MENCARI HIKMAH

SELALU ADA HIKMAH DI BALIK PERISTIWA

Cinta yang Membunuh

Akhir-akhir ini saya dihantui lirik lagunya D’masiv. Biar nggak penasaran, akan saya tulis potongan liriknya di sini:

Kauhancurkan aku dengan sikapmu
Tak sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah hati ini meyakinkanmu
Cinta ini membunuhku....

Nah, lirik di atas yang selalu menggangu saya. Saya katakan mengganggu karena setiap kali mendengar lagi ini entah di radio, atau di televisi, atau di komputer teman (kalau yang terakhir ini saya jamin mp3 yang bajakan :D), ada yang mau tidak mau saya pikirkan. Saya berharap Anda tidak penasaran tentang apa yang saya pikirkan. Akan tetapi, kalau ternyata Anda penasaran, saran saya baca terus posting ini.

Well, harus saya akui lagu ini memiliki arti tersendiri bagi saya. Apalagi setelah mendengar langsung dari penciptanya (lewat TV tentunya) bahwa lagu ini terinspirasi oleh pengalaman pribadinya. Apakah Anda bisa menebak kira-kira pengalaman seperti apa yang mendorong si pencipta yang personelnya D’masiv ini mencipta lagu yang ’thriller’ seperti ini?

Kalau Anda menebak pengalaman tragis cinta yang ditolak, maka dengan berat hati harus saya katakan tebakan Anda kurang tepat. Kenapa? Karena bukan hanya ’cinta yang ditolak’. Akan tetapi, 'cinta yang ditolak berkali-kali'. Kalau kata si penciptanya sih, dia sempat 'nembak' cewek yang disukainya lebih dari 7 kali. Dan yang benar-benar men’trenyuh’kan adalah semua usahanya yang sampai tujuh kali itu gagal. Alias dia ditolak. Bukan hanya ditolak. Lebih tepatnya ditolak habis-habisan. Atau bahasa lumrahnya ditolak mentah-mentah gitu lah.

Bayangkan, tujuh kali menyatakan cinta pada orang yang sama dan terus menerus ditolak. Bisakah Anda membayangkan bagaimana rasanya? Ah, sayang sekali kalau Anda tidak bisa membayangkan. Sayang sekali kalau Anda tidak pernah ditolak apalagi lebih dari sekali. Karena, kalau demikian Anda tentu tidak akan bisa menikmati lagu ini sepenuh hati. Paling-paling Anda hanya menikmati musiknya saja. Tidak sampai ke emosi yang dibawa oleh liriknya.

”Terus, Kenapa lagu ini mengganggu pikiran pencari hikmah?” Mungkin Anda mulai bertanya demikian. Baiklah, akan saya katakan. Tapi tolong simpan ini baik-baik. Jangan dikatakan sama siapapun. Ini rahasia besar. Jangan sampai bocor. Karena kalau sampai bocor maka saya harus memanggil mario si tukang ledeng. Wah, bisa keluar uang banyak saya untuk menyewa si mario. Jadi, plis ya, setelah membaca ini tolong sangat disebarluarkan.

Sebenarnya.... .... pengalaman tertolak ini, ehem ehem, juga pernah saya rasakan. Dan guess what. Sama seperti pencipta lagu ini, saya juga pernah ditolak oleh seseorang (lebih tepatnya wanita, lebih tepatnya lagi wanita tercantik di dunia :D). Dan sama halnya dengan personel D’masiv, penolakan yang saya rasakan juga lebih dari sekali. Mendingnya (ini bukan bahasa Indonesia baku lho), penolakan yang saya rasakan tidak sebanyak si D’masiv. Lebih mendingnya lagi, tidak seperti D'masiv yang sampai sekarang katanya si gadis tidak bisa menerima (ehem-ehem) cintanya, si wanita yang tercantik di dunia itu pada akhirnya tidak kuasa untuk tidak mengatakan ”iya” saat saya mengatakan ”aku cinta” untuk yang kesekian kali :D.
Itulah, kenapa lagu D'masiv bisa mengganggu saya.....

Dan, tahukah Anda bahwa saya merasa beruntung pernah merasa tertolak? Kenapa? Karena kalau tidak, saya tidak tahu apakah perasaan saya sama dia akan sebesar seperti saat ini :D.

Dan lagi, saya juga merasa beruntung pernah mengalami masa-masa kurang bahagia, masa-masa sulit. Karena pengalaman masa-masa seperti itu membuat saya semakin tegar menghadapi kesulitan dan bisa menikmati setiap bentuk kebahagiaan yang saya rasakan saat ini.

Well, so sweet kan?

Lanjut...

Emansipasi: Wahai Para Wanita, Jangan Menunggu Diberi

Hari ini saya dengan sangat terpaksa harus mengakui keunggulan salah seorang rekan kerja yang kebetulan berjenis kelamin perempuan. Namanya bu Yuni. Meski sudah mengeluarkan segenap kemampuan, tetap saja saat tadi bertanding tenis meja melawan rekan saya itu, saya ditaklukkan dua set langsung. Sebetulnya bukan hanya dalam pertandingan tenis meja saja saya takluk. Di pertandingan tenis lapangan saya juga masih harus menelan kekalahan dari dia. Berhubung saya adalah pencari hikmah, maka meski kalah saya tetap harus mencari hikmah. Dan, hikmah itu adalah pemahaman saya yang lebih mendalam (saya rasa) mengenai emansipasi wanita.

Hmm, ngomong-ngomong tentang emansipasi, jika mendengar kata yang satu ini, apa yang terlintas di benak Anda? Saya yakin nama R.A. (Raden Ajeng) Kartini berada di urutan teratas kilasan pikiran Anda. Lalu ketertindasan wanita menduduki tempat selanjutnya. Dan ketidakadilan peran kaum adam dan hawa di urutan ketiga. Apakah dugaan saya betul? Mudah-mudahan betul. :D

Sangat wajar jika nama Kartini segera terlintas di benak Anda. Bagaimana tidak? Lha wong sebagian besar dari kita pertama kali tahu kata emansipasi adalah dulu saat guru kita menjelaskan tentang Kartini. Ini terutama berlaku pada saya. Saya pertama kali mendengar kata asing yang ternyata dari bahasa Inggris ini ketika guru saya menjelaskan panjang lebar mengenai peran Kartini dalam pelajaran sejarah (kalau tidak salah dulu namanya PSPB). Meski waktu itu saya belum tahu betul artinya, sedikitnya saya sudah mulai tahu maksudnya dan kadangkala juga menggunakannya.

Ketertindasan wanita serta ketidakadilan peran laki-laki perempuan juga sangat mungkin dikaitkan dengan kata emansipasi. Kenapa? Sekali lagi karena Kartini. Lho kok Kartini lagi? Ya iya lah (masak ya iya dong :D). Kan beliau wanita pertama yang tercatat di dalam sejarah Indonesia yang dengan gigih memperjuangkan persamaan hak dan peran antara laki-laki dan perempuan. Katanya, dulu peran dan kedudukan wanita dipandang hanya sebelah mata (pegel dong matanya merem melek terus :D). Kalau ayah saya bilang, dulu peran wanita itu hanya tiga: macak, masak, manak (dandan, masak, dan melahirkan). Kalau Anda-Anda (para wanita masa kini) hidup di masa itu, bisakah Anda sekalian membayangkan bagaimana rasanya? Dari sekian banyak aktifitas yang bisa dilakukan, Anda hanya dibatasi untuk melakukan tiga hal di atas. Meski saya seorang pria, saya bisa membayangkan betapa tersiksanya wanita masa itu.

Nah, Kartini telah memulai gerakan untuk menentang pembatasan peran dan kedudukan wanita. Kini, wanita tidak lagi hanya berada di dapur (untuk masak), di depan cermin (untuk macak), di atas kasur (untuk siap-siap manak). Hampir di semua bidang kehidupan, wanita kini telah ikut ambil bagian. Wartawan wanita, banyak. Presiden perempuan, tidak sedikit. Menteri(wati), berlimpah. Bahkan, pimpinan perampok yang jenis kelaminnya perempuan juga sudah ada.

Sayangnya, meski sekarang sudah begitu banyak wanita yang menjabat posisi yang dulu hanya dipegang oleh kaum laki-laki, ternyata masih banyak juga kaum perempuan yang hanya menuntut emansipasi. Mereka tidak melakukan apa-apa untuk bisa mendapatkan peran yang diinginkan. Mereka hanya berteriak-teriak, merengek-rengek, dan meminta kaum adam untuk memberi posisi. Saat posisi sudah didapat dan peran baru sudah dijabat meski hanya sekedar pemberian, mereka baru bisa bernafas lega dan berani berkata bahwa di negaranya emansipasi wanita benar-benar ditegakkan.

Lho, lho, lho, kok jadi jauh begini pembahasan hikmah kali ini. Wah, mungkin saya masih emosi karena kekalahan saya sehingga jari saya jalan-jalan di atas keyboard tanpa saya sadari :D. Tapi, intinya Anda pasti bertanya apa hubungan antara Kartini, Bu Yuni, pemahaman yang lebih baik mengenai emansipasi, dan kekalahan saya dari bu Yuni. Kalau itu pertanyaan Anda, maka jawabannya adalah begini: Kartini memperjuangkan emansipasi wanita karena beliau melihat ketertindasan perempuan dari laki-laki. Untuk melakukan perjuangannya Kartini tidak hanya menuntut dan merengek-rengek pada kaum lelaki masa itu agar peran wanita tidak dibatasi. Sebaliknya, beliau berjuang dengan melakukan tindakan nyata yang membuktikan bahwa wanita juga bisa unggul dalam hal-hal yang dulu hanya dilakukan oleh laki-laki. Nah, di lain pihak, bu Yuni juga telah menunjukkan kepada saya bahwa wanita memang bisa lebih unggul dari laki-laki. Buktinya dia bisa mengalahkan saya dalam pertandingan tenis. Dia tidak hanya merengek untuk diperlakukan sama, tetapi melakukan tindakan nyata yang membuktikan bahwa dirinya (dan kaumnya) tidak kalah, bahkan bisa lebih unggul, dari kaum laki-laki.

Jadi, kalau Anda adalah kaum hawa yang sedang menuntut emansipasi, ada baiknya Anda meniru dua orang di atas, Kartini dan bu Yuni. Jangan hanya menuntut untuk diberi diperlakukan sama, akan tetapi buktikanlah dengan tindakan nyata bahwa Anda memang layak mendapat perlakukan sama.

Lanjut...

Menyanyi dari Hati

Menyanyi, siapa di dunia ini yang tidak suka menyanyi? Hmm, rasanya tidak ada dech. Dari Afrika sampai Amerika, semua orang sedari kecil sudah terbiasa menyenandungkan nada-nada meski dengan bahasa yang berbeda. Bahkan, seorang yang notabene tidak bisa bicara pun masih bisa dan suka bersenandung meski tanpa mengeluarkan kata-kata. Yach, seperti saat kita ingin bernyanyi tapi tidak mengerti atau hapal liriknya gitu dech. Mengerti kan maksud saya?

Nah, kalau seorang yang tunawicara saja mau dan mampu bersenandung, apalagi dengan Anda-Anda yang bisa bicara secara sempurna. Pasti, pasti Anda, seperti juga saya sangat menyukai senandung kata-kata yang tertuang dalam sebuah nyanyian. Kenapa bisa begitu? Kalau Anda bertanya demikian, maka jawaban saya adalah bahwa lagu bisa mewakili suasana hati. Sebuah nyanyian bisa menunjukkan kesedihan kita sekaligus kebahagiaan yang sedang kita rasa. Tidak percaya? Tidak mengapa. Tapi coba jawab pertanyaan saya, ketika Anda sedang patah hati karena ditinggal kekasih, misalnya, selain menangis dan curhat pada teman dekat, apalagi yang ingin Anda lakukan? Hmm, rasanya saya mendengar suara hati Anda yang sedang berkata ”saya ingin menyanyi lagu sedih, lagu yang memiliki cerita sama dengan keadaaan saya saat ini". Apakah benar demikian? Kalau demikian berarti pernyataan saya bahwa nyanyian bisa mewakili perasaan adalah benar.

Bukti lain bahwa menyanyi adalah kesukaan hampir semua orang adalah kenyataan bahwa saat ini di berbagai belahan dunia kontes yang paling banyak diminati oleh masyarakat adalah kontes menyanyi. Tengok saja kontes American Idol. Setiap tahunnya berapa juta orang yang ikut ambil bagian dalam audisi kontes tersebut? Menurut yang saya baca sih, jumlah orang yang berminat untuk ambil bagian dalam acara tersebut sangat lah tinggi. Itu baru mereka yang turut ambil bagian dalam kontes tersebut. Belum lagi para pemirsa yang setiap minggunya menyaksikan tayangan kontes dari televisi. Mereka bisa mencapai ratusan juta. Hmm, sekali lagi jumlah mereka yang ingin ikut ambil bagian serta mereka yang selalu menyaksikan kontes ini menunjukkan betapa menyanyi merupakan sesuatu yang sangat digemari. Dan, hal yang sama pun terjadi di belahan dunia lainnya. Anda tahu kan bahwa kontes idol-idolan ini sekarang tidak hanya ada di Amerika saja? Kontes berlisensi American Idol ini diadakan di hampir seluruh penjuru dunia, termasuk juga di Indonesia.

Nah, meski kita semua suka menyanyi, tidak demikian halnya dengar mendengar nyanyian. Tidak sembarang penyanyi bisa membuat kita suka kepadanya. Bahkan, seorang diva yang sudah terkenal pun belum tentu bisa memikat kita meski dengan suaranya yang indah bagai burung camar. Kenapa bisa demikian? Karena keinginan kita untuk menyanyi adalah keinginan yang datang dari hati. Maka, kita pun juga hanya akan menyukai lagu yang menyanyi dari hati. Sejalan dengan nasehat Mary T. Browne bahwa sesuatu hanya akan menarik sesuatu yang sama. Dalam hal ini kegemaran akan senandung yang datangnya dari hati hanya akan bisa dipuaskan oleh senandung yang dinyanyikan dari hati pula, bukan hanya di mulut saja. Hmm, so sweet :D :D :D.

Karena itulah, tidak semua pengamen yang sering kita jumpai di bus-bus bisa menarik perhatian kita. Hanya segelintir pengamen saja yang kita sukai dan membuat kita rela mengeluarkan sedikit uang untuk diberikan kepadanya. Yang sedikit itu pasti menyanyi dari hati. Sedangkan yang lainnya tentu hanya bersenandung di mulut saja.

Dan perlu diingat, ini tidak hanya berlaku dalam hal menyanyi saja. Dalam hal-hal lain dan aktifitas apa saja hukum bahwa sesuatu harus datang dari hati bisa diterapkan jika Anda ingin mendapatkan respon datangnya juga dari hati. Maka, saat berbincang dengan tetangga, saat ngobrol dengan bawahan, saat berkumpul dengan teman, bahkan saat bergurau dengan anak-anak Anda pun, cobalah lakukan semua itu dari hati.


P.S:   Selamat menikmati bulan baru, Juli 2008. Semoga di bulan ini kebaikan kita yang bertambah bukan sebaliknya. Amien.  :-)

Lanjut...