat kuburan. Hanya seorang pemberani atau nekat saja yang tidak takut lewat kuburan pada saat malam.

Itu dulu. Dulu saat listrik hanya ada di kota-kota besar. Dulu saat film-film kita masih bertema seks yang dibungkus dalam kerangka film horor. Ya, saat-saat itu kuburan merupakan tempat yang sangat menakutkan yang hanya berani kita lewati siang hari. Bahkan, hanya untuk lewat jalan di sebelahnya saja waktu itu sudah memerlukan keberanian yang ekstra besar. Maka, saat itu jika diminta memilih antara berjalan dua kilo tanpa melewati atau lewat di sebelah kuburan dan berjalan hanya satu kilo akan tetapi harus lewat kuburan rasanya kita pasti akan memilih yang pertama. Konyol? Tidak. Tidak konyol.

Memang saat itu kita masih sangat takut pada gendruwo, pocong, kuntilanak, dan sebangsanya. Apalagi, listrik yang bisa memberi penerangan cukup belum tersedia sehingga saat malam tiba di sekitar kita terasa sangat gelap dan kegelapan seperti itulah yang membuat kita semakin takut. Jadi, kegelapan teritorial karena belum adanya penerang ini semakin menambah kegelapan pikiran di kepala kita sehingga hal-hal yang belum tentu ada itupun menjadi tampak jelas dan kita pun takut untuk bertemu dengan mereka. Yang terjadi? Entah itu hanya rumor atau benar-benar terjadi, saat itu banyak orang yang berkisah telah bertemu dengan makhluk-makhluk yang saya sebutkan.

Sekali lagi, itu dulu. Kini, cara kita melihat kuburan telah berubah. Kita tidak lagi setakut dulu saat harus lewat kuburan. Kita tidak lagi memilih jalan yang jauh hanya demi menghindari kuburan. Tentu saja perubahan ini tidak terjadi dengan sendirinya. Perubahan itu antara lain disebabkan oleh semakin rasionalnya pikiran kita setelah terjamah oleh sains. Pikiran kita kini semakin terang sehingga hal-hal yang dulu samar dan menimbulkan persepsi yang menakutkan sekarang ini menjadi jelas dan ketakutan itu dengan sendirinya sirna.

Di tambah lagi, listrik kini telah menjangkau hampir semua wilayah di negeri kita. Ia tidak hanya dinikmati oleh orang kota tetapi juga telah dirasakan oleh orang-orang desa. Maka secara teritorial desa kini menjadi seterang kota.

Gabungan terangnya pikiran dan teritorial ini membawa dampak yang sungguh-sungguh dahsyat karena saat pikiran terang dan teritorial benderang kita tidak memikirkan hal-hal yang mungkin berada di balik kegelapan. Maka, gendruwo dan kawan-kawannya yang dulu kita bayangkan berada di balik kegelapan kuburan tidak lagi menjadi sumber ketakutan karena kita bisa melihat dengan jelas, dengan mata hati dan mata kepala, mereka tidak tampak di tempat-tempat yang dulu kita bayangkan mereka berada. Dan anehnya, saat kita tidak berpikir makhluk-makhluk itu berada di sekitar kita rumor-rumor tentang mereka yang menemui salah satu dari kita pun tidak lagi terdengar.

Lanjut...

Bisa Bahagia Karena Masih Ada Yang Lebih Sengsara...?

Baru saja saya baca koran terbitan tiga hari yang lalu. Selain tertarik pada berita tentang kejutan-kejutan yang dilakukan Gus Dur dengan keputusannya memecat Ketua Umum PKB, Cak Imin, yang notabene juga keponakannya sendiri, saya juga tertarik dengan berita feature mengenai kinerja, kerja, dan pengorbanan anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di koran itu diberitakan atau diceritakan (?) bahwa para anggota KPK ternyata hidup dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

Setidaknya ada tiga hal yang membuktikan bahwa hidup anggota KPK itu "susah". Pertama, konon sebagai pegawai tingkat eselon I uang saku untuk tugas ke luar daerah tidak sampai seratus ribu per hari. Dengan uang saku sejumlah ini tentu para anggot KPK tidak bisa menginap di hotel-hotel berbintang saat harus tugas ke luar kota. Coba bandingkan dengan uang saku legislatif. Tentu jumlah itu kalah jauh.

Kedua, dengan pekerjaan yang pasti membangkitkan kebencian orang yang didakwa, ternyata keamanan mereka tidak dijaga ketat. Pihak keamanan hanya dipersiapkan saat para anggota itu bertugas mengadili kasus-kasus tertentu. Setelah itu tidak ada satu orang pun yang ditugaskan untuk menjaga keamanan mereka. Jadi, mereka harus siap untuk mati kapanpun jika ternyata orang-orang yang mereka dakwa nekat membunuh mereka.

Ketiga, dengan gaji, uang saku, dan jaminan keamanan yang minim itu, para anggota KPK harus tabah dengan godaan para koruptor untuk memberi apapun yang mereka mau. Tentu saja ini sangat sulit dilakukan. Mungkin seperti harus menolak ajakan makan tuan rumah saat kita bertamu padahal perut kita sedang lapar keroncongan. Sulit!

Lebih jauh lagi, dalam keadaan yang mengenaskan semacam itu koran yang saya baca meriwayatkan bahwa para anggota KPK itu masih merasa bahagia dan beruntung khususnya saat melihat masih banyak orang yang hidupnya jauh di bawah mereka. Nah, saat membaca bagian inilah saya berkata dalam hati bahwa para anggota KPK itu adalah orang-orang hebat. Tetap bersyukur mesti mungkin nyawanya sedang terancang. Ya, benar. Pikiran semacam itu yang pertama terlintas di benak saya. Bahwa mereka adalah orang hebat. Dan saya yakin anda akan setuju dengan saya. Benar?

Akan tetapi, sesaat kemudian saya merasa geli. Yach, tentu saja saya tidak geli dengan para anggota KPK itu. Saya juga tidak merasa geli dengan pemerintah yang tidak memberikan pengamanan ekstra ketat serta uang saku yang lebih mencukupi bagi mereka. Saya tetap mengaggap mereka orang hebat. Dan saya pun tidak menganggap pemerintah tidak bijak. Saya geli karena menengok pada kehidupan saya sendiri selama ini. Saya geli karena seperti para anggota KPK itu saya sering berusaha menghilangkan perasaan susah saya dengan melihat pada orang lain yang hidupnya lebih sulit dari saya. Ya, seperti anggota KPK itu saya juga berbahagia karena ada orang yang kesusahannya lebih besar dari saya.

Lalu apa yang salah dari sikap saya juga sikap anggota KPK di atas sehingga saya harus merasa geli sendiri? Bukankah agama memang mengajarkan kita untuk selalu melihat ke bawah agar kita senantiasa bisa bersyukur? Lalu apa yang salah dengan ajaran agama ini?

Baiklah, beginilah hasil pencarian hikmah saya atas pertanyaan-pertanyaan di atas yang disebabkan oleh rasa geli pada diri sendiri itu.

Pertama, benar bahwa kita diajarkan untuk selalu melihat ke bawah. Benar, saya berkali-kali membaca ajaran ini. Jadi, saya atau anda atau siapapun tidak salah saat berbuat sebagaimana yang diajarkan itu. Sekali lagi, jika saya, anda, dan siapapun berbuat sebagaimana yang diajarkan, maka saya, anda, dan siapapun tidak lah salah. Kedua, tidak ada yang salah dengan ajaran ini. Ajaran ini tidak salah. Ini adalah suatu ajaran yang jika dilaksanakan dengan benar akan membentuk pribadi unggul. Lalu apa masalahnya? Lihat pada kalimat yang barusan anda baca. Di situ tertulis jika dilaksanakan dengan benar. Dan inilah yang membuat saya merasa geli pada diri sendiri. Saya merasa belum melaksanakan ajaran ini dengan benar. Lho kok?
Iya, bagaimana saya bisa berkata bahwa ajaran ini telah saya jalankan sebagaimana yang diperintahkan kalau saat menjalankannya ada ironi yang berkecamuk di kepala.

Apakah termasuk perbuatan yang dibenarkan jika saya menangis bahagia karena rumah saya tidak runtuh oleh gempa bumi saat orang di sekitar saya menjerit pilu karena rumahnya telah runtuh dengan tanah? Atau, apakah benar kalau saya berucap syukur saat keluarga saya baik-baik saja sementara tetangga sebelah sedang berduka karena salah satu anak perempuannya hamil di luar nikah? Ya, saya merasa geli karena selama ini saya merasa telah menyalahpahami ajaran ini dan menafsirkan serta menjalankannya seenak saya. Tapi jujur, saya masih belum tahu apakah yang baru saja saya sebutkan: bahagia saat rumah tetap berdiri dan bersyukur saat keluarga baik-baik saja adalah perbuatan yang salah. Karena itu jika anda punya pendapat, saya akan sangat berterima kasih pada Anda.

Lanjut...

April Tiba, Tingkatkan Kesabaran Anda!

Jika bulan ini tiba-tiba ada seorang teman dekat anda yang tanpa sebab musabab memusuhi anda, maka pesan saya jangan mengambil tindakan gegabah untuk frustasi dan balik memusuhi dia. Atau kalau tiba-tiba pacar atau istri anda tidak mau anda ajak bicara, terkesan menjengkelkan dan terlihat tidak menyenangkan, saya juga bersaran pada anda agar jangan tanpa pikir panjang menghentikan nafkah anda pada mereka. Atau, jika tiba-tiba salah satu harta kesayangan anda entah itu mobil, sepeda motor, sandal atau apapun tiba-tiba tidak bisa anda temukan, mohon jangan segera sakit hati dan lapor polisi.

Saya tidak bergurau. Jika semua itu terjadi pada anda di bulan ini, lakukan semua nasehat saya. Anda mungkin berpikir saya sudah gila. Tidak. Saya tidak gila. Saya masih seperti kemarin tetap menjadi wisdom seeker yang tiap saat berusaha mencari hikmah. Kalau saran saya di atas terkesan sebagai saran orang tak waras maka saran berikut ini mungkin akan makin membuat anda berpikir bahwa saya benar-benar sudah gila.

Ya, kalau bulan ini tiba-tiba bos anda suka marah-marah pada anda dan tanpa anda tahu kesalahan anda dia mengeluarkan surat pemecatan untuk anda, saran saya terima saja semua itu dengan tersenyum. Tidak usah marah. Tidak usah frustasi. Apalagi sampai niat bunuh diri. Karena kalau anda sampai anda menjadi demikian maka teman dekat anda akan tertawa girang, pacar atau istri anda akan merasa menang, dan bos anda akan tertawa terpingkal-pingkal. Anda salah besar kalau membayangkan bahwa kemarahan anda, frustasi anda, dan niat bunuh diri anda akan membuat mereka ikut berduka. Sekali lagi saya tegaskan mereka justru akan semakin bersuka ria.

Ingat, ini adalah bulan April. Dan salah satu budaya barat yang sedikit demi sedikit merasuk ke dalam budaya kita adalah perayaan April Mop. Bagi yang belum begitu familiar, April Mop adalah satu perayaan besar di mana anda diperbolehkan untuk mengerjai orang lain khususnya orang-orang dekat anda dengan cara bagaimanapun. Ya, dengan cara bagaimanapun. Entah itu dengan cara pura-pura mencuri barang kesayangan orang lain, bersikap tak acuh pada suami atau pacar, atau bahkan pura-pura melakukan pemecatan pada karyawan.

Asalkan semua itu dilakukan di bulan April ini, meski orang yang anda kerjai sampai menangis, tidak bisa tidur, bahkan frustasi hingga berniat bunuh diri anda tetap tidak bisa disalahkan. Cukup ucapkan kata ”APRIL MOP!!!” di saat-saat terakhir, maka anda terbebas dari kesalahan dan orang lain yang anda kerjai tidak berhak untuk marah. Kalau orang itu tetap marah meski anda sudah mengucapkan kata-kata tadi, maka masyarakat justru akan memusuhi dia dan membela anda mati-matian karena menurut budaya penganut APRIL MOP apa yang anda lakukan justru hal yang benar.

Nah, di sinilah menurut saya salah satu sisi buruk dari budaya barat yang satu ini. Bayangkan anda seorang mahasiswa dan laptop baru anda yang kreditnya belum selesai tiba-tiba tidak berada di tempatnya semula dan setelah anda cari ke sana ke mari tetap tidak ketemu. Dalam kondisi demikian tentu hal yang wajar jika anda menjadi frustasi dan kehilangan motivasi belajar. Wajar juga, jika karena kehilangan itu anda tidak bersemangat mengikuti kuliah meski jam kuliah saat itu sangat penting. Dan karena anda tidak ikut jam kuliah yang sangat penting yang, misalnya, dosen pengajarnya hanya bisa menyampaikan materi satu kali dalam setahun dan saat itu adalah satu-satunya waktu yang dosen tersebut bisa, tentu juga wajar kalau anda sangat membenci teman anda yang telah tega mengerjai anda dengan cara menyembunyikan laptop kreditan anda.

Sekali lagi, wajar kan kalau anda kemudian sangat membenci teman anda yang satu ini? Sangat wajar. Dan dalam konteks umum, semua orang tempat anda mengadukan perbuatan teman anda itu pasti akan mendukung perbuatan anda membenci teman anda itu. Kenapa? Sekali lagi karena perbuatan anda itu hal yang wajar. Itu kalau konteksnya umum, konteks hari-hari biasa. Jika konteksnya APRIL MOP, perbuatan anda untuk membenci teman anda itu dicap sebagai perbuatan salah. Ke manapun anda mengadukan perbuatan teman anda, dijamin tidak akan ada orang yang membela anda. Orang-orang pasti akan membela perbuatan teman anda itu tak peduli bagaimanapun merugikannya perbuatan itu terhadap anda. Tidak cukup sampai di sini, jika anda tetap nekat membalas perbuatan teman anda itu dengan cara membencinya, maka anda akan menjadi pihak yang salah. Anda akan disalahkan oleh semua orang. Kenyataan yang benar-benar tidak masuk akal. Tapi, karena alasan APRIL MOP, yang demikian itu menjadi sangat bisa dimaklumi.

Karena itu, meskipun saya termasuk orang yang tidak mengharapkan budaya APRIL MOP ini menjalar dan menjamur di Indonesia seperti budaya perayaan Valentine, saya tetap berpesan pada anda, dan tentu pada diri saya sendiri, untuk meningkatkan kesabaran di bulan April ini. Yach, mungkin inilah satu-satunya sisi baik perayaan APRIL MOP: kita harus belajar sabar. Mungkin juga ya....?

Lanjut...