<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378</id><updated>2011-11-17T02:45:29.540+07:00</updated><category term='Baca'/><category term='Psikologi'/><category term='Idola'/><category term='Renung'/><category term='Film'/><category term='Fenomini'/><category term='Saya'/><category term='Kisah'/><category term='Fenomena'/><category term='Kita'/><title type='text'>MENCARI HIKMAH</title><subtitle type='html'>SELALU ADA HIKMAH DI BALIK PERISTIWA</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-6161871121215116939</id><published>2011-10-15T10:56:00.003+07:00</published><updated>2011-10-15T11:25:09.762+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><title type='text'>Ban Bocor</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemarin, saya mengalami &lt;a href="http://mencari-hikmah.blogspot.com/"&gt;kejadian yang luar biasa&lt;/a&gt;. Sebetulnya bukan cuma kemarin saya mengalami hal semacam itu. Sudah sering saya mengalaminya. Hanya saja, lebih seringnya saya tidak sempat menuliskannya. Dan kini, karena saya sedang online, maka saya sempatkan diri untuk menuliskan kejadian yang luar biasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya. Seperti biasa, ketika jam mengajar dan tanggung jawab lain di sekolah dirasa sudah selesai saya kerjakan, saya memutuskan untuk pulang. Tentu saja, masih seperti yang saya ceritakan &lt;a href="http://mencari-hikmah.blogspot.com/2011/02/ngebut-demi-negara.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;, saya masih naik sepeda motor. Sekedar mengingatkan, jarak yang harus saya tempuh sekitar 25 km. Matahari masih sangat menyengat sehingga aspal jalanpun terasa sangat panas (untung saya sudah membeli lagi sarung tangan baru sehingga punggung tangan saya tetap putih :D).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan, tak ada kejadian yang tidak diharapkan. Tidak ada pengendara yang menyalip ugal-ugalan. Juga tidak ada orang yang menyeberang jalan sembarangan. Segalanya berjalan tertib dan teratur (andai tertib dan teratur telah menjadi sifat manusian Indonesia, pasti negeri ini sangat nyaman untuk ditinggali). Seperempat perjalanan, setengah perjalanan, tiga perempat perjalanan, hingga akhirnya tinggal beberapa meter lagi saya sampai di rumah. Tak ada kejadian yang tak diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian dalam kepala saya semakin keras mengingat sebentar lagi akan berjumpa dengan buah hati yang sekecut apapun tetap saya ciumi (ya iyalah namanya juga anak sendiri, masih bayi lagi :D), ketika tiba-tiba 'dor', ban belakang motor saya bocor. Sedikit oleng, saya memelankan laju sepeda motor. Lalu berhenti sejenak untuk memeriksa apakah benar ban motor saya yang bocor. Memang benar, ban belakang saya sudah tidak berdaya. Dia tak lagi segagah ketika berangkat pagi harinya. Kini dia tampak lesu, lemah, dan tak bergairah. Diajak bercandapun dia tak menanggapi. Duh, kasihan sekali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena iba dengan keadaannya, saya memutuskan untuk tidak menunggangi sepeda motor lagi meskipun tinggal beberapa tarikan gas lagi saya akan sampai rumah. Tunggangan saya itu saya tuntun dengan mesra, meski sedikit terpaksa. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dst... hingga akhirnya saya pun sampai di rumah bermandikan peluh, dan bertemankan pegal. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir manis saya :D. Tak ada keluhan, tak ada pula umpatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, bagian mana yang luar biasa, katanya kejadian luar biasa?" demikian mungkin Anda bertanya. Saya memang sengaja tidak menunjukkan bagian mana yang menurut saya luar biasa. Saya ingin Anda yang menebak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-6161871121215116939?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/6161871121215116939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2011/10/ban-bocor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6161871121215116939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6161871121215116939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2011/10/ban-bocor.html' title='Ban Bocor'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-7701371730839459363</id><published>2011-03-10T20:35:00.002+07:00</published><updated>2011-10-19T19:30:06.237+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><title type='text'>Menciptakan Kebahagiaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapa sih di dunia ini yang tidak ingin hidup bahagia? Saya yakin tidak ada satu orang pun yang akan mengacungkan jarinya jika pertanyaan itu diajukan pada mereka. Sebab memang tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mengharapkan hidup dalam kesengsaraan. Bahkan seorang sufi pun tidak pernah menginginkan menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan. Mungkin mereka hidup dalam kepapaan. Tapi meski dalam keadaan seperti itu mereka tetap mengejar kebahagiaan. Hanya saja kebahagiaan yang mereka kejar memang beda dari yang dikejar oleh orang awam seperti kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski semua orang ingin hidup bahagia, toh kenyataan yang terjadi di dunia ini sering kali tidak sama seperti yang diimpikan. Seringkali kita justru hidup dalam penderitaan. Seringkali yang kita ingini tidak terwujud. Seringkali pula usaha yang kita lakukan untuk mencapai kebahagiaan tidak membawa kita pada keadaan yang kita tuju. Dan tentu saja itu bukan dunia hayal. Hal yang semacam itu memang bisa terjadi dan memang sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang menjadi masalah bagi kita bukanlah tidak terwujudnya impian kita. Yang justru menyakiti kita dan seringkali membuat kita terpuruk justru adalah sikap negatif kita menghadapi kegagalan. Sikap inilah yang memperparah dan menyakiti kita. Misalnya, saat kita ingin tulisan kita dimuat di surat kabar dan kenyataannya tulisan kita dianggap belum memenuhi kriteria untuk dimuat, ada sebagian kita yang tidak terpengaruh oleh kenyataan itu. Mereka tetap terus rajin menulis. Kegagalan untuk dimuat tidak menjadikan mereka patah arang. Akan tetapi, bagi beberapa orang lainnya, kegagalan semacam itu bisa benar-benar membuat mereka berhenti menulis. Mereka tidak menganggap kegagalan yang mereka alami sebagai sesuatu yang lumrah dan biasa terjadi. Mereka menyakiti diri mereka sendiri, mungkin dengan mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa memang mereka tak memiliki bakat menulis sehingga sampai kapanpun mereka mencoba mengirimkan artikel, tidak akan ada satupun tulisan mereka yang akan dimuat di surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara dua orang di atas, tentu bisa dilihat siapa yang menjalani hidup bahagia dan yang mengalami penderitaan hidup. Meskipun sama-sama gagal, orang pertama tetap bahagia. Mereka tidak menganggap kegagalannya sebagai akhir dari segala-galanya. Mereka tetap hidup dengan optimis. Sementara itu, riwayat orang kedua sudah tamat saat kegagalan menjemput mereka karena mereka memang berpikir bahwa dengan kegagalan itu mereka sudah tamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-7701371730839459363?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/7701371730839459363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2011/03/menciptakan-kebahagiaan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7701371730839459363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7701371730839459363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2011/03/menciptakan-kebahagiaan.html' title='Menciptakan Kebahagiaan'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-7179176846889356355</id><published>2011-02-11T11:34:00.002+07:00</published><updated>2011-02-11T11:40:14.300+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><title type='text'>Ngebut Demi Negara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin Anda sekalian mengira saya akan menulis tentang Doni Tata, atau Dani Pedrosa, atau bahkan Valentino Rossi. Tidak, saya tidak akan menulis tentang mereka karena semua orang sudah tahu bahwa orang-orang itu adalah pembalap yang kerjanya ngebut dan dengan ngebutnya itu mereka bisa mengharumkan nama bangsa dan negara. Karena itulah, mereka sudah tidak perlu lagi diceritakan. Semua orang sudah tahu. Anda juga kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bukan hanya para pembalap MotoGP saja yang bisa ngebut demi bangsa dan negara? Ternyata, saya juga bisa melakukan itu. Dan lebih dari Rossi dan kawan-kawannya yang hanya ngebut sewaktu-waktu, saya hampir setiap hari ngebut demi negara :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya. Hari-hari ini saya ngajar di sebuah sekolah SSN. Bukan Sekolah Standar Nasional, tapi Sekolah Sangat Ndeso. Letak sekolah ini cukup jauh dari tempat tinggal saya. Dengan naik sepeda motor berkecepatan sedang, perjalanan bisa ditempuh kira-kira 45 menit sampai satu jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap hari saya harus menempuh perjalanan dengan medan yang cukup berat itu. Sementara, di rumah saya juga sering kali harus menyelesaikan pekerjaan freelance yang biasanya saya kerjakan mulai dini hari. Di sinilah persoalannya mengemuka. Pekerjaan freelance saya itu seringkali mampu membius dan menceburkan saya ke rimba kata-kata (&lt;a href="http://rengganis15.blogspot.com"&gt;Mbak Ririe&lt;/a&gt;, pinjam kata-katanya ya?). Rasanya tanggung jika harus memutus keasyikan bergelut dengan kata-kata saat pekerjaan belum sempurna. Karena, seringkali kata-kata itu sulit untuk terlintas lagi jika sudah terputus oleh hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi agar tidak merasa tanggung, saya pun biasanya memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu sebelum berangkat mengajar. Nah, inilah penyebab tindakan patriotisme saya. Keputusan untuk menyempurnakan pekerjaan itu membuat saya tidak menyadari bahwa jarum jam sudah melewati angka yang seharusnya. Dan ketika menoleh ke pojok kanan bawah komputer, baru lah saya sadar bahwa waktu sudah sangat muepet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking mepetnya, tidak ada cara lain agar tidak terlambat sampai sekolah, kecuali NGEBUT. Maka, seperti itulah yang saya lakukan hampir setiap hari: Ngebut pagi-pagi di medan yang cukup berat demi agar tidak terlambat sampai sekolah dan bisa memberi pelajaran tepat waktu. Nah, bukankah ngebut saya ini adalah demi Bangsa dan Negara :D (Narsis mode: ON)?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-7179176846889356355?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/7179176846889356355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2011/02/ngebut-demi-negara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7179176846889356355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7179176846889356355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2011/02/ngebut-demi-negara.html' title='Ngebut Demi Negara'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-6888235217538890804</id><published>2009-11-22T12:45:00.001+07:00</published><updated>2009-11-22T12:45:13.053+07:00</updated><title type='text'>Loving The Unexpected</title><content type='html'>Hari-hari ini pencari hikmah sedang dihadapkan pada pekerjaan yang tak&lt;br&gt;diharapkan seperti ketika dulu dia memutuskan untuk mengambil&lt;br&gt;pekerjaan itu. Agar Anda semua penasaran, saya tidak akan menjelaskan&lt;br&gt;pekerjaan yang saya maksud. Yang jelas, bayangannya dulu mengenai&lt;br&gt;pekerjaan itu sangat ideal. Sedikit bocoran, dulu si pencari hikmah&lt;br&gt;membayangkan bahwa dengan mengambil pekerjaan itu dia akan bisa&lt;br&gt;membantu kolega-kolega seprofesi untuk lebih profesional dalam&lt;br&gt;bekerja. Kenyataannya, kini dia, mungkin karena terlalu dipercaya oleh&lt;br&gt;para koleganya, justru tidak memiliki waktu untuk meningkatkan&lt;br&gt;profesionalismenya sendiri. Coba Anda bayangkan, bahkan untuk&lt;br&gt;meningkatkan profesionalismenya sendiri saja tak ada waktu, apalagi&lt;br&gt;membantu orang lain agar lebih profesional. Kenapa bisa demikian?&lt;br&gt;Baiklah, itu semua karena dia &amp;#39;terpaksa&amp;#39; mengerjakan pekerjaan yang&lt;br&gt;sebenarnya bukan bidangnya. Akan tetapi, jika dia tak mengambil&lt;br&gt;pekerjaan itu maka akan banyak yang menjadi korban. Karena itu,&lt;br&gt;meskipun awalnya dia mengerjakan pekerjaan ini setengah hati, demi&lt;br&gt;kepentingan orang banyak diapun rela mengerjakan yang kurang&lt;br&gt;disukainya itu.&lt;br&gt;Tentu saja, bekerja setengah hati akan memberi hasil yang&lt;br&gt;setengah-setengah. Untuk itu, dia bertekad dalam hati untuk mulai&lt;br&gt;menjalankan tugasnya itu dengan penuh cinta. Dan, untuk tujuan&lt;br&gt;memotivasi diri, pencari hikmah pun membuat motto baru untuk hidupnya:&lt;br&gt;I LOVE TROUBLE, I LOVE THE UNEXPECTED.&lt;br&gt;Cheers!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-6888235217538890804?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/6888235217538890804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/11/loving-unexpected.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6888235217538890804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6888235217538890804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/11/loving-unexpected.html' title='Loving The Unexpected'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-704601699463844940</id><published>2009-11-21T13:45:00.001+07:00</published><updated>2009-11-21T13:45:44.681+07:00</updated><title type='text'>Maaf</title><content type='html'>Para pengunjung sekalian, baik yang sengaja datang maupun yang&lt;br&gt;&amp;#39;kesasar&amp;#39; sampai di blog ini, saya, pencari hikmah, dengan ini memohon&lt;br&gt;maaf setulus-tulusnya jika yang Anda dapati di blog ini hanyalah&lt;br&gt;postingan-postingan jadul alias kadaluarsa. Banyak alasan yang bisa&lt;br&gt;saya sampaikan. Tapi, ijinkan saya jujur bahwa tak diupdatenya blog&lt;br&gt;ini adalah karena ghirah ngeblog saya belum tumbuh lagi. Mohon&lt;br&gt;dimaklumi. Tapi saya berjanji bahwa suatu saat blog ini akan kembali&lt;br&gt;saya urus dan sering saya update. Sekian.&lt;p&gt;Terima kasih,&lt;br&gt;PC&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-704601699463844940?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/704601699463844940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/11/maaf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/704601699463844940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/704601699463844940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/11/maaf.html' title='Maaf'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-121411485772921153</id><published>2009-04-30T18:09:00.000+07:00</published><updated>2009-05-01T01:12:02.514+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Calon Penghuni Surga</title><content type='html'>Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa salah satu calon penghuni surga adalah ‘dua orang manusia yang bertemu dan berpisah karena Allah’. Saya yakin Anda semua pernah membaca atau mendengar ini. Karena itu, saya ingin bercerita sedikit mengenai pemahaman baru saya terhadap hadits ini yang mungkin saja berbeda dari pemahaman Anda selama ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, yang perlu digarisbawahi dari pernyataan di atas adalah frasa ‘bertemu dan berpisah karena Allah’. Tentu saja kata ‘bertemu’ dan 'berpisah’ di sini tidak digunakan secara denotatif yang berarti ‘bersama dan berjauh-jauhan secara fisik’. Kenapa demikian? Karena, jika makna ini yang dimaksudkan oleh dua kata tersebut, maka akan menunjukkan betapa mudahnya untuk mendapat predikat sebagai calon penghuni surga. Padahal, dalam konteks keagamaan, mencapai surga merupakan salah satu pencapaian tertinggi manusia yang tentu saja hanya bisa diraih dengan usaha yang berat. Seperti halnya untuk bisa menjadi pintar seseorang harus giat belajar, atau sebagaimana untuk jadi kaya seseorang harus kerja keras, untuk menjadi calon penghuni surga seseorang juga harus berjuang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan alasan di atas, saya berkesimpulan bahwa kata ‘bertemu’ di sini mengandung makna konotatif ‘saling mencintai’ sedangkan ‘berpisah’ memuat arti ‘saling melepaskan’. Kedua makna konotatif ini jelas-jelas lebih sesuai dengan kriteria calon penghuni surga karena keduanya sama-sama berat untuk dilakukan. Nyatanya, tidaklah mudah untuk mencintai seseorang karena Allah. Demikian juga sangat sulit untuk berpisah dari seseorang yang dicintai karena Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, yang juga perlu dijelaskan dari pernyataan di atas adalah frasa ‘dua orang manusia’. In my humble opinion, frasa tersebut tidak mengacu semata-mata pada dua orang dengan jenis kelamin berbeda alias laki-laki dan perempuan, atau cowok dan cewek. Frasa ini juga bisa mengacu pada dua orang berjenis kelamin sama yang saling mencintai  dan saling melepaskan dalam konteks persahabatan atau persaudaraan. Contoh mudahnya adalah persaudaraan yang terjalin antara sahabat muhajirin dan anshor pada masa Rasulullah. Namun demikian, dalam catatan ini saya hanya akan mengulas aplikasi pernyataan di atas dalam konteks hubungan antara laki-laki dan perempuan alias konteks percintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimanakah implementasi pernyataan tersebut dalam konteks percintaan? Bagaimanakah ‘saling mencintai dan saling melepaskan karena Allah’ ini berlaku dalam hubungan romantis yang melibatkan perasaan cinta? Lebih terperinci lagi, bagaimanakah dua orang (laki-laki dan perempuan) bisa saling mencintai karena Allah dan juga saling melepaskan karena Dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak mudah untuk menjelaskan jenis percintaan dan perpisahan yang didasari oleh dorongan penghambaan pada sang Khaliq. Saya yakin psikolog berpengalaman pun akan kesulitan membedakan percintaan dan perpisahan yang didorong oleh keikhlasan dan yang dilandasi oleh hal lainnya. Karenanya, saya yakin apa yang akan saya utarakan ini pasti akan memicu pro kontra dan saat menulis ini saya sudah siap menghadapi dan menerima ketidaksetujuan Anda asal disampaikan dengan cara yang baik dan tentu saja dilandasi alasan yang masuk akal nan logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, percintaan karena Allah adalah setiap hubungan percintaan yang didasari oleh niat baik dan yang memiliki tujuan baik. Di sini saya menggunakan istilah niat baik dan tujuan baik dengan pemahaman bahwa niat dan tujuan tersebut memenuhi kriteria sebagai  niat dan tujuan yang diridhoi Allah. Keduanya (niat dan tujuan) harus ada dan menjadi dasar hubungan percintaan di antara dua insan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konkretnya, menurut hemat saya percintaan yang dilandasi oleh niat baik adalah percintaan yang diniati untuk saling mengenal dan menyesuaikan watak pasangan. Sementara itu, tujuan yang baik dari hubungan semacam itu adalah untuk membina rumah tangga melalui pintu pernikahan. Bisa dilihat di sini bahwa keduanya harus selalu ada dan saling melengkapi. Niat atau tujuan baik saja tidaklah cukup. Niat untuk mengenal watak pasangan saja tidaklah memadahi jika tidak dilengkapi dengan tujuan untuk menikah. Begitu pula tujuan untuk menikah saja tidaklah cukup tanpa adanya niat untuk saling mengenal dan menyesuikan watak pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, bagi Anda yang saat ini sedang dalam masa ‘berpacaran’ coba dech tengok ke dalam lubuk sanubari Anda. Korek-koreklah nurani Anda untuk mencari tahu apakah hubungan yang selama ini Anda bina dengan pasangan Anda sudah didasari oleh niat dan tujuan yang baik setidaknya seperti yang sudah saya tuliskan di atas. Jika niat dan tujuan semacam itu telah mendasari hubungan Anda, jaga dan sterilkanlah keduanya. Jangan biarkan niat-niat ‘jahat’ menyusup dan mempengaruhi pikiran Anda sehingga membelokkan niat baik Anda. Sebaliknya jika ternyata selama ini niat dan tujuan Anda tidaklah mulia, mulai sekarang luruskanlah niat Anda. Buanglah jauh-jauh pikiran nista dari kepala Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini ada satu pepatah lama yang menurut saya relevan: tanamlah padi dan perhatikanlah rumput pasti akan ikut tumbuh. Tanamlah rumput, dan awasi tidak ada padi yang ikut tumbuh. Maka, landasilah percintaan Anda dengan niat dan tujuan baik, karena saat niat dan tujuan Anda baik pun, hal-hal yang tidak baik pasti akan ikut mewarnai hubungan Anda. Sebaliknya, jika Anda sudah melandasi hubungan percintaan Anda dengan niat tak baik, jangan harap hal-hal baik akan mewarnai hubungan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, apakah yang dimaksud dengan saling melepaskan karena Allah? Masih dalam konteks hubungan percintaan, secara sederhana frasa ini bisa dijelaskan demikian: secara sadar memutuskan dan mengakhiri hubungan romantisme di antara dua pasangan saat keduanya masih saling mencintai dengan pertimbangan demi kebaikan bersama. Bentuk dari 'kebaikan bersama' dalam konteks ini bisa bermacam-macam. Bisa jadi setelah berusaha saling mengenal dan berusaha menyesuikan watak, keduanya sama-sama merasa mendapati ketidakcocokan watak yang terlalu jauh yang jika dipaksakan untuk dilanjut ke jenjang pernikahan justru akan membahayakan kelanggengan pernikahan itu sendiri. Mungkin juga perpisahan itu disebabkan oleh faktor eksternal semisal tiadanya restu dari orang tua sehingga jika hubungan itu dilanjutkan akan menyakiti perasaan mereka. Nah, saat sepasang kekasih memutuskan untuk berpisah dengan alasan-alasan seperti ini, saat itulah mereka sedang mempraktikkan ‘saling melepaskan karena Allah ‘.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, terkait dengan restu orang tua ada beberapa hal yang harus dicatat. Jika alasan orang tua tidak merestui pernikahan tersebut sesuai dengan syariah semisal calon pasangan si anak terbukti sebagai orang munafik atau kafir atau musyrik, maka si anak yang menolak mengakhiri hubungan percintaan tersebut masuk ke dalam kategori anak durhaka. Namun, jika alasan orang tua tidak dibenarkan oleh syariah, misalnya, karena calon suami atau istri dari si anak berasal dari keluarga yang derajat sosialnya lebih rendah dari derajat sosial mereka sehingga mereka merasa malu jika mendapat menantu dari kalangan tersebut, maka si anak yang menolak untuk mengakhiri hubungannya dengan sang pasangan tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori anak durhaka. Justru, jika dengan alasan seperti itu orang tua tetap memaksa anaknya untuk mengakhiri hubungan percintaannya dengan sang pasangan, maka mereka sendirilah yang mendapat predikat orang tua durhaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagi Anda yang merasa pernah mengakhiri hubungan dengan seseorang, ingat-ingatlah apa alasan yang mendasari keputusan Anda itu. Jika alasan Anda memang demi kebaikan bersama, maka menurut saya Anda patut mendapatkan predikat calon penghuni surga. Namun, jika ternyata Anda memiliki alasan lain, maka saya tidak tahu harus menyebut Anda apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, ternyata percintaan pun bisa mengantarkan kita menjadi calon penghuni surga. Cukup luruskan niat dan tujuan Anda saat membina hubungan dengan seseorang. Dan jika Anda harus mengakhiri hubungan itu, landasilah perpisahan Anda dengan alasan demi kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-121411485772921153?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/121411485772921153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/04/calon-penghuni-surga.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/121411485772921153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/121411485772921153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/04/calon-penghuni-surga.html' title='Calon Penghuni Surga'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-8520708118014017035</id><published>2009-04-24T21:15:00.001+07:00</published><updated>2009-04-24T21:15:56.142+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><title type='text'>Avatar di Rumah Kami</title><content type='html'>Jika Anda termasuk penggemar film animasi dan gemar menontonnya di televisi, saya yakin nama Aang tidaklah asing di telinga Anda. Benar, Aang adalah salah satu nama tokoh dalam serial animasi Avatar yang di putar tiap hari minggu pagi di salah satu televisi swasta. Dan jika Anda benar-benar penggemar serial ini, Anda tentu sudah paham bahwa Aang adalah sang Avatar ke sekian yang digadang-gadang akan dilahirkan di dunia untuk membawa kedamaian bagi seluruh umat manusia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagi Anda yang kurang begitu menyukai serial animasi ini, ijinkan saya memberi sedikit penjelasan pengantar. Di dalam serial ini, digambarkan bahwa pada awalnya dunia diliputi oleh kedamaian meskipun terdapat empat kerajaan berbeda yakni kerajaan air, kerajaan api, kerajaan udara, dan kerajaan bumi. Masing-masing penguasa keempat kerajaan ini menguasai kemampuan khos. Kerajaan Api memiliki ilmu pengendali api, kerajaan air berkuasa mengendalikan Air, kerajaan udara memiliki kemampuan untuk mengendalikan udara, dan begitu pula kerajaan bumi memiliki kekuatan untuk mengendalikan bumi. Keempat kerajaan tersebut bisa hidup damai karena di masa itu terdapat satu orang yang menguasai ilmu khos dari keempat kerajaan tersebut. Avatar, julukan orang itu, memiliki kemampuan untuk mengendalikan api, air, udara, dan juga bumi. Dengan kemampuannya itu dia menjadi symbol yang menyatukan berbagai kerajaan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, bersama perginya sang Avatar, hilang pula kedamaian dunia. Perang antar kerajaan segera dimulai. Di antara keempat kerajaan itu, kerajaan api lah yang memulai perang dan berhasil menjadi kerajaan terkuat. Seolah sudah menjadi kodrat alam, yang terkuat selalu berusaha mendominasi. Tak ayal, dengan ambisi menjadi penguasa dari segala kerajaan, kerajaan api terus menerus memerangi kerajaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah, muncul seorang anak kecil bernama Aang yang terlahir dari kerajaan udara. Dialah yang diramalkan menjadi Avatar berikutnya. Dengan bantuan teman-temannya yang berasal dari tiga kerajaan lainnya, Aang pun mulai mempelajari ilmu pengendali api, air, dan bumi. Tentu saja kemunculan Aang sang Avatar menjadi berita tak menyenangkan bagi kerajaan api. Jika Aang benar-benar menjadi Avatar maka ambisi kerajaan api untuk menguasai dunia pun di ambang bahaya. Maka, sejak mendengar kemunculan Aang, misi utama kerajaan api adalah untuk menangkap dan memusnahkan Aang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, kira-kira demikianlah alur cerita film Avatar. Dan meski beberapa minggu lalu serial film ini sudah berakhir dengan ending yang sangat memuaskan, di dalam tulisan ini saya tidak akan membahas dan mereview keseluruhan cerita atau pun mengkritisi dan memuji film ini. Di sini saya hanya akan mengait-ngaitkan fenomena Avatar dengan kehidupan nyata dan kehidupan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika dikaitkan dengan dunia nyata, tentu saja Avatar hanyalah sebuah simbol yang sengaja diciptakan untuk mengkasatmatakan kekuatan tak kasat mata yang bisa mendamaikan dunia. Di wilayah keagamaan, Avatar mungkin bisa disamakan dengan juru selamat. Sementara itu, dalam dunia pewayangan, Avatar bisa jadi sejajar dengan tokoh Semar. Intinya, Avatar, Juru Selamat, ataupun Semar adalah wujud yang tercipta dari pengakuan manusia akan kekuatan supranatural yang bisa menjaga umat manusia dalam kehidupan yang teratur dan beraturan sehingga melahirkan kedamaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks yang lebih sempit, dalam hal ini keluarga saya, Avatar hanya berwujud manusia biasa yang bisa dilihat dan disentuh. Meskipun dalam wujud yang demikian, Avatar di rumah saya ini menguasai ilmu pengendali api, air, bumi, dan udara. Dengan penguasaan keempat elemen dunia ini, dia benar-benar bisa membawa ketenangan dan kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini apakah Anda sekalian bisa menebak siapakah sang Avatar yang telah membawa ketenangan di rumah saya itu? Dan, apakah Anda tahu bagaimana dia mempraktikkan kemampuannya mengendalikan api, air, bumi, dan udara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, tidak perlu berpanjang lebar, sosok yang saya maksudkan adalah kakak ipar saya, istri kakak saya. Sekedar informasi, saya memiliki tiga saudara, dua kakak dan satu adik. Kebetulan, kami berempat berjenis kelamin laki-laki. Plus seorang ayah, rumah kami benar-benar diisi oleh para pria. Seperti yang bisa Anda tebak, rumah kami terasa kurang lengkap. Anda tentu tahu bahwa kurang lengkapnya hidup keluarga kami itu disebabkan oleh tiadanya sosok perempuan. Maka, meskipun secara otomatis kami berempat dituntut untuk mandiri sejak kecil, kehadiran sosok perempuan di keluarga kami merupakan hal yang kami semua tunggu-tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat yang kami nanti-nantikan itupun benar-benar datang saat kakak tertua saya menikah. Kehadiran kakak ipar pertama saya ini sungguh mengubah secara drastis hidup keluarga kami. Keluarga yang dulunya terasa kering kini menjadi begitu nyaman ditinggali. Ya, kakak ipar pertama saya ini benar-benar bisa menjadi Avatar pertama di rumah kami. Dia begitu lihai mengendalikan bumi, udara, air, dan api sehingga ketentraman bisa kami rasakan. Mungkin Anda bertanya bagaimana cara kakak ipar saya mempraktikkan keempat ilmu pengendali. Nah, biar Anda semua tidak penasaran, beginilah caranya menjadi Avatar di rumah kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengendalikan bumi dengan cara menata, merawat, dan membersihkan lantai dan sekeliling rumah kami. Kakak ipar saya lah yang menjadikan rumah kami nyaman ditinggali dengan senantiasa membuat lingkungan begitu asri. Trus, dia mengendalikan udara dengan cara menata rumah seisinya. Dialah yang selain membersihkan rumah juga menata perabot dan kawan-kawannya dengan lihai sehingga rumah kami yang sebetulnya sempit menjadi begitu lega. Nah, saat berurusan dengan kebutuhan sehari-hari seperti makanan, minuman, dan kebersihan, kakak ipar saya harus menggunakan ilmu pengendali air dan api. Ya, untuk memasak dia harus bisa mengendalikan air dan api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Avatar di rumah kami. Dan seperti Avatar yang mau tidak mau harus digantikan oleh Avatar berikutnya, saat kakak ipar pertama saya harus pergi meninggalkan rumah kami untuk membina keluarga sendiri, datanglah kakak ipar saya selanjutnya. Layaknya Aang yang harus melanjutkan tugas Avatar sebelumnya, kakak ipar saya yang kedua pun melanjutkan tugas kakak ipar pertama untuk menentramkan rumah kami. Pertanyaannya, bagaimanakah dengan keluarga Anda? Adakah sosok Avatar yang menjadi penentram di rumah Anda?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-8520708118014017035?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/8520708118014017035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/04/avatar-di-rumah-kami_24.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8520708118014017035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8520708118014017035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/04/avatar-di-rumah-kami_24.html' title='Avatar di Rumah Kami'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-7013616285027764080</id><published>2009-03-29T20:42:00.001+07:00</published><updated>2009-03-29T20:42:51.831+07:00</updated><title type='text'>Di Sebuah Terminal</title><content type='html'>Sembari tersenyum, pencari hikmah bergumam &amp;#39;ternyata benar hanya Dia&lt;br&gt;yang tidak pernah meninggalkanku dan selalu menyayangiku di manapun,&lt;br&gt;bagaimanapun, dan sampai kapanpun&amp;#39;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-7013616285027764080?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/7013616285027764080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/03/di-sebuah-terminal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7013616285027764080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7013616285027764080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/03/di-sebuah-terminal.html' title='Di Sebuah Terminal'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-2998778320428933153</id><published>2009-03-28T11:37:00.001+07:00</published><updated>2009-03-28T11:37:54.310+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Memiliki Kehilangan</title><content type='html'>Yups, judul postingan ini sama persis dengan judul lagunya grup band Letto. Harus saya akui, grup band yang satu ini merupakan salah satu band yang saya suka. Bukan hanya karena aransemen musiknya yang mendayu-dayu dengan melodi yang menarik hati, ketertarikan saya pada band yang vokalisnya merupakan putra dari budayawan Emha Ainunnajib ini lebih disebabkan oleh dalamnya makna dari tiap lirik lagunya. Dan Memiliki Kehilangan merupakan salah satu lagu yang liriknya sangat dalam sehingga mau tidak mau pada saat mendengarnya ada secercah kesadaran religius yang muncul di benak saya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda juga penggemar Letto, saya yakin Anda hafal lirik lagu ini. Namun, jika Anda bukan salah satu penggemar Letto, akan tetapi penasaran seperti apa liriknya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya tidak akan menuliskannya di sini. Lho kok? Iya, saya tidak akan menuliskannya di sini karena hanya akan mengurangi porsi inti tulisan. Lagian, jika Anda benar-benar ingin mengetahuinya cukup Anda cari di Google. Gampang tho? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup sudah uraian mengenai keterkaitan postingan kali ini dengan grup band Letto. Kini, tibalah saatnya saya mengulas sedikit tentang topic tulisan kali ini, yakni kehilangan. Benar, saya terdorong untuk menuliskan hal ini karena saya sedang merasa sangaaaaat kehilangan. Bukan harta benda atau pekerjaan. Bukan pula harga diri atau wibawa. Saya hanya sedang kehilangan separuh dari jiwa saya. Iya, saat ini saya hanya hidup dengan separuh jiwa. Separuhnya lagi entah terbang dan hilang ke mana. Yang jelas, saat saya membuat tulisan ini, jiwa saya tinggal separo. Atau kalau mau didramatisir, saya bahkan tidak yakin kalo jiwa yang saat ini bersama saya tinggal separo. Mungkin saja lebih kecil dari itu. Terdengar dilebih-lebihkan ya? Biarin, yang penting saya jujur dengan apa yang saat ini sedang saya rasakan. Nyawa saya memang masih ada. Akan tetapi, jiwa saya tidak lagi sepenuhnya bersama saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, saya merasa kehilangan. Seperti kata Letto bahwa kita hanya akan merasa kehilangan jika pernah merasa memiliki, begitu pula yang terjadi dengan saya. Saya merasa saat ini separoh jiwa saya hilang, karena dulu saya pernah merasakan penuhnya jiwa bersama seseorang. Terdengar norak ya? Sekali lagi biarin. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saat ini sedang saya rasa. Jika ada di antara Anda yang menganggap tulisan ini gombal semata, dengan senang hati saya mempersilahkan Anda untuk tidak melanjutkan membaca. Toh pada postingan berjudul Disclaimer saya sudah menyatakan bahwa blog ini akan menjadi tempat dimana saya akan mencurahkan segala yang saya rasa. Jadi, pliss jangan protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, mari kita lanjutkan. Jujur, kehilangan yang saya rasakan benar-benar mempengaruhi kehidupan saya. Kalau Anda mengamati dengan cermat blog ini, tanpa perlu saya beritahukanpun saya yakin Anda tahu bahwa blog ini juga terpengaruh oleh keadaan saya. Hitunglah, selama kurun waktu 9 bulan terhitung mulai bulan Juli 2008 sampai bulan Maret 2009 ini berapa banyak tulisan yang sudah saya buat dan saya posting di blog ini. Tidak banyak. Rata-rata dalam satu bulan saya hanya memposting dua tulisan. Bisa dilihat, dalam beberapa bulan saya bahkan tidak memposting satupun tulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu, apakah Anda merasa penasaran? Iya, memang selama kurun waktu yang telah saya sebutkan di atas, saya sedang sangat sibuk. Banyak pekerjaan dan urusan yang harus saya selesaikan. Namun, bukan itu inti persoalannya. Saya tidak memposting tulisan bukan karena kesibukan saya, akan tetapi lebih karena pikiran saya yang kalut. Saya yakin Anda bertanya “kalut kenapa?” Saat itu saya kalut karena sedang menghadapi persoalan yang jelas-jelas akan membuat saya kehilangan seseorang. Seseorang ini bukan saudara, teman, atau kolega. Seseorang itu adalah perempuan yang telah menjadi bagian dari jiwa saya selama kurang lebih lima tahun terakhir. Bayangkan bagaimana rasanya menghadapi persoalan yang Anda tahu akan membuat Anda kehilangan belahan jiwa. Rasanya sungguh pedih, perih, dan menyesakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja saya adalah orang lain yang easy going mungkin persoalan itu tidak akan begitu berpengaruh pada hidup saya. Kalau saja saya adalah cowok playboy yang suka mempermainkan perempuan demi kesenangan sesaat, mungkin masalah itu justru akan membuat saya happy. Sayangnya, saya bukan termasuk dari dua golongan di atas. Saya adalah tipe lelaki yang memikirkan segala sesuatu secara mendalam sehingga persoalan waktu itu benar-benar membuat saya oleng. Saya juga bukan termasuk playboy sehingga persoalan yang akan memisahkan saya dengan belahan jiwa sama sekali tidak memberi sedikitpun kesenangan. Hanya kepedihan. Iya, hanya kepedihan yang saya rasakan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kepedihan yang saya rasa itu, pikiran saya menjadi kalut. Seperti yang bisa Anda tebak, kekalutan itu membuat saya jadi linglung otak. Karena otak yang menjadi linglung, semangat kerja, semangat menulis, dan semangat belajar saya menguap. Karena itulah, selama kurun waktu yang sudah saya sebutkan di atas, blog ini seperti blog yang sudah tidak terurus dan sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Saya sadar itu justru merugikan saya. Akan tetapi, sungguh segala usaha yang saya lakukan untuk membangkitkan kembali semangat hidup saya sia-sia belaka. Saat inipun, saat saya menulis ini, semangat hidup saya belum kembali. Luka saya masih menganga. Terkadang, bahkan luka itu terasa disiram cuka manakala saya merindukan belahan jiwa (dan ini terjadi hampir tiap saat) dan mendapati bahwa dia seolah tak lagi peduli dan tengah membangun mimpi-mimpinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-2998778320428933153?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/2998778320428933153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/03/memiliki-kehilangan_28.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2998778320428933153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2998778320428933153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/03/memiliki-kehilangan_28.html' title='Memiliki Kehilangan'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-9152676037853246379</id><published>2009-02-23T11:37:00.003+07:00</published><updated>2009-02-23T12:10:20.859+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Ads is Yesterday</title><content type='html'>Setelah utak-atik template sekian lama, akhirnya space iklan di blog inipun bisa dihilangkan. Ya at the end, seperti inilah tampilan template blog yang bersih dari adverstisement. Lebih enak dipandang dan lebih mencerminkan pencarian hikmah :D.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups, tapi jangan kaget bila di waktu-waktu yang akan datang tampilannya berubah lagi. Memang saat ini pencari hikmah lagi seneng utak-atik tampilan. Saking asyiknya, sampai lupa posting tulisan. Kalo Anda pernah berkunjung ke sini serta pernah menulis komentar, tentunya Anda bisa melihat perubahan lain di sini selain space iklan yang sudah tidak ada. Yups, elemen lain yang berubah adalah form komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sih salah satu kelemahan ngeblog di blogger adalah kotak komentar yang kurang visitor friendly sehingga pengunjung males untuk berkomentar di blog-blog yang berplatform blogger. Ini tentu saja berbeda dari blog yang berplatfrom wordpress. Di blog-blog yang saya sebut terakhir, kotak komentar sudah sangat visitor friendly sehingga pengunjung dapat dengan nyamannya berkomentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan pertimbangan itulah akhirnya saya mencoba utak-atik form komentar di blog ini biar tidak sekaku aslinya. Setelah googling ke &lt;a href="http://gudang-html.blogspot.com/2008/09/pesan-kotak-komentar-bergaya-wordpress.html"&gt;sana&lt;/a&gt; &lt;a href="http://afatih.wordpress.com/2008/08/27/cara-bikin-kotak-komentar-blogspot-seperti-wordpress/"&gt;kemari&lt;/a&gt;, akhirnya komentar di blog inipun bisa diubah. Jadi, bagi pengunjung blog ini, jangan lagi sungkan menuliskan komentar Anda. Well, cukup segitu dulu. Saat ini pencari hikmah masih belum menemukan ghirrah ngeblog lagi. Tunggu saja dalam waktu-waktu dekat, saya akan memberi kado terindah di blog ini. Salam hangat... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S.: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagi teman-teman yang ingin berkomentar tapi kesulitan karena tidak punya akun google atau wordpress atau yang lain, silakan pilih "ANONYMOUS" pada opsi scroll down yang ada di kotak komentar. Nice day...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-9152676037853246379?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/9152676037853246379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/02/ads-is-yesterday_7299.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/9152676037853246379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/9152676037853246379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/02/ads-is-yesterday_7299.html' title='Ads is Yesterday'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-1757563277984609336</id><published>2009-02-19T01:18:00.001+07:00</published><updated>2009-02-19T01:18:32.861+07:00</updated><title type='text'>Doa</title><content type='html'>Ini bukan posting yg disengaja. Hanya karena mata tak jua mau&lt;br&gt;terpejamlah tulisan ini tercipta. Tapi, tentu saja tidak seperti&lt;br&gt;tulisan lain yg membahas suatu fenomena, posting kali ini hanyalah&lt;br&gt;ungkapan hati yg sedang dirundung nestapa karena teraniaya. Dalam duka&lt;br&gt;itulah terucap doa &amp;quot;Ya Allah, jangan kau cabut nyawa mereka sebelum&lt;br&gt;mereka menyesali dan menaubati kedzaliman yg mereka lakukan pada kami.&lt;br&gt;Amien...&amp;quot;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-1757563277984609336?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/1757563277984609336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/02/doa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1757563277984609336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1757563277984609336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2009/02/doa.html' title='Doa'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-1398579175627000774</id><published>2008-12-03T16:16:00.001+07:00</published><updated>2008-12-10T09:14:37.420+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Si Bungsu yang Teraniaya</title><content type='html'>Biasanya, menjadi anak bungsu merupakan anugerah. Kenapa demikian? Anak bungsu umumnya menjadi anak kesayangan orang tuanya. Apapun yang dimaui, pasti dipenuhi. Apapun keinginannya, pasti dikabulkan. Bahkan, selain dari orang tua, si bungsu juga biasanya menjadi muara kasih sayang kakak-kakak yang telah terlahir dahulu. Intinya, menjadi anak bungsu adalah jaminan kebahagiaan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, tidak selamanya menjadi anak bungsu selalu menyenangkan. Bertolak belakang dari pandangan umum bahwa menjadi anak bungsu merupakan anugerah, sebenarnya terlahir paling akhir bisa jadi merupakan sebuah bencana. Kalo Anda tidak percaya, baiklah lanjutkan membaca postingan ini karena tulisan semacam ini hanya terdapat di sini. Kalo ada di tempat lain, berarti itu postingan copy paste dari blog ini (mode narsis ON :D)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya tidak akan berpanjang lebar lagi. Akan saya upayakan untuk menjelaskan pendapat saya secara ringkas, padat, dan jelas. AKan tetapi, sebelumnya harus diingat bahwa yang akan saya tulis ini tidak berlaku umum. Ya seperti kata pepatah, di setiap teori pasti ada pengecualian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, tapi saya kok capek banget ya...? Yawdah dech, bahasan tentang si bungsu yang teraniaya ini akan saya lanjutkan kapan-kapan saja biar lebih komprehensif. Ditunggu ya....  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Selang tiga hari kemudian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huff, rasanya dua hari sudah cukup bagi saya beristirahat. Kini tiba saatnya saya melanjutkan dan menyelesaikan tulisan ini. Siapa tahu ada yang sudah tidak sabar menunggu. (Narsis lagi... hehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, banyak alasan yang saya miliki sehingga saya berkesimpulan bahwa menjadi anak bungsu tidaklah menyenangkan akan tetapi justru menyakitkan. Namun, di posting kali ini saya tidak akan mengemukakan semua alasan yang saya miliki. Dua alasan saja saya rasa sudah akan bisa meyakinkan Anda bahwa memang menjadi anak bungsu tidaklah semenyenangkan seperti yang Anda bayangkan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dalam sebuah keluarga dengan beberapa anak, anak bungsu pasti akan mendapatkan satu stigma yang tidak menyenangkan yakni selamanya ia akan dianggap kekanak-kanakan atau tidak dewasa. Stigma ini akan terus melekat  pada anak bungsu mungkin hingga ajal menjemputnya (hihihi, tragis banget bahasanya. Ngeri sendiri saya membaca kalimat ini). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, emangnya mendapat stigma kekanak-kanakan akan membuat hidup jadi tidak menyenangkan? Ya iya lah... stigma kekanak-kanakan akan membuat hidup kita jadi sangaaat tidak menyenangkan. Kenapa? Karena stigma ini akan menjadi awal dan alasan tindakan dan perlakuan tidak menyenangkan yang akan diterima si anak di masa yang akan datang baik dari keluarga sendiri (termasuk di dalamnya orang tua dan kakak-kakak) maupun dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok bisa demikian? Ya bisa lah... Sekarang coba Anda bayangkan. Jika Anda menganggap anak Anda atau adik Anda masih anak-anak, bagaimana perlakuan Anda pada anak atau adik Anda itu? Saya percaya, jawaban yang pertama kali akan Anda lontarkan adalah "saya akan menyayanginya sepenuh hati". Bagus, memang seorang anak kecil sangat membutuhkan kasih sayang orang tua dan kakak-kakaknya. Terus, kalo anak atau adik yang Anda anggap masih kecil itu punya keinginan yang berbeda dengan Anda, apa yang Anda lakukan? Kok diem? Bingung ya? Ayolah, ungkapkan saja isi pikiran Anda dengan jujur. Apa yang akan Anda lakukan jika kondisinya demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, itu dia. Itulah penjelasannya kenapa mendapat stigma tak pernah dewasa tidak menyenangkan. Karena dengan stigma demikian, hakikatnya sebagian atau lebih dari kemerdekaan seorang anak sudah terenggut. Kok saya bisa berkata demikian? Iya, karena saya yakin saat seorang anak atau adik yang Anda anggap masih kanak-kanak memiliki keinginan yang berbeda dari keinginan Anda, maka yang akan Anda  lakukan adalah berusaha dengan berbagai cara agar si anak mau mengubah keinginannya dan menuruti keinginan Anda. Iya kan? Kenapa demikian? Karena saat Anda menganggap anak atau adik Anda masih belum dewasa, maka Anda pasti akan beranggapan bahwa dia belum bisa memilah antara yang baik dan buruk. Akibatnya, saat pilihan anak berbeda dengan pilihan Anda maka Anda pasti akan menyalahkan pilihannya dan membenarkan pilihan Anda. "Kan dia masih kanak-kanak, sedangkan aku sudah mengenyam asam garam kehidupan". Pasti begitu gumama Anda dalam hati. Benar begitu tho? Ayo ngaku... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ada satu peraturan tak tertulis di masyarakat (khususnya masyarakat daerah tertentu. terutama di daerah K***s, hehehehe) bahwa anak bungsu berkewajiban menjaga orang tua. Nah, peraturan yang mewajibkan ini sangat-sangat-sangat tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, ini alasan yang tidak bisa diterima. Ini alasan yang sama sekali tidak ada landasannya. Apapun alasannya, menjaga orang tua harus dilakukan dengan penuh keihlasan, tidak boleh menggerutu atau mengeluh karena orang tua juga telah menjaga kita saat kita masih bayi. Jadi menjaga orang tua khususnya saat mereka sudah tua memang sebuah kewajiban sekaligus cara kita membalas kebaikan mereka". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin kebanyakan dari Anda akan menggerutu demikian dalam hati saat membaca alasan kedua yang saya kemukakan. Baiklah, saya tidak akan melarang Anda menggerutu. Tapi, sebelum Anda melanjutkan gerutuan, tolong dengarkan dulu penjelasan saya kenapa saya berpendapat demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini, memang benar menjaga orang tua saat mereka sudah tua adalah salah satu cara untuk membalas kebaikan mereka pada kita. Saya setuju seratus persen dengan ini. Bahkan, saya berani menyatakan bahwa kebaikan yang kita lakukan dengan cara melayani mereka saat mereka sudah tua masih lah jauh dari kebaikan yang mereka lakukan pada kita. Jika seumur hidup pun kita mengabdi dan melayani mereka, itu belum seimbang dengan kebaikan yang telah mereka lakukan pada kita. (Puas???)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saya tidak mempersoalkan kewajiban menjaga orang tua ini. Fokus saya adalah aturan tak tertulis tentang kewajiban ini yang seolah-olah 90 persennya hanya dibebankan pada anak bungsu. Ini yang tidak adil. Ini yang dzalim. Kok bisa? Iya, karena jelas bagaimanapun ini bukan hanya kewajiban anak bungsu. Menjaga dan melayani orang tua adalah hak dan kewajiban semua anak termasuk anak sulung, anak tengah, anak setengah tengah dan anak bungsu. Maka, membebankan kewajiban ini hanya pada anak bungsu, apalagi dengan alasan agama jelas merupakan tindakan tak adil yang merampas hak-hak anak bungsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bingung dengan alasan kedua ini? Baiklah, akan saya perjelas dengan contoh. Bayangkan, Anda adalah anak sulung, atau anak kedua, atau anak ketiga (pokoknya jangan anak bungsu) dari sebuah keluarga. Bayangkan, suatu saat Anda jatuh cinta pada seseorang yang kebetulan berasal dari luar kota. Anda sangat mencintai dia dan diapun mencintai Anda. Dia mau menikah dengan Anda akan tetapi tidak bisa tinggal bersama dengan orang tua Anda karena pekerjaannya di luar kota. Nah, pada saat demikian apa yang akan Anda lakukan? Saya yakin Anda akan menerima syarat itu dan melanjutkan niat Anda untuk menikah dengan orang yang Anda cintai itu meski setelah menikah Anda berdua tidak lagi harus bersama dengan Orang tua Anda. Kenapa Anda berani mengambil keputusan semacam ini? Lagi-lagi saya yakin karena Anda merasa tidak berkewajiban untuk menjaga orang tua. "Toh, masih ada adik saya". Saya yakin Anda berpikir demikian. AYo ngaku.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, bayangkan Anda dan adik-adik Anda selain si bungsu sudah menikah dan keluar dari rumah orang tua (meskipun tidak keluar kota). Suatu ketika adik bungsu Anda jatuh cinta pada seseorang yang juga berasal dari luar kota dan kerjanya pun di luar kota. Adik Anda sangat mencintai orang itu dan begitu pula sebaliknya. Dan mereka pun siap untuk menikah. Nah, sebagai kakak, apa yang akan Anda lakukan dalam keadaan demikian? Apakah Anda akan dengan serta merta menyetujui pilihan Adik bungsu Anda itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, iya kan? Anda pasti tidak akan begitu saja menyetujui pilihan adik bungsu Anda. Jika Anda seorang yang ekstrim, bisa jadi  Anda akan secara mentah-mentah menolak pilihan Adik Anda itu. Anda mungkin akan berargumen ini itu untuk menguatkan penolakan Anda dan agar terdengar rasional. Padahal, saya yakin di dalam hati Anda takut jika adik Anda jadi menikah dengan orang luar kota, maka bisa jadi dia ikut keluar kota. "Kalau demikian, siapa yang akan menjaga orang tua". Pasti, Anda berpikir demikian. Ngaku-ngaku.... (hehehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, jika Anda boleh memutuskan untuk menikah dengan seseorang dan kemudian meninggalkan rumah, kenapa Anda melarang adik bungsu Anda untuk melakukan hal yang sama? "Lho, dia akan anak bungsu. Dia harus menjaga orang tua" Nah, ketahuan kan alasan Anda. Berarti benar kan bahwa menjadi anak bungsu tidak menyenangkan karena ia dibebani oleh kakak-kakak dan masyarakat sekitarnya untuk memikul tanggung jawab menjaga orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah ah, cukup segitu dulu postingan kali ini. Kalo, tidak sepakat dengan pendapat saya, silakan kasih komentar.... Bye....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-1398579175627000774?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/1398579175627000774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/12/si-bungsu-yang-teraniaya.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1398579175627000774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1398579175627000774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/12/si-bungsu-yang-teraniaya.html' title='Si Bungsu yang Teraniaya'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-7584483876953502288</id><published>2008-12-03T13:55:00.000+07:00</published><updated>2008-12-03T13:56:43.389+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Baca'/><title type='text'>Sedikit tentang Maryamah Karpov</title><content type='html'>Ini bukan review buku atau kritik sastra apalagi spoiler. Ini hanyalah kilasan-kilasan gagasan yang muncul di kepala saya dan ingin segera dicurahkan. Dan kebetulan pemicu gagasan ini adalah buku terakhir Pak Cik Andrea Hirata yang tentu saja berjudul Maryamah Karpov.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di posting terdahulu kala saya pernah menyebutkan bahwa sebenarnya buku terakhir dari tetralogi laskar pelangi akan dirilis pada bulan April yang lalu. Ya maaf. Dulu saya berani menulis demikian bukan tanpa alasan. Waktu itu kabar yang beredar memang begitu. Bahkan, saat saya bertandang ke rumah mayanya Pak Cik Andrea Hirata, informasi valid tentang rilis buku Maryamah Karpov ya memang pada bulan April. Tapi, ternyata dan faktanya buku ini baru rilis akhir bulan November. Ya bukan salah saya dong. Tapi salahnya penerbit, ngapain ditunda-tunda. Tapi, meski ditunda rilisnya, Anda tidak akan kecewa kok kalo beli buku ini meski dibanding tiga buku sebelumnya harga buku terakhir ini terbilang mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, seperti yang sudah saya bilang di atas, tulisan ini bukanlah review buku Maryamah Karpov. Sekali lagi saya tegaskan: Ini bukan review! Posting ini hanya akan mengulas tentang judul yang digunakan yakni "Maryamah Karpov". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, ketika dulu membeli tiga buku lainnya, saya berpikir dalam hati kenapa buku terakhir diberi judul "Maryamah Karpov". Luar biasa, baru judulnya saja sudah membuat saya penasaran. Kok penasaran? Ya iyalah. Gimana gak penasaran kalo ada nama aneh samacam itu. Coba bayangkan: MARYAMAH KARPOV. Apakah mendengar nama ini telinga Anda tidak merasakan apa-apa? Kalo tidak mungkin memang Anda yang kurang peka. Sebab, Maryamah Karpov memang bukanlah nama khas Indonesia. Kalo Maryamah si emang Indonesia banget. Tapi Karpov? Setahu saya ini nama Rusia. Tahu kan Grand Master catur "Anatoly Karpov"?. Emang nama yang aneh kan? Jadi, boleh dong kalo saya penasaran. Pasti Anda juga iya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jujur lagi, dulu saya menebak-nebak bahwa Maryamah Karpov ini adalah A Ling. Ya secara di edensor kan Ikal begitu rupa mencari-cari keberadaan A Ling sampai melintasi Eropa dan Afrika. Masih ingatkan bagaimana di Rusia Ikal begitu kuatir karena mendengar A Ling menjadi favorit di sebuah rumah bordil yang ternyata adalah merek obat kuat? Ketika membaca bagian ini saya menduga bahwa A Ling memang berada di Rusia dan karena satu dan lain alasan mengganti namanya menjadi Maryamah Karpov.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata saya telah tertipu dan ditipu oleh Pak Cik Andrea karena ternyata judul Maryamah Karpov tidak ada kaitannya sama sekali dengan petualangannya di Eropa. Ternyata (lagi) novel ini dijuduli demikian karena fokus kelucuannya adalah seputar nama. Iya, Anda akan dibuat tertawa terbahak-bahak hanya dengan membaca nama-nama tokoh yang diceritakan di novel ini. Jangan tanya kenapa. Karena saya tidak akan menjawabnya. Biar tahu, silakan Anda pergi ke toko buku dan siapkan uang 80 ribu rupiah. Setelah itu bacalah dengan sabar. Niscaya Anda akan tahu apa yang saya maksudkan. Selamat membaca.   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-7584483876953502288?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/7584483876953502288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/12/sedikit-tentang-maryamah-karpov.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7584483876953502288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7584483876953502288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/12/sedikit-tentang-maryamah-karpov.html' title='Sedikit tentang Maryamah Karpov'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-6551834276333580392</id><published>2008-12-03T10:33:00.001+07:00</published><updated>2008-12-03T11:16:27.683+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Disclaimer</title><content type='html'>Terpaksa saya mengikuti jejak salah satu rekan saya untuk membuat disclaimer di blog ini. Saya katakan terpaksa karena memang sebetulnya saya tidak ingin melakukannya (Ya iya lah, kalo ingin ya bukan terpaksa namanya). Sebetulnya saya masih ingin terus menjadi pencari hikmah. Ingin rasanya tiap hari saya menuliskan petualangan saya di rimba kehidupan ini dan berbagi hikmah dari setiap peristiwa dengan Anda semua. Jujur, saya merasa sangat bahagia bisa berbagi sesuatu (hikmah - red) yang mungkin bagi sebagian orang tidak kelihatan. Memang benar, kita akan lebih merasa bahagia saat kita memberi, bukannya menerima (wuih kok masih sok berhikmah-hikmah gini).&lt;span class="fullpost"&gt; Namun, apa daya perjalanan hidup memang tidaklah mudah. Banyak onak dan duri di kanan kiri. Kalo digambarkan, hidup ini lebih layak disamakan dengan jalan menanjak, berkelak-kelok, dan penuh dengan jurang terjal di kanan kiri. Itu hidup saya. Tapi saya yakin hidup Anda pun tidak jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena pengalaman hidup yang menanjak dan penuh onak dan duri itulah akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi menjadi pencari hikmah. Apakah Anda bertanya mengapa? Hmm, jawabannya singkat. Karena, meskipun saya bisa mengambil hikmah dari segala yang terjadi pada diri saya, toh hikmah itu tidak menjadikan saya lebih bijak. Kok bisa? Iya bisa lah, masak ya bisa donk. Karena sejauh ini saya hanya rajin mencari hikmah tanpa mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Misalnya, saya tahu bahwa Tuhan itu maha adil. Saya meyakini itu. Tiap kali ada hal-hal tidak menyenangkan yang menimpa saya, saya selalu mengacu pada hikmah di atas yakni bahwa tuhan maha adil. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa meski dengan pengakuan yang begitu tulus bahwa Tuhan maha Adil, toh tiap kali tertimpa masalah hati masih saya masih selalu bertanya-tanya "Kenapa Tuhan tidak adil? Kenapa tuhan tidak adil pada hambaNya yang mengakui bahwa Dia maha adil?" Begitulah. Jadi, pengetahuan saya akan keadilan tuhan itu masih hanya sebatas kata-kata. Dan karena pemahaman saya masih sebatas kata-kata itulah sehingga saya bisa membaginya dengan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah mulai sekarang saya akan berhenti menjadi pencari hikmah. Di blog ini saya tidak lagi akan menuliskan pengalaman-pengalaman dengan hikmah-hikmah eksplisit. Sebaliknya, blog ini mulai saat ini hanya menjadi menjadi tempat saya menumpahkan isi kepala. Saya tidak mau lagi melabeli apapun yang saya tuliskan di sini dengan hikmah. Pokoknya apapun yang terlintas di kepala saya, dan saya berhasrat untuk menuliskannya, maka di blog inilah curahan isi kepala saya akan berlabuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bagi Anda pengunjung setia blog ini (emang ada ya...?) mulai sekarang jangan berharap untuk mendapati postingan-postingan sok bijak. Saya jamin postingan-postingan semacam itu tidak akan lagi Anda dapati di sini karena mulai saat ini blog ini akan berubah. Ya, saya tidak mau lagi sok bijak. Di sini, saya akan menjadi diri sendiri seutuhnya. Kalo saya merasakan hidup saya berat dan saya ingin mengeluh, maka yang akan akan jumpai di sini adalah postingan keluhan. Kalo saya sedang marah pada keadaan ataupun pada diri sendiri, saya akan meluapkannya di sini. Begitu dech.....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-6551834276333580392?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/6551834276333580392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/12/disclaimer.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6551834276333580392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6551834276333580392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/12/disclaimer.html' title='Disclaimer'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-1393084195944807720</id><published>2008-11-07T17:07:00.007+07:00</published><updated>2008-11-07T17:34:11.540+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Doa Yang Aneh, Isn't It?</title><content type='html'>Barusan iseng-iseng blogwalking. Ketemu satu blog yang lagi "jengkel" sama Hanung Bramantyo lantaran film besutan terbarunya yakni "Doa Yang Mengancam" dianggap sama sekali tidak bagus. Eitss, tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini secara saya terlalu sering dikecewakan sama film-film Indonesia. Jadi, gak perlulah saya membahas film Indonesia di sini, apalagi menjelek-jelekkan. Kasian kan, udah jelek dijelek-jelekin.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walah, kok jadi ngalur ngidul gini. Hmm, intinya gini, dari hasil blogwalking saya itu, ada satu doa yang menurut saya emosional tapi lucu. Selengkapnya doanya di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah… Tapi kalau bukan jodohku, Jodohkanlah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dia tidak berjodoh denganku, maka jadikanlah kami jodoh… Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, selain aku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, biarinkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh, jodohkanlah kami kembali…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dia jodoh orang lain, putuskanlah! Jodohkanlah dengan ku….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar orang itu ketemu jodoh dengan yang lain dan kemudian Jodohkan kembali dia denganku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Maaf, warnanya sengaja saya bikin merah, biar tambah sangar. Oya, gimana menurut Anda? Lucu kan? Memang lucu. Tapi, kalau Anda sangat mencintai seseorang, doa semacam itu jadi doa yang wajar. Nggak percaya? Baiklah, coba bayangkan Anda telah membina hubungan asmara dalam waktu yang sangat lama. Saat Anda siap untuk hidup bersama kekasih eh terjadi masalah. Ya masalahnya sih bisa macem-macem. Bisa jadi calon mertua menolak Anda, atau mereka tidak merestui, atau hubungan Anda tidak disetujui, atau oleh orang tuanya kekasih Anda dijodohkan sama orang lain (sama gak ya?). Nah, pada saat seperti itu pasti doa di atas akan menjadi doa yang wajar bagi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yach, akhirnya saya serahkan semua pada Anda. Mau memanjatkan doa seperti di atas atau cukup doa seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Ya Allah, Engkau lah dzat yang maha mengetahui apa yang terbaik bagi hambaMu. Maka, tunjukkanlah kami jalan keluar terbaik atas persoalan yang sedang kami hadapi. Amien"&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Silakan, doa mana yang lebih Anda sukai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: doa di atas yang berwarna merah sama copas dari &lt;a href="http://utchanovsky.com/2008/10/doa-yang-mengancam-sucks/"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-1393084195944807720?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/1393084195944807720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/doa-yang-aneh-isnt-it.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1393084195944807720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1393084195944807720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/doa-yang-aneh-isnt-it.html' title='Doa Yang Aneh, Isn&apos;t It?'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-614688554011864660</id><published>2008-11-05T16:35:00.002+07:00</published><updated>2008-11-05T16:44:19.073+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kita'/><title type='text'>I Just Don't Care</title><content type='html'>Kadang, kita harus menyanyikan lagunya Melly Goeslow "I Just Wanna Say I Love You", tapi kadang kita juga terpaksa meneriakkan kalimat sebaliknya "I Just Don't Care". Tanya kenapa???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-614688554011864660?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/614688554011864660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/i-just-dont-care.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/614688554011864660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/614688554011864660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/i-just-dont-care.html' title='I Just Don&apos;t Care'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-4001896822398716220</id><published>2008-11-05T00:21:00.002+07:00</published><updated>2008-11-05T09:24:37.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Tentang Kawin Paksa Lagi :D</title><content type='html'>Sebetulnya, saya ingin melanjutkan kisah si kancil dan putri singa. Jangankan Anda, saya sendiri juga penasaran sama ending ceritanya. Swear! Gak tahu juga, akhirnya putri singa bisa benar-benar menikah sama si kancil ataukah mereka berdua harus berpisah. Semoga sih kisah ini berakhir bahagia. Amieen.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi karena saya masih bingung bagaimana menyusun akhir cerita yang bahagia namun dengan cara yang senatural mungkin, akhirnya iseng-iseng saya buka statistik pengunjung blog ini. Eh, ternyata, tidak sedikit juga lho yang sampai ke sini lewat google dengan mengetikkan kata kunci terkait kawin paksa. Karena penasaran, saya coba juga googling untuk mencari tulisan-tulisan tentang kawin&amp;nbsp; paksa. Hmm, ternyata banyak juga lho yang membahasnya. Yang lebih yahud lagi pembahasannya juga dari berbagai aspek. Jika Anda penasaran akan tulisan-tulisan tentang kawin paksa yang saya baca, silahkan klik link-link di bawah ini. Oiya, link-link tersebut saya dapat dengan keyword "sikap rasulullah terhadap kawin paksa". Ok dech, ini dia link-link yang saya maksud:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.komitsurabayaselatan2006.co.cc/2008/08/kala-nafas-cinta-terenggut-tanpa-daya.html"&gt;http://www.komitsurabayaselatan2006.co.cc/2008/08/kala-nafas-cinta-terenggut-tanpa-daya.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.rahima.or.id/SR/14-05/Khazanah.htm"&gt;http://www.rahima.or.id/SR/14-05/Khazanah.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://andypermana.blog.friendster.com/2008/04/"&gt;http://andypermana.blog.friendster.com/2008/04/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/07/26/walau-bukan-siti-nurbaya/"&gt;http://pacaranislami.wordpress.com/2007/07/26/walau-bukan-siti-nurbaya/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kaylapustaka.com/content/view/6/5/"&gt;http://www.kaylapustaka.com/content/view/6/5/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, masih terkait sama kawin paksa, saya juga coba googling "menghadapi penolakan calon mertua". Mau tahu hasilnya? Silakan dech klik link-link berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0404/30/131135.htm"&gt;http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0404/30/131135.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://alfaroby.wordpress.com/2007/11/29/cara-menghadapi-calon-mertua/"&gt;http://alfaroby.wordpress.com/2007/11/29/cara-menghadapi-calon-mertua/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pengusahamuslim.com/modules/smartsection/item.php?itemid=145&amp;amp;keywords=kelapangan"&gt;http://pengusahamuslim.com/modules/smartsection/item.php?itemid=145&amp;amp;keywords=kelapangan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://incridiblog.com/2008/07/16/adsense-dan-calon-mertua/"&gt;http://incridiblog.com/2008/07/16/adsense-dan-calon-mertua/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://keluargabahagia.epajak.org/vcd/penolakan/"&gt;http://keluargabahagia.epajak.org/vcd/penolakan/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, cukup segitu dulu ya. Semoga bermanfaat...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-4001896822398716220?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/4001896822398716220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/tentang-kawin-paksa-lagi-d.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/4001896822398716220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/4001896822398716220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/tentang-kawin-paksa-lagi-d.html' title='Tentang Kawin Paksa Lagi :D'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-2337712128059197170</id><published>2008-11-03T00:34:00.002+07:00</published><updated>2008-11-03T09:13:18.203+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Kancil dan Anak Singa</title><content type='html'>Setelah bertemu dengan sang raja hutan, kancil tetap teguh dengan niatnya untuk menikahi putri singa. Mengetahui niat kancil ini, banyak hewan di hutan yang berpendapat bahwa kancil sudah mulai gila dan kehilangan kewarasannya. Wajar karena semua penghuni hutan tahu betapa kerasnya pendirian sang singa. Apalagi, mereka juga menganggap bahwa si kancil masih punya banyak kesempatan untuk mendapatkan istri yang tidak kalah dari anak sang raja hutan itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cemoohan dari warga hutan yang menganggapnya gila, kancil sama sekali tak peduli. Bahkan, saat keluarga besar kancil mulai menunjukkan keraguannya untuk terus mendukung niat kancil menikahi putri singa pun, dia tetap meneguhkan niatnya itu. Di dalam lubuk hati yang paling dalam kancil tahu bahwa dirinya atau putri singa akan sama-sama bisa bahagia tanpa harus memaksakan diri untuk hidup bersama. Dia tahu bahwa meski perpisahan dengan putri singa akan menggoreskan luka yang sangat dalam di hatinya, luka itu bukan tak terobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bagi kancil bukan hanya sekedar kebahagiaan yang ingin diraihnya. Yang ingin dia  gapai adalah kebahagiaan hidup bersama orang yang selama ini telah begitu sabar menemaninya melewati kesulitan-kesulitan. Lebih dari itu, kancil juga  tidak mau menjadi bagian dari golongan orang yang mudah mengucap janji semudah mereka melupakannya. Ya, kancil telah berjanji untuk menikahi putri singa apapun keadaannya dan bagaimanapun kesulitan yang akan dihadapinya untuk mewujudkan cita-citanya itu. Maka, selama putri singa belum menerima lamaran dan pinangan hewan lain, ia akan sekuat tenaga mempertahankan niatnya dan sekuat daya mewujudkannya. Dia telah berketetapan dalam hati bahwa perjuangannya akan berhenti saat putri singa menerima lamaran hewan lain dan menikah dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, keadaan memang tak kunjung memihak pada kancil. Meski berbagai cara telah dia lakukan untuk mendapatkan simpati dan restu singa, toh restu itu tak jua ia terima. Malah, tekanan yang dirasakan oleh putri singa untuk segera menerima pangeran singa dari hutan sebelah untuk menjadi suaminya semakin hari semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui betapa berat tekanan yang dirasakan oleh kekasihnya, kancil bermaksud menemui putri singa di tepat di hari ulang tahunnya. Maka kedua hewan yang sedang mengasihi dan menyayangi itu pun terlibat dalam perbincangan serius. Saking seriusnya obrolan mereka sampai-sampai canda tawa yang biasanya selalu mewarnai obrolan mereka hari itu seolah tidak ada. Dari detik ke detik putri singa hanya meneteskan air mata dan karenanya kancil pun tak kuasa untuk tidak berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kanda, aku tak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah melakukan segala cara agar ayahanda dan ibunda merestui hubungan kita. Tapi, tak sedikitpun usahaku membuahkan hasil. Mereka tetap tidak peduli dengan perasaan kita," ucap putri singa sembari mengusap air mata yang meleleh di pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya dinda, aku paham betapa sulit posisimu saat ini. Aku tahu bahwa seberapapun besarnya cintamu padaku, mereka tetaplah orang tuamu. Maka sangat wajar jika engkau bingung harus memilih aku atau mereka" dengan tersendat-sendat kancil berusaha menenangkan perasaan putri singa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan aku sangat memahami jika pilihanmu adalah antara kekasih dan orang tua, tentu bobot orang tua jauh lebih besar dari pada kekasih. Apalagi si kekasih itu aku yang hanya seekor kancil," ucap kancil dengan suara yang semakin terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan bilang begitu kanda. Aku sangat-sangat mencintaimu meski engkau hanya seekor kancil. Bagiku engkau jauh lebih baik dari pada singa manapun di seluruh dunia ini" sergah putri singa yang menyadari perasaan kekasihnya sedang sangat terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam hidup yang hanya sekali ini, kanda, aku ingin mencintai satu hewan. Dan itu adalah engkau" ucap putri singa sambil menggenggam tangan dan menatap tajam wajah kekasihnya yang sedang terluka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bersambung (ngantuuuks, udah malem bangetttts). Tunggu kelanjutannya ya. Paling besok udah ada. Gak janji tapi. hehehe&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-2337712128059197170?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/2337712128059197170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/kancil-dan-anak-singa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2337712128059197170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2337712128059197170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/kancil-dan-anak-singa.html' title='Kancil dan Anak Singa'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-568834256601305346</id><published>2008-11-02T22:16:00.012+07:00</published><updated>2008-11-03T09:27:39.398+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Romantic Sorrow...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Jangan Pisahkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Biar cinta &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Terhalang gunung dan samudera &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Aku tetap &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Memegang janjiku padamu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Biar jurang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Yang terjal ada di depanku &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Takkan goyah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Sumpahku kepada dirimu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Kita bagai bunga dan kumbang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Hatiku pasti hatimu jua &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Namun mengapa ada saja &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Yang benci tulus cinta kita &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;( korus ) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Jangan pisahkan, aku dan dia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Tuhan tolonglah, ku cinta dia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Biarkan kami tetap bersama &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Di dalam suka dan duka... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ayo Tebak, di atas lirik lagunya siapa? Terus kenapa saya mempostingnya di sini? Bagi yang tahu, silahkan kasih komentar. Komentar terbaik akan saya jadikan topik posting selanjutnya... Hehehehe&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-568834256601305346?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/568834256601305346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/romantic-sorrow.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/568834256601305346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/568834256601305346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/romantic-sorrow.html' title='Romantic Sorrow...'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-6723359956591647949</id><published>2008-11-02T13:18:00.003+07:00</published><updated>2008-11-03T09:14:50.656+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kita'/><title type='text'>Bencilah Rasa Benci</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Teruntuk SheDia…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wahai makhluk terindah yang pernah kukenal&lt;/span&gt;, ijinkan aku menuliskan hikmah yang baru saja kudapatkan. Hikmah yang secara tak sadar telah kau ajarkan kepadaku. Hikmah yang begitu penting artinya buatku sehingga ia mampu menenangkan jiwaku yang selama ini resah dan tak tahu arah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wahai makhluk yang paling kuinginkan&lt;/span&gt;, sungguh perbincangan terakhir kita telah menyadarkanku akan satu hal. Yakni, bahwa rasa benci adalah sumber dari segala sumber penyakit serta keburukan yang terjadi di dunia ini. Meskipun engkau tidak mengatakannya secara lugas padaku, aku tahu bahwa itulah maksudmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terngiang-ngiang di telingaku ucapanmu semalam. Masih kuhafal kata-perkata dari nasehatmu yang penuh amarah itu. Dan melalui tulisan ini aku ingin berterima kasih kepadamu karena tindakanmu telah membuka mata hati dan pikiranku untuk menerima kebenaran dan hikmah meski engkau harus melakukannya dengan amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tulisan ini pula, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wahai makhluk yang kuidamkan&lt;/span&gt;,  ingin kusampaikan nasehatmu kepada seluruh dunia. Biar tidak hanya aku saja yang mengerti. Biar bukan aku saja yang bisa mengambil pelajaran. Dan biar bukan aku saja yang tahu betapa bijaknya engkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai alam, dengarkanlah dia yang semalam menasehatiku. Katanya, membenci tidak akan memberikan keuntungan apa-apa pada kita. Sebaliknya, ia hanya akan merugikan kita dengan satu dan lain cara. Hakikatnya, begitu dia berkata, kita tidak akan mampu menyakiti orang lain dengan cara membencinya. Justru, kita sendirilah yang tersakiti oleh kebencian kita. Itu pasti. Karena itu, dia melanjutkan, hanya satu perasaan benci yang boleh kita miliki, yakni membenci perasaan benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai alam, jika engkau masih belum memahami nasehat dia yang selalu kupuja, cobalah kau benci seseorang dan lihatlah siapa yang lebih tersakiti oleh kebencianmu itu, apakah orang yang kau benci atau dirimu sendiri. Kuucapkan selamat mencoba…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai SheDia, kutunggu nasehat-nasehatmu selanjutnya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang biasa kita lakukan, ijinkan kututup tulisan ini dengan sepenggal lirik lagu kita: “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MORE THAN WORDS CAN SAY&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S: SELAMAT ULANG TAHUN SEMOGA HARI-HARIMU SEGERA MENJADI HARI-HARIKU&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-6723359956591647949?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/6723359956591647949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/bencilah-rasa-benci_8912.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6723359956591647949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6723359956591647949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/11/bencilah-rasa-benci_8912.html' title='Bencilah Rasa Benci'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-2382261221042415669</id><published>2008-10-20T11:05:00.004+07:00</published><updated>2008-10-20T11:47:19.003+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idola'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Tekuni Yang Kau Punya, Katanya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Boleh dikata, penyanyi nyentrik yang satu ini adalah idola saya. Tiap kali dia mulai memainkan gitarnya dan menyanyikan lirik-lirik lagu baik lawas atau baru baik dangdut atau pop, saya selalu merasa hanyut. Oh, kebisaannya menyanyikan hampir semua genre lagu merupakan salah satu nilai tambahnya di mata saya. Akan tetapi yang paling utama adalah keseriusannya dalam memainkan musik dan menyesuaikan suaranya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tiap kali keluar kota, tanpa sengaja saya ketemu dengannya. Dengan pakaian seadanya, dia biasa naik ke bis jurusan antar kota antar propinsi. Tak pernah kulihat dia bermain musik di situ sendirian. Hampir tiap kali berjumpa dengan saya, dia selalu bersama dengan seorang rekannya. Ya, ini dia nilai tambah lain yang dia miliki. Karena, jika dibandingkan, memainkan musik bersama seorang rekan tentu jauh lebih meriah ketimbang sendirian. Apalagi, rekan yang diajaknya itu juga selalu orang yang memiliki kepiawaian bermusik yang hampir sepadan dengan kamampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tiap kali dia naik ke bis yang saya tumpangi, ada perasaan gembira yang saya rasa. Karena saya yakin, saat dia mulai menyanyi, tanpa saya sadari pasti saya akan ikut menyanyikan lirik-lirik lagu yang ia mainkan. Mungkin ada baiknya saya selalu membawa semua lirik lagu yang ada, mulai dari lirik lagunya peterpan, ungu, rhoma irama, elvi sukaesih, bahkan lirik lagunya the rollies, the beatles, koes ploes, dan lirik lagu lainnya. Ya biar saya bisa senantiasa ikut mengiringi alunan musik yang dimainkannya dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yach, seperti yang sudah bisa Anda duga, dia bukanlah artis kampung, artis daerah, apalagi artis papan atas ibu kota. Dia hanya seorang pengamen yang beroperasi di terminal Purabaya atau Bungurasih, Surabaya. Tapi, saya bisa memberikan jaminan pada Anda, jika Anda bertemu dengannya, pasti Anda akan menikmati suguhan yang ia berikan. Sayang, saya belum punya kesempatan untuk bisa mengambil fotonya. Seandainya saya punya foto idola saya itu, tentu akan saya pasang di sini sebagai tanda penghargaan saya pada keseriusan berkaryanya. Karena, keseriusannya telah memberi saya inspirasi. Tanpa sepatah katapun, dia telah berhasil bicara telak ke hati saya. Apa gerangan yang dikatakannya? Dia berteriak kepada saya "&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Untuk menjadi bermanfaat dan disukai, kita tak harus menjadi orang penting. Cukup seriusi saya apa yang engkau miliki. Maka, keseriusan kita akan menjadikan kita bermanfaat dan disukai...&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ya ya, terima kasih pengamen idolaku.......&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-2382261221042415669?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/2382261221042415669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/10/tekuni-yang-kau-punya-katanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2382261221042415669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2382261221042415669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/10/tekuni-yang-kau-punya-katanya.html' title='Tekuni Yang Kau Punya, Katanya'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-8016851706792768719</id><published>2008-09-03T12:50:00.005+07:00</published><updated>2008-10-20T11:52:33.331+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Dialog Singa dan Kancil</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"Katakan, kenapa engkau begitu gigih ingin menikahi putri kami?" Sang singa bertanya sambil menatap tajam ke arah si kancil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berawal dari rasa kagum pada putri Anda, timbul rasa suka. Begitu kuat perasaan suka itu sehingga sulit untuk diredam. Bahkan, saat saya berniat melupakan perasaan itu, justru semakin kuat keyakinan saya bahwa ini bukan lagi perasaan suka, tetapi sudah berubah menjadi cinta. Ya, saya sangat mencintai putri Anda." Jawab si kancil mantap.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka, tidak ada cara lain bagi saya selain menyatakan perasaan ini pada putri Anda. Meski tidak langsung, akhirnya putri Anda menerima saya setelah ia yakin bahwa perasaan ini bukan main-main." Kancil melanjutkan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah itu, kekaguman saya pada putri Anda semakin bertambah. Kelebihan-kelebihannya membuatnya semakin terlihat mempesona di mata saya" Kancil terus bicara seolah tak lagi mempedulikan sang singa di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di antara banyak kelebihan putri Anda,kejujurannya tidak menutup-nutupi kekurangan adalah hal yang paling saya kagumi." Kancil semakin fasih bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, di hadapan saya putri Anda tidak hanya memperlihatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Dia juga secara jujur dan terbuka menunjukkan kelemahan-kelemahannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan, saya pun memperlihatkan kekurangan-kekurangan saya kepadanya sehingga jika sekarang ini putri Anda bilang bahwa dia sangat mencintai saya, itu bukan karena dia hanya tahu kelebihan saya. Dia sangat memahami kekurangan saya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, saya dan putri Anda sudah sangat saling mengenal. Kami tidak hanya mengetahui kelebihan masing-masing. Yang lebih penting lagi, kami juga saling mengerti kekurangan masing-masing. Dan, dengan mengetahui kekurangan-kekurangan putri Anda saya tetap menyatakan bahwa saya sangat mencintai dia. Saya ingin menikahi putri Anda. Saya berjanji akan mencintai dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Saya yakin jika ditanya putri Anda juga akan bersedia saya nikahi karena dia mencintai saya dengan segala kekurangan dan kelebihan saya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bolehkah saya bertanya pak?" ucap kancil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?" jawab sang singa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan Anda akan menikahkan putri Anda dengan saya?" kancil bertanya dengan senyum tersunggih di bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"???? kami bahkan belum memberimu restu...!" kaget oleh pertanyaan kancil, sang singat sedikit berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya yakin Anda orang yang baik pak. Saya yakin Anda ingin membahagiakan putri Anda. Dan saya yakin bahwa Anda yakin saya bisa membahagiakan putri Anda. Jadi, kapan Anda akan menikahkan kami???"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Bersambung.....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-8016851706792768719?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/8016851706792768719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/09/dialog-singa-dan-kancil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8016851706792768719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8016851706792768719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/09/dialog-singa-dan-kancil.html' title='Dialog Singa dan Kancil'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-236021384339179014</id><published>2008-09-03T01:02:00.006+07:00</published><updated>2008-10-20T11:57:28.844+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><title type='text'>Sepeda</title><content type='html'>Kejadiannya memang sangat cepat sehingga tidak ada yang bisa kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan perampok itu pun pergi sambil terbahak-bahak. Tampak tidak ada sedikitpun rasa kasihan pada bapak tua itu yang masih mendekap tangannya yang terluka oleh sabetan celurit para penjahat itu. Pupus sudah harapannya untuk membeli sepeda. Padahal keinginan itu sudah begitu lama dipendamnya. Sejak mulai membangun rumah tangga dua belas tahun yang lalu keinginan itu sudah bergelayut di sudut hatinya. &lt;span class="fullpost"&gt; Dalam batinnya ia membayangkan akan bisa mencukupi kebutuhan keluarganya jika berhasil membeli sepeda. Recananya waktu itu ia ingin berdagang ke desa-desa terpencil. Pakaian atau apapun yang penting bisa ia jual di daerah yang jauh dari tempat-tempat belanja. Dengan hasil seadanya, pikirnya, ia pasti akan bisa mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit demi sedikit uang yang diharapkan itu pun terwujud. Tidak ada hari tanpa menabung. Mungkin kata itu pantas untuk menggambarkan keteguhan pak Sofyan mengumpulkan uang. Hasil jerih payahnya itu kini telah mencapai angka sepuluh juta, jumlah yang cukup untuk membeli sepeda baru. Namun apa mau dikata, sebelum dia sampai di dealer para penjahat telah keburu mendapatinya. Dan tanpa ampun uang itupun tanpa sisa diambil oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan. Andai saja para penjahat itu tahu betapa susahnya mengumpulkan uang sebanyak itu, mungkin mereka tidak akan tega merampasnya dari tangan Sofyan. Lagi pula uang sejumlah itu jika dibagi empat dan dibelanjakan oleh orang yang tidak merasakan beratnya mencari pasti akan cepat habis. Ah, betapa tidak adilnya dunia. Orang yang telah bekerja keras mencari rejeki halal tiba-tiba harus merasakan kehilangan. Tapi, eit, tunggu dulu. Dari warung di pinggir jalan dimana penjahat telah berhasil menggasak uang pak Sofyan terdengar suara radio yang sedang menyiarkan berita. Dan salah satu isi beritanya telah menyadarkan pak sofyan akan kemahaadilan tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pagi tadi seorang pengendara sepeda motor tewas menabrak tiang listrik di Jalan Gatot Subroto. Setelah diidentifikasi diketahui nama pengendara bernasib naas itu adalah Joko, 24 tahun. Menurut para tetangganya Joko memang masih belum pandai mengendarai sepeda. Kesaksian para tetangga korban itu dikuatkan oleh hasil identifikasi pihak yang berwajib bahwa sepeda itu masih tergolong baru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulilllah, hanya uangku hilang sementara nyawaku tidak melayang. Begitu pikir sofyan sambil mengulum senyum meski dengan tangan terluka.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-236021384339179014?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/236021384339179014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/09/sepeda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/236021384339179014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/236021384339179014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/09/sepeda.html' title='Sepeda'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-6205941707832546563</id><published>2008-08-27T13:06:00.002+07:00</published><updated>2008-10-20T11:59:42.110+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Kisah Kawin Paksa</title><content type='html'>Seorang anak dipaksa oleh orang tuanya untuk menikah dengan calon pilihan mereka. Si anak telah memiliki pilihan sendiri. Cintanya pada pujaan hatinya begitu besar. Akan tetapi kecintaan pada orang tuanya dia rasa jauh lebih besar lagi. Maka, meski batinnya teriris-iris, dia membuang impiannya dan menuruti kehendak kedua orang tuanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujaan hati anak itu adalah seorang pemuda yang sangat rendah hati. Dia telah begitu banyak berkorban demi cintanya. Berulang kali dia membuang mimpinya sendiri demi rasa cintanya pada kekasih. Ketika kekasihnya memberi tahu bahwa dirinya sedang dalam dilemma, antara memilih cinta pada kekasih atau pada orang tua, si pemuda terdiam. Dalam hati dia begitu takut akan kehilangan kekasih yang sangat disayanginya. Akan tetapi, bagian hatinya yang lain memberitahunya bahwa bukan tindakan yang benar untuk mendapatkan cinta sang kekasih jika sang kekasih kemudian akan disebut anak durhaka. Dia berpikir bahwa pengorbanan terbesar dalam cinta adalah mengorbankan perasaan cintanya. Maka, jika selama ini dia telah begitu banyak berkorban demi kekasihnya, pengorbanan terpuncak dalam cintapun siap dia lakukan. Maka, kedua insan yang saling mencinta itupun berpisah dan berjanji untuk selalu saling mendoakan kebahagiaan pujaan hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan tak terhindarkan. Si anak hidup bersama orang yang pada mulanya tidak dia cinta. Hanya rasa bakti kepada orang tua lah yang membuat dia rela hidup dalam keadaan seperti itu. Meski wajah kekasihnya tak pernah bisa lepas dari pelupuk mata, dia tetap menjalani hidup dengan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berlalu, pasangan suami istri itu kini sudah hidup bahagia. Si anak, meski masih tetap menyimpan rasa cintanya pada pujaan hati, kini telah mulai bias mencintai suaminya. Karena memang si suami ini orang dengan kepribadian baik, maka diapun bias memperlakukan istrinya dengan penuh cinta. Maka, kebahagiaan akhirnya bisa menyelimuti kehidupan kedua insan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melihat kebahagiaan yang dirasakan si anak, kedua orang tua si anak itu merasa bangga bahwa mereka telah berhasil membahagiakan anaknya. Mereka semakin menganggap bahwa keputusannya untuk memaksa anaknya berpisah dari kekasih yang dia cinta dan memaksanya menikah dengan calon pilihannya adalah tindakan yang benar. "Buktinya, sekarang anak kita bisa hidup bahagia dengan suaminya”. Begitu ucap mereka dengan sangat bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa diketahui dari mana datangnya, seorang pemuda tampan sudah berada di depan kedua orang si anak ini. Dengan pandangan sangat tajam, si pemuda berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai orang tua, bukan tindakan kalian yang telah memaksa anak kalian menikah dengan pilihan kalian yang membut dia bahagia. Tindakan kalian itu tetap salah. Kalaupun anak kalian sekarang bisa hidup bahagia, itu karena balasan dari keikhlasannya mengesampingkan cintanya sendiri demi untuk berbakti pada kalian. Bukan tindakan kalian yang telah membuatnya bahagia. Sampai kapanpun, tindakan kalian ini adalah tindakan salah yang tidak hanya telah menyakiti hati dan perasaan anak kalian, akan tetapi juga telah menghancurkan hati seorang pemuda yang telah tulus dan penuh pengorbanan mencintainya. Kini, karena keikhlasannya pemuda itu pun hidup sangat bahagia. Semoga Tuhan menyadarkan kalian karena jika kalian mati dan pemuda itu belum memaafkan kalian, maka akhiratmu akan terbebani.”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-6205941707832546563?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/6205941707832546563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/08/kisah-kawin-paksa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6205941707832546563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6205941707832546563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/08/kisah-kawin-paksa.html' title='Kisah Kawin Paksa'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-6768573338073065190</id><published>2008-08-26T16:06:00.004+07:00</published><updated>2008-10-20T12:00:58.220+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Introspeksi</title><content type='html'>Maaf, postingan kali ini tidak akan panjang. Tapi, meski pendek insyaAllah ini ada gunanya. Berguna bagi saya dan berguna bagi Anda sekalian. Hanya saja, saya jamin ini tidak akan berguna kalau mata hati Anda sudah tertutup. Karena saya yakin hati kita semua tidak buta, maka kita akan mendapat manfaatnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih?&lt;br /&gt;Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin bertanya pada diri sendiri (saya harap Anda pun menanyakannya pada diri Anda sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita benar-benar sayang pada seseorang saat keinginan kita pada orang itu tak terturuti kemudian kita marah kepadanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih abstrak ya? Oke dech saya buat contoh konkrit saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, kalau Anda adalah orang tua dari anak-anak Anda sendiri, apakah Anda bisa dikatakan benar-benar sayang pada anak Anda jika mereka (anak Anda) punya keinginan yang berbeda dari keinginan Anda dan Anda marah karenanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, apakah Anda masih bisa mengklaim diri Anda orang tua yang benar-benar menyayangi anak Anda jika Anda memaksa (benar-benar memaksa) anak Anda untuk menikah dengan pilihan Anda sementara dia sudah punya pilihan sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sungguh tidak masuk akal Anda bisa mengklaim diri sebagai orang tua yang menyayangi anak Anda jika bahkan pilihannya pun tidak Anda hormati. Mungkin Anda merasa bahwa dalam segala hal pilihan Anda jauh lebih baik dari pada pilihan anak Anda. Akan tetapi, jika anak Anda tidak menyukainya dan kemudian Anda tetap memaksa apalagi tanpa mau tahu seperti apa pilihan anak Anda, maka sungguh Anda tidak pantas, dan tidak layak menyebut diri Anda orang tua yang menyayangi anak Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda beralasan bahwa ini demi kebahagiaannya, bahwa anak Anda pasti akan bahagia menikah dengan orang yang sudah mapan, taat beragama, terpandang, dan predikat baik lainnya yang mungkin benar ada pada calon pilihan Anda itu, maka saya yakin Anda perlu introspeksi. Coba renungkan kembali apakah semua predikat itu untuk kebahagiaan anak Anda ataukah demi kehormatan Anda. Karena, jika bagi Anda kebahagiaan anak Anda yang utama (bukan kehormatan Anda sendiri) maka Anda sebagai orang tua pasti rela mengorbankan apapun termasuk kehormatan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, wahai para orang tua, introspeksi sikap Anda. Meskipun Anda orang terpandang, bahkan kyai sekalipun, Anda masih juga manusia yang penuh nafsu di dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, bukti cinta yang sebenarnya adalah pengorbanan. Hanya mereka yang berani mengorbankan kepentingan sendiri lah yang layak disebut benar-benar mencintai. Dan, di antara pengorbanan terbesar adalah mengorbankan rasa cinta. Maka, demi cinta saya pun akan rela mengorbankan rasa cinta ini.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang merasa mencintai dan menyayangi orang lain padahal sebenarnya mereka hanya menyayangi diri mereka sendiri, hanya ada satu kata: SADARLAH...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-6768573338073065190?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/6768573338073065190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/08/introspeksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6768573338073065190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6768573338073065190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/08/introspeksi.html' title='Introspeksi'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-5945282328392035183</id><published>2008-08-15T08:52:00.005+07:00</published><updated>2008-10-20T12:02:29.870+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><title type='text'>Hanya memberi tahu</title><content type='html'>Ah.. Sudah lama betul saya tidak mengisi tulisan di sini. Seperti biasa, saya tidak punya alasan yang lebih masuk akal selain alasan sibuk. Ya, meskipun alasan ini masuk akal, akan tetapi sebenarnya itu bukan alasan yang sebenarnya. Masih ada alasan lain di balik kata sibuk ini. Kira-kira, kalau ditelusuri lebih lanjut, di balik alasan yang paling sering digunakan orang ini (sibuk) ada satu kata yang lebih tepat menggambarkan penyebab begitu lamanya saya tidak mengupdate blog ini. Saya yakin Anda semua tahu. Ya, malas. Rasa malas lah yang sebenarnya menghalangi saya untuk terus menulis dan berbagi dengan Anda.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, karena saya telah jujur kini saatnya saya memulai tulisan ini. Meskipun di lihat dari judul posting serta isi paragraf pertama tampaknya tulisan kali ini hanya pengumuman, sebetulnya saya benar-benar akan berbagi sesuatu dengan Anda (tentu saja kalau Anda mau menerima :D). Jadi terima kasih kalau Anda semua tidak berhenti di paragraf pertama dan masih membaca paragraf ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, sebelumnya biarkan saya bertanya. Tolong jawab dengan jujur. “Ketika membaca judul tulisan ini “hanya memberi tahu” apakah Anda berpikir bahwa tulisan ini hanya akan berisi pengumuman? Jika iya, maka mulai saat ini Anda sekalian harus mulai berhati-hati saat mendengar, membaca, menulis, dan berbicara. Dari tiga kata dalam tulisan ini, saya yakin ada satu kata yang begitu penting sehingga mempengaruhi pikiran dan tebakan Anda akan isi tulisan ini. Apakah Anda mengatakan kata itu adalah “hanya”? Jika demikian, maka menurut saya Anda sedikit banyak sudah bisa menebak apa yang akan saya jelaskan. Benar, saya memang akan sedikit mengulas penggunaan kata hanya dalam kehidupan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin kau tahu betapa besarnya cintaku kepadamu" "Aku hanya ingin berbicara denganmu, itu saja" "Aku menelponmu hanya ingin bilang aku cinta kamu (I just call to say I love you)” “Aku hanya tak habis pikir kenapa dia tega melakukannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin Anda sering mendengar, membaca, menulis, atau bahkan mengatakan kalimat-kalimat di atas. Dan inti dari semua kalimat itu ada pada kata “hanya”. Dan parahnya selama ini kita begitu cueknya dengan kata yang satu ini sehingga kita kurang memperhatikan arti sebenarnya yang terkandung oleh kata ini. Maksud saya begini, jika kita ingin menggunakan kata hanya dengan benar, maka kita harusnya hanya/benar-benar/sungguh-sungguh punya satu maksud dari kalimat yang kita buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, hampir tidak ada satu orang pun di dunia ini (Anda boleh menyangkal asal ada alasan dan bukti kuat :D) yang pernah menggunakan kata hanya dan dia benar-benar hanya memiliki satu tujuan. Ambil lah contoh kalimat di atas “Aku hanya ingin kau tahu betapa besarnya cintaku kepadamu”. Di dalam kalimat ini, kalau kita benar-benar menggunakan kata hanya dengan benar maka seharusnya tidak ada maksud lain selain bahwa kita mau menunjukkan betapa besar cinta kita pada seseorang. Tapi apakah kita benar-benar hanya ingin menunjukkan rasa cinta pada seseorang saja, dan tidak ada keinginan lainnya setelah itu? Saya pikir dengan menggunakan kalimat di atas kita tidak berhenti hanya pada pengungkapan rasa cinta. Ada keinginan lain yang mungkin tidak kita akui. Misalnya “setelah kau tahu bahwa aku mencintaimu, balas dong cintaku ini” atau “aku ingin setelah kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu engkau mau kembali lagi kepadaku”. Nah, kalau memang demikian berarti kita belum bisa menggunakan kata hanya dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oiya, di dalam posting ini saya juga tidak hanya bermaksud memberi Anda informasi meskipun saya menggunakan kata hanya di dalam judul posting. Di samping memberi Anda informasi, saya juga ingin Anda setuju dengan pendapat saya. Nah, ini jelas contoh nyata bahwa kata hanya ternyata selalu digunakan tidak sebagaimana mestinya. Maka, hati-hatilah saat Anda membaca, mendengar, menulis, atau berbicara dengan menggunakan kata hanya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi terserah Anda sih, saya hanya ingin memberi tahu :D :D :D&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-5945282328392035183?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/5945282328392035183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/08/hanya-memberi-tahu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/5945282328392035183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/5945282328392035183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/08/hanya-memberi-tahu.html' title='Hanya memberi tahu'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-5858174152575011176</id><published>2008-07-25T14:44:00.003+07:00</published><updated>2008-10-20T12:04:17.134+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Cinta yang Membunuh</title><content type='html'>Akhir-akhir ini saya dihantui lirik lagunya D’masiv. Biar nggak penasaran, akan saya tulis potongan liriknya di sini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kauhancurkan aku dengan sikapmu&lt;br /&gt;Tak sadarkah kau telah menyakitiku&lt;br /&gt;Lelah hati ini meyakinkanmu&lt;br /&gt;Cinta ini membunuhku....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nah, lirik di atas yang selalu menggangu saya. Saya katakan mengganggu karena setiap kali mendengar lagi ini entah di radio, atau di televisi, atau di komputer teman (kalau yang terakhir ini saya jamin mp3 yang bajakan :D), ada yang mau tidak mau saya pikirkan. Saya berharap Anda tidak penasaran tentang apa yang saya pikirkan. Akan tetapi, kalau ternyata Anda penasaran, saran saya baca terus posting ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, harus saya akui lagu ini memiliki arti tersendiri bagi saya. Apalagi setelah mendengar langsung dari penciptanya (lewat TV tentunya) bahwa lagu ini terinspirasi oleh pengalaman pribadinya. Apakah Anda bisa menebak kira-kira pengalaman seperti apa yang mendorong si pencipta yang personelnya D’masiv ini mencipta lagu yang ’thriller’ seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda menebak pengalaman tragis cinta yang ditolak, maka dengan berat hati harus saya katakan tebakan Anda kurang tepat. Kenapa? Karena bukan hanya ’cinta yang ditolak’. Akan tetapi, 'cinta yang ditolak berkali-kali'. Kalau kata si penciptanya sih, dia sempat 'nembak' cewek yang disukainya lebih dari 7 kali. Dan yang benar-benar men’trenyuh’kan adalah semua usahanya yang sampai tujuh kali itu gagal. Alias dia ditolak. Bukan hanya ditolak. Lebih tepatnya ditolak habis-habisan. Atau bahasa lumrahnya ditolak mentah-mentah gitu lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, tujuh kali menyatakan cinta pada orang yang sama dan terus menerus ditolak. Bisakah Anda membayangkan bagaimana rasanya? Ah, sayang sekali kalau Anda tidak bisa membayangkan. Sayang sekali kalau Anda tidak pernah ditolak apalagi lebih dari sekali. Karena, kalau demikian Anda tentu tidak akan bisa menikmati lagu ini sepenuh hati. Paling-paling Anda hanya menikmati musiknya saja. Tidak sampai ke emosi yang dibawa oleh liriknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terus, Kenapa lagu ini mengganggu pikiran pencari hikmah?” Mungkin Anda mulai bertanya demikian. Baiklah, akan saya katakan. Tapi tolong simpan ini baik-baik. Jangan dikatakan sama siapapun. Ini rahasia besar. Jangan sampai bocor. Karena kalau sampai bocor maka saya harus memanggil mario si tukang ledeng. Wah, bisa keluar uang banyak saya untuk menyewa si mario. Jadi, plis ya, setelah membaca ini tolong sangat disebarluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya.... .... pengalaman tertolak ini, ehem ehem, juga pernah saya rasakan. Dan guess what. Sama seperti pencipta lagu ini, saya juga pernah ditolak oleh seseorang (lebih tepatnya wanita, lebih tepatnya lagi wanita tercantik di dunia :D). Dan sama halnya dengan personel D’masiv, penolakan yang saya rasakan juga lebih dari sekali. Mendingnya (ini bukan bahasa Indonesia baku lho), penolakan yang saya rasakan tidak sebanyak si D’masiv. Lebih mendingnya lagi, tidak seperti D'masiv yang sampai sekarang katanya si gadis tidak bisa menerima (ehem-ehem) cintanya, si wanita yang tercantik di dunia itu pada akhirnya tidak kuasa untuk tidak mengatakan ”iya” saat saya mengatakan ”aku cinta” untuk yang kesekian kali :D.&lt;br /&gt;Itulah, kenapa lagu D'masiv bisa mengganggu saya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, tahukah Anda bahwa saya merasa beruntung pernah merasa tertolak? Kenapa? Karena kalau tidak, saya tidak tahu apakah perasaan saya sama dia akan sebesar seperti saat ini :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagi, saya juga merasa beruntung pernah mengalami masa-masa kurang bahagia, masa-masa sulit. Karena pengalaman masa-masa seperti itu membuat saya semakin tegar menghadapi kesulitan dan bisa menikmati setiap bentuk kebahagiaan yang saya rasakan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, so sweet kan?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-5858174152575011176?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/5858174152575011176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/07/cinta-yang-membunuh.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/5858174152575011176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/5858174152575011176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/07/cinta-yang-membunuh.html' title='Cinta yang Membunuh'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-2928914710654572042</id><published>2008-07-03T19:33:00.008+07:00</published><updated>2008-07-06T13:20:56.651+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Emansipasi: Wahai Para Wanita, Jangan Menunggu Diberi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hari ini saya dengan sangat terpaksa harus mengakui keunggulan salah seorang rekan kerja yang kebetulan berjenis kelamin perempuan. Namanya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bu Yuni&lt;/span&gt;. Meski sudah mengeluarkan segenap kemampuan, tetap saja saat tadi bertanding tenis meja melawan rekan saya itu, saya ditaklukkan dua set langsung. Sebetulnya bukan hanya dalam pertandingan tenis meja saja saya takluk. Di pertandingan tenis lapangan saya juga masih harus menelan kekalahan dari dia. Berhubung saya adalah pencari hikmah, maka meski kalah saya tetap harus mencari hikmah. Dan, hikmah itu adalah pemahaman saya yang lebih mendalam (saya rasa) mengenai emansipasi wanita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hmm, ngomong-ngomong tentang emansipasi,  jika mendengar kata yang satu ini, apa yang terlintas di benak Anda? Saya yakin nama R.A. (Raden Ajeng) Kartini berada di urutan teratas kilasan pikiran Anda. Lalu ketertindasan wanita menduduki tempat selanjutnya. Dan ketidakadilan peran kaum adam dan hawa di urutan ketiga. Apakah dugaan saya betul? Mudah-mudahan betul. :D&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sangat wajar jika nama Kartini segera terlintas di benak Anda. Bagaimana tidak? Lha wong sebagian besar dari kita pertama kali tahu kata emansipasi adalah dulu saat guru kita menjelaskan tentang Kartini. Ini terutama berlaku pada saya. Saya pertama kali mendengar kata asing yang ternyata dari bahasa Inggris ini ketika guru saya menjelaskan panjang lebar mengenai peran Kartini dalam pelajaran sejarah (kalau tidak salah dulu namanya PSPB). Meski waktu itu saya belum tahu betul artinya, sedikitnya saya sudah mulai tahu maksudnya dan kadangkala juga menggunakannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketertindasan wanita serta ketidakadilan peran laki-laki perempuan juga sangat mungkin dikaitkan dengan kata emansipasi. Kenapa? Sekali lagi karena Kartini. Lho kok Kartini lagi? Ya iya lah (masak ya iya dong :D). Kan beliau wanita pertama yang tercatat di dalam sejarah Indonesia yang dengan gigih memperjuangkan persamaan hak dan peran antara laki-laki dan perempuan. Katanya, dulu peran dan kedudukan wanita dipandang hanya sebelah mata (pegel dong matanya merem melek terus :D). Kalau ayah saya bilang, dulu peran wanita itu hanya tiga: macak, masak, manak (dandan, masak, dan melahirkan). Kalau Anda-Anda (para wanita masa kini) hidup di masa itu, bisakah Anda sekalian membayangkan bagaimana rasanya? Dari sekian banyak aktifitas yang bisa dilakukan, Anda hanya dibatasi untuk melakukan tiga hal di atas. Meski saya seorang pria, saya bisa membayangkan betapa tersiksanya wanita masa itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah, Kartini telah memulai gerakan untuk menentang pembatasan peran dan kedudukan wanita. Kini, wanita tidak lagi hanya berada di dapur (untuk masak), di depan cermin (untuk macak), di atas kasur (untuk siap-siap manak). Hampir di semua bidang kehidupan, wanita kini telah ikut ambil bagian. Wartawan wanita, banyak. Presiden perempuan, tidak sedikit. Menteri(wati), berlimpah. Bahkan, pimpinan perampok yang jenis kelaminnya perempuan juga sudah ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sayangnya, meski sekarang sudah begitu banyak wanita yang menjabat posisi yang dulu hanya dipegang oleh kaum laki-laki, ternyata masih banyak juga kaum perempuan yang &lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;hanya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;menuntut&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; emansipasi. Mereka tidak melakukan apa-apa untuk bisa mendapatkan peran yang diinginkan. Mereka hanya berteriak-teriak, merengek-rengek, dan meminta kaum adam untuk memberi posisi. Saat posisi sudah didapat dan peran baru sudah dijabat meski hanya sekedar pemberian, mereka baru bisa bernafas lega dan berani berkata bahwa di negaranya emansipasi wanita benar-benar ditegakkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lho, lho, lho, kok jadi jauh begini pembahasan hikmah kali ini. Wah, mungkin saya masih emosi karena kekalahan saya sehingga jari saya jalan-jalan di atas keyboard tanpa saya sadari :D. Tapi, intinya Anda pasti bertanya apa hubungan antara Kartini, Bu Yuni, pemahaman yang lebih baik mengenai emansipasi, dan kekalahan saya dari bu Yuni. Kalau itu pertanyaan Anda, maka jawabannya adalah begini: Kartini memperjuangkan emansipasi wanita karena beliau melihat ketertindasan perempuan dari laki-laki. Untuk melakukan perjuangannya Kartini tidak &lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;hanya menuntut dan merengek-rengek&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;pada kaum lelaki masa itu agar peran wanita tidak dibatasi. Sebaliknya, beliau berjuang dengan melakukan tindakan nyata yang membuktikan bahwa wanita juga bisa unggul dalam hal-hal yang dulu hanya dilakukan oleh laki-laki. Nah, di lain pihak, bu Yuni juga telah menunjukkan kepada saya bahwa wanita memang bisa lebih unggul dari laki-laki. Buktinya dia bisa mengalahkan saya dalam pertandingan tenis. Dia tidak hanya merengek untuk diperlakukan sama, tetapi melakukan tindakan nyata yang membuktikan bahwa dirinya (dan kaumnya) tidak kalah, bahkan bisa lebih unggul, dari kaum laki-laki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jadi, kalau Anda adalah kaum hawa yang sedang menuntut emansipasi, ada baiknya Anda meniru dua orang di atas, Kartini dan bu Yuni. Jangan hanya menuntut untuk diberi diperlakukan sama, akan tetapi buktikanlah dengan tindakan nyata bahwa Anda memang layak mendapat perlakukan sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-2928914710654572042?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/2928914710654572042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/07/emansipasi-wahai-para-wanita-jangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2928914710654572042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2928914710654572042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/07/emansipasi-wahai-para-wanita-jangan.html' title='Emansipasi: Wahai Para Wanita, Jangan Menunggu Diberi'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-7058955742955794094</id><published>2008-07-01T06:52:00.001+07:00</published><updated>2008-07-01T06:52:29.354+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Menyanyi dari Hati</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menyanyi, siapa di dunia ini yang tidak suka menyanyi? Hmm, rasanya tidak ada dech. Dari Afrika sampai Amerika, semua orang sedari kecil sudah terbiasa menyenandungkan nada-nada meski dengan bahasa yang berbeda. Bahkan, seorang yang notabene tidak bisa bicara pun masih bisa dan suka bersenandung meski tanpa mengeluarkan kata-kata. Yach, seperti saat kita ingin bernyanyi tapi tidak mengerti atau hapal liriknya gitu dech. Mengerti kan maksud saya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah, kalau seorang yang tunawicara saja mau dan mampu bersenandung, apalagi dengan Anda-Anda yang bisa bicara secara sempurna. Pasti, pasti Anda, seperti juga saya sangat menyukai senandung kata-kata yang tertuang dalam sebuah nyanyian. Kenapa bisa begitu? Kalau Anda bertanya demikian, maka jawaban saya adalah bahwa lagu bisa mewakili suasana hati. Sebuah nyanyian bisa menunjukkan kesedihan kita sekaligus kebahagiaan yang sedang kita rasa. Tidak percaya? Tidak mengapa. Tapi coba jawab pertanyaan saya, ketika Anda sedang patah hati karena ditinggal kekasih, misalnya, selain menangis dan curhat pada teman dekat, apalagi yang ingin Anda lakukan? Hmm, rasanya saya mendengar suara hati Anda yang sedang berkata ”saya ingin menyanyi lagu sedih, lagu yang memiliki cerita sama dengan keadaaan saya saat ini". Apakah benar demikian? Kalau demikian berarti pernyataan saya bahwa nyanyian bisa mewakili perasaan adalah benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bukti lain bahwa menyanyi adalah kesukaan hampir semua orang adalah kenyataan bahwa saat ini di berbagai belahan dunia kontes yang paling banyak diminati oleh masyarakat adalah kontes menyanyi. Tengok saja kontes American Idol. Setiap tahunnya berapa juta orang yang ikut ambil bagian dalam audisi kontes tersebut? Menurut yang saya baca sih, jumlah orang yang berminat untuk ambil bagian dalam acara tersebut sangat lah tinggi. Itu baru mereka yang turut ambil bagian dalam kontes tersebut. Belum lagi para pemirsa yang setiap minggunya menyaksikan tayangan kontes dari televisi. Mereka bisa mencapai ratusan juta. Hmm, sekali lagi jumlah mereka yang ingin ikut ambil bagian serta mereka yang selalu menyaksikan kontes ini menunjukkan betapa menyanyi merupakan sesuatu yang sangat digemari. Dan, hal yang sama pun terjadi di belahan dunia lainnya. Anda tahu kan bahwa kontes idol-idolan ini sekarang tidak hanya ada di Amerika saja? Kontes berlisensi American Idol ini diadakan di hampir seluruh penjuru dunia, termasuk juga di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah, meski kita semua suka menyanyi, tidak demikian halnya dengar mendengar nyanyian. Tidak sembarang penyanyi bisa membuat kita suka kepadanya. Bahkan, seorang diva yang sudah terkenal pun belum tentu bisa memikat kita meski dengan suaranya yang indah bagai burung camar. Kenapa bisa demikian? Karena keinginan kita untuk menyanyi adalah keinginan yang datang dari hati. Maka, kita pun juga hanya akan menyukai lagu yang menyanyi dari hati. Sejalan dengan nasehat Mary T. Browne bahwa &lt;i style=""&gt;sesuatu hanya akan menarik sesuatu yang sama&lt;/i&gt;. Dalam hal ini kegemaran akan senandung yang datangnya dari hati hanya akan bisa dipuaskan oleh senandung yang dinyanyikan dari hati pula, bukan hanya di mulut saja. Hmm, &lt;i style=""&gt;so sweet&lt;/i&gt; :D :D :D.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena itulah, tidak semua pengamen yang sering kita jumpai di bus-bus bisa menarik perhatian kita. Hanya segelintir pengamen saja yang kita sukai dan membuat kita rela mengeluarkan sedikit uang untuk diberikan kepadanya. Yang sedikit itu pasti menyanyi dari hati. Sedangkan yang lainnya tentu hanya bersenandung di mulut saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan perlu diingat, ini tidak hanya berlaku dalam hal menyanyi saja. Dalam hal-hal lain dan aktifitas apa saja hukum bahwa sesuatu harus datang dari hati bisa diterapkan jika Anda ingin mendapatkan respon datangnya juga dari hati. Maka, saat berbincang dengan tetangga, saat ngobrol dengan bawahan, saat berkumpul dengan teman, bahkan saat bergurau dengan anak-anak Anda pun, cobalah lakukan semua itu dari hati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;font size="2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;P.S: &lt;span style=""&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Selamat menikmati bulan baru, Juli 2008. Semoga di bulan ini kebaikan kita yang bertambah bukan sebaliknya. Amien&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;font size="3"&gt;.&lt;/font&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;font size="2"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;:-)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-7058955742955794094?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/7058955742955794094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/07/menyanyi-dari-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7058955742955794094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7058955742955794094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/07/menyanyi-dari-hati.html' title='Menyanyi dari Hati'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-1530840287789075581</id><published>2008-06-29T23:01:00.001+07:00</published><updated>2008-06-29T23:01:43.421+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Kesamaan yang Menjauhkan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya amat-amati, akhir-akhir ini di Negara saya Indonesia raya tercinta sedang mewabah satu penyakit yang menurut saya sih jauh lebih berbahaya dari sekedar HIV AIDS. Yach, setidaknya penyakit yang baru saya sebut terakhir sudah mulai ketemu obatnya. Anda pernah dengar kan kalau buah merah yang banyak terdapat di Papua kabarnya telah terbukti bisa menanggulangi efek mematikan dari penyakit paling fenomenal abad ini tersebut? Sementara, penyakit yang saya sebut pertama bukannya tidak ada obatnya. Obatnya sudah tersedia sejak lama, meski tidak dijual di apotik dan toko obat. Hanya saja tentu suatu obat tidak akan ada manfaatnya kalau tidak diminum tho? Nah, para pengidap penyakit ini hampir semuanya tidak menyadari bahwa diri mereka sedang mengidap penyakit, karena itu obat yang ada pun tidak diminum. Akibatnya, penyakit ini semakin mewabah dan semakin parah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Anda pasti bertanya-tanya apa sebenarnya penyakit yang saya maksudkan. Baiklah, tidak usah ditunggu lama-lama, langsung saja akan saya beberkan pengamatan saya atas kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitar saya, yang saya yakin juga terjadi di sekitar Anda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di sekitar tempat saya, terdapat dua golongan orang yakni kaya dan miskin. Saya yakin ini juga ada di sekitar Anda. Dua orang golongan ini memiliki gaya hidup yang berbeda (yang tentu dong :D). Aktifitas mereka berbeda, tempat bermain berbeda, pendidikan berbeda, bahkan sampai cara bicara pun berbeda. Jadi, hampir dalam segala hal kedua golongan ini berbeda.&lt;span style=""&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Akan tetapi, di antara begitu banyak perbedaan itu, terdapat satu kesamaan. Sayangnya, kesamaan ini tidak menjadikan kedua golongan menjadi dekat dan saling mengerti. Kesamaan di antara mereka itu justru membuat mereka saling menyalahkan. Apakah Anda bisa menerka apakah kesamaan itu? Tidak bisa? Baiklah, kesamaan itu adalah bahwa mereka sama-sama salah menggunakan dalil. Ha?! Maksudnya apa, maksude opo? Maksud saya begini: di dalam ajaran agama saya ada dua dalil untuk kedua golongan tersebut, kaya dan miskin. Kira-kira dalil pertama berbunyi ”Di dalam harta yang kau miliki, ada hak orang-orang miskin". Sedangkan dalil kedua berbunyi "Jangan sekali-kali kau menggantungkan hidupmu pada orang lain".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah, menurut Anda, apakah kedua dalil itu berlaku untuk kedua golongan? Ataukah hanya satu dalil saja yang berlaku untuk satu golongan sedangkan dalil lainnya tidak berlaku? Kalau memang hanya satu dalil yang berlaku untuk suatu golongan, kira-kira dalil mana yang seharusnya digunakan oleh golongan kaya, dan dalil mana yang seharusnya dipegang oleh golongan miskin?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya yakin Anda bisa menjawabnya dengan benar. Ya, masing-masing dalil di atas hanya berlaku untuk satu golongan. Dalil pertama seharusnya dipegang oleh golongan kaya, sedangkan dalil kedua seharusnya menjadi pegangan golongan miskin. Kalau kedua golongan tersebut bisa memegang dalil secara tepat, tentu tidak akan ada saling salah menyalahkan di antara kedua golongna itu. Orang kaya tentu akan tanpa diminta memberikan sebagian harta yang dimiliki untuk orang miskin yang membutuhkan. Sedangkan orang miskin tidak akan menggantungkan dirinya pada orang kaya dengan cara meminta. Bukankah kalau demikian yang terjadi, hidup akan seimbang. Tidak akan ada rasa saling memandang sebelah mata? Orang kaya tidak akan mengolok-olok yang miskin karena mereka tidak pernah meminta-minta. Dan orang miskin tidak akan membenci yang kaya karena mereka tanpa diminta telah menafkahkan harta yang dimiliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nyatanya, yang terjadi tidak demikian. Kedua golongan itu sama-sama mengambil dan memegang dalil-dalil yang seharusnya menjadi pegangan golongan lainnya. Orang kaya menggunakan dalil kedua, sedangkan orang miskin mengambil dalil pertama. Maka, terjadilah fenomena yang sangat tidak nyaman dipandang mata. Orang kaya menjadi pelit. Saat ada peminta-minta, meski memberi, dalam hati mereka mengutuki si peminta. Sedangkan orang miskin menjadi tidak mandiri dan lebih suka menggantungkan hidupnya pada orang kaya. Ya, demikianlah dampak dari satu kesalahan: salah menggunakan dalil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Itu baru satu contoh kejadian. Masih banyak kejadian lain yang disebabkan oleh kesalahan menggunakan dalil yang kalau semuanya ditulis dalam postingan ini anda tentu akan kehilangan semangat membaca karena saking banyaknya. Maka, lebih baik saya cukup memberikan satu contoh. Tugas Anda adalah mencari contoh-contoh lainnya. Dan, kalau Anda telah menemukan contoh lain, berbaik hatilah untuk mencantumkannya di dalam komentar. :D. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Akhirul posting (hehehe, niru siapa hayo&amp;nbsp;?!) mari kita memiilih dan menggunakan dalil yang benar.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-1530840287789075581?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/1530840287789075581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/kesamaan-yang-menjauhkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1530840287789075581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1530840287789075581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/kesamaan-yang-menjauhkan.html' title='Kesamaan yang Menjauhkan'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-2002573098462446163</id><published>2008-06-28T15:28:00.001+07:00</published><updated>2008-06-28T15:35:21.695+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idola'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Antara Morpheous, Mariah Carrey, dan R. Kelly</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada hubungan apa di antara ketiga orang tersebut? Ada yang tahu? Silahkan dipikirkan. Waktu kalian tidak banyak. Saya hitung sampai lima. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jadi tidak ada yang tahu. Baiklah kalau begitu biar saya mulai cerita saya kali ini. Dengarkan baik-baik karena saya hanya akan bercerita sekali dan tidak akan mengulangi untuk kedua, ketiga, apalagi yang keempat kali. Semua HP harap dimatikan. Atau ringtone di silent saja biar tidak menganggu saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Baiklah, pertama akan saya bahas Morpheous. Dia adalah salah satu tokoh dalam film Trilogi The Matrix. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Ingat? Bagi yang tidak ingat atau bahkan belum pernah menonton film ini, ijinkan saya sedikit menggambarkan film ini sekalian membeberkan seperti apa Morpheous. The Matrix merupakan salah satu film sukses Hollywood bertema science fiction atau fiksi ilmiah. Dan menurut pandangan subjektif pencari hikmah, film ini termasuk ke dalam kategori film berat yang tidak semua orang bisa menikmatinya. Ya bagaimana tidak berat kalau ceritanya begitu membingungkan secara nalar. Apakah Anda bertanya kenapa membingungkan? Seseorang bisa masuk ke dalam sebuah dunia yang benar-benar berbeda dari dunia yang dia tinggali hanya dengan cara menyambungkan diri dengan sebuah alat semacam komputer. Begitu kira-kira cerita film ini. Dan jika seseorang mati di dalam dunia yang dimasukinya lewat komputer itu, maka dia akan benar-benar mati di dalam dunia nyata. Membingungkan tho? Kalau tidak, berarti Anda patut bersyukur karena mungkin IQ dan kemampuan logika Anda termasuk Genius.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lalu siapa Morpheous itu? Dia adalah salah tokoh utama yang perannya di dalam film secara keseluruhan tidak boleh dipandang sebelah mata. Neo, si tokoh utama, masuk ke dalam dunia matrix dan kemudian bermetamorfosa menjadi Sang Pahlawan tidak lain dan tidak bukan adalah karena Morpheous. Morpheous yang menemukan dan membimbingnya meski ketika Neo bertanya bagaimana Morpheous menemukan dirinya dia menjawab ”bukan aku yang menemukanmu, tapi engkaulah yang telah lama mencariku, dan kini kau menemukanku". Hmmm, filosofis banget ya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan, ini yang penting. Morpheous bisa melakukan semua itu karena dia percaya. Dia percaya bahwa dia akan menemukan Neo seperti yang dikatakan oleh Oracle, tokoh lainnya. Dia juga percaya bahwa Neo lah sang terpilih yang akan bisa menyelamatkan the matrix. Dan, Kepercayaan serta keyakinan Morpheous ini kemudian menular kepada Neo yang akhirnya memang menjadi tokoh utama penyelamat dunia. Semua itu terjadi karena Morpheous percaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cukup tentang Morpheous, sekarang biar saya cerita sedikit tentang Mariah Carrey. Kalau yang ini saya yakin Anda-anda sekalian sudah lebih paham dari pada saya. Benar, dia adalah salah seorang diva pop dengan suara (katanya) hingga minus 5 oktaf. Wow, luar biasa. Bayangkan minus lima oktaf! Atau sederhananya, dia bisa menyuarakan hingga lima nada di bawah nada &lt;i style=""&gt;Do&lt;/i&gt; (Si Cantik Al Qudsy pasti ketawa membaca ini dan mungkin akan bilang ”sok tahu”). Dengan suara yang sedemikian istimewa, ditambah body seksi serta wajah (menurut saya) kalem, maka tidak mengherankan kalau Diva yang satu ini menjadi penyanyi papan atas dunia yang album lagunya sangat ditunggu-tunggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Meski secara pribadi saya menyukai hampir semua lagunya, hanya satu lagu saja lah yang membuat dia masuk nominasi untuk disandingkan dengan Morpheous di dalam postingan ini. Lagu apa hayo???&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(102, 51, 255);" align="center"&gt;“There can be miracles, when you believe&lt;br /&gt;Though hope is frail, It's hard to kill&lt;br /&gt;Who knows what miracles, you can achieve&lt;br /&gt;When you believe, somehow you will&lt;br /&gt;You will when you believe”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Itu sedikit liriknya. Ada yang tahu apa judul lagunya? &lt;/span&gt;Iya,&lt;span style=""&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;benar. When You Believe. Yach, kira-kira lagu ini adalah untuk mencapai sesuatu, yang pertama kali harus kita lakukan adalah mempercayai atau meyakini bahwa kita bisa meraih yang kita inginkan itu. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;So sweet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; kan? Nah, sekarang sudah tahu kan kaitan Mariah Carrey ini dengan Morpheous?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lalu ada kesamaan apa sampai R. Kelly dikaitkan dengan kedua orang di atas? Santai saja man. Nggak usah grusah-grusuh. Pasti akan saya jelaskan kok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Begini, salah satu lagu R. Kelly yang paling terkenal, fenomenal, dan inspiratif adalah lagu berjudul “I believe I can fly”. Bagi yang pernah membuka profile saya tentu sudah tahu bahwa lagu ini merupakan lagu favorit saya. Bagi saya lagu ini sedemikian inspiratif dan menggugah sehingga tiap kali diterpa masalah, mendengarkan lagu ini sanggup memulihkan semangat juang saya. Liriknya tidak usah saya tuliskan ya? Googling aja pasti ketemu kok (padune ora apal :D).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Demikianlah hubungan dekat ketiga orang itu (Morpheous, Mariah Carrey, dan R. Kelly). Ketiganya menyerukan satu pesan bahwa kunci penting untuk meraih sesuatu adalah dengan percaya. Lalu, apakah Anda mau meraih yang Anda inginkan? Kalau iya, mulai sekarang yakinkan diri Anda seyakin-yakinnya bahwa Anda bisa meraih keinginan itu. Cepat atau lambat, jika Anda tetap berpegang tegus pada keyakinan itu, keinginan Anda pasti akan tergapai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-2002573098462446163?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/2002573098462446163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/antara-morpheous-mariah-carrey-dan-r.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2002573098462446163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2002573098462446163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/antara-morpheous-mariah-carrey-dan-r.html' title='Antara Morpheous, Mariah Carrey, dan R. Kelly'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-9048076486819052554</id><published>2008-06-25T12:35:00.001+07:00</published><updated>2008-06-25T12:35:53.354+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Sandal, Sandal, dan Sandal</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pernah punya sandal yang Anda sayangi dan tiba-tiba hilang entah ke mana? Pernah? Seperti semua orang pernah mengalami hal yang satu ini. Meski dalam tingkatan rasa sayang yang berbeda-beda, sepertinya semua orang pernah menyayangi sesuatu yang menjadi miliknya. Dan menurut saya sandal adalah barang yang tampaknya paling mungkin untuk disayangi oleh semua orang. Lebih dari itu, barang yang satu ini juga paling rawan hilang. Kenapa? Ya jelas lah, masak ya Jelas dong! Ya jelas karena tidak seperti barang lainnya yang bisa selalu kita kenakan atau kita bawa atau juga kita simpan, di beberapa tempat barang yang bernama sandal ini harus kita lepaskan dari kaki kita tak peduli betapa sayangnya kita padanya. Misalnya saja saat Anda harus ke masjid, mau tidak mau tentu sandal tidak bisa Anda pakai. Ia harus rela kita tinggal di depan masjid. Dan, karena memang di sinilah sandal harus di lepas, maka otomatis salah satu tempat di mana sandal sering hilang adalah di masjid. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Adapun saya, saya pernah beberapa kali kehilangan sandal kesayangan. Kadang sandal yang saya sayangi itu harganya mahal. Kadang juga si sandal tidak terlalu mahal tapi bentuk dan enak di pakai di kaki. Entah itu mahal maupun hanya karena pas di kaki, yang namanya sandal kesayangan jika hilang maka kita akan merasa kehilangan. Begitu pula dengan saya, meski saya sadar sesadar-sadarnya bahwa sandal hilang adalah hal biasa, dan bahwa harga sandal tidak terlalu mahal sehingga kita bisa dengan mudah mencari pengganti, saat sandal kesayangan saya hilang saya betul-betul merasakan kepahitan. Ada rasa sesak di dada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Well, di antara momen-momen hilangnya sandal saya itu, saya masih ingat dua kejadian di antaranya. Yang pertama terjadi di Yogyakarta. Sedangkan yang kedua terjadi di Cirebon. Meski tempat terjadinya kedua kehilangan saya itu sangat jauh terpisah jarak, dan beda provinsi, namun ada kesamaan yang melatarbelakangi kepergian saya ke kedua tempat itu. Yakni, acara keagamaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kejadian pertama yang di Yogyakarta terjadi saat saya masih berusia remaja. Kalau tidak salah saat itu berusia sekitar 12 atau 14 tahun. Saya pergi ke Yogya bersama keluarga saya untuk Piknik. Hampir semua tempat pariwisata di Yogya dan sekitarnya waktu itu kami kunjungi dengan penuh suka cita. Maklum, masih kecil dan pergi jauh ke luar kota bukan sesuatu yang bisa saya lakukan di hari-hari biasa. Hanya pada saat-saat istimewa saja yang bisa pergi keluar kota dan bersama keluarga lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nah, pada saat tiba gilirannya piknik di Kebun Binatang Gembiro Loka, kebetulan waktunya pas siang hari dan waktu sholat dzuhur pun tiba. Entah apa yang mendorong hati saya waktu itu, panggilan sholat di sebuah&amp;nbsp; musholla benar-benar telah menarik keinginan saya untuk sholat. Saya bahkan tidak mengajak satu orang kerabatpun untuk ikut sholat bersama saya. Maka, setelah wudlu saya langsung masuk ke musholla dengan tanpa ada pikiran apapun. Dan saat saya telah selesai sholat dan hendak berkumpul lagi bersama kerabat, oh no! sandal saya yang tadi saya tinggalkan dengan pedenya tidak ada lagi di tempat semula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya yakin seyakin-yakinnya sandal saya bukan sandal ajaib. Karena itu tidak mungkin dia jalan-jalan sendiri saat saya sedang sholat. Saya juga yakin bahwa tadi tidak ada satu orang kerabat pun yang bersama saya ke musholla itu. Jadi, tidak mungkin si sandal di sembunyikan untuk menggoda. Maka, dengan hati agak kecewa (ya gimana nggak kecewa wong kehilangan kok) saya berusaha mencari-cari si sandal di semua sudut musholla. Setelah semua sudut saya telusuri dan si sandal tidak juga kelihatan batang hidungnya, maka saya ambil kesimpulan bahwa si sandal sudah diambil orang. Dengan dipaksa-paksakan, saya harus mengingat ajaran guru ngaji dulu bahwa sesuatu yang lepas dari kita tidak lah benar-benar hilang, hanya sedang diperlukan orang. Dalil inilah yang saya pakai saat kerabat-kerabat saya menanyakan ha ihwal sandal saya. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Saat mereka bertanya “Sandalmu Ilang yo?” Dengan lantang saya menjawab “Tidak hilang, cuma sedang dipinjam. Pasti akan diganti.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yang kedua terjadi beberapa waktu lalu di Cirebon saat saya ikut ziarah wali songo. Saat hendak ke makam sunan gunung jadi, saya (sebetulnya bukan hanya saya saja, akan tetapi semua peziarah) harus melepaskan alas kaki. Kali ini dengan sangat pede saya juga meninggalkan sandal kesayangan tanpa ada rasa curiga atau firasat akan terjadinya kehilangan. Dengan khusyuknya saya bisa mengikuti ziarah di tempat itu. Dan saat hendak kembali ke bis, lagi-lagi si sandal telah tidak tampak batang hidungnya. Saya cari ke sana kemari, siapa tahu hanya posisinya yang berubah, tapi tak juga saya temukan. Maka, saya simpulkan sandal saya yang satu inipun telah tidak menjadi milik saya lagi. Dengan perasaan masgul yang ditahan-tahan saya kembali ke bis. Saat berjalan ke bis itulah tercetus satu pikiran di benak saya: pasti kejadian ini mengandung pesan khusus untuk saya, buktinya sebegitu banyak orang, dan dengan sandal yang lebih bagus dari milik saya, hanya saya seorang yang kehilangan sandal. Entah apa pesan dari kehilangan saya ini. Tapi saya yakin pasti ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;Begitulah, sandal saya kini telah berubah. Sekembali dari ziarah, saya memutuskan untuk membeli sandal yang lebih bagus dan harganya jauh lebih mahal. Ya, setidaknya agar saya tidak lagi menyesali kehilangan itu. Dengan sandal yang lebih bagus saya berharap justru bisa mensyukuri hilangnya si sandal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-9048076486819052554?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/9048076486819052554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/sandal-sandal-dan-sandal.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/9048076486819052554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/9048076486819052554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/sandal-sandal-dan-sandal.html' title='Sandal, Sandal, dan Sandal'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-1779710820338114830</id><published>2008-06-25T00:42:00.001+07:00</published><updated>2008-06-25T00:42:41.170+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Kaca Mata (Tanpa) Kuda</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rasanya kita semua memang selalu menginginkan apa yang tidak kita miliki. Dan setelah medapatkan yang kita inginkan itu, seringkali kita menyesalinya. Atau, kita tidak puas dengan apa yang didapatkan dan mengharapkan yang lebih dari yang sekarang bisa kita raih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam kasus saya, saya juga tidak hanya sekali dua kali mengharapkan sesuatu akan tetapi kemudian saat yang saya harapkan itu bisa saya raih, eh malah sesal yang saya rasa. Selain kasus kumis plus jenggot, ketika masih kecil juga pernah berharap untuk memakai kaca mata kelak jika sudah besar. Waktu itu, di mata saya, kaca mata merepresentasikan intelektualitas seseorang. Maka, jika orang berkacamata adalah orang yang intelek dan cerdas. Sedangkan orang yang tanpa kaca mata adalah orang-orang biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tentu saja, pandangan saya tentang pengaitan antara kaca mata dengan intelektualitas ini tidak tumbuh dengan serta merta. Ada sesuatu yang mendorong saya untuk berpikir demikian. Pendorong lahirnya pendapat semacam itu adalah tontonan di televisi yang selalu menempatkan dan mengidentikkan kaca mata dengan kecerdasan. Oh ya, dulu saya suka menonton “Oh, I Shrunk the Kid”. Kalau Anda termasuk penggemar atau setidaknya pernah menonton film ini tentu Anda tahu bahwa di situ ada satu karakter jenius yang penggambarannya adalah seorang anak berkaca mata, tebal lagi. Yah, sepertinya film ini ikut membentuk pendapat saya tentang hubungan kecerdasan dengan kaca mata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memang tidak hanya satu film ini. Banyak tayangan lain di televisi yang menggambarkan orang cerdas dengan cara yang sama, yakni memakai kaca mata. Bahkan, di majalah-majalah, koran, dan Tabloid pun, kecerdasan senantiasa divisualisasikan dengan kaca mata. Ya, kalau Anda belum percaya, coba tonton film-film tentang anak-anak jenius atau bukalah tabloid anak-anak dengan tema yang sama. Saya jamin Anda akan menemukan seperti yang saya gambarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Itu hal pertama yang mempengaruhi saya. Adapun alasan kedua saya waktu itu berharap untuk menggunakan kaca mata adalah penilaian saya akan penampilan orang-orang berkaca mata. Ya, saya menganggap pemakai kaca mata kelihatan jauh lebih &lt;i&gt;good looking &lt;/i&gt;atau lebih enak dipandang mata ketimbang orang-orang yang tidak berkaca mata. Tentu saja, kriteria g&lt;i&gt;ood lookingness&lt;/i&gt; ini tidak mencakup semua pemakai kaca mata. Mereka yang kata matanya terlalu tebal, yang di tempat saya dulu sering disebut &lt;i&gt;tesmak&lt;/i&gt; tidak masuk kategori &lt;i&gt;good looking&lt;/i&gt; meski mereka berkaca mata. Hanya mereka yang kaca mata tidak menunjukkan kekurangan pada matanya saja lah yang terlihat semakin menarik dengan kaca mata bertengger di atas hidungnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan, harapan saya memang menjadi kenyataan. Ketika duduk di bangku kuliah, saya seringkali tidak bisa mencatat yang dituliskan dosen hanya karena tempat duduk saya tidak terdepan. Awalnya, saya mengira memang tulisan dosen tersebut yang terlalu kecil dan kurang bagusnya pencahayaan yang membuat tulisan dosen tidak terlihat. Akan tetapi, lama kelamaan saya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan mata saya. Setelah diperiksa, benar lah bahwa mata saya &lt;i&gt;min&lt;/i&gt;. Tidak terlalu banyak sih, tapi sudah harus memakai kaca mata kalau ingin memandang segala sesuatunya dengan lebih jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka, sejak saat itu saya harus menggunakan kaca mata. Awalnya, kebahagiaan jelas-jelas saya rasakan. Bagaimana tidak bahagia, lha wong saya meraih apa yang selama ini saya harapkan. Saya juga bahagia karena ternyata setelah begitu lama melihat dunia yang tidak begitu jelas, kini saya bisa menyaksikan sekeliling saya yang terang benderang. Rumput di lapangan terlihat begitu hijau, padahal sebelumnya rumput itu sama sekali tidak menarik perhatian saya. Ya, awalnya saya sangat bahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi yang terjadi kemudian, setelah berselang cukup lama, barulah saya menyadari bahwa dengan memakai kaca mata, saya sekian persen kemerdekaan saya terenggut. Yah, setidaknya saya tidak bisa lagi menonton TV dengan tiduran. Karena jika saya melakukannya, maka mata saya akan terasa sedikit sakit. Selain itu, jika saya naik sepeda dan kebetulan hujan turun, maka saya harus siap-siap berulang kali menyeka dan membersihkan kaca mata saya agar pandangan menjadi cerah dan jelas kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apa boleh buat, sekarang tanpa kaca mata saya tidak bisa beraktifitas dengan baik. Maka, meski kebebasan sedikit terenggut, kaca mata saya ini sedikit banyak telah juga memberikan sesuatu yang dulu pernah hilang, yakni pandangan dan pemandangan yang cerah dan jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setidaknya dua keinginan saya terkabul meski kemudian agak saya sesali. Maka, saya tidak akan lagi membuat keinginan seenak hati. Takut kelak menyesal lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-1779710820338114830?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/1779710820338114830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/kaca-mata-tanpa-kuda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1779710820338114830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1779710820338114830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/kaca-mata-tanpa-kuda.html' title='Kaca Mata (Tanpa) Kuda'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-8953560938901253205</id><published>2008-06-23T19:05:00.001+07:00</published><updated>2008-06-23T19:05:56.429+07:00</updated><title type='text'>Kumis, bukan kumis(kinan)</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada satu bagian dari tubuh saya yang minimal tiga kali sehari harus saya perhatikan. Apabila saya melanggar hal ini maka penampilan saya akan terlihat tidak karuan. Dengan kata tidak karuan, maksud saya penampilan akan terlihat kurang begitu rapi, meski tidak bisa juga dikatakan awut-awutan. Gimana ya? Yach, intinya kalau kewajiban untuk memperhatikan bagian tubuh saya yang satu ini tidak saya jalankan maka penampilan saya yang biasanya imut dan bersih, plus rapi akan berubah menjadi sedikit kotor dan tampak kurang merawat diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang tentunya sudah Anda semua duga, bagian tubuh yang satu ini adalah kumis. Apakah Anda juga memilikinya di bawah hidung Anda? Kalau Anda pria mungkin sekali Anda memilikinya. Akan tetapi, kalau Anda wanita sungguh mustahil bagian tubuh yang satu ini juga terdapat pada tubuh Anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ya, kumis saya ini (plus jenggotnya) memang sekarang cukup merepotkan. Gimana nggak merepostkan kalau setidaknya setiap tiga hari saya harus merapikannya. Benar, jika&amp;nbsp; satu hari saja yang terlupa untuk menjalankan kewajiban, kumis dan jenggot saya ini sudah akan terlihat lebat. Sebenarnya kalau benar-benar lebat seperti yang dimiliki oleh Pak Raden sih malah enggak apa-apa. Lha milik saya ini tidak selebat kumisnya pak Raden. Kumis saya ini hanya terlihat hitam dan terjulur pendek-pendek. Sungguh sangat mengganggu penampilan saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya saya pernah punya niat untuk membiarkan kumis dan jenggot saya ini untuk tumbuh bebas tanpa harus saya perhatikan secara reguler. Dan, pernah saya benar-benar menjalankan rencana saya ini. Tapi apa yang terjadi, meski sudah dibiarkan cukup lama, jenggot dan kumis saya tidak tumbuh seperti yang saya inginkan. Kedua bulu di wajah saya ini memang bertambah panjang. Kumis yang letaknya di bawah hidung ini bahkan kadang sampai ke bibir, saking panjangnya. Begitu pula dengan jenggot saya. Saking panjangnya, saya sempat bisa mengelus-elusnya seperti yang sering dilakukan oleh Pepi di acara empat mata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi, sayangnya hanya cukup sampai panjang saja. Titik. Kumis dan jenggot saya kalau dibiarkan hanya bertambah panjang. Keduanya tidak dengan sendirinya menjadi rapi dan enak dipandang seperti yang saya harapkan. Dan karena hanya bisa tumbuh panjang tanpa bisa menjadi rapi ini, maka dengan semakin lamanya saya biarkan keduanya, semakin awut-awutan pula penampilan saya. Maka, dengan tekad bulat sejak saat itu saya berjanji akan selalu menjaga penampilan saya dengan secara teratur memotong kumis dan jenggot saya. Hasilnya, saya harus rela menyediakan waktu untuk memandang wajah saya di cermin dan memperhatikan apakah kedua bulu di wajah saya ini sudah saatnya dipotong atau belum. Hal ini cukup mengganggu. Tapi, ya harus saya nikmati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Padahal, ketika kecil dulu saya selalu memimpikan untuk memiliki kumis dan jenggot yang cepat tumbuh. Menurut saya waktu itu, seorang pria yang tidak memiliki kumis dan jenggot tidak akan kelihatan kelelakiannya. Sebaliknya, seorang pria yang berkumis dan berjenggot lebat adalah simbol lelaki perkasa. Kini, saat harapan saya semasa kecil terkabul, dan kumis serta jenggot saya selalu tumbuh lebih dengan cepat, kenapa saya justru merasa tidak senang ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-8953560938901253205?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/8953560938901253205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/kumis-bukan-kumiskinan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8953560938901253205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8953560938901253205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/kumis-bukan-kumiskinan.html' title='Kumis, bukan kumis(kinan)'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-411804015342041064</id><published>2008-06-06T18:29:00.001+07:00</published><updated>2008-06-06T18:29:30.597+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Sakit Perut</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ini nih penyakit yang kalau saya amat-amati sering menimpa saya. Ya memang sih kalau dibandingkan dengan orang yang penyakitnya macam-macam dan memerlukan biaya sangat besar agar kembali sembuh ke keadaan normal, penyakit saya ini adalah penyakit kecil. Jadi, sudah selayaknya kalau saya memanjatkan syukur hanya dikasih penyakit seperti ini. Tapi, yang namanya penyakit, tetap saja kalau datang rasanya menyiksa. Dampaknya, aktifitas saya mau tidak mau harus terganggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berkaitan dengan penyakit ini, salah seorang saudara saya suatu ketika kirim &lt;i&gt;short message service&lt;/i&gt; (atau bahasa gaulnya SMS lah) pada saya. Isinya mengabarkan kalau dirinya sedang terhinggap oleh penyakit men****. Di dalam sms waktu itu dia mengatakan, “Kabarku lagi kurang baik nih, biasa penyakit nggak elite nya lagi datang. Aku sudah dua hari ini lagi men****”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi oleh saudara saya ini, penyakit men**** yang dideritanya dianggap sebagai penyakit nggak elite. Saya yakin di balik sms itu, dia berpikir bahwa penyakit yang elite itu ya seperti penyakit jantung, paru-paru, gagal ginjal, stroke, dan penyakit-penyakit lain yang biasanya diderita oleh orang-orang berduit dan penyembuhannya juga memerlukan uang yang tidak sedikit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nah, menerima sms seperti itu, secara otomatis pikiran saya memberontak. Maka saya balas sms saudara saya itu. Intinya, saya tidak setuju dengan pandangannya. Ya, menurut saya men**** atau masuk angin, atau sakit perut, atau bahkan panu, kadas, kudis, kurap dan sebangsanya itu tidak bisa dikatakan sebagai penyakit tidak elite. Alasan saya sih sederhana, siapa saja berpeluang menderita penyakit-penyakit ini sebagaimana penyakit-penyakit seperti gagal ginjal, gagal jantung, dan kawan-kawannya yang juga berpeluang untuk diderita oleh siapapun tidak hanya oleh mereka yang berduit. Buktinya, tetangga saya pernah ada yang meninggal karena sakit paru-paru lebih tepatnya asma. Padahal tetangga saya itu bukan orang kaya. Dia bahkan sangat memenuhi syarat untuk disebut miskin dan karenanya berhak mendapat BLT. Dan memang pada tahap pembagian pertama, dia mendapat bagian BLT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, penyakit-penyakit yang oleh saudara saya itu sebut sebagai penyakit gak elite itu juga terbukti pernah menjadi penyebab kematian seseorang. Memang sih, belum pernah ada laporan dari media massa bahwa seseorang meninggal dunia lantaran penyakit panu. Tapi, tentunya sudah banyak dong laporan surat kabar yang memberitakan kematian seseorang karena masuk angin, atau men****, atau sakit perut. Nah, kalau demikian, berati benar penyakit-penyakit ini tidak boleh dianggap nggak elite. Yach, intinya penyakit-penyakit itu tetap harus dimasukkan ke dalam kategori elite.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Masalahnya kemudian penyakit seperti apa yang layak dimasukkan ke dalam kategori tak elite? kira-kira demikian balasan sms saudara saya itu kemudian. Menjawab smsnya, dalam sms saya selanjutnya yang saya masukkan ke dalam kategori penyakit nggak elite adalah penyakit-penyakit macam iri hati, dengki, sombong, lupa diri, wa ala aalihi wa ashabihi ajama’in. Alasan saya memasukkan penyakit-penyakit ini ke dalam kategori penyakit nggak elite adalah bahwa tak peduli betapa kayanya seseorang, kalau dia mengidap salah satu penyakit tersebut, sikapnya akan terlihat layaknya orang-orang tak berbudaya. Bayangkan saja seorang bos yang sombong. Pasti dia akan bersikap merendahkan para bawahannya. Nah, dalam budaya komunal dan kemasyarakatan di mana sikap saling menghargai adalah sebuah keharusan, sikap suka merendahkan orang lain yang ditunjukkan oleh si bos ini tentu tidak bisa diterima. Nah, kalau sikap seseorang tidak diterima oleh masyarakat, berarti sikap itu termasuk sikap tak berbudaya. Maka, orangnya pun juga bisa dimasukkan sebagai orang yang tak berbudaya. Orang tak berbudaya bisa disamakan dengan orang tak elit lah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi, kawan-kawan sekalian, tidak usah merasa malu kalau Anda langganan menderita sakit perut, masuk angin, atau mencret seperti yang saya alami. Karena penyakit ini termasuk penyakit elit, yang sama berbahayanya dengan penyakit lain seperti gagal jantung dkk. Sebaliknya, Anda boleh merasa malu kalau kawan-kawan masih sering suka iri hati, dengki, dan teman-temannya. Karena penyakit ini sama sekali elite. Karena semua penyakit ini hanya menunjukkan bahwa jiwa kawan-kawan tidak elite sama sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-411804015342041064?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/411804015342041064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/sakit-perut.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/411804015342041064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/411804015342041064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/06/sakit-perut.html' title='Sakit Perut'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-7260132681050654757</id><published>2008-05-26T12:11:00.001+07:00</published><updated>2008-05-26T12:11:11.109+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Pelajaran dari Ksatria Bergitar</title><content type='html'>Pesan sponsor, "Apapun makanannya, minumannya tetap Air". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yach begitulah, apapun yang kita makan, kita tetap butuh hal yang sama setelah itu, yakni air. Tanpa air, rasanya apa saja kita makan tidak lagi terasa menyenangkan. Bisa jadi malah menyiksa kerongkongan dan perut kita. Apalagi kalau makanannya pedas. Uh, pasti deh air adalah keharusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau air adalah keharusan setelah makan, maka terkait dengan pekerjaan, agar pekerjaan itu menghasilkan dan menyenangkan serta menjadi andalan, ada juga satu keharusan yang harus dipenuhi. Apa itu? Biar Anda penasaran, biarkan terlebih dahulu saya bercerita mengenai pengalaman saya berhadapan dengan ksatria bergitar di sebuah terminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eit! Tunggu dulu. Jangan dikira sang ksatria yang satu ini sama dengan ksatria yang sebelumnya sudah saya ceritakan. Itu tuh, sang ksatria bergitar yang tubuhnya dipenuhi tato yang menyadarkan saya bahwa saya masih belum bisa lulus ujian untuk senantiasa berbaik sangka. Ksatria yang satu ini beda. Bukan orang yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin berpikir dalam hati, "kok pencari hikmah ini belajarnya dari para pengamen sih?". Yach, sebagai pencari hikmah saya memang harus bisa mengambil pelajaran dari manapun, apapun, dan siapapun. Dan termasuk dalam katergori siapapun ini ya si pengamen. Dan, benar memang seringkali saya mendapatkan pelajaran saat ketemu pengamen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu suatu ketika saya naik bis dan menumpanglah seorang pengamen dengan menenteng gitarnya. Perawakannya seperti seorang bintang film. Ganteng. Juga kekar, yach... kira-kira seperti George Rudy yang dulu pernah memerankan prabu Brama Kumbara di TPI. Tahu kan, ganteng, tinggi, gagah, kekar. Pokoknya semua yang baik-baik ada padanya. Tetapi, oh my godness, saat dia mulai memainkan gitar dan membuka mulut untuk bersenandung, gendang telingan saya ini terasa sangat sakit sehingga saya secara terang-terangan menutupi kedua kuping saya ini. Kenapa coba? Benar, dia tidak bisa memainkan gitarnya dengan benar. Asal genjreng saja seperti saat keponakan saya yang masih kecil memainkan gitarnya. Tapi, telinga saya sakit bukan hanya karena itu. Yang lebih mendorong saya untuk menutup kedua kuping saya adalah karena si pangamen tadi ternyata gagu, bisu. Bayangkan, sudah suara gitarnya sumbang minta ampun, ditambah nyanyian yang dibawakan bukanlah nyanyian. Hanya gremengan, atau teriakan-teriakan tak jelas nadanya. Benar-benar membikin telinga sakit dalam arti literal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat melihat si pengamen tadi saya berpkir bahwa seharusnya kita bekerja itu yang melihat-lihat kemampuan dan keterbatasan kita. Lucu kan, kalau seorang yang bisu (dalam arti yang sebenarnya) memaksakan diri untuk mencari uang dengan cara mengamen. Ya, harusnya kan orang yang bersikeras mencari uang dengan cara ngamen haruslah orang yang 1) bisa memainkan alat musik dengan baik, dan 2) bisa menyanyi dengan bagus, tanpa nada sumbang. Si pengamen yang barusan itu jelas-jelas tidak memenuhi kedua syarat di atas. Lha kok tetap maksa mencari nafkah dengan mengamen. Ini namanya tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Kata guru ngaji saya, orang yang tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya itu adalah orang yang dzalim. Dalam kasus pengamen tadi, dia tidak hanya menzalimi diri sendiri akan tetapi juga menzalimi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. Postingan berikutnya akan membahas tentang pengamen yang kehadirannya dinanti-nanti.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tunggu saja!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-7260132681050654757?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/7260132681050654757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/pelajaran-dari-ksatria-bergitar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7260132681050654757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7260132681050654757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/pelajaran-dari-ksatria-bergitar.html' title='Pelajaran dari Ksatria Bergitar'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-5012882470698167215</id><published>2008-05-25T12:15:00.001+07:00</published><updated>2008-05-25T12:15:42.662+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Buruk Sangka</title><content type='html'>&lt;p&gt;“Jangan lihat buku dari kovernya” itu kata pepatah. “Jangan lihat orang dari kasingnya” itu kata Tukul Arwana. “Jangan menilai orang hanya dari penampilan fisiknya” Itu kata saya. Mana di antara ketiga kata-kata itu menurut Anda yang paling benar? Yang paling benar ya ketiga-tiganya. Lha wong arti semuanya sama. Ya maksudnya seperti kata saya di atas, jangan menilai orang hanya dari penampilan fisiknya.&lt;/p&gt; 	&lt;p&gt;Saya yakin sebagian besar dari kita, atau bahkan kita semuanya sudah pernah mendengar dan mengerti nasehat kata-kata bijak ini. Setidaknya sedari SD kita telah diajari oleh bapak/ibu/saudara/saudari guru kita (coret yang tidak perlu) bahwa penampilan fisik tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan hati seseorang. Ya, meskipun para motivator juga sering kali menasehati kita jika ingin mengubah kepribadian maka pertama-tama yang harus diubah adalah penampilan. Tapi, saya cenderung lebih setuju dengan yang pertama tadi bahwa penampilan bukanlah patokan kepribadian. &lt;/p&gt; 	&lt;p&gt;Nah, saudara-saudara sekalian, meskipun kita semua telah pernah mendengar serta telah mengerti maksud dari kata-kata bijak itu, akan tetapi sebagian besar dari kita jarang sekali mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan saya juga termasuk dari sebagian besar orang itu. Meski sudah tahu setahu-tahunya, dan sudah paham sepaham-pahamnya kata-kata bijak itu, toh ketika diuji untuk mempraktikkannya, saya masih belum lulus. Saya gagal untuk berpikir positif terhadap orang di hadapan saya bagaimanapun bentuknya. Sebaliknya, saya malah terjebak dalam buruk sangka yang pada akhirnya harus saya sesali saat mengetahui pikiran negatif saya itu ternyata salah.&lt;/p&gt; 	&lt;p&gt;Begini ceritanya, suatu hari saat saya harus pergi keluar kota naik bis umum (hahaha, tidak berarti saya biasanya naik mobil pribadi lho ya), seperti layaknya bis lain, di tengah perjalanan ada seorang ksatria bergitar (pengamen - red.) masuk ke bis yang saya tumpangi. Nah, pada saat inilah pikiran negatif saya pada si ksatria tadi mulai bekerja. Setidaknya ada tiga pikiran buruk saya pada sang ksatria. Pertama, dia pasti sebenarnya tidak bisa memainkan gitar dengan baik. Yang kedua, meski dia bisa bermain gitar dengan baik, tentu dia hanya bisa menyanyikan lagu-lagu yang liriknya nggak bermutu, apalagi lirik-lirik yang religius. Dan, yang ketiga, dia pasti akan meminta dengan cara memaksa pada para penumpang untuk memberikan recehan.&lt;/p&gt; 	&lt;p&gt;Saudara-saudara, tidak dengan sendirinya sangkaan buruk saya itu mengganggu pikiran saya. Ada yang membangkitkannya hingga saya berpikir demikian. Dan, tahukah saudara-saudara sekalian, yang membangkitkan sangkaan buruk saya pada si ksatria tadi adalah penampilannya. Bayangkan saja, si ksatria tadi hampir seluruh tubuhnya dipenuhi oleh tato. Memang sih bukan semua bagian tubuhnya bertato. Saya hanya ingin mengatakan bahwa tatonya banyak dan gambarnya serta tulisannya pun sangar. Nah, dalam budaya Indonesia yang kalem ini, kalau kita melihat orang dengan penampilan semacam itu tentu tidak terlalu salah jika kemudian kita memiliki pikiran buruk pada orang itu. Kenyataannya kan memang tato sering kali dipakai oleh mereka yang disebut preman dan tato juga seringkali memang digunakan sebagai simbol kekerasan. Jadi, wajar lah kalau saya berburuk sangka pada beliaunya.&lt;/p&gt; 	&lt;p&gt;Tapi, apakah ketiga sangkaan buruk di atas tadi terbukti. Ternyata eh ternyata, saat si ksatria mulai memainkan jarinya pada senar gitar, sangkaan buruk pertama saya terpatahkan. Dia bisa memainkan gitarnya dengan cukup apik. Terbukti saya terbawa oleh alunan nada-nada yang dimainkannya. Kemudian, saat dia mulai membuka suara untuk menyanyi, terbukti pula lah bahwa sangkaan buruk kedua saya juga keliru. Yang keluar dari mulutnya adalah sebuah lagu religius. Yah, seperti lirik taubatnya seorang preman. Kira-kira begini liriknya&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;font style="font-style: italic;" size="4"&gt; “&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Gema adzan subuh, aku ketiduran. Gema adzan dzuhur, aku &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sibuk bekerja. …… Pantaskah surga untukku?!”&lt;/span&gt;&lt;/font&gt; &lt;/p&gt; 	&lt;p&gt;Nah loh, tidak seperti yang saya bayangkan to? Dan, selanjutnya saat lagu yang dinyanyikan sudah usai dan tiba saatnya bagi si ksatria untuk meminta imbalan, sungguh kata-kata yang diucapkannya sanggup meluluhlantakkan sangkaan buruk saya yang ketiga. Dengan sangat sopan si ksatria memohon pada semua penumpang untuk bisa memberikan recehan seikhlasnya. Dan, saat ada penumpang yang tidak memberinya recehan, dia tidak menampakkan wajah kecewa. Hanya satu kata yang terucap dari mulutnya “Nggih, matur nuwun”&lt;/p&gt; 	Hahaha, lagi-lagi saya tidak lulus ujian untuk tidak menilai orang dari penampilannya. Capek dech!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-5012882470698167215?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/5012882470698167215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/buruk-sangka.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/5012882470698167215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/5012882470698167215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/buruk-sangka.html' title='Buruk Sangka'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-8235146302413199455</id><published>2008-05-24T15:05:00.001+07:00</published><updated>2008-05-24T15:05:00.737+07:00</updated><title type='text'>Dangdut: Banyak Penyanyi tapi Minim Komposer</title><content type='html'>Ya, itulah alasan pertama kemunduran musik dangdut. Selanjutnya, alasan kedua bagi semakin muramnya musik dangdut adalah kenyataan meski dengan semakin banyaknya kontes nyanyi dangdut yang tentunya pada akhirnya memunculkan penyanyi dangdut baru, orang-orang yang berkecimpung di wilayah musik ini jarang sekali yang berbekal kemampuan mencipta dan menggubah lagu. Dan, kontes-kontes yang saat ini ramai digelar seperti KDI, atau kontes-kontes yang lainnya memang hanya benar-benar melahirkan penyanyi dangdut baru. Tidak dengan serta merta lahir pula komposer musik dangdut baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh tidak setuju dengan alasan kedua yang saya ajukan ini. Akan tetapi, Anda boleh melihat kenyataan. Lagu-lagu dangdut yang sekarang ini selalu dinyanyikan oleh para biduan hanyalah karya dari sedikit pencipta. Sebut saja, di antara pencipta itu ada Bang Haji Rhoma Irama, Imam S. Arifin, Mansyur S. Arifin, dan beberapa orang lainnya. Hampir semua lagi yang sekarang ini beredar di pasar musik dangdut adalah karya mereka. Akibatnya, saat kini mereka sudah beruban, usianya semakin bertambah dan masuk ke umur tak produktif lagi, amat wajar jika kemudian musik dangdut seolah-olah kehilangan talenta. Bisa dibilang lagu dangdut yang dinyanyikan saat ini tidak ada hasil karya cipta periode masa kini. Semua adalah ciptaan bertahun-tahun yang lalu yang kadang hanya didaur ulang. Maka, menurut saya jika gejala ini tidak segera di sadari oleh musisi dangdut, musik kebanggaan ini akan segera hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan ketiga bagi kemunduran musik dangdut, menurut saya, adalah kurangnya regenerasi talenta. Atau boleh dibilang tidak ada pembibitan yang dikelola dengan baik. Alasan ini tentunya masih berhubungan erat dengan alasan sebelumnya. Akan tetapi, ada hal baru di sini. Yakni, bahwa para musisi dangdut yang sudah mapan seolah-olah tidak mewariskan dan mengajarkan kemampuannya pada generasi berikut. Ini perlu diperhatikan karena musik dangdut memang berbeda jauh dari musik pop dan rock. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba Anda tengok di wilayah kedua musik tersebut. Kalau Anda memperhatikan dengan seksama, maka Anda akan melihat pembibitan terjadi meski tanpa dilakukan dengan sengaja. Ini terjadi di les-les vokal dan kursus-kursus musik. Selain itu, juga sering diadakan event berbagi ilmu oleh para musisi mapan pada musisi yang masih baru belajar. Contohnya, baru-baru ini Ridho Slank menggelar pelatihan gitar. Memang kalimatnya workshop bergitar, akan tetapi kalau dicermati, karena aliran musik Ridlo ini adalah Rock, maka yang diajarkanpun akan terkait dengan musik Rock. Nah, apakah Anda pernah melihat yang sama dilakukan oleh musisi dangdut? Khususnya saya pribadi, saya belum pernah melihat hal semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, tapi bukan yang paling tidak penting, kemunduran musik dangdut disebabkan oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;overflexibility&lt;/span&gt; yang dimiliki oleh musik ini (orang para musisinya). Yang saya maksud dengan overflexibility adalah kenyataan bahwa musik dangdut bisa dihasilkan dari musik apapun. Atau, lebih jelasnya, lagu apapun bisa didangdutkan. Ini yang saya maksud dengan overflexibility.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tentu sering mendengar lagu-lagu rock atau pop yang dinyayikan dengan aransemen dangdut kan? Nah, kalau Anda cermati, hampir semua lagi aliran lain bisa dibawakan dengan aransemen dangdut. Memang, ini juga merupakan kelebihan. Dengan bisa menggubah lagu apapun menjadi lagu dangdut, berarti dangdut bisa dimainkan dimanapun dan kapanpun. Ya, memang demikian, akan tetapi kerugian yang diakibatkan oleh terlalu fleksibelnya musik dangdut ini justru lebih besar dari keuntungannya. Ya, betapa sering orang-orang sinis dengan musik dangdut hanya karena sebuah lagu, misalnya lagu jujur, dimainkan dalam irama dangdut? Nah, justru para penikmat musik akan menganggap musik dangdut bukan musik kreatif dan orginal karena hanya mengganti aransemen pun sebuah lagi bisa diubah menjadi lagu dangdut. Kalau para penikmat musik sudah beranggapan demikian dan menganggap rendah musik dangdut maka tentu mereka tidak akan mau lagi menjadi penikmat musik ini. Kalau sudah demikian, maka dangdut akan benar-benar dianggap sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;musik kampuang jauh di mato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Rasanya keempat alasan yang saya kemukakan di sini sudah cukup banyak. Wahai para musisi dangdut, ayo kembalikan kejayaan musik dangdut. Bergeraklah akan musik yang katanya asli negeri ini tetap lestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. 1. Saya bukan seorang musisi dangdut hanya penggemar.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;  2. Semua yang saya tulis di sini bukan hasil dari riset hanya pengamatan sembarangan.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-8235146302413199455?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/8235146302413199455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/dangdut-banyak-penyanyi-tapi-minim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8235146302413199455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8235146302413199455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/dangdut-banyak-penyanyi-tapi-minim.html' title='Dangdut: Banyak Penyanyi tapi Minim Komposer'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-3352103954933303687</id><published>2008-05-14T02:25:00.001+07:00</published><updated>2008-05-14T02:25:59.552+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><title type='text'>Dangdut: Nasibmu Kini…</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dulu, saat-saat yang paling dinanti (setidaknya di kampung saya saat itu) adalah malam minggu. Jika saat-saat itu datang, hampir semua orang (kecuali yang sedang banyak hutang tentunya) merasakan suasana lain yang akan membuat mereka gembira. Karena jika hari sabtu mulai menjelang malam dan malam minggu mulai datang, maka hiburan yang sudah dinantikan selama satu minggu akan segera bisa dilihat. Dan ah! kecewa sekali rasanya jika setelah kita menunggu begitu lama tiba-tiba pada jam setengah sepuluh malam setelah dunia dalam berita ada laporan khusus tentang kunjungan presiden di suatu daerah. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Kenapa? Karena itu artinya hiburan yang sudah kita harapkan kemungkinan tidak akan ditayangkan (apalagi kalau acara laporan khusus itu memakan waktu lama, dan biasanya memang demikian).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah, kalau anda termasuk penonton setia TVRI jaman itu, anda pasti tahu acara apa yang saya sebut sebagai hiburan. Tepat! Aneka Ria Safari....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di acara ini disuguhkan acara musik baik live maupun klip. Dan, ini yang penting, musik yang ditayangkan dalam acara ini adalah musik dangdut. Dan jika acara ini telah dimulai dan musik dangdut mulai bergema, maka telinga kita (atau kami lah) akan begitu khusuk mendengarkan dan mata kita akan penuh konsentrasi memandangi layar televisi meski masih hitam putih. Kenapa lagi? Ya, karena saat itu musik dangdut merupakan musik yang paling digemari oleh penduduk Indonesia (kalau tidak tentu TVRI akan menayangkan musik lainnya yang bukan dangdut). Maka mendengarkan alunan gendang dan tiupan seruling sembari dilengkapi suara syahdu sang biduan mampu membuat kami semua terlena akan masalah yang dihadapi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oke, oke. Itu memang dulu. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekarang dangdut tidak lagi menjadi idola dan artis dangdut pun tidak lagi menjadi pujaan. Yang saat ini digemari adalah musik pop dan yang dipuja adalah band aliran bukan dangdut. Generasi saat ini tidak saja tidak menyukai dangdut, lebih buruk dari itu mereka antipati pada musik satu ini. Salahkah mereka? Tentu saja tidak. Mereka sama sekali tidak bisa disalahkan untuk tidak tertarik pada musik mirip musik India ini. Yang justru harus dipersalahkan akan kondisi yang demikian adalah musisi dangdut sendiri. Mereka patut dipersalahkan dan dikambinghitamkan atas menurunnya animo masyarakat pada musik dangdut karena setidaknya mereka telah melakukan empat kesalahan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pertama, musisi dangdut jarang melakukan inovasi. Tentu saja yang saya maksud inovasi bisa berarti apa saja mulai dari inovasi penampilan, inovasi warna vokal, inovasi lirik, inovasi warna musik, dan inovasi-inovasi yang lainnya. Karena kurangnya inovasi ini, dari dulu musik dangdut ya seperti itu saja. Tidak berubah. Cara memukul gendang juga tidak ada bedanya antara dulu dan sekarang. Contoh lain, sedari dulu yang namanya dangdut itu ya dinyanyikan oleh seorang biduan dan diiringi kelompok orkes. Sampai sekarangpun masih begitu. Seorang biduan tetap menjadi sentral penampilan sedangkan grup orkes hanya mengiringi saja dan kehadirannya sebagai grup (jika tanpa biduan) jarang sekali ditunggu-tunggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bandingkan saja misalnya dengan musik pop. Di awal tahun 90-an musik ini masih belum begitu banyak digemari oleh penikmat musik tanah air. Akan tetapi, hanya dalam waktu dua puluh tahun (dihitung dari tahun 90), kini pop didengarkan hampir oleh seluruh generasi muda Indonesia. Kenapa bisa demikian? Karena inovasi yang terjadi di komunitas musik pop (dan rock) sangat bervariasi. Jenis lirik sangat beragam, warna musik amat berbeda, dan penampilan juga tidak sama. Di dalam masyarakat pop kelompok musik tidak lagi hanya berperan mengiringi. Mereka kini telah mampu menjadi pemeran utama dalam pertunjukan musik &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Kelompok musik seperti itu yang kini dikenal dengan sebutan band sekarang berjumlah sangat banyak dan bahkan mungkin lebih banyak dari biduan pop solo. Dan semakin banyak adanya band, perkembangan musik pop dan rock pun berkembang semakin pesat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara itu, di lingkar musik dangdut, warna musik tetap begitu-begitu saja. Ditambah lagi, kelompok musik dari dulu hingga kini tetap hanya menjadi pengiring (kecuali grup Sonetanya Bang Haji Rhoma Irama tentu saja :D) dengan keadaan yang tanpa inovasi seperti ini wajar saja kalau jumlah penggemar musik dangdut semakin hari semakin menyusut dan kini hampir punah.....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(sssttt, mau tau apa kesalahan lain yang dilakukan oleh musisi dangdut sehingga musik mereka tidak lagi digemari? Tunggu saja postingan berikutnya....) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-3352103954933303687?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/3352103954933303687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/dangdut-nasibmu-kini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/3352103954933303687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/3352103954933303687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/dangdut-nasibmu-kini.html' title='Dangdut: Nasibmu Kini…'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-5816767623939187247</id><published>2008-05-06T19:38:00.001+07:00</published><updated>2008-05-06T19:38:22.876+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idola'/><title type='text'>The Best Kontes Nyanyi on TV</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Akhir-akhir ini tiap jam tujuh malam saya seringkali menghentikan laju remote control televisi saya di stasiun yang motonya “makin &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, makin asyik aja”. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Anda pasti tahu stasiun televisi mana yang sedang saya bicarakan ini. Iya, benar. Stasiun televisi swasta pertama Indonesia. Tidak lain dan tidak bukan, Televisi Pendidikan Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Televisi yang namanya amat mulia, tapi sayang program-programnya belum semulia namanya. (Mungkin karena menyadari kurang mulia program tayangannya itu pengelola stasiun ini sekarang jarang menyebutkan kepanjangan dari namanya, TPI. Sebagai gantinya, mereka mengganti kata pendidikan dengan kata keluarga. Maka jadilah sebutan TPI: televisi keluarga Indonesia.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tiap pukul tujuh malam di channel ini saya temukan sajian yang mau tidak mau membuat saya tidak ingin ke mana-mana. Dangdut Mania dan KDI. Dua acara inilah yang telah memaksa saya berhenti memencet remote kontrol (padahal biasanya tidak ada channel televisi yang saya pelototi lebih dari 10 menit dan di dua acara ini saya harus merelakan waktu untuk duduk dan memelototi TV selama kurang lebih 1 jam hingga jeda iklan. Luar biasa kan?)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Anda tentu bertanya kenapa saya sampai seterpikat itu dengan tayangan yang satu ini. Setidaknya saya 3 jawaban:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pertama, harus saya akui musik dangdut adalah musik favorit saya. Saya tentu tidak bisa memberikan penjelasan ilmiah kenapa musik yang satu ini harus menjadi yang paling saya sukai. Saya hanya bisa mengatakan mungkin: mungkin dangdutlah yang saya dengar ketika dilahirkan, mungkin musik dangdut lah yang selalu dinyanyikan oleh ibu saat mengandung saya, Mungkin pula ibu ngidam memukul gendang dan meniup seruling saat saya di kandungan. Ya, mungkin saja. Yang pasti, saat mendengarkan musik yang satu ini jiwa saya seperti terserap dalam alunan nada-nadanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kedua, acara ini berbeda dari kontes-kontes lain yang ada. Tantangan yang diberikan (khususnya dalam acara Dangdut Mania) begitu menarik dan sangat sulit. Bayangkan, seorang kontestan ditantang tampil di hadapan penonton (dan disiarkan secara langsung ke seluruh nusantara) untuk menyanyikan lagu yang tidak ia antisipasi sebelumnya. Ini tentu merupakan tantangan yang sangat sulit. Kalau si kontestan tidak benar-benar pencinta musik dangdut, tentu ia akan gelagapan oleh tantangan ini. Maka, melihat ketegangan (atau kesiapan) kontestan menghadapi tantangan ini sungguh memberikan keasyikan tersendiri pada saya tak peduli apakah akhirnya ia bisa mengatasi tantangan itu atau tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alasan ketiga saya menghentikan pencetan pada remote kontrol untuk menonton TPI adalah Bertha. Iya, Bertha. Benar, Bertha yang kabarnya guru vokalnya sebagian besar penyanyi pop Indonesia itu. Di dalam acara itu dia berperan sebagai komentator. Apakah Bertha tampil cantik dan menarik? Tidak. Ia tampil seperti biasa. Ia tidak bertambah langsing. Masih gem** seperti dulu. Tapi tentu bukan Bertha namanya kalau tidak tampil PD. Sangat PeDe malah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagi saya sangat asyik melihat Bertha mengomentari kemampuan vokal setiap peserta dalam kedua kontes itu, Dangdut Mania dan KDI. Bagi saya, dia adalah orang yang jujur dan tidak suka bertele-tele. Jika menurutnya seorang kontestan memiliki kemampuan vokal yang buruk, ia dengan sangat terus terang dengan bahasa yang tidak berputar-putar akan mengatakan bahwa kemampuan vokal si kontestan payah. Sebaliknya, jika menurutnya seorang kontestan memiliki kemampuan vokal bagus, dia tidak akan sungkan memujinya setinggi langit. Keberterusterangan Bertha itulah yang membuat saya menyukai acara ini. Maka, saat Bertha menjelek-jelekkan ataupun saat ia menyanjung seorang kontestan bagi saya sama-sama enak untuk ditonton.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah, agar Anda percaya bahwa kedua acara yang saya sebutkan di atas patut untuk ditonton, tiap pukul tujuh malam jangan malu-malu pindahlah channel TV Anda ke TPI yang makin asyik aja....He-he-he....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-5816767623939187247?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/5816767623939187247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/best-kontes-nyanyi-on-tv.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/5816767623939187247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/5816767623939187247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/best-kontes-nyanyi-on-tv.html' title='The Best Kontes Nyanyi on TV'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-4088279041913994549</id><published>2008-05-02T13:58:00.001+07:00</published><updated>2008-05-02T13:58:15.892+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Sekolah oh Sekolah</title><content type='html'>Kali ini saya tidak akan berbasa-basi. Jadi, langsung saja.&lt;br /&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Tidak terlalu salah kalau dikatakan bahwa saat ini sekolah hanya mencetak manusia yang maju berpikirnya akan tetapi kurang begitu lihai dalam urusan bertindak dan kasih sayang. Tentu anda masih ingat bahwa akhir-akhir ini telah terjadi banyak kasus tawuran antar pelajar. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Jika bukan karena cewek, tawuran semacam itu pasti terjadi karena ada adu gengsi. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mungkin salah satu siswa dari suatu sekolah pernah diperlakukan kurang menyenangkan oleh siswa sekolah lain. Kemudian siswa yang merasa diperlakukan secara tidak menyenangkan itu melapor ke teman-temannya. Dan bisa dibayangkan mereka secara beramai-ramai akan mulai menyerang para siswa dari sekolah yang telah mereka anggap menginjak-injak harga diri mereka. Dalam penyerangan semacam itu yang menjadi korban adalah semua siswa dari sekolah tersebut termasuk mereka yang sama sekali tidak mengetahui duduk persoalan. Bahkan kalau dihitung, antara mereka yang mengerti persoalan dan mereka yang tidak mengetahuinya jumlahnya amat tidak imbang. Jauh lebih besar yang tidak mengetahui. Akan tetapi tetap saja mereka menjadi korban.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;Bukankah dengan demikian berarti sekolah telah gagal mengemban salah satu tujuannya untuk mencetak warga negara yang berbudi pekerti tinggi? Apa hubungannya sekolah dengan palu? Tentu saja tidak ada. Akan tetapi, karena sekolah memang tidak lagi mampu menjadi tempat di mana seorang anak bisa mengembangkan seluruh kemampuannya termasuk dalam hal emosi dan spiritual, maka yang demikian tentu layak terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seandainya sekolah bisa menjalankan perannya secara optimal, tentu harusnya bangsa ini menjadi bangsa besar. Kenapa demikian? Karena saat ini sudah hampir semua anak Indonesia mengenyam pendidikan. Hanya segelintir anak saja yang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah. Sayangnya, mereka yang bisa melanjutkan studi justru semakin rusak budi pekertinya. Mereka semakin tidak bisa memahami arti keberadaannya sebagai manusia. Lalu, apakah artinya mencari sekolah favorit? Apakah hanya mencari jaminan masa depan dengan janji-janji untuk mendapatkan pekerjaan. Kalau demikian, apa bedanyanya antara sekolah dengan lembaga pelatihan? Sangat tidak masuk akal yang demikian terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;Lalu apa solusinya agar sekolah bisa menjadi tempat untuk membuat siswa memiliki budi pekerti tinggi? Tampak tidak ada solusi lain selain berharap agar kurikulum yang ada benar-benar menekankan pada budi pekerti. Sebab, yang sekarang terjadi, kurikulum kita hanya focus pada pengembangan kognitif sementara sisi afektif sama sekali tak tersentuh. Jika demikian, maka meskipun banyak sekolah unggulan di negeri ini, bangsa ini tetap akan menjadi bangsa brengsek yang tidak tahu mana halal dan mana haram. Dan jika yang demikian terjadi, maka jangan kaget kalau dalam beberapa tahun ke depan bangsa akan segera hancur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-4088279041913994549?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/4088279041913994549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/sekolah-oh-sekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/4088279041913994549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/4088279041913994549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/sekolah-oh-sekolah.html' title='Sekolah oh Sekolah'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-8069996330561615151</id><published>2008-05-01T13:29:00.001+07:00</published><updated>2008-05-01T13:29:41.691+07:00</updated><title type='text'>Tidur Panjang Saya</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tiba-tiba saya sadar telah begitu lama meninggalkan rumah saya ini. Hampir satu bulan sudah saya tidak menyambangi tempat tinggal yang satu ini. Maka sudah selama itu pula saya tidak menempelkan (memposting, red.) tulisan. Dan sekarang saya ingat bahwa saya punya rumah yang harus dipelihara, diisi, dihuni, dan diperhatikan. Tenang, tidak pernah terbersit di benak saya untuk menjual rumah ini (wong tidak ada harganya kok). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah, perlu saya jelaskan di sini bahwa selama ini saya tidak sengaja mengabaikan tempat tinggal teduh ini. Semua itu hanya karena saya mengalami penyakit aneh yang tiba-tiba menyerang. Ya, saya terkena penyakit tidur panjang. Tidur yang sangat panjang. Bukankah satu bulan merupakan waktu yang sangat panjang untuk tidur? Tapi benar. Saya tidak mengada-ada. Saya benar-benar ketiduran. Dan ketika bangun hari ini, saya baru sadar telah begitu lama saya tertidur. Ah, tidur yang aneh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tapi, tunggu dulu. Rasanya tidur saya yang hanya selama satu bulan itu tidak aneh. Banyak orang yang pernah mengalaminya. Apalagi kalau dibandingkan dengan tidurnya para penghuni gua pada zaman raja Dikyanus tahun 112 M. Benar-benar tidak aneh kalau dibandingkan dengan tidurnya ashabul kahfi bukan? Lha wong mereka tidur sampai 300 tahun. Bayangkan 300 tahun. Sedangkan saya baru tidur satu bulan saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah, karena saya sudah menyebut nama ashabul kahfi, maka biarlah saya sedikit menyinggung pertanyaan-pertanyaan saya ketika pertama kali mendengar kisah orang-orang yang memegang&lt;span style=""&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;teguh imannya ini. Sekedar informasi, orang-orang yang disebut sebagai ashabul kahfi terdiri dari 7 orang beriman yang karena keadaan (penguasa lalim yang membasmi pihak yang memiliki keimanan berbeda) harus lari meninggalkan negerinya sendiri. Ditemani anjing bernama Qithmir, mereka masuk ke dalam sebuah gua. Dan sesampainya di dalam gua mereka tertidur pulas selama kurang lebih tiga ratus tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saat mendengar guru saya dulu menuturkan kisah ini, tentu saja saya bertanya-tanya dalam hati: Apa yang dirasakan oleh mereka saat terbangun dan melihat apa-apa di sekitarnya telah berubah? Jujur saja saat itu saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya. Sama sekali tidak terbayangkan. Dan kini, saat saya tidak lagi memikirkan pertanyaan itu, tiba-tiba saya mengalami kejadian yang mau tidak mau membuat saya menghubungkannya dengan peristiwa ashabul kahfi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saat saya bangun dari tidur saya yang hanya berlangsung selama satu bulan itu, saya melihat begitu banyak hal yang telah berubah. Begitu banyak blog tetangga sebelah yang sudah membahas banyak hal. Sementara blog saya ini, karena tidur panjang saya, belum membahas apa-apa. Blog saya masih seperti dulu, sedangkan blog tetangga sudah begitu berbeda dan jauh lebih baik. Semuanya hanya karena tidur panjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mungkin saja, perasaan saya saat melihat blog tetangga yang telah jauh lebih baik ini &lt;span style=""&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;sama dengan perasaan Ashabul kahfi saat keluar gua dan melihat peradaban telah berubah. Ya, mungkin saja....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-8069996330561615151?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/8069996330561615151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/tidur-panjang-saya.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8069996330561615151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8069996330561615151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/05/tidur-panjang-saya.html' title='Tidur Panjang Saya'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-1559221454987634494</id><published>2008-04-06T00:00:00.001+07:00</published><updated>2008-04-06T00:00:05.500+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Kuburan: Peringatan Keras yang Dilupakan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Baiklah, karena posting kali ini merupakan sambungan dari posting terdahulu, maka akan &lt;span style=""&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;saya mulai tulisan ini dengan kesimpulan. Intinya, manusia masa kini tidak lagi menganggap kuburan sebagai tempat angker dimana dedemit bersemayam. Kesan mengerikan kuburan sudah tak lagi setebal dahulu. Maka, kuburan tidak lagi dianggap sebagai situs yang menakutkan. Ia dipandang layaknya seperti tempat lainnya. Dan sebagaimana tempat lainnya, orang bisa melakukan apapun di kuburan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nyatanya, kuburan atau makam atau pemakamanan adalah tempat spesial. Ia tidak bisa begitu saja disamakan dengan tempat lainnya seperti lapangan sepak bola, perkebunan, ataupun persawahan. Karena itu, bagaimanapun kuburan tidak tidak bisa begitu saja diperlakukan sama seperti tempat-tempat lainnya. Dan karenanya, perilaku orang-orang masa kini yang cenderung menganggap dan memperlakukan kuburan layaknya tempat-tempat lain menarik untuk didiskusikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebagai manusia rasional, kita tentu setuju bahwa kuburan tidak perlu ditakuti. Kita juga pasti sekata bahwa merupakan tindakan bodoh jika kita mengasosiasikan kuburan dengan makhluk-makhluk mengerikan seperti pocong, tengkorak, kuntilanak, sundil bolong, dan sebangsanya. Mengapa? Karena sebagai tempat bersemayam orang yang sudah mati yang saat hidup mungkin kita kenal dekat mana mungkin kuburan menimbulkan bahaya pada nyawa kita. Kalaupun toh si mati yang kita kenal itu hidup lagi, apakah ia akan menyakiti kita? Juga, mana mungkin genderuwo dan kawan-kawannya itu tiba-tiba menjadi penghuni kuburan sementara yang dikubur di sana adalah mereka yang mungkin pernah dekat dengan kita. Secara rasional semua itu tidak masuk akal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sampai di sini, rasionalitas kita jelas memberikan manfaat besar. Hanya saja, jika dasar rasionalitas yang kita miliki itu hanya berhenti pada menyingkirkan rasa takut kita pada kuburan, tentu ini harus dikoreksi. Tidak. Seharusnya tidak hanya berhenti pada hilangnya rasa takut. Dasar rasionalitas yang kita miliki seharusnya lebih bisa membawa kita pada pemaknaan berarti terhadap keberadaan kuburan. Artinya, dengan rasionalitas kita harus mampu mengambil pelajaran setiap kali melihat kuburan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lalu, pelajaran atau hikmah apa yang bisa diambil saat melihat kuburan? Gampang saja. Kuburan adalah tempat orang mati dikebumikan. Dan di setiap prosesi pemakaman, yang dikubur hanyalah orang yang sudah mati. Meskipun dia seorang hartawan terkaya di dunia, saat ia mati hartanya tidak ikut dipendam bersamanya. Keluarga yang semasa hidup sangat dicinta dan mencintai si mati juga tidak bisa menemani. Mereka tidak akan sudi ikut dipendam bersama. Saya yakin kita semua telah mengerti hal ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka, jika kita mau menggunakan akal sehat atau rasio seharusnya tiap kali melihat kuburan kita berpikir pada kematian. Bukankah orang yang di kubur di sini dulu juga pernah hidup? Bukankah hanya dia seorang diri yang dipendam di sini meskipun kekayaannya berlimpah dan orang-orang yang mencintainya tersebar di mana-mana? Seharusnya pertanyaan seperti ini bergema di pikiran kita. Dan rasionalitas kita seharusnya menjawab pertanyaan tersebut: kalau orang ini dulu hidup dan sekarang telah mati kemudian di kubur di sini, tentunya saya yang sekarang ini masih hidup suatu saat juga akan mati dan dikubur, kalau orang ini dipendam sendiri meski banyak orang yang mencintainya maka pasti saya pun akan dipendam sendiri tak peduli berapa banyak pemuja saya. Jika sudah demikian, seharusnya tiap kali melihat kuburan perilaku kita akan membaik karena kesadaran kita akan kematian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sayangnya, bersama hilangnya ketakutan kita pada kuburan, kita juga menjadi cuek dengannya. Sekarang, kita tidak hanya berani lewat kuburan. Lebih dari itu kita juga menjadi kurang ajar. Maka, tempat yang seharusnya mengingatkan kita pada kematian dan karenanya membuat perilaku kita lebih baik, kini malah digunakan untuk berbuat kemaksiatan. Mulai berzina, mabuk-mabukan, mencuri, bahkan mencari wangsit nomor togel yang akan keluar kini lumrah dilakukan di areal kuburan. Sungguh, sangat berlawanan dari yang seharusnya dilakukan di areal kuburan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Akhir kata, kalau peringatan yang jelas dan keras seperti kematian saja sudah tidak dipedulikan, lalu apalagi yang bisa menyadarkan kita?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-1559221454987634494?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/1559221454987634494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/04/kuburan-peringatan-keras-yang-dilupakan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1559221454987634494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1559221454987634494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/04/kuburan-peringatan-keras-yang-dilupakan.html' title='Kuburan: Peringatan Keras yang Dilupakan'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-2119944157661709370</id><published>2008-04-05T00:35:00.001+07:00</published><updated>2008-04-05T00:35:22.437+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Kuburan: Dulu dan Sekarang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak ada tempat yang lebih menakutkan dari pada kuburan. Bahkan hanya mendengar namanya disebut saja, khususnya saat matahari sudah terbenam rasanya bulu kuduk kita akan segera berdiri. Kalau ada orang yang bercerita dan ia mengawali ceritanya dengan satu kata ini maka kita harus bersiap-siap untuk mendengarkan cerita yang akan membuat kita tidak berani ke kamar mandi saat terbangun di malam hari oleh panggilan alam yang datang tiba-tiba. Dan kalau kita terpaksa pergi ke rumah seseorang yang untuk sampai ke sana harus melewati kuburan maka akan sangat wajar jika akhirnya kita tidak pulang kalau ketika hendak pulang itu malam mulai menjelang. Intinya, tidak akan ada orang yang menertawai jika kita takut untuk lewat kuburan. Hanya seorang pemberani atau nekat saja yang tidak takut lewat kuburan pada saat malam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Itu dulu. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dulu saat listrik hanya ada di kota-kota besar. Dulu saat film-film kita masih bertema seks yang dibungkus dalam kerangka film horor. Ya, saat-saat itu kuburan merupakan tempat yang sangat menakutkan yang hanya berani kita lewati siang hari. Bahkan, hanya untuk lewat jalan di sebelahnya saja waktu itu sudah memerlukan keberanian yang ekstra besar. Maka, saat itu jika diminta memilih antara berjalan dua kilo tanpa melewati atau lewat di sebelah kuburan dan berjalan hanya satu kilo akan tetapi harus lewat kuburan rasanya kita pasti akan memilih yang pertama. Konyol? Tidak. Tidak konyol. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Memang saat itu kita masih sangat takut pada gendruwo, pocong, kuntilanak, dan sebangsanya. Apalagi, listrik yang bisa memberi penerangan cukup belum tersedia sehingga saat malam tiba di sekitar kita terasa sangat gelap dan kegelapan seperti itulah yang membuat kita semakin takut. Jadi, kegelapan teritorial karena belum adanya penerang ini semakin menambah kegelapan pikiran di kepala kita sehingga hal-hal yang belum tentu ada itupun menjadi tampak jelas dan kita pun takut untuk bertemu dengan mereka. Yang terjadi? Entah itu hanya rumor atau benar-benar terjadi, saat itu banyak orang yang berkisah telah bertemu dengan makhluk-makhluk yang saya sebutkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekali lagi, itu dulu. Kini, cara kita melihat kuburan telah berubah. Kita tidak lagi setakut dulu saat harus lewat kuburan. Kita tidak lagi memilih jalan yang jauh hanya demi menghindari kuburan. Tentu saja perubahan ini tidak terjadi dengan sendirinya. Perubahan itu antara lain disebabkan oleh semakin rasionalnya pikiran kita setelah terjamah oleh sains. Pikiran kita kini semakin terang sehingga hal-hal yang dulu samar dan menimbulkan persepsi yang menakutkan sekarang ini menjadi jelas dan ketakutan itu dengan sendirinya sirna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di tambah lagi, listrik kini telah menjangkau hampir semua wilayah di negeri kita. Ia tidak hanya dinikmati oleh orang kota tetapi juga telah dirasakan oleh orang-orang desa. Maka secara teritorial desa kini menjadi seterang kota. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gabungan terangnya pikiran dan teritorial ini membawa dampak yang sungguh-sungguh dahsyat karena saat pikiran terang dan teritorial benderang kita tidak memikirkan hal-hal yang mungkin berada di balik kegelapan. Maka, gendruwo dan kawan-kawannya yang dulu kita bayangkan berada di balik kegelapan kuburan tidak lagi menjadi sumber ketakutan karena kita bisa melihat dengan jelas, dengan mata hati dan mata kepala, mereka tidak tampak di tempat-tempat yang dulu kita bayangkan mereka berada. Dan anehnya, saat kita tidak berpikir makhluk-makhluk itu berada di sekitar kita rumor-rumor tentang mereka yang menemui salah satu dari kita pun tidak lagi terdengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-2119944157661709370?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/2119944157661709370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/04/kuburan-dulu-dan-sekarang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2119944157661709370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2119944157661709370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/04/kuburan-dulu-dan-sekarang.html' title='Kuburan: Dulu dan Sekarang'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-6612543062113973510</id><published>2008-04-04T17:04:00.001+07:00</published><updated>2008-04-04T17:04:59.685+07:00</updated><title type='text'>Bisa Bahagia Karena Masih Ada Yang Lebih Sengsara...?</title><content type='html'>Baru saja saya baca koran terbitan tiga hari yang lalu. Selain tertarik pada berita tentang kejutan-kejutan yang dilakukan Gus Dur dengan keputusannya memecat Ketua Umum PKB, Cak Imin, yang notabene juga keponakannya sendiri, saya juga tertarik dengan berita feature mengenai kinerja, kerja, dan pengorbanan anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di koran itu diberitakan atau diceritakan (?) bahwa para anggota KPK ternyata hidup dalam kondisi yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga hal yang membuktikan bahwa hidup anggota KPK itu "susah". Pertama, konon sebagai pegawai tingkat eselon I uang saku untuk tugas ke luar daerah tidak sampai seratus ribu per hari. Dengan uang saku sejumlah ini tentu para anggot KPK tidak bisa menginap di hotel-hotel berbintang saat harus tugas ke luar kota. Coba bandingkan dengan uang saku legislatif. Tentu jumlah itu kalah jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dengan pekerjaan yang pasti membangkitkan kebencian orang yang didakwa, ternyata keamanan mereka tidak dijaga ketat. Pihak keamanan hanya dipersiapkan saat para anggota itu bertugas mengadili kasus-kasus tertentu. Setelah itu tidak ada satu orang pun yang ditugaskan untuk menjaga keamanan mereka. Jadi, mereka harus siap untuk mati kapanpun jika ternyata orang-orang yang mereka dakwa nekat membunuh mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dengan gaji, uang saku, dan jaminan keamanan yang minim itu, para anggota KPK harus tabah dengan godaan para koruptor untuk memberi apapun yang mereka mau. Tentu saja ini sangat sulit dilakukan. Mungkin seperti harus menolak ajakan makan tuan rumah saat kita bertamu padahal perut kita sedang lapar keroncongan. Sulit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, dalam keadaan yang mengenaskan semacam itu koran yang saya baca meriwayatkan bahwa para anggota KPK itu masih merasa bahagia dan beruntung khususnya saat melihat masih banyak orang yang hidupnya jauh di bawah mereka.  Nah, saat membaca bagian inilah saya berkata dalam hati bahwa para anggota KPK itu adalah orang-orang hebat. Tetap bersyukur mesti mungkin nyawanya sedang terancang. Ya, benar. Pikiran semacam itu yang pertama terlintas di benak saya. Bahwa mereka adalah orang hebat. Dan saya yakin anda akan setuju dengan saya. Benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, sesaat kemudian saya merasa geli. Yach, tentu saja saya tidak geli dengan para anggota KPK itu. Saya juga tidak merasa geli dengan pemerintah yang tidak memberikan pengamanan ekstra ketat serta uang saku yang lebih mencukupi bagi mereka. Saya tetap mengaggap mereka orang hebat. Dan saya pun tidak menganggap pemerintah tidak bijak. Saya geli karena menengok pada kehidupan saya sendiri selama ini. Saya geli karena seperti para anggota KPK itu saya sering berusaha menghilangkan perasaan susah saya dengan melihat pada orang lain yang hidupnya lebih sulit dari saya. Ya, seperti anggota KPK itu saya juga berbahagia karena ada orang yang kesusahannya lebih besar dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang salah dari sikap saya juga sikap anggota KPK di atas sehingga saya harus merasa geli sendiri? Bukankah agama memang mengajarkan kita untuk selalu melihat ke bawah agar kita senantiasa bisa bersyukur? Lalu apa yang salah dengan ajaran agama ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, beginilah hasil pencarian hikmah saya atas pertanyaan-pertanyaan di atas yang disebabkan oleh rasa geli pada diri sendiri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, benar bahwa kita diajarkan untuk selalu melihat ke bawah. Benar, saya berkali-kali membaca ajaran ini. Jadi, saya atau anda atau siapapun tidak salah saat berbuat sebagaimana yang diajarkan itu. Sekali lagi, jika saya, anda, dan siapapun berbuat sebagaimana yang diajarkan, maka saya, anda, dan siapapun tidak lah salah. Kedua, tidak ada yang salah dengan ajaran ini. Ajaran ini tidak salah. Ini adalah suatu ajaran yang jika dilaksanakan dengan benar akan membentuk pribadi unggul. Lalu apa masalahnya? Lihat pada kalimat yang barusan anda baca. Di situ tertulis jika &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;dilaksanakan dengan benar&lt;/span&gt;. Dan inilah yang membuat saya merasa geli pada diri sendiri. Saya merasa belum melaksanakan ajaran ini dengan benar. Lho kok?&lt;br /&gt;Iya, bagaimana saya bisa berkata bahwa ajaran ini telah saya jalankan sebagaimana yang diperintahkan kalau saat menjalankannya ada ironi yang berkecamuk di kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah termasuk perbuatan yang dibenarkan jika saya menangis bahagia karena rumah saya tidak runtuh oleh gempa bumi saat orang di sekitar saya menjerit pilu karena rumahnya telah runtuh dengan tanah? Atau, apakah benar kalau saya berucap syukur saat keluarga saya baik-baik saja sementara tetangga sebelah sedang berduka karena salah satu anak perempuannya hamil di luar nikah? Ya, saya merasa geli karena selama ini saya merasa telah menyalahpahami ajaran ini dan menafsirkan serta menjalankannya seenak saya. Tapi jujur, saya masih belum tahu apakah yang baru saja saya sebutkan: bahagia saat rumah tetap berdiri dan bersyukur saat keluarga baik-baik saja adalah perbuatan yang salah. Karena itu jika anda punya pendapat, saya akan sangat berterima kasih pada Anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-6612543062113973510?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/6612543062113973510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/04/bisa-bahagia-karena-masih-ada-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6612543062113973510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6612543062113973510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/04/bisa-bahagia-karena-masih-ada-yang.html' title='Bisa Bahagia Karena Masih Ada Yang Lebih Sengsara...?'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-8382080008357936939</id><published>2008-04-01T23:54:00.002+07:00</published><updated>2008-04-02T00:09:11.069+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><title type='text'>April Tiba, Tingkatkan Kesabaran Anda!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;font style="" lang="SV"&gt;Jika bulan ini tiba-tiba ada seorang teman dekat anda yang tanpa sebab musabab memusuhi anda, maka pesan saya jangan mengambil tindakan gegabah untuk frustasi dan balik memusuhi dia. Atau kalau tiba-tiba pacar atau istri anda tidak mau anda ajak bicara, terkesan menjengkelkan dan terlihat tidak menyenangkan, saya juga bersaran pada anda agar jangan tanpa pikir panjang menghentikan nafkah anda pada mereka. Atau, jika tiba-tiba salah satu harta kesayangan anda entah itu mobil, sepeda motor, sandal atau apapun tiba-tiba tidak bisa anda temukan, mohon jangan segera sakit hati dan lapor polisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;font style="" lang="SV"&gt;Saya tidak bergurau. Jika semua itu terjadi pada anda di bulan ini, lakukan semua nasehat saya. Anda mungkin berpikir saya sudah gila. Tidak. Saya tidak gila. Saya masih seperti kemarin tetap menjadi wisdom seeker yang tiap saat berusaha mencari hikmah. Kalau saran saya di atas terkesan sebagai saran orang tak waras maka saran berikut ini mungkin akan makin membuat anda berpikir bahwa saya benar-benar sudah gila. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;font style="" lang="SV"&gt;Ya, kalau bulan ini tiba-tiba bos anda suka marah-marah pada anda dan tanpa anda tahu kesalahan anda dia mengeluarkan surat pemecatan untuk anda, saran saya terima saja semua itu dengan tersenyum. Tidak usah marah. Tidak usah frustasi. Apalagi sampai niat bunuh diri. Karena kalau anda sampai anda menjadi demikian maka teman dekat anda akan tertawa girang, pacar atau istri anda akan merasa menang, dan bos anda akan tertawa terpingkal-pingkal. Anda salah besar kalau membayangkan bahwa kemarahan anda, frustasi anda, dan niat bunuh diri anda akan membuat mereka ikut berduka. Sekali lagi saya tegaskan mereka justru akan semakin bersuka ria.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;font style="" lang="SV"&gt;Ingat, ini adalah bulan April. Dan salah satu budaya barat yang sedikit demi sedikit merasuk ke dalam budaya kita adalah perayaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/April_Mop"&gt;April Mop&lt;/a&gt;. Bagi yang belum begitu familiar, April Mop adalah satu perayaan besar di mana anda diperbolehkan untuk mengerjai orang lain khususnya orang-orang dekat anda dengan cara bagaimanapun. Ya, dengan cara bagaimanapun. Entah itu dengan cara pura-pura mencuri barang kesayangan orang lain, bersikap tak acuh pada suami atau pacar, atau bahkan pura-pura melakukan pemecatan pada karyawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;font style="" lang="SV"&gt;Asalkan semua itu dilakukan di bulan April ini, meski orang yang anda kerjai sampai menangis, tidak bisa tidur, bahkan frustasi hingga berniat bunuh diri anda tetap tidak bisa disalahkan. Cukup ucapkan kata ”APRIL MOP!!!” di saat-saat terakhir, maka anda terbebas dari kesalahan dan orang lain yang anda kerjai tidak berhak untuk marah. Kalau orang itu tetap marah meski anda sudah mengucapkan kata-kata tadi, maka masyarakat justru akan memusuhi dia dan membela anda mati-matian karena menurut budaya penganut APRIL MOP apa yang anda lakukan justru hal yang benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;font style="" lang="SV"&gt;Nah, di sinilah menurut saya salah satu sisi buruk dari budaya barat yang satu ini. Bayangkan anda seorang mahasiswa dan laptop baru anda yang kreditnya belum selesai tiba-tiba tidak berada di tempatnya semula dan setelah anda cari ke sana ke mari tetap tidak ketemu. Dalam kondisi demikian tentu hal yang wajar jika anda menjadi frustasi dan kehilangan motivasi belajar. Wajar juga, jika karena kehilangan itu anda tidak bersemangat mengikuti kuliah meski jam kuliah saat itu sangat penting. Dan karena anda tidak ikut jam kuliah yang sangat penting yang, misalnya, dosen pengajarnya hanya bisa menyampaikan materi satu kali dalam setahun dan saat itu adalah satu-satunya waktu yang dosen tersebut bisa, tentu juga wajar kalau anda sangat membenci teman anda yang telah tega mengerjai anda dengan cara menyembunyikan laptop kreditan anda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;font style="" lang="SV"&gt;Sekali lagi, wajar kan kalau anda kemudian sangat membenci teman anda yang satu ini? Sangat wajar. Dan dalam konteks umum, semua orang tempat anda mengadukan perbuatan teman anda itu pasti akan mendukung perbuatan anda membenci teman anda itu. Kenapa? Sekali lagi karena perbuatan anda itu hal yang wajar. Itu kalau konteksnya umum, konteks hari-hari biasa. Jika konteksnya APRIL MOP, perbuatan anda untuk membenci teman anda itu dicap sebagai perbuatan salah. Ke manapun anda mengadukan perbuatan teman anda, dijamin tidak akan ada orang yang membela anda. Orang-orang pasti akan membela perbuatan teman anda itu tak peduli bagaimanapun merugikannya perbuatan itu terhadap anda. Tidak cukup sampai di sini, jika anda tetap nekat membalas perbuatan teman anda itu dengan cara membencinya, maka anda akan menjadi pihak yang salah. Anda akan disalahkan oleh semua orang. Kenyataan yang benar-benar tidak masuk akal. Tapi, karena alasan APRIL MOP, yang demikian itu menjadi sangat bisa dimaklumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;font style="" lang="SV"&gt;Karena itu, meskipun saya termasuk orang yang tidak mengharapkan budaya APRIL MOP ini menjalar dan menjamur di Indonesia seperti budaya perayaan Valentine, saya tetap berpesan pada anda, dan tentu pada diri saya sendiri, untuk meningkatkan kesabaran di bulan April ini. Yach, mungkin inilah satu-satunya sisi baik perayaan APRIL MOP: kita harus belajar sabar. Mungkin juga ya....?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-8382080008357936939?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/8382080008357936939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/04/april-tiba-tingkatkan-kesabaran-anda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8382080008357936939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8382080008357936939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/04/april-tiba-tingkatkan-kesabaran-anda.html' title='April Tiba, Tingkatkan Kesabaran Anda!'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-526399792028011623</id><published>2008-03-31T18:12:00.001+07:00</published><updated>2008-03-31T18:12:08.964+07:00</updated><title type='text'>Karena Selebritis, Meski Sumbang Tetap Kita Dengarkan...</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0pt;" lang="SV"&gt;Saat ini ada tiga orang yang ketika sedang bersama-sama mau tidak mau orang yang melihat mereka harus tertawa. Meskipun ketika sendiri ketiga orang itu tetap lucu, hanya saat bersama lah ketiganya memikat semua penontonnya. Kira-kira siapakah tiga orang itu? Mereka adalah Eko Patrio, Ruben Onsu, dan Madam/Nona Igun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Siapa pun Anda asal sering menghentikan laju perpindahan remote TV anda di stasiun TV berlambang Ikan terbang pasti kenal mereka. Saat ini mereka hampir setiap hari memandu acara pencarian bakat (?) penyanyi di TV tersebut. Meskipun sebenarnya tidak hanya tiga orang itu saja yang mengisi acara tersebut (selain mereka masih ada lagi dua orang komentator juga seratus juri votelock) namun ketika acara telah mulai jelas terlihat ketiga orang itulah yang menjadi pemilik acara ini. Saking pentingnya mereka, seolah-olah kalau acara tersebut ditayangkan tanpa salah satu dari ketiga orang tersebut maka acara itu tidak lagi menyenangkan untuk ditonton. Yach, mungkin sama pentingnya dengan Tukul Arwana di acara Empat Mata, atau Indra Bekti dan Indi Barend di Ceriwis, atau mungkin malah sepenting Oprah Winfrey dalam acara Oprah Show.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0pt;" lang="SV"&gt;Tapi, biarlah ketiga orang itu dianggap penting atau merasa penting. Dalam pencarian hikmah kali saya tidak akan membicarakan mereka. Mungkin nanti akan nyerempet mereka. Tapi saya janji mereka hanya akan saya serempet tidak akan saya tabrak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0pt;" lang="SV"&gt;Baiklah, sebelum membahas lebih jauh tentang topik ini akan saya jelaskan terlebih dahulu acara apa yang digawangi ketiga orang itu. Acara tersebut adalah adaptasi dari acara Mama Mia yang sudah meraup cukup sukses. Anda tentu tahu apa itu Mama Mia. Ya, ia adalah acara pencarian bakat penyanyi (tanpa tanda tanya) sekaligus juga manajernya yang harus ibu dari si berbakat. Tidak perlu saya jelaskan prosesnya, yang jelas acara ini menyedot cukup banyak perhatian pemirsa TV. Malah, bisa dikatakan acara ini menjadi satu-satunya acara berrating tinggi dari stasiun bersagkutan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0pt;" lang="SV"&gt;Karena kesuksesan yang diraih oleh acara Mama Mia itulah maka stasiun TV berlogo ikan terbang mengadaptasikan ke berbagai format acara. Untuk versi dangdut, dibuatlah acara Stardut dengan format acara yang tidak jauh berbeda dari Mama Mia. Sama seperti Mama Mia, Stardut juga berhasil menarik perhatian pemirsa. Maka, saat kedua acara itu usai stasiun bersangkutan ternyata tidak rela melepaskan perhatian penonton. Stasiun ini membuat acara adaptasi lainnya. Kali ini, acara yang dibuat tersebut diberi nama Super Mama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0pt;" lang="SV"&gt;Sebenarnya program Super Mama tidak berbeda dari kedua acara pendahulunya. Hanya saja ada satu perbedaan yang sangat mencolok. Yakni, peserta acara ini adalah selebritis-selebritis kondang tanah air beserta mama-mama mereka. Maka, tak ayal faktor inilah yang membuat acara Super Mama mampu menyedot perhatian pemirsa. Wajar jika pemirsa penasaran dengan kemampuan vokal para selebritis yang menjadi peserta. Wajar juga kalau kemudian para pemirsa rela duduk berjam-jam untuk menikmati penampilan para selebritis itu meski mereka sadar bagaimanapun kemampuan vokal mereka tidak akan mampu menyaingi vokal penyanyi Indonesia sungguhan. Meskipun mereka sadar penampilan para selebritis itu tidak akan lebih baik dari pada penampilan peserta konten pencarian bakat lain seperti Indonesian Idol. Meskipun mereka sadar bahwa aksi panggung para selebritis peserta itu pun tidak lebih bermutu dari penampilan penyanyi kafe dan penyanyi dangdut di kampung-kampung. Toh, karena para selebritis sudah terlanjur dikenal dan sebagian terlanjur dijadikan idola, maka meski suara mereka sumbang, penampilan mereka tidak istimewa, dan aksi panggung mereka membosankan, pemirsa tetap mau duduk berlama-lama menonton mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     Maka, jika Anda ingin tetap PeDe bernyanyi meski dengan suara tak karuan, jadilah selebritis...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-526399792028011623?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/526399792028011623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/karena-selebritis-meski-sumbang-tetap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/526399792028011623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/526399792028011623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/karena-selebritis-meski-sumbang-tetap.html' title='Karena Selebritis, Meski Sumbang Tetap Kita Dengarkan...'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-6948943373963986959</id><published>2008-03-25T17:56:00.001+07:00</published><updated>2008-03-25T17:56:57.641+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><title type='text'>Antara Cangkul dan Kalkulator</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagi seorang pedagang sebuah cangkul mungkin sama sekali tidak berarti dan berguna. Baginya yang lebih berguna adalah kalkulator dan timbangan karena kedua benda itu bisa memudahkan tugasnya dalam menjual barang dan menghitung harga. Sehingga apabila disuruh untuk memilih antara kedua kelompok barang tersebut dia pasti akan menjatuhkan pilihannya pada kelompok barang kedua, yakni kalkulator dan timbangan. Dia tentu tidak akan memilih cangkul karena barang ini tidak bisa membantu melancarkan pekerjaannya sebagai pedagang. Bahkan meskipun diberi secara gratis, dia mungkin tidak akan mau menerima cangkul pemberian itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebaliknya, bagi seorang petani cangkul tentulah jauh lebih berarti dari pada kalkulator dan timbangan. Baginya cangkul bisa mendatangkan uang. Dengan cangkul ia bisa mengolah sawah. Dengan cangkul ia bisa menanam tanaman yang kelak bisa dipetik hasilnya. Tapi apa yang akan ia dapat jika dia memilih kalkulator atau timbangan? Pak tani tentu akan berpikir bahwa meskipun bisa dipakai untuk menghitung biaya pengolahan dan untuk memperhitungkan hasil panennya, kedua benda itu tetap tidak akan berguna jika yang akan dihitung dan ditimbang tidak ada. Dengan kata lain, bagaimanapun juga dalam pandangan seorang petani alat untuk menumbuhkan tanaman jauh lebih berguna dari pada alat untuk menghitung hasil jerih payahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Maka, si pedagang tidak boleh memaksakan pendapatnya bahwa kalkulator lebih berguna dari pada cangkul. Begitu pula sebaliknya, pak tani tidak boleh ngotot dan memaksa bahwa cangkul lebih berarti dari pada kalkulator. Jika ini terjadi maka bisa dipastikan pertengkaran tidak bisa dihindarkan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari masalah cangkul dan kalkulator di atas bisa kita tarik kesimpulan bahwa belum tentu sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang akan dipandang penting juga oleh orang lain. Sesuatu yang dianggap berguna oleh seseorang belum tentu dipandang berguna oleh orang lainnya. Karena pandangan seseorang mengenai penting tidaknya sesuatu dipengaruhi berbagai faktor. Dan faktor-faktor yang mempengaruhi pandangan seseorang sering kali berbeda satu dengan lainnya. Sebagai konsekwensinya kita tidak boleh memaksakan pandangan dan penilaian kita terhadap sesuatu kepada orang lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah sebatas menjelaskan alasan-alasan penilaian kita terhadap sesuatu kepada orang lain dan bukannya mengharuskan orang lain untuk memandang sesuatu dengan cara sama seperti kita. Sehingga, apakah orang lain akan mengikuti cara pandang kita atau tidak pada akhirnya akan tergantung pada apakah penjelasan kita bisa diterima dan diyakini oleh mereka atau tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-6948943373963986959?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/6948943373963986959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/antara-cangkul-dan-kalkulator.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6948943373963986959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6948943373963986959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/antara-cangkul-dan-kalkulator.html' title='Antara Cangkul dan Kalkulator'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-8643425377449795149</id><published>2008-03-19T10:49:00.003+07:00</published><updated>2008-03-19T11:31:43.404+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Menggunakan Kelemahan Secara Menguntungkan</title><content type='html'>Kalau anda pernah berhadapan dengan orang yang (menurut anda) memiliki segalanya, pastinya anda juga pernah merasakan grogi dan tidak percaya diri dengan apa yang anda katakan atau bahkan yang anda pikirkan. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah, seperti itulah yang saat sekarang ini sering kali saya rasakan. Dan memang benar, penyebabnya adalah saya selalu merasa bahwa orang yang saya hadapi adalah orang yang memiliki segala sesuatunya di atas saya. Maka, jadilah saya orang yang tidak percaya diri dan tidak berani menyatakan pendapat karena perasaan saya mendorong saya untuk percaya bahwa apa yang dia katakan selalu benar sedangkan yang saya pikirkan (hanya pikirkan) selalu salah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Mungkin anda berpikir bahwa kemudian saya jadi tidak berani berbuat apa-apa di hadapan orang seperti itu. Jika demikian yang anda pikirkan, sepertinya saya harus memberi nilai nol besar pada anda. Sebab, meski saya merasa tidak percaya diri di hadapan orang seperti itu, tidak berarti saya jadi tidak berbuat apa-apa untuk menutupi perasaan saya tersebut. Kenyataannya, saya justru senang bersama orang berkualitas seperti itu karena pikiran-pikirannya akan demikian mudahnya masuk ke dalam otak saya yang kadang sulit dimasuki pikiran-pikiran baru. Kalau sudah demikian, maka saya akan mendapat banyak pelajaran dari orang di hadapan saya.   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kok bisa demikian? Bagaimana bisa saya belajar banyak dari orang lain sementara dalam hati saya tidak merasa percaya diri? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Well, yang saya lakukan untuk bisa demikian sangatlah sederhana. Saya tidak menggunakan trik langka yang hanya ditulis di dalam buku-buku tebal karya cendikiawan barat dengan harga selangit. Saya hanya menuruti kata-kata salah satu tentangga saya. Apa gerangan kata-kata tetangga saya sehingga bisa membuat saya menempatkan diri pada posisi yang demikian menguntungkan meski sebetulnya perasaan saya sedemikian tersudutkan? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak banyak. Bukan kata-kata mutiara. Ia hanya menyatakan dengan lugunya bahwa kadang kelemahan kita adalah kelebihan kita yang tidak bisa diungguli oleh siapapun. Nah, bermodalkan nasehat itu saya kemudian menerjemahkannya dalam tindakan. Mungkin saja interpretasi saya atas nasehat itu terlalu literal bagi sebagian orang. Akan tetapi, saya benar-benar merasakan manfaatnya. Saya menerjemahkan nasehat itu demikian: kalau kita merasa lemah di hadapan seseorang, maka jangan coba-coba menyembunyikan kelemahan kita dengan mengatakan hal-hal di luar jangkauan kita hanya dengan maksud menunjukkan bahwa kita memiliki kelebihan. Sebaliknya, yang harus kita lakukan hanyalah menunjukkan dengan tulus kelemahan kita kepada orang yang kita ajak bicara. Selain itu, perlihatkan juga pada lawan bicara kita bahwa ia memiliki kualitas unggul (dari pada kita) sehingga amat wajar kalau kita mencuri pengetahuan dari dia. Intinya, tempatkan diri kita di bawah lawan bicara kita, maka otomatis ilmu dari orang tersebut akan mengalir kepada kita dengan lancar. Bukankah air hanya akan mengalir ke tempat yang lebih rendah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah, strategi yang demikian itu yang saya sebut berlindung di balik kelemahan diri sendiri. Saya menyebutnya demikian karena dengan jujur akan perasaan kita mengenai kelebihan yang dimiliki lawan bicara kita dan atas kelemahan kita sendiri justru akan melindungi kita dari perasaan malu yang mungkin saja kita rasakan jika kita berusaha menutupi kelemahan kita tersebut dengan retorika muluk-muluk tapi penuh omong kosong. Maka, bagi saya jujur mengenai perasaan kita, meskipun kejujuran itu juga bukan berarti menunjukkan yang sebenarnya, adalah jauh lebih baik dari pada menutupi perasaan kita dengan kebohongan-kebohongan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="flockcredit" style="text-align: right; color: rgb(204, 204, 204); font-size: x-small;"&gt;Blogged with the &lt;a href="http://www.flock.com/blogged-with-flock" style="color: rgb(153, 153, 153); font-weight: bold;" target="_new" title="Flock Browser"&gt;Flock Browser&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-8643425377449795149?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/8643425377449795149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/menggunakan-kelemahan-secara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8643425377449795149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8643425377449795149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/menggunakan-kelemahan-secara.html' title='Menggunakan Kelemahan Secara Menguntungkan'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-5994192424686246668</id><published>2008-03-16T12:01:00.001+07:00</published><updated>2008-03-16T12:06:05.523+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><title type='text'>Ternyata, Pikiran Berpengaruh pada Perasaan Lho... (Part II: Getting more and more serious)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ilustrasi kedua&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Anda sedang berkendaraan menuju rumah seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. &lt;/span&gt;Dengan&lt;span style="" lang="SV"&gt; penuh semangat Anda mengendarai mobil Anda yang masih tergolong baru. Di tengah perjalanan, tiba-tiba beberapa orang menghentikan mobil dan meminta Anda untuk untuk turun dari mobil. Anda pun menuruti permintaan mereka. Setelah Anda turun dari mobil, salah satu dari orang-orang itu mengatakan bahwa sebentar lagi Anda akan melintasi sebuah jembatan. Dengan nada sangat serius orang itu meminta Anda untuk mencari jalan lain. Dia mengatakan bahwa jembatan itu sudah tua dan tidak kuat lagi menahan beban seberat mobil Anda. Katanya jembatan itu hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki saja. Dengan berjalan kaki pun jembatan itu masih terasa bergetar. Sehingga kalau mobil Anda melintas di atas jembatan itu, maka jembatan itu pasti akan runtuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mendengar penjelasan orang itu ada menjadi penasaran. Bukannya berbalik dan mencari jalur lain, Anda malah memacu kendaran Anda tetap pada jalur semula. Benar saja, tidak lama setelah itu Anda melihat sebuah jembatan di depan Anda. Dilihat dari keadaannya jembatan itu memenag tampak sudah tua dan rapuh. Anda juga tidak melihat satu kendaraan pun yang sedang melintasi jembatan itu. Yang Anda lihat sedang menggunakan jembatan itu hanyalah satu orang. Orang itu berjalan di atas jembatan sambil berpegangan pada pagar. Melihat itu, Anda menjadi teringat pada penjelasan orang-orang yang tadi menghentikan Anda. Anda menjadi takut untuk melintasi jembatan itu. Anda kehilangan keberanian karena membayangkan Anda dan kendaraan Anda akan terjatuh ke sungai bersama runtuhnya jembatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka Anda pun berniat berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu untuk mencari jalur lain. Pada saat Anda hendak menyalakan mesin, tiba-tiba dari arah yang berlawanan terlihat sebuah truk besar yang akan melintasi jembatan. Karena mencemaskan nasib orang-orang di dalam truk itu, Anda bergegas keluar dari mobil dan bermaksud memperingatkan sopir truk itu, namun, belum juga Anda berteriak, truk itu sudah berada di atas jembatan. Karena ketakutan Anda memejamkan mata dan membayangkan akan mendengar suara keras runtuhnya jembatan itu bersama dengan truk tersebut. Namun, setelah beberapa saat suara yang Anda bayangkan itu tidak juga terdengar. Sebaliknya, perlahan-lahan suara mesin truk itu melintasi Anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Melihat kenyataan bahwa jembatan itu masih baik-baik saja setelah dilewati truk, ketakutan Anda untuk melintasi jembatan itu sirna. Anda pun menjadi tersadar bahwa orang-orang tadi hanya bermaksud menakut-nakuti Anda. Maka tanpa ada rasa takut sedikit pun Anda mulai menjalankan kendaraan Anda dan melintasi jembatan itu. Satu jam kemudian, Anda telah berada di rumah teman Anda dengan selamat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;Kenapa Anda menjadi takut untuk melintasi jembatan itu setelah ada orang yang memberi tahu bahwa jembatan itu rapuh? Padahal, ketika truk melintasinya pun jembatan itu masih berdiri tegak. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Seperti pada ilustrasi pertama, perasaan takut itu muncul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena Anda memikirkan hal-hal mengerikan yang kenyataannya tidak Anda alami. Terbukti ketika Anda yakin bahwa hal-hal mengerikan itu tidak akan terjadi Anda berani melintasi jembatan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;Dari&lt;span style="" lang="SV"&gt; dua&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ilustrasi di atas, bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa pikiran sangat mempengaruhi perasaan. Pikiran positif akan membangkitkan perasaan-perasaan yang positif juga, seperti bahagia, berani, percaya diri, dll. Sebaliknya pikiran negatif juga akan melahirkan perasaan-perasaan yang negatif pula, seperti perasaan takut, sedih, minder, dll. Sehingga apabila Anda ngin menjadi orang yang memiliki perasaan positif maka selalu lah berpikir positif. Namun, jika saat ini Anda masih memendam perasaan negatif, maka ubahlah perasaan itu menjadi positif dengan cara berpikir positif. &lt;/span&gt;SELAMAT MENCOBA (The end)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-5994192424686246668?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/5994192424686246668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/ternyata-pikiran-berpengaruh-pada_16.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/5994192424686246668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/5994192424686246668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/ternyata-pikiran-berpengaruh-pada_16.html' title='Ternyata, Pikiran Berpengaruh pada Perasaan Lho... (Part II: Getting more and more serious)'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-7531329525873191899</id><published>2008-03-16T11:25:00.003+07:00</published><updated>2008-03-16T11:59:52.137+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><title type='text'>Ternyata, Pikiran Berpengaruh pada Perasaan Lho... (Part I: Getting more serious)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;Mungkin belum ada penelitian yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana hubungan yang sebenarnya antara pikiran dan perasaan. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Akan tetapi secara teoritis bisa dihipotesiskan bahwa keduanya saling terkait. Keduanya saling mempengaruhi. Tidak benar apabila ada pernyataan bahwa keduanya terpisah dan sama sekali tidak memiliki kaitan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tentu saja Anda berhak memendam keraguan atas hipotesis tersebut. Apalagi, sekali lagi, &lt;/span&gt;memang&lt;span style="" lang="SV"&gt; belum ada penelitian yang mendukungnya. Akan tetapi setelah membaca ilustrasi yang akan saya kemukakan, Andapun tidak perlu merasa malu untuk membuang jauh-jauh keraguan Anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ilustrasi Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;Anda sedang berada di rumah seorang ahli jiwa untuk mengkonsultasikan masalah kejiwaan yang Anda hadapi. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepada psikolog itu Anda mengatakan bahwa diri Anda selalu merasa &lt;/span&gt;takut&lt;span style="" lang="SV"&gt; untuk pergi keluar kota. Anda menjelaskan bahwa tiap kali Anda diajak pergi keluar kota, di dalam pikiran Anda selalau terbayang pada sekelompok orang berwajah sangar yang siap menghadang Anda dan tidak segan-segan membunuh Anda apabila permintaan mereka tidak Anda penuhi. Karena perasaan takut itulah Anda tidak pernah pergi keluar kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Mendengar penjelasan Anda psikolog tersebut mengajak Anda ke sebuah ruang di belakang &lt;/span&gt;tempat&lt;span style="" lang="SV"&gt; kerjanya. Di dalam ruangan itu terdapat selembar kayu yang tidak terlalu tipis dan juga tidak begitu tebal. Dengan tersenyum psikolog itu mempersilahkan Anda untuk berdiri di atas kayu itu. Bukan hanya itu, dia juga menyuruh Anda untuk melompat-lompat di atasnya. Setelah itu, Anda disuruhnya untuk menjauh dari lembaran kayu itu. Tanpa perasaan apa-apa Andapun mengikuti segala instruksinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Setelah&lt;span style="" lang="SV"&gt; Anda berada agak jauh dari kayu itu, psikolog itu menjelaskan pada Anda bahwa sebenarnya kayu yang baru Anda injak adalah sebuah penutup. Di bawah kayu itu terdapat sumur tua yang amat dalam yang di dinding-dindingnya dipenuhi batu-batu runcing. Sambil memberi penjelasan psikolog itu menggeser kayu. Maka Anda pun melihat bahwa apa yang tadi dijelaskan benar adanya. Mengetahui hal tersebut Anda pun menggigil ketakutan. Anda membayangkan apa jadinya seandainya tadi saat Anda berdiri dan melompat-lompat kayu itu patah. Maka Anda pasti sangat ketakutan dan tidak akan berani lagi disuruh berdiri di atas kayu itu apalagi diminta untuk melompat-lompat di atasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kenapa sekarang Anda ketakutan padahal sebelum psikolog itu memberi penjelasan Anda sedikit pun tidak merasa gentar? Semua itu karena pikiran Anda. Anda merasa ketakutan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena Anda memikirkan hal-hal mengerikan yang mungkin menimpa Anda apabila Anda berdiri di atas kayu itu. Kenyataannya, bahkan ketika Anda melompat-lompat di atasnya pun kayu itu tetap utuh dan Anda sama sekali tidak mengalami hal-hal yang mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Begitu pula sebenarnya yang selama ini menimpa Anda sehingga Anda tidak berani ke luar kota. Karena pikiran Anda selalu membayangkan hal-hal buruk yang mungkin akan menimpa Anda ketika berada di perjalanan, maka perasaan Anda pun menjadi ketakutan. Perasaan takut tak beralasan ini kemudian memaksa Anda untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk tersebut. Dan cara terbaik untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan itu adalah dengan tidak pergi ke luar kota. Padahal kalau saja Anda bisa memikirkan hal-hal yang menyenangkan yang mungkin akan Anda temui, bukannya hal-hal yang menakutkan, tentu Anda tidak perlu merasa takut untuk bepergian ke luar kota.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;(to be continued)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-7531329525873191899?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/7531329525873191899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/ternyata-pikiran-berpengaruh-pada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7531329525873191899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7531329525873191899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/ternyata-pikiran-berpengaruh-pada.html' title='Ternyata, Pikiran Berpengaruh pada Perasaan Lho... (Part I: Getting more serious)'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-128402576275896551</id><published>2008-03-14T17:22:00.002+07:00</published><updated>2008-03-16T12:12:46.177+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renung'/><title type='text'>Baik!? Kerjakan Sekarang (ssstt! Pencari Hikmah lagi serius)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt;"&gt;Kalau anda merasa dunia ini adalah tempat yang damai, coba hidupkanlah TV anda dan lihatlah berita-berita kriminal, maka anda akan melihat bahwa masih banyak yang harus anda kerjakan. Ini bukan berarti bahwa apa yang anda sudah kerjakan tidak berguna. Ini menunjukkan bahwa anda memang tidak boleh berhenti dari usaha berbuat kebaikan. Sekali anda berhenti berbuat baik, maka angka kejahatan akan meningkat cepat.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Mungkin anda merasa bahwa apa yang anda lakukan, dalam hal ini berbuat kebajikan, tidak ada nilainya. Mungkin anda menganggap bahwa memberi uang receh kepada pengemis yang duduk di pinggir jalan tidak akan bisa mengubah dunia. Mungkin pula anda berpikir bahwa membuang kulit pisang di sembarang tempat tidak akan membuat dunia makin kacau. Anda mungkin benar. Tapi bisa jadi anda salah. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Bayangkan apabila pengemis yang kita beri uang receh tiba-tiba masuk angin. Sedangkan ia tidak punya cukup uang untuk membeli obat masuk angin. Padahal kalau dibiarkan berlarut-larut masuk angin yang diderita oleh pengemis itu bisa semakin parah bahkan bisa membunuhnya. Dalam hal ini pengemis itu tentu sangat membutuhkan uang recehan untuk kerokan. Dengan kerokan ia akan kembali sehat seperti sedia kala. Maka bisa dilihat bahwa apa yang anda lakukan telah menyelamatkan satu nyawa dari kematian.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Bayangkan juga, apabila ada seorang pemarah yang melewati tempat di mana anda membuang kulit pisang. Kemudian tanpa sengaja ia menginjak kulit pisang tersebut dan terjatuh. Dia tentu akan sangat marah dan bisa jadi ia akan melampiaskan kemarahannya kepada siapapun yang ia temui. Bayangkan jika setelah itu ada seorang petani yang juga pemarah pulang dari sawah dengan membawa cangkul dan sabit dan bertemu orang yang baru terpeleset itu. Si pemarah tentu akan melampiaskan kemarahannya pada petani itu. Dan karena petani tersebut membawa sabit bisa jadi ia membacokannya kepada si pemarah. Maka satu nyawa bisa melayang hanya gara-gara anda membuang kulit pisang sembarangan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt;"&gt;Jadi, hal sekecil apapun yang kita lakukan akan berpengaruh kepada dunia secara keseluruhan. Apabila yang kita lakukan adalah hal baik, maka hal baik itu akan dinikmati oleh seluruh dunia. Sebaliknya jika hal buruk yang kita kerjakan, maka hal buruk itu akan dirasakan oleh seluruh umat manusia. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-128402576275896551?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/128402576275896551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/baik-kerjakan-sekarang-ssstt-pencari.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/128402576275896551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/128402576275896551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/baik-kerjakan-sekarang-ssstt-pencari.html' title='Baik!? Kerjakan Sekarang (ssstt! Pencari Hikmah lagi serius)'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-1351402019808072856</id><published>2008-03-12T02:18:00.006+07:00</published><updated>2008-03-16T12:08:38.182+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idola'/><title type='text'>Masih Tentang Rhoma Irama dan Saya (mas  Andrea  ada acara)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Halo-halo-halo, jumpa lagi dengan saya the wisdom seeker (he..he..he.., jujur ini ikutan &lt;a href="http://www.berbagi-mimpi.blogspot.com/"&gt;tetangga sebelah&lt;/a&gt; saya. Tapi, bagus juga ya. Oke lah, kalo gitu saya akan menggunakan nama ini sebagai alternative nama &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; saya). Dan bersama saya anda tentu akan dibawa menyusuri lorong-lorong gelap untuk menemukan sedikit cahaya (ternyata saya bisa puitis juga ya…). Awas, kalau tidak hati-hati di lorong-lorong ini bukannya dapat cahaya bisa jadi anda malah tersesat.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Baiklah, topik hikmah kali ini masih tidak beranjak jauh dari posting kemarin. Tentang penulis tetralogi Laskar Pelangi? Bukan. Bukan tentang si Ikal. Sekarang ini saya tidak ingin mengganggu ketenangan mas Andrea. Dia lagi banyak job. Jadi, biarlah mas Andrea menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Semoga juga kantongnya makin tebal sehingga mimpinya untuk tinggal di desa tertinggi di dunia bisa segera terwujud. Anda mau &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; berdoa untuk dia? Well, kalau demikian pada hitungan ketiga kita ucapkan amin bersama-sama. Satu… dua…tiga… AMIEN! &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Nah, kali ini saya akan membicarakan tokoh satunya dari posting kemarin. Siapa lagi kalau bukan Bang Haji &lt;a href="http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/r/rhoma-irama/index.shtml"&gt;Rhoma Irama&lt;/a&gt;. Mumpung beliau lagi sepi tontonan dan popularitasnya makin menurun karena usianya yang memang sudah tidak muda serta gara-gara Inul dan mantan istri barunya (betul lho, popularitas Bang Haji mulai redup setelah kasus goyang ngebor Inul Daratista dulu itu dan diperparah sama kasus yang di Indonesia ini masih sangat rawan, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Poligami"&gt;POLIGAMI&lt;/a&gt;, apalagi yang sembunyi-sembunyi dan terkuak, oleh infotainment lagi). Namun, meskipun demikian, walaupun begitu, however (pilih salah satu saja ya...), bagi saya bang Haji tetaplah seorang idola. Kenapa demikian? Jawaban singkat saya: karena kualitasnya. Maka biar anda tidak penasaran, akan segera saya ulas masalah bang Haji ini setelah jeda baris berikut ini. Jangan ke mana-mana. Tetaplah di tempat duduk anda karena sebentar lagi anda akan melihat sisi lain dari this one and only King of Dangdut. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;All right, biar saya mulai. Jujur saja, jika mendengar nama Rhoma Irama apa yang terlintas di benak anda pada satu detik pertama? Dangdut! Masuk akal. Soneta! Sangat bisa diterima. Inul Daratista! Wah yang ini pasti baru kenal sama bang Haji nih. Tapi nggak papa. Yang penting masih ada hubungannya dengan Rhoma Irama. Yang terlintas dalam benak saya juga seperti itu. Dangdut, Soneta, dan, yang ini sebenarnya dipopulerkan bukan oleh bang Haji tapi oleh para penirunya, kata “Terlalu!”. Yang jelas tidak pernah terlintas nama si ratu ngebor, Inul Daratista (I'm so sorry Mbak..)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Itu baru pada satu detik pertama. Kalau saya membiarkan angan-angan saya melayang entah ke mana-mana selama lebih dari semenit maka banyak hal lain yang timbul dalam memori saya saat nama bang Haji disebut. Pacar, Piano, Setan, Siksa Kubur, Tukang Adu Domba, Keluarga Berencana, burung Garuda, Indonesia, Orang Buta, Pengemis, Pengamen, dan banyak lagi yang lainnya. Luar biasa &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;? Satu nama bisa memiliki begitu banyak asosiasi. Dalam hal ini anda harus mengakui Bang Haji tidak tertandingi oleh musisi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; lainnya, apalagi oleh musisi dangdut masa kini. (Sori mbak Dewi Perssik. Maaf, mas Syaiful Jamil)&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kalau anda bertanya kenapa bisa demikian. Jawaban saya sangat simple: karya Bang Haji membahas wilayah dan aspek kehidupan yang begitu luas. Lirik-lirik yang dia ciptakan bisa menggambarkan berbagai masalah kehidupan dengan kedalaman pemahaman yang tidak perlu diragukan. Dan, ini yang sangat penting, semua lirik-lirik itu begitu dikenal luas oleh masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan melegenda. Untuk yang terakhir ini, keberuntungan mungkin memainkan peranan sangat penting. Akan tetapi untuk yang pertama, keberagaman tema serta kedalaman muatan lirik lagu, keberuntungan tidak berlaku. Dibutuhkan seorang berjiwa sekaligus seniman, budayawan, santri, motivator, dan musisi yang benar-benar ulung untuk bisa menghasilkan karya seperti itu. Maka, mendengarkan lagu-lagu bang Haji saya bisa senantiasa melihat sosok yang berbeda. Kadang menjadi santri, kadang budayawan, dan kadang motivator. Adapun jiwa seniman dan musisi bang Haji bisa selalu saya rasakan di tiap dendang lagunya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di dalam lagu Istri Solehah, misalnya,  jiwa santri bang Haji sedang memegang kendali. Maka perenungan-perenungan religius begitu terasa di tiap liriknya. Saya jamin kalau anda mendengarkan lagu ini secara seksama anda akan sampai pada persetujuan bahwa istri yang akan membuat bahagia tidak harus berparas cantik. Begitupun suami tidak harus berwajah tampan. Yang paling penting adalah baik tidaknya hati. Tentu saja akan baik lagi kalau sudah hatinya baik, parasnya cantik atau tampak, pintar, kaya, dan keturunan orang terpandang. Pokoknya ideal (sekarang ada nggak ya yang seperti ini…?)&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Contoh lain, dalam lagu Begadang tampak nyata bahwa bang Haji berjiwa budayawan. Dia bisa memotret fenomena yang terjadi di lingkungannya secara tepat. Dia bisa menggambarkan kebiasaan begadang dan efeknya pada kehidupan pribadi seseorang. Sebutan apalagi yang bisa diberikan pada orang yang bisa melakukan hal semacam itu kalau tidak budayawan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Nah, oleh bang Haji dua lagu itu bisa dibuat dalam komposisi nada yang begitu enak &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;didengar. Lagu istri sholeha yang terkesan menasehati bisa dengan mudah masuk ke sanubari lantaran musiknya (juga jangan lupa suara penyanyinya yang mendayu-dayu) begitu indahnya terdengar di telinga. Demikian juga begadang. Lagu yang sebenarnya bertema remeh temeh ini bisa menarik hati untuk menyimaknya karena kepiawaian bang haji dalam menyusun nada.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Tentu saja dua contoh belumlah cukup. Tapi biarlah akan saya biarkan anda mencari dan mendengarkan lagu bang haji yang lainnya untuk kemudian menganalisa kualitas apakah yang dominan pada diri bang Haji saat menciptakan lagu tersebut: Budayawan kah, Sastrawan kah, Sufi kah, atau kah-kah yang lainnya.  &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Akhir kata, dengan kualitas semacam itu apakah saya harus malu mengakui bahwa Bang Haji Rhoma Irama adalah salah satu tokoh idola saya? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-1351402019808072856?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/1351402019808072856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/masih-tentang-rhoma-irama-dan-saya-mas.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1351402019808072856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1351402019808072856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/masih-tentang-rhoma-irama-dan-saya-mas.html' title='Masih Tentang Rhoma Irama dan Saya (mas  Andrea  ada acara)'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-2375421324405780407</id><published>2008-03-08T23:06:00.005+07:00</published><updated>2008-03-16T12:11:15.336+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Baca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idola'/><title type='text'>Andrea Hirata, Rhoma Irama, dan Saya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/R9LClw97feI/AAAAAAAAAAo/0kbDufXS4x0/s1600-h/me,+andrea,+rhoma.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/R9LClw97feI/AAAAAAAAAAo/0kbDufXS4x0/s320/me,+andrea,+rhoma.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175412875857722850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;                                                             &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;(Dari kiri ke kanan): Andrea Hirata, Rhoma Irama, dan &lt;/span&gt;                 Saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Baru-baru ini saya mengkhatamkan tiga buku dari tetralogi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt; karya &lt;a href="http://www.sastrabelitong.multiply.com/"&gt;Andrea Hirata&lt;/a&gt;. Bagi anda yang merasa penggemar novel Laskar Pelangi saya yakin anda tahu judul ketiga buku ini. Ya. Betul! Judulnya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laskar Pelangi, Sang Pemimpi&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Edensor&lt;/span&gt;. Tepuk tangan buat anda semua. Wah, anda memang benar-benar penggemar Laskar Pelangi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Nah, karena anda tahu judul ketiga buku yang sudah saya baca tentu anda juga tahu judul buku terakhir dari tetralogi ini yang belum saya miliki. Benar. Sekali lagi anda bisa menjawab dengan benar. Buku terakhir ini berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maryamah Karpov&lt;/span&gt;. Menurut informasi yang saya dapat dari teliksandi saya di berbagai toko buku, novel terakhir ini akan terbit dan dilempar ke pasar bulan April mendatang. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jadi, para fans Andrea Hirata, Anda harus bersiap-siap berebut untuk mendapatkan buku ini. Kalau perlu anda boleh kok menunggu di depan toko buku satu hari sebelum buku ini resmi dijual di toko buku. Atau, kalau anda masih khawatir tidak akan kebagian, anda boleh juga mendirikan tenda di depan toko buku-toko buku dua atau tiga hari sebelumnya. Bahkan, satu minggu sebelumnya juga nggak papa. Tapi kalau saya, saya tidak akan melakukan itu. meskipun saya termasuk penggemar mas Andrea (sok akrab…), saya tidak akan melakukan tindakan ‘gila’ semacam itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kembali ke fokus hikmah kali ini, setelah membaca ketiga buku mas Andrea ini saya menemukan satu kesamaan antara dia dengan saya. Kalau anda menebak bahwa kesamaan saya dengan mas Andrea adalah sama-sama lulusan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Sorbone&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;University&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt; maka anda salah besar. Jika anda mengira bahwa saya dan mas Andrea sama-sama peraih beasiswa Uni Eropa anda juga masih salah besar. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;He… he…he.., baiklah, sebenarnya kesamaan saya dengan mas Andrea adalah kami sama-sama penggemar Bang Haji Rhoma Irama. Anda ingat &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; bahwa di ketiga buku tersebut nama Bang Haji selalu disebut-sebut. Di novel Laskar Pelangi, saat mas Andrea menggambarkan keadaan sekolahnya, anda tentu masih ingat, siapa artis dangdut yang disebut? Rhoma Irama di dalam poster Hujan Duit. Terus, di novel Sang Pemimpi juga tidak lupa disebut nama Bang Haji. Anda tentu tidak lupa bahwa di kamarnya Ikal memajang poster Bang Haji Rhoma Irama sementara Arai menggantungkan gambar Jim Morrison dan Jimbron menempelkan gambar-gambar kuda. Sedangkan di novel Edensor mas Andrea lagi-lagi menyebut nama Bang Haji. Dan menurut saya kali dia beanr-benar keterlaluan. Ah, bukan keterlaluan. Maksud saya kali ini dia benar-benar menunjukkan kekaguman pada si raja dangdut ini. Betapa tidak? Di novel ini ia menyebut nama Bang Haji dengan tidak main-main. Ya, dia membandingkan Bang Haji dengan ekonom klasik Adam Smith. Gilaaaa…..&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Maka, membaca ketiga novel itu saya senyum-senyum sendiri. Bukan hanya karena saya bangga memiliki kesamaan dengan mas Andrea sebagai penggemar Rhoma Irama. Lebih dari itu, saya merasa geli dengan sikap orang-orang yang baru pulang dari luar negeri. Kebanyakan mereka sudah lupa dengan kebudayaan sendiri. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; hidup mereka berubah drastis. Tidak jarang, sekembali dari luar negeri mereka memandang sebelah mata tradisi ibu pertiwi, termasuk musiknya. Maka, karawitan, wayang, atau ketoprak tidak lagi mereka apresiasi. Padahal, pada saat bersamaan orang-orang bule sedang gencar-gencarnya mempelajari semua itu dan dengan bangga membawa semua itu ke negeri mereka sendiri-sendiri.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk itu, saya sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Andrea Hirata. Bagi saya, menyebut nama Rhoma Irama di dalam novel anda dan menganggapnya idola merupakan bukti nyata bahwa Anda bukan kacang yang lupa akan kulitnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-2375421324405780407?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/2375421324405780407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/rhoma-irama-andrea-hirata-dan-saya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2375421324405780407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2375421324405780407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/rhoma-irama-andrea-hirata-dan-saya.html' title='Andrea Hirata, Rhoma Irama, dan Saya'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/R9LClw97feI/AAAAAAAAAAo/0kbDufXS4x0/s72-c/me,+andrea,+rhoma.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-4550794253719777586</id><published>2008-03-07T20:44:00.006+07:00</published><updated>2008-03-16T12:15:20.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idola'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>Mati Syahid ala Hollywood</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/R9FIeA97fdI/AAAAAAAAAAg/uElu9jN8duc/s1600-h/200px-Braveheart_imp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/R9FIeA97fdI/AAAAAAAAAAg/uElu9jN8duc/s320/200px-Braveheart_imp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174997127318437330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemarin saya nonton (lagi) film &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Braveheart"&gt;&lt;i&gt;Braveheart&lt;/i&gt; &lt;/a&gt;karya Mel Gibson dimana ia juga main sebagai pemeran utama. Ah, ada satu perasaan asyik saat menonton adegan demi adegan film ini. Film yang mengambil setting tahun 1300-an lebih tepatnya tahun 1280 di Skotlandia ini begitu enak ditonton hingga tak terasa tiga jam berlalu begitu saja. Sungguh tidak banyak film yang mampu menyihir saya hingga mau duduk berlama-lama dan menunggu akhir cerita.         &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tentu bukan saya saja yang merasakan keasyikan yang diberikan oleh film ini. Saya yakin di luar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; banyak orang lain, yang lebih mengerti dan mencintai film ketimbang saya, yang merasakan betapa film ini dibuat dengan amat serius. Mel Gibson mampu memberi sentuhan di tiap detail hingga adegan demi adegan begitu sambung menyambung dan menggantungkan jawaban di endingya. Tidak perlu saya katakan lagi, karena anda sekalian pasti sudah tahu, bahwa suatu cerita yang mampu membuat penonton penasaran mengenai endingnya akan mampu membuat penonton duduk manis memelototi hingga akhir. Dan memang demikian yang terjadi pada film ini.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tidak hanya ceritanya, faktor-lainnya juga memberi kontribusi film ini dalam menyihir penonton. Perpaduan musik latar, efek visual dan kelihaian aktor dan aktrisnya memainkan peran telah menjadikan film ini sebuah maha karya. Lihat saja, misalnya, saat William Wallace berbicara pada utusan Longshank yang juga sekaligus menantunya, Princess Isabelle. Betapa dalam adegan ini Mel Gibson mampu menunjukkan emosi yang ditahannya sekaligus mengesankan betapa ia menghormati wanita. Bukan hanya kemampuan acting Mel Gibson saja yang patut diacungi jempol. Peran lawan mainnya dalam adegan ini juga layak mendapat pujian. Bagaimanapun tidaklah mudah memerankan seorang wanita yang dalam hati memuja orang yang ada di hadapannya (diceritakan Princess Isabelle mengagumi William Wallace setelah mendengar bahwa pemicu awal pemberontakannya adalah kematian istrinya, Murron, di tangan seorang komandan Inggris) akan tetapi di pihak lain ia sendiri merupakan utusan dari musuh orang tersebut. Emosi yang dibawa dalam adegan ini begitu kompleks hingga saya yakin tidak sembarang aktor atau aktris bisa melakukannya.&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan salah satu kekaguman saya pada film ini adalah kemampuannya memvisualisasikan apa yang disebut dengan “kematian indah” dan “mati merana”. Selama ini saya sering bertanya mengenai perbedaan rasanya mati antara orang yang hidupnya dipenuhi kejahatan dan mereka yang hidup lurus dan memperjuangkan kebenaran. Nah, film ini berhasil menggambarkannya. Kematian yang indah dirasakan oleh William Walace di akhir hidupnya. Meski meregang nyawa di penyiksaan dengan cara dipenggal, toh William Wallace bisa merasakan mati dengan tenang dan bahkan mati dengan menyenangkan. Betapa tidak? Saat tubuh disayat-sayat oleh algojo, yang ada di matanya hanyalah senyum sang istri yang telah lama mati yang amat dirindukannya. Maka ketika kepala dipenggal, senyuman terlihat tersungging di bibir William Wallace. Dan itulah menurut saya yang disebut dengan kematian yang indah, mati syahid ala Hollywood.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebaliknya, “kematian merana” dirasakan oleh Longshank, raja Inggris yang menjajah Skotlandia dengan kejam dan yang diperangi William Wallace. Tidak seperti William Wallace, Longshank memang mati di atas peraduannya yang empuk dan indah. Akan tetapi, sebelum ajal menjemputnya ia terkena stroke sehingga membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata. Dan di sinilah letak gambaran betapa menyakitkannya kematian yang harus ia rasakan. Dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa itu, menantunya, Princess Isabelle, yang karena satu dan lain hal akan menjadi penerus kekuasaanya membisikinya kata-kata yang teramat sangat menyakitkan, yaitu bahwa dia mencintai William Wallace dan akan menganggapnya sebagai pahlawan kelak saat ia berkuasa. Coba anda bayangkan betapa terpukulnya perasaan Longshank mengetahui bahwa menantuanya amat mencintai musuh besarnya dan akan menganggap musuh besarnya itu sebagai pahlawan. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah bahwa sang menantu akan melanjutkan kekuasaannya. Dan yang lebih menyakitkan lagi ia tidak bsia berbuat apa-apa. Yach, kira-kira sakitnya seperti jika anda punya teman yang anda ajari menulis dan kemudian si teman itu selalu menulis di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kabar dan selalu menjelek-jelekkan anda sedangkan anda tidak bisa membalas tulisan teman anda itu (he..he..he, nggak nyambung ya….). Pada saat seperti itulah Longshank mati. Mati merana &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;? &lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Begitulah, film ini memang patut saya acungi empat jempol sekaligus. Tapi, tentunya saya tidak bisa menggambarkan semua keindahan film tersebut dalam tulisan ini. Yang baru saya gambarkan di atas barus seperseribu persennya. Untuk itulah sebaiknya anda menontonnya sendiri. Pinjamlah VCD di penyewaan (ingat jangan beli bajakan) dan nikmatilah film ini bersama orang-orang yang anda sayangi. Saya yakin jika anda menontonnya bersama orang yang anda sayangi maka di akhir film hubungan anda akan semakin mesra sebab film ini juga mengajarkan betapa berartinya orang yang kita sayangi bagi hidup kita. Selamat menikmati. &lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lho, lho, lho! Terus hikmahnya apa? Ah, coba anda tebak sendiri…. :D&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-4550794253719777586?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/4550794253719777586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/mati-syahid-ala-hollywood.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/4550794253719777586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/4550794253719777586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/mati-syahid-ala-hollywood.html' title='Mati Syahid ala Hollywood'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/R9FIeA97fdI/AAAAAAAAAAg/uElu9jN8duc/s72-c/200px-Braveheart_imp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-8769936166635379728</id><published>2008-03-06T00:08:00.001+07:00</published><updated>2008-03-16T12:18:08.220+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya'/><title type='text'>Saya Sering Jadi Idola Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/R87RGek0KTI/AAAAAAAAAAM/B-CM90Sy9c8/s1600-h/wNo7dJP25j.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/R87RGek0KTI/AAAAAAAAAAM/B-CM90Sy9c8/s320/wNo7dJP25j.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174302931112175922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oke guys, kini saatnya saya mengais-ngais hikmah lain dari hidup saya. Dan yang satu ini tentu akan membuat anda semua terpana, terpukau, terkagum-kagum, atau mungkin malah mengirikan saya. Ya, seperti judul yang saya pilih pada posting kali ini, saya memang pernah, tepatnya sering, lebih tepatnya lagi sering sekali, lebih tepatnya sangat sering sekali, menjadi idola dan menjadi pusat perhatian. Atau istilah ANTV nya, saya ini pernah menjadi seleb juga. Awas, jangan salah paham. Seleb yang ini kepanjangan dari selebritis bukannya selebor. He…..    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Eh, ngomong-ngomong masalah selebritis, saya jadi ingat beberapa ustadz kita yang sering tampil di TV yang lama kelamaan jadi mirip selebritis. Tiap kali melihat mereka saya sering bertanya dalam hati “kok bisa ya seorang ustadz menjadi bintang iklan?” atau “kok mau ya ustadz mengajak pengguna handphone untuk ikut program sms berlangganan?” (Sori pak ustadz, bukannya ikut-ikutan program seperti itu jelek. Menurut saya yang baru belajar mikir ini, citra keustadzan bapak-bapak dan mas-mas yang dipertaruhkan. Ya, lagi-lagi menurut saya, lebih baik gak usah ikut-ikutan program sms berlangganan deh… udah cukup ngasih tausiyah lewat TV atau lewat buku aja… lebih gampang juga langsung mengena).&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Walah, walah, kok jadi ngomongin ustadz segala saya ini. Oke stop, mari kita kembali ke topik semula. Biar tidak dimarahi mbah google.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ya, saya sudah pernah dan bahkan sangat sering menjadi selebritis. Saat dulu dangdut masih merajai dunia permusikan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan melambungkan nama Bang Raden Haji Oma Irama, saya pernah merasakan hidup sebagai superstar dangdut. Benar, saya pernah merasakan kehidupan sebagai punggawa Om Soneta ini. Saya pernah merasakan disorot kamera dan ditonton oleh jutaan pasang mata dari seantero persada nusantara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; raya tercinta ini. Dan karena dulu OM Soneta yang digawangi oleh Bang Haji juga pernah disejajarkan sama band Rolling Stone, saya juga pernah tahu rasanya menjadi satu-satunya selebritis Indonesia yang sering diundang untuk tampil di luar negeri.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada saat yang sama saya juga pernah menjadi Iwan Fals, legenda hidup musik balada &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Sungguh, saya pernah menyanyikan lagu-lagu legendaris bang Iwan di stasiun televisi dan semua orang gegap gempita mengiringi suara saya. Saat satu lagu yang saya bawakan selesai, ternyata mereka tidak puas dan minta saya untuk menyanyikan lagu-lagu saya yang lainnya. Dan, alamak! ini terus menerus terjadi. Saya tidak bisa berhenti menyanyi karena penonton tidak memperbolehkan saya selesai. Akibatnya sehabis pertunjukan saya harus masuk rumah sakit karena radang tenggorokan saya kumat dan sangat akut. Tapi saya tetap bangga. Betapa banyak warga Negara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; ini yang mencintai saya dan selalu menunggu-nunggu penampilan saya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Terus, ketika panggung musik &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; dibanjiri oleh lagu-lagu jiran, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, saya juga pernah menjadi penyanyi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; terpopuler saat itu. Ya, saya merasakan kehidupan Salim, vokalis grup Iklim &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; atau Amy yang notabene frontmannya grup Search. Waktu itu saya sangat bangga karena lagu-lagu saya setiap hari di putar di radio-radio swasta dan klipnya ditayangkan di TVRI setiap minggunya. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Selanjutnya, saat lagu-lagu jiran tergeser oleh lagu-lagu barat berbahasa Inggris yang melejitkan boysband kayak Boyzone dan Backstreet Boys, saya juga pernah menjadi bagian dari cowok-cowok ganteng ini. Saya ingat ketika dulu saya tour di Indonesia, tepatnya di Jakarta Convention Center Hall, banyak sekali kaum kartini negeri tropis ini yang minta foto bersama dan menyodorkan kaus atau bukunya untuk saya tanda tangani. Yang segolongan dengan Adam sih waktu itu tidak saya pedulikan. Mereka mau suka atau iri, saya tak peduli. Yang penting penampilan saya bisa menggegerkan kaum hawa negeri yang katanya multikultur dan multireligi ini. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Setelah itu, musisi-musisi muda &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; satu persatu bangkit meramaikan panggung musik tanah air. Penyanyi solo dan band-band berbagai aliran musik sedikit demi sedikit merebut hati penikmat musik nusantara. Pada saat itu saya pernah menjadi Sigit Base Jam, Armand Gigi, Fatur Java Jive, dan Fadhli Padi. Masih saya ingat, saya juga sempat menjadi Nugie, Katon, dan juga Galang Rambu Anarki. Tapi, entah kenapa ketika itu saya tidak pernah menjadi Nike Ardila, Poppi Merkuri, atau Mayangsari.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sekarang anda percaya &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;, kalau saya sudah pernah, lebih tepatnya sering, lebih tepatnya lagi sering sekali, dan lebih tepatnya lagi sangat sering sekali menjadi selebriti? Jadi, anda juga harus percaya donk kalau saya sudah tahu rasanya hidup menjadi pusat perhatian di manapun saya berada.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sayangnya, sesering-seringnya saya merasa menjadi pusat perhatian saya masih lebih sering merasakan hidup sebagai orang yang sama sekali tidak dikenal yang saking tidak dikenalnya tetangga sebelah pun ada yang tidak tahu siapa saya. Sesering-seringnya saya merasakan gaduhnya kaum hawa saat saya muncul di hadapan mereka, saya lebih sering merasakan mereka tak peduli dengan kehadiran saya. Dan sesering-seringnya saya merasakan mendapat perlakuan istimewa, saya masih sering merasakan diperlakukan apa adanya dan bahkan semena-mena. &lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;Anehnya, saya lebih suka tidak menjadi perhatian, tidak dipedulikan, dan diperlakukan apa adanya atau bahkan semena-mena. Tahu kenapa? Karena itulah hidup saya yang sebenarnya. Itulah saat saya tidak berpura-pura menjadi orang lain. Itulah saat saya menjadi diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-8769936166635379728?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/8769936166635379728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/saya-sudah-sering-menjadi-idola.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8769936166635379728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/8769936166635379728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/saya-sudah-sering-menjadi-idola.html' title='Saya Sering Jadi Idola Indonesia'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/R87RGek0KTI/AAAAAAAAAAM/B-CM90Sy9c8/s72-c/wNo7dJP25j.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-1429326084579405159</id><published>2008-03-05T17:02:00.001+07:00</published><updated>2008-03-05T17:07:51.527+07:00</updated><title type='text'>Bukan Hilangnya Yang Kutangisi Hanya Caranya Yang Kusesali</title><content type='html'>Hari ini saya sedang kesal dengan sepeda motor saya. Bukan karena mogok. Bukan pula karena penampilannya jadi bobrok hingga mempermalukan saya di depan kolega. Tapi sepeda motor itu membuat saya harus merogoh uang tambahan yang tidak saya rencanakan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya bukan uang yang harus saya keluarkan itu yang membuat hati dongkol. Karena jumlahnya memang kecil, meski saya tidak mengatakan sangat kecil karena kadang sejumlah itu sudah bisa menyelamatkan hidup saya. Tapi karena keluarnya uang itu dengan sebab dan cara yang sangat memukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He..he..he.., jangan khawatir, saya tidak dirampok kok. Mana ada perampok mau uang dalam jumlah kecil. Biasanya kan perampok maunya uang yang besar. Malah ada perampok yang hanya mau uang besaaaar sekali. Ya itu, si perampok negara. Perampok yang model gini ini kan ga mungkin tho mau uang dalam jumlah kecil dengan nominal di bawah seribu rupiah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang saya itu juga tidak dicuri lho. Nasib sekali kalau ada pencuri uang sejumlah itu. Udah jumlahnya kecil, dosa pula. Tambah nasib lagi kalau pas melakukan aksinya itu si pencuri kepergok. Wah, pasti deh mukanya bakalan bopeng. Ih! Membayangkan uang saya yang tidak sampai seribu rupiah itu dicuri orang dan pencurinya kepergok terus dihajar ramai-ramai oleh massa sungguh membuat dada saya sesak. Ya, sesak karena mengingat sudah berapa banyak nyawa melayang hanya gara-gara jumlah harta yang tidak seberapa. Nyawa melayang hanya karena sandal rombeng. Juga yang mati karena sebatang rokok. Dan ngeri juga karena saya tidak bisa berbuat apa-apa melihat yang demikian itu… Dasar saya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang jelas uang saya itu tidak jatuh. Dompet saya masih lumayan bagus dan saku celana saya tidak ada yang robek yang bisa menjadi jalan keluar uang itu untuk kabur dari kepemilikan saya. Dan ini dia pikiran buruk saya. Saya katakan pikiran buruk karena memang tidak baik. Bayangkan, saya berpikir lebih baik uang itu jatuh dan ditemukan oleh orang, dan akan lebih baik lagi jika yang menemukan itu orang yang hendak mati karena masuk angin akut yang untuk menyelamatkan nyawanya ia perlu uang receh. Ya, meskipun sama-sama lepas dari kepemilikan saya, cara ini lebih saya sukai dari pada cara yang benar-benar menimpa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya tidak dirampok, tidak jadi dicopet, dan uang saya tidak jatuh. Uang itu harus lepas dari saya hanya karena saat mengantar seorang saudara saya menghentikan sepeda motor di pinggir jalan yang diaku-aku sebagai lahan parkir. Bayangkan, saya sama sekali tidak meninggalkan sepeda. Maka dilihat dari sudut pandang manapun saya tidak bisa dikatakan memarkir sepeda kan? Dan lagi, saya melakukan itu, menghentikan sepeda motor, tepat di pinggir jalan raya di dekat sebuah kotak ATM. Di pinggir jalan raya! Tidak ada tanda apapun yang menunjukkan bahwa tempat itu adalah tempat parkir karena mana mungkin jalanan umum diaku-aku sebagai lahan parkir? Dan saat saya akan pergi dari tempat itu, si jukir sialan ‘menodong’ uang parkir pada saya. Coba beri tahu saya logika mana yang membenarkan tindakan si jukir ajaib ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, saya marah, marah sekali. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan lepasnya uang itu tetapi caranya yang menurut saya sangat dzalim yang membuat tensi darah saya meninggi. Sejak kapan seorang jukir bisa menarik biaya parkir padahal si empunya sepeda tidak parkir hanya berhenti sebentar dan itupun di pinggir jalan? Ah, sungguh saya tidak habis pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tadi pagi saya ketemu seorang pengemis tua. Dia menyodorkan tangan dengan menghiba saat bertemu dengan saya. Sungguh, ingin rasanya saya memberinya uang receh. Tapi karena sedang tergesa dan uang itu berada di dalam dompet dan dompet saya berada di dalam saku celana yang berkancing, saya tidak jadi memberi melakukan niat baik saya. Dan kini uang itu saya serahkan begitu saja pada seorang tukang parkir yang tidak melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, seandainya tadi saya mau meluangkan sedikit waktu untuk mengambil uang dan memberikannya kepada pengemis tua itu……&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-1429326084579405159?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/1429326084579405159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/bukan-hilangnya-yang-kutangisi-hanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1429326084579405159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/1429326084579405159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/bukan-hilangnya-yang-kutangisi-hanya.html' title='Bukan Hilangnya Yang Kutangisi Hanya Caranya Yang Kusesali'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-7813644629748906495</id><published>2008-03-04T17:45:00.001+07:00</published><updated>2008-03-04T17:58:46.474+07:00</updated><title type='text'>Tentang Tukang Pukul</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pernah dengar istilah “tukang pukul”? pertama kali mendengar istilah tersebut, apa yang anda bayangkan? Pria berotot dengan bobot besar berperawakan seperti petinju dan bermuka sangar. Mungkin demikian kebanyakan orang membayangkan. Tapi apakah anda pernah berpikir bahwa bayangan seperti itu tidak selamanya benar? Ya, sekarang ini tukang pukul tidak lagi hanya menjadi pekerjaan orang-orang dengan ciri di atas. Banyak orang yang jauh dari penampilan di atas kini juga berprofesi sebagai tukang pukul.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Fenomena berubahnya perawakan tukang pukul itu tentu saja tidak terjadi dengan serta merta tanpa sebab musabab. Pergeseran ini lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan jaman dan berubahnya kebutuhan. Faktanya, syarat memiliki tubuh besar dan berotot untuk menjadi tukang pukul terjadi di masa-masa lalu ketika orang hanya bisa ditakut-takuti oleh hal semacam itu. Ketika orang-orang akan bergidik melihat orang dengan cirri tersebut, ketika itu pula para bos memilih orang semacam itu untuk menjadi pengawal atau tukang pukul. Kini, ketika jaman telah berubah dan rasa takut tidak lagi hanya dipengaruhi oleh muka sangar, cara bos-bos merekrut orang-orang untuk menjadi tukang pukulpun berubah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di era kebebasan dalam berbagai hal dan dalam berbagai makna telah mendorong semua orang untuk tidak lagi takut pada gertakan. Jika ada orang yang berusaha menakut-nakuti dengan ancaman, orang-orang masa kini tidak lagi khawatir. Toh ada pihak penegak hukum yang bisa dimintai pertolongan. Sehingga, cara kerja para tukang pukul masa lalu yang biasanya menakuti-nakuti orang dengan ancaman bisa jadi malah akan merugikan bos mereka sendiri. Untuk itu, para bos harus memiliki cara baru menakut-nakuti. Cara baru ini tidak boleh membahayakan posisi mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan tentu saja harus membuat korbannya ketakutan. Cara-cara seperti ini tidak bisa dilakukan oleh para tukang pukul yang hanya mengikuti perintah bos. Kini tukang pukul juga diharuskan memiliki pikiran cerdas. Fisik dan tampang bukan lagi yang utama. Yang lebih penting dari semua itu adalah kecerdasan. Karena itulah, fenomena perekrutan tukang pukulpun berubah. Toh, menakut-nakuti orang kini cukup dengan membawa senjata api. Tanpa ba-bi-bu, tunjukkan pistol anda, maka target anda akan ketakukan. Tampang sangar tidak lagi diharuskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Nah, jika kriteria untuk menjadi tukang pukul yang notabene merupakan pekerjaan kasar terendah pun bisa berubah karena perkembangan jaman, maka hal yang sama pasti terjadi di bidang lain. Guru yang baik di masa lalu, belum tentu dianggap sebagai seorang guru yang becus di masa kini. Demikian juga, siswa teladan di masa lalu juga tidak mesti dianggap siswa teladan di masa kini. Karena itu, jika kita ingin selamanya sesuai dengan jaman, jangan pernah berhenti belajar. Dari waktu ke waktu kita harus melihat perkembangan jaman. Teruslah upgrade ilmu biar tidak dianggap sebagai bagian dari masa lalu. Bukankah amat menyakitkan jika kita dianggap &lt;b&gt;&lt;i&gt;hanya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; sebagai bagian dari masa lalu?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-7813644629748906495?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/7813644629748906495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/tentang-tukang-pukul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7813644629748906495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7813644629748906495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/tentang-tukang-pukul.html' title='Tentang Tukang Pukul'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-2754818240613811550</id><published>2008-03-03T19:38:00.000+07:00</published><updated>2008-03-03T16:38:53.660+07:00</updated><title type='text'>Kakak-kakak Saya Orang Bahagia</title><content type='html'>Saya selalu kagum dengan dua kakak saya. Bukan karena prestasi akademik ataupun karena keberhasilan ekonomi yang mereka dapatkan. Karena dua hal itu tidak mereka miliki. Secara akademik mereka tidak masuk kategori berprestasi karena pendidikan mereka memang terbatas. Dalam kehidupan ekonomi mereka juga biasa-biasa saja karena penghasilan yang mereka dapatkan sehari-hari tidak bisa dikatakan banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di balik itu semua kakak-kakak saya memiliki sesuatu yang patut saya dan anda cemburui. Jangan salah sangka. Yang saya cemburui bukan keberhasilannya mendapatkan istri cantik atau menjadi menantu orang kaya. Lagi-lagi, dalam dua hal inipun mereka biasa-biasa saja. Bahkan saya berani bilang bahwa istri saya lebih cantik dan mertua saya lebih kaya. Stop! Jangan berpikir saya matre. Saya tidak matre hanya bernasib baik He..he..he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali tentang kakak-kakak saya, dilihat dari sudut pandang manapun kakak-kakak saya adalah orang sederhana, bukan orang kaya bukan pula orang terpandang. Akan tetapi hidup mereka selalu bahagia. Tentu saja bagi anda mungkin kata bahagia di sini memiliki banyak arti. Bagi saya, ukuran bahagia sederhana saja. Jika anda bisa tidur nyenyak dan makan enak serta bisa tertawa saat orang lain melucu di depan anda, maka bagi saya anda termasuk orang yang bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan demikianlah kakak-kakak saya. Dengan kondisi hidup yang pas-pasan dan persoalan hidup yang saya yakin tidak kalah banyak dari pada persoalan hidup anda dan saya, mereka setiap hari masih bisa tidur nyenyak meski dikerubuti nyamuk, makan enak dengan lauk seadanya, dan tertawa lepas saat menonton acara lawak. Sedangkan saya, seringkali susah memejamkan mata dan tak bisa tertawa saat lelucon di hadapan saya. Uh, kasian deh saya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ingin bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kakak-kakak saya, maka saya amati kehidupan mereka. Setelah sekian lama, akhirnya saya temukan juga kunci kebahagiaan itu. Yang membuat saya kaget adalah bahwa kunci kebahagiaan mereka adalah hal yang sangat sederhana tapi tidak saya miliki. Ia adalah rasa cinta pada pekerjaan. Tidak percaya? Terserah anda. Tapi ijinkan saya menjelaskan kenapa rasa cinta pada pekerjaan bisa membuat kakak-kakak saya senantiasa hidup dalam suasana bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini, pekerjaan kakak saya yang pertama adalah pedagang kaki lima. Dia jualan nasi goreng dan saudara-saudaranya seperti mie goreng dan mie rebus. Sedangkan profesi kakak saya yang kedua adalah penjahat, eh sori penjahit. Dua profesi ini memiliki satu kesamaan yakni kerja dan penghasilan mereka tidak menentu. Kadang satu hari pekerjaan banyak dan hasilnya lumayan, tapi kadang di lain waktu pekerjaan sepi dan uang yang didapat tidak seberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu anda bisa membayangkan bagaimana hidup kakak-kakak saya. Tapi, jangan dulu membayangkan. Karena bisa jadi yang anda bayangkan keliru. Apakah anda membayangkan apa yang mendorong mereka untuk berprofesi demikian, pedagang kaki lima dan penjahit? Ah, sayang sekali kalau anda tidak membayangkannnya. Karena inilah sebetulnya yang membuat saya berani mengatakan bahwa cinta pada pekerjaan lah yang membuat kakak-kakak saya bahagia. Tapi, baiklah. Saya jelaskan. Yang mendorong mereka untuk memilih profesi ini adalah rasa cinta mereka pada masak dan menjahit. Kakak tertua suka masak, dan kakak saya yang lainnya suka menjahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena didorong oleh rasa cinta itulah mereka menjalani pekerjaan dengan gembira. Bagi kakak tertua, jika ada orang pesan nasi goreng dia akan membuat pesanan itu dengan senang hati, dan jika pembeli sedang sepi dia senang karena bisa istirahat. Begitu juga bagi kakak kedua, jika ada orang datang menjahitkan baju dia akan mengerjakannya dengan sepenuh hati dan jika tidak ada yang harus dijahitnya ia bisa juga bisa istirahat. Maka, bagi kedua kakak saya ini saat bekerja dan saat tidak bekerja sama-sama menyenangkan. Jadi wajar jika hidup mereka sehari-hari selalu dipenuhi kegembiraan. Bukankah saat ini banyak orang yang tidak tenang hidupnya karena dikejar-kejar pekerjaan? Bagi orang-orang semacam ini (termasuk saya dan anda) waktu bekerja adalah waktu yang penuh tekanan dan waktu berkumpul dengan keluarga belum tentu menjadi saat yang menyenangkan. Bagaimana bisa menyenangkan jika ketika berkumpul dengan keluarga pun kita masih harus mengingat-ingat beban pekerjaan yang belum kita selesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk satu hal ini, saya berniat mengikuti jejak kakak-kakak saya. Saya akan berusaha mencintai pekerjaan saya saat ini. Tapi, kalau tetap saja saya tidak bisa mencintainya maka saya akan mencari pekerjaan lain yang memang saya sukai. Bagaimana dengan anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-2754818240613811550?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/2754818240613811550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/kakak-kakak-saya-orang-bahagia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2754818240613811550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/2754818240613811550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/03/kakak-kakak-saya-orang-bahagia.html' title='Kakak-kakak Saya Orang Bahagia'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-4570599315245163512</id><published>2008-02-25T11:57:00.000+07:00</published><updated>2008-02-24T11:58:35.960+07:00</updated><title type='text'>Diam tapi tak tinggal Diam</title><content type='html'>Saya sudah terbiasa bangun paling lambat dari anggota keluarga yang lain. Sejak kecil saya tidak bisa menang kalau harus lomba bangun pagi-pagi. Tidak hanya itu, saya juga tidak bisa kalau diminta tidur sore-sore. Kalau anggota keluarga yang lainnya beranjak ke buaian mimpi saat dentang jam menunjukkan pukul sembilan atau sepuluh malam, maka saya baru bisa memejamkan mata dan mengembara ke alam mimpi saat jam di rumah kami menunjukkan pukul dua atau tiga pagi. Jadi lagi-lagi saya kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kebiasaan semacam itu, kalau saja ayah saya adalah orang lain tentu saya akan tiap pagi akan mendapat kata-kata tidak menyenangkan. Dan tentu saja kata-kata kurang enak itu juga akan saya dengar lagi saat waktunya berangkat ke peraduan. Kalau saja demikian anda tentu bisa membayangkan betapa tidak enaknya hidup saya. Mau tidur kena marah. Bangun tidurpun kena damprat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, ayah saya bukan orang tua semacam itu. Benar bahwa beliau tidak suka saya bangun kesiangan ataupun tidur larut pagi. Juga benar beliau tidak tinggal diam melihat kebiasaan saya yang satu ini. Akan tetapi, tidak tinggal diamnya ayah saya itu bukan berarti beliau melukai perasaan saya baik dengan kata-kata maupun dengan tindakan. Memang, beliau tidak tinggal diam. Akan tetapi beliau diam saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, mungkin anda menjadi bingung. Bagaimana mungkin diam saja dikatakan tidak tinggal diam? Atau mana mungkin tidak tinggal diam kok malah diam saja? Saya yakin itu yang saat ini berkecamuk di  kepala anda. Tapi, tolong sabar sebentar. Ijinkan saya menjelaskan maksud saya. Oke? Boleh saya lanjutkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini, ayah saya memang tidak melakukan apa-apa dalam arti beliau tidak membentak saya ataupun menyeret saya dari tempat tidur. Beliau juga tidak mengungkit-ungkit kebiasaan buruk saya tersebut saat saya sudah bangun. Yang membuat saya sangat bersyukur, beliau juga tidak pernah memberitahukan kebiasaan buruk saya itu, bahwa saya senang bangun kesiangan, kepada orang lain lebih-lebih yang jenis kelaminnya perempuan dan usianya masih muda yang mungkin bisa menjadi menantunya. Yang terakhir inilah yang paling saya syukuri. Bayangkan kalau beliau mengumbar kejelekan saya yang satu ini pada  tiap gadis yang beliau temui, tentu saya tidak akan lagi punya nyali untuk mendekati mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, beliau memang dalam hal tersebut diam saja. Akan tetapi, beliau sendiri selalu bangun sangat pagi. Jam tiga biasanya beliau sudah bangun untuk menunaikan sholat malam dan dilanjutkan dengan membaca Al Quran. Lebih dari itu, saat membaca Al Quran beliau sering melakukannya di dekat saya. Jadi, meski saya tidak ikut bangun, bacaan beliau sempat membuat saya membuka mata walau kemudian saya tutup kembali. Dan apakah ayah saya menarik-narik selimut saya? Tidak. Beliau bahkan sering menambah selimut saya sehingga saya semakin nyenyak tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat subuh menjelang, anda mungkin sudah bisa menebak, ayah saya pergi ke masjid dan tidak jarang beliau yang mengumandangkan adzan. Lalu saya? Saya masih dibuai mimpi dan  tidur nyenyak berselimut hangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah biasanya kakak-kakak saya mulai bangun satu persatu. Sama seperti ayah, mereka juga tidak ada yang mengganggu tidur saya. Mungkin mereka berpikir kalau ayah tidak membangunkan kenapa mereka harus melakukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, ayah saya diam dengan tidur saya yang bangunnya kesiangan. Tapi, saya yakin dalam doa tiap malam beliau selalu meminta kebaikan untuk saya. Dan tentu saja diamnya ayah saya serta doa beliau tiap malam bukannya tidak menghasilkan apa-apa. Dengan sendirinya kini saya telah sanggup untuk bangun malam dan menunaikan sholat tahajud. Dan asal anda tahu, saya terdorong untuk bangun malam dan menunaikan sholat tahajud bukan oleh kemarahan beliau melihat saya bangun kesiangan. Saya melakukan itu semua karena contoh nyata yang beliau tunjukkan pada saya. Saya mengikuti beliau bukan karena paksaan tapi karena kamauan saya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, seandainya semua orang tua lebih banyak memberi contoh dari pada ceramah…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-4570599315245163512?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/4570599315245163512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/02/diam-tapi-tak-tinggal-diam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/4570599315245163512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/4570599315245163512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/02/diam-tapi-tak-tinggal-diam.html' title='Diam tapi tak tinggal Diam'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-7608516605334502188</id><published>2008-02-23T02:27:00.001+07:00</published><updated>2008-02-23T11:35:46.839+07:00</updated><title type='text'>Hadiah Menghadiahi</title><content type='html'>Tak terasa sudah dua bulan lebih saya tidak memposting tulisan di blog ini. Bukan, bukan karena bosan menulis sehingga blog ini tidak pernah saya update. Tidak bisa mengambil hikmah dari yang saya alami? Bukan. Saya masih tetap berusaha mencari pelajaran dari apapun yang menimpa diri saya ataupun yang terjadi pada orang lain. Semuanya hanya karena rasa-rasanya waktu saya habis untuk menyelesaikan pekerjaan rutin. Yach, meskipun mencari hikmah juga merupakan pekerjaan rutin, akan tetapi menuliskan hikmah yang saya pelajari apalagi untuk membaginya dengan anda bukan pekerjaan yang bisa saya lakukan sambil lalu. Kenapa? Karena saya menyebutnya hikmah. Kalau saya memberinya sebutan lain 'apa saja' misalnya, tentu saya bisa kapanpun membaginya dengan anda. Saya ingin saat membaca tulisan ini, anda bisa menganggukkan-anggukkan kepala sambil berucap "benar, saya rasa itulah pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah alasan kenapa blog ini lama tidak diupdate. Ah, pede sekali saya menjelaskan itu semua. kok sepertinya tulisan saya sudah banyak ditunggu-tunggu pembaca. Padahal setahu saya yang paling rutin mengunjungi blog ini ya saya sendiri. Tapi tidak apa-apa lah. Biar saya tambah semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tibalah giliran saya menceritakan hikmah atau pelajaran atau wisdom yang saya dapatkan. Hemm, hikmah apa ya… Aha, mungkin cerita berikut ini akan ada hikmah di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya begini, beberapa waktu yang lalu saya membeli beberapa novel untuk yang akan saya jadikan oleh-oleh untuk keponakan saya. Saya memilih novel karena saya tahu keponakan saya itu suka membaca. Disbanding membaca buku pelajaran, dia lebih suka membaca cerita. Nah, biar sambil membaca cerita dia bisa memperoleh sesuatu maka saya berniat memberinya novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keinginan untuk memberikan novel yang bisa memberikan hikmah itulah, saya harus menghabiskan waktu cukup lama untuk memilih. Memang, tidak semua novel yang sekarang ini dijual di toko-toko buku patut diberikan untuk dibaca remaja. Dan keponakan itu baru menginjak masa remaja. Maka, saya juga harus sangat berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, setelah mencari-cari beberapa lama, akhirnya novel yang saya inginkan ketemu. Tidak perlu saya sebutkan judul novelnya. Yang jelas novel itu mengajarkan norma yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pulang saya berikan novel itu pada keponakan saya. Dia tampak sangat senang dengan pemberian saya. Dalam waktu satu minggu novel itu selesai dibacanya. Saya juga senang karena dia begitu bersemangat untuk menyelesaikan novel pemberian saya. Meskipun tidak saya tanyakan pelajaran apa yang bisa diambil dari novel itu, saya yakin keponakan saya bisa mendapatkan hikmah. Dan itu saja sudah membuat saya sangat bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, karena melihat semangat keponakan untuk membaca novelo-novel jenis itu, maka  beberapa kali berikutnya saya memberinya novel-novel yang setema dan ditulis oleh pengarang yang sama. Di sinilah kemudian saya menemukan hal yang lebih membahagiakan lagi. Ayah saya, yang sudah cukup berumur ternyata iseng-iseng di saat senggang menggunakan waktunya untuk membaca novel-novel pemberian saya. Dan, coba tebak, beliau sangat menyukai cerita-cerita di dalamnya. Saking sukanya, meskipun sudah selesai dibaca ayah saya masih suka membuka-buka novel tersebut lagi. Tidak hanya itu, beliau juga dengan penuh semangat menceritakan kisah di dalam novel tersebut pada orang-orang yang berkunjung ke rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, hal itu tidak saya sia-siakan. Tiap kali pulang kini saya berusaha menyempatkan diri mampir ke toko buku untuk membeli novel-novel yang menurut saya akan membuat ayah saya senang. Kini, tiap kali saya pulang membawa novel tidak hanya keponakan saya yang senang. Ayah saya juga sangat bahagia. Dan itu semua bisa saya lakukan hanya dengan membawa buku. Tidak sulit kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus, apa hikmah yang bisa diambil dari kejadian itu? Apa ya? Oh ya, hikmahnya adalah saya semakin ingin menjadi penulis cerita. Kebahagiaan ayah saya tiap kali beliau membaca novel semakin mengukuhkan keinginan saya untuk menjadi penulis. Tidak nyambung ya hikmah dengan kejadiannya?  Mungkin. Tapi bagi saya itu sangat nyambung. Bukankah kita seharusnya bisa mengambil hikmah  yang bagaimanapun dari peristiwa apapun? Bukankah di balik satu kejadian tidak hanya tersimpan satu pelajaran?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-7608516605334502188?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/7608516605334502188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/02/hadiah-menghadiahi_22.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7608516605334502188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7608516605334502188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2008/02/hadiah-menghadiahi_22.html' title='Hadiah Menghadiahi'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-371244071881273872</id><published>2007-12-19T14:45:00.000+07:00</published><updated>2007-12-19T14:51:03.966+07:00</updated><title type='text'>STRATEGI HIDUP</title><content type='html'>&lt;p&gt;Apakah anda orang yang sangat sibuk hingga tak punya waktu untuk untuk bersenang-senang sehingga anda merasa hidup anda tidak menyenangkan? Kalau jawaban anda iya, maka mungkin anda perlu belajar dari bu Wina. Ia adalah orang yang sangat sibuk sebagai seorang ibu rumah tangga, yang memiliki begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan namun masih bisa menjalani hidup dengan tersenyum. Apa resepnya hingga ia bisa selalu menjalani hidup tanpa beban? Tulisan ini akan mengulas secara tuntas cara mereka menjalani hidup dengan mobilitas tinggi tanpa ada ketegangan di dalam otak mereka dan karenanya mereka bisa selalu tersenyum dalam keadaan yang bagaimanapun.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Sebagai seorang ibu rumah tangga yang harus merawat tiga orang putranya, Bu Wina hanya memiliki sedikit waktu untuk memenuhi hasrat pribadinya. Sehari-hari yang ia kerjakan adalah mengurusi segala keperluan anak-anak serta suaminya. Di pagi hari, sebelum anggota keluarga lain membuka mata, ia telah bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan sarapan. Sebelum subuh dia harus sudah mulai masak jika tidak ingin anak-anak dan suaminya kelaparan di sekolah dan di tempat kerja. Selain itu, ia juga harus mencuci pakaian kotor yang tentu saja bukan hanya pakaiannya sendiri. Sebagian besar pakaian yang ia cuci tiap pagi adalah pakaian anak-anaknya. Maklum, dengan tiga orang putra yang semuanya masih tergolong anak-anak, pakaian kotor terasa tak pernah habis meskipun telah dicuci tiap hari. Apalagi ditambah pakaian suaminya yang tiap hari setidaknya harus mengenakan tiga set pakaian yang berbeda. Pagi hari, suaminya harus mengenakan pakaian formal untuk bekerja. Sepulang kerja ia harus mengenakan pakaian santai. Selain itu, untuk pakaian ibadah sehari-sehari juga set yang berbeda. Belum lagi ditambah pakaian yang ia kenakan sendiri. Meskipun hanya sebagai ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar, tetap saja ia harus mengenakan beragam pakaian dalam satu hari. Untuk berbelanja pakaian yang dikenakan berbeda dengan pakaian untuk bekerja di rumah. Sehingga dalam satu hari ada begitu banyak pakaian yang harus ia cuci. Dan sekali lagi, pekerjaan ini seolah tidak ada habis-habisnya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Setelah semua anggota kelurga keluar rumah, suami bekerja sedangkan anak-anak berangkat sekolah, Bu Wina masih harus menghadapi pekerjaan lain. Ia masih harus mencuci piring yang tadi digunakan untuk sarapan serta perkakas dapur yang tadi digunakan untuk masak. Sebagaimana mencuci baju, pekerjaan ini pun jelas tiada akhirnya. Tiap hari pasti ada piring, gelas, dan perkakas dapur yang kotor. Tentu saja, karena tiap hari mereka harus makan. Tidak hanya itu, mereka dalam satu hari harus makan tiga kali. Ini berarti bahwa dalam satu hari bu Wina harus mencuci piring sebanyak tiga kali. Memang, dia bisa saja memilih untuk mencuci piring kotor sekali dalam sehari. Akan tetapi itu sama artinya dengan menumpuk pekerjaan yang tentunya akan lebih memberatkan.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Tidak hanya itu saja yang harus dikerjakan oleh bu Wina setelah semua orang pergi. Ia juga harus membersihkan rumah. Menyapu, mengepel lantai, dan merapikan daun-daun di pekarangan adalah tugas berikutnya yang harus dikerjakan oleh bu Wina setiap hari.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Praktis, dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikan, bu Wina hanya memiliki sedikit waktu untuk bersenang-senang. Dan di antara hal  yang bisa membuatnya merasa terlepas dari semua beban adalah menonton TV. Tentu saja masih ada jenis hiburan lain yang bisa membuat Bu Wina melepaskan penat pikiran, seperti berkunjung ke rumah tetangga, berbelanja, dan membaca majalah wanita. Semua itu sanggup membuat ibu yang senantiasa bekerja ini merasa bahwa hidupnya adalah sebuah anugrah. Mungkin anda bertanya bagaimana bisa hanya dengan hiburan semacam itu bu Wina bisa merasa bahagia. Padahal banyak orang yang hiburannya bahkan sampai keluar negeri, akan tetapi hidupnya tetap seperti orang yang tenggelam di dalam air, megap-megap, atau tak pernah merasa bahagia. Memang benar bukan jenis hiburannya yang membuat bu Wina selalu merasa bahagia melainkan jiwa dan pikirannya. Meskipun senantiasa dikerubuti oleh tugas yang terasa membatasinya dalam mendapatkan hiburan, bu Wina tidak pernah meratapi apa yang dikerjakannya. Pada saat mencuci piring, memasak, dan membersihkan rumah, dia tidak pernah sekali pun mengandai-andaikan pekerjaannya tidak ada dan bisa memiliki banyak waktu luang untuk pergi ke tempat wisata bersama keluarga. Justru sebaliknya, dia begitu menikmati pekerjaannya itu dan menganggap apa yang dia lakukan adalah sebuah hiburan. Sekali-kali dia juga membayangkan keadaan orang yang memiliki begitu banyak waktu luang dan mempergunakan waktu yang dimiliki itu dengan kegiatan yang tiada artinya yang justru akan menambah penat pikiran. Karena itulah, meskipun seolah-olah tidak memiliki waktu untuk mengejar kebutuhannya sendiri, bu Wina selalu kelihatan bahagia. Ya, itu semua  karena dia selalu mensyukuri keadaan.  &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-371244071881273872?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/371244071881273872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/strategi-hidup.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/371244071881273872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/371244071881273872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/strategi-hidup.html' title='STRATEGI HIDUP'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-3567273036516452224</id><published>2007-12-15T16:33:00.000+07:00</published><updated>2007-12-15T16:35:28.968+07:00</updated><title type='text'>Menikmati Malam</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Jaman telah berubah. Tidak seperti dahulu, kini serasa tidak ada beda antara malam dengan siang. Malam yang dulu diidentifikasi oleh suasana sepi kini sudah tidak sama lagi. Keramaian justru saat ini semakin banyak didapati ketika malam telah menjelang. Sampai pagi datang pusat-pusat hiburan malam sekarang buka dan memberikan berbagai macam suguhan yang memuaskan nafsu manusia. Ironisnya, sebagian tempat hiburan malam itu menjadi ramai karena menjadi tempat untuk melampiaskan nafsu para hedonis yang kebanyakan terkait dengan dunia seks dan obat-obatan terlarang serta minuman keras yang memabukkan.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentu hal seperti ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan keadaan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Pada saat itu ketika malam telah datang hanya kesepian saja yang menyelimuti. Baru ketika pagi menjelang kegiatan manusia dimulai. Siang menjadi waktu yang paling dinanti karena pada waktu itulah manusia mencari nafkah dan mencari hiburan. Kini setelah sekian lama jaman berlalu, kebanyakan orang justru tidak senang ketika pagi datang karena dengan datangnya pagi berarti berakhirlah waktu mereka untuk bersenang-senang.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Akan tetapi, apakah para penikmat suasana malam hanya penganut hedonisme saja? Tentu saja jika kita menjawab pertanyaan itu setelah kita mengunjungi tempat-tempat hiburan malam maka kita akan mengiyakannya. Karena di tempat-tempat hiburan malam tersebut kita tentu hanya akan mendapati bahwa para pengunjungnya adalah mereka yang haus akan hiburan dan tidak bisa hidup tanpa itu semua. Para pengunjung tempat-tempat hiburan malam itu, meskipun tidak semuanya, kebanyakan adalah mereka yang menganut free seks dan hidup foya-foya. Sehingga, di tempat-tempat hiburan malam itu kita hanya akan melihat mereka yang sedang melampiaskan nafsu hewani mereka untuk menenggak minuman keras dan menggauli para wanita yang menjajakan diri. Maka, tidak salah jika kemudian kita menjawab bahwa orang-orang yang menikmati malam adalah mereka yang menganut hedonisme.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Namun, jika kita menjawab itu dengan membaca riwayat para sufi jaman islam awal maupun jaman islam pertengahan, mungkin jawaban kita akan sedikit berbeda. Sebagaimana tertulis di dalam riwayat para sufi seperti Robiah Al Adawiyah, Abu Yazid Al Bustami, Hasan Al Basri, dan lain sebagainya, malam adalah waktu yang paling dinantikan oleh mereka. Robiah misalnya, beliau selalu menghabiskan malamnya untuk bersujud menyembah sang Khalik yang olehnya disebut sang Kekasih. Jika satu malam saja terlewati tanpa menemui kekasihnya maka diapun akan sangat menyesal. Hal serupa juga dilakukan oleh para sufi lainnya. Mereka selalu menunggu dan menikmati waktu malam. Dengan membaca riwayat para sufi ini tentu jawaban kita atas pertanyaan di atas akan berbeda. Sebab, saat ini pun tentu masih ada manusia yang menikmati dan menghabiskan waktu malam untuk senantiasa menyembah sang Khalik, hal yang berseberangan dengan apa yang dilakukan oleh para penganut hedonisme di atas.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sehingga, bisa disimpulkan di sini bahwa saat ini waktu malam menjadi sebuah pilihan: apakah akan dihabiskan untuk mencari hiburan dengan cara melampiaskan nafsu kebinatangan kita ataukah dengan mendekatkan diri kepadaNya. Keduanya sama-sama akan membuat kecanduan. Bedanya, yang pertama akan mengantarkan kita pada penyesalan sedangkan yang kedua akan membawa kita pada kebahagiaan. Terserah anda mau pilih yang mana karena anda sendirilah yang akan menanggung akibat dari pilihan anda tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-3567273036516452224?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/3567273036516452224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/menikmati-malam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/3567273036516452224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/3567273036516452224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/menikmati-malam.html' title='Menikmati Malam'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-7917382966176358305</id><published>2007-12-12T16:18:00.000+07:00</published><updated>2007-12-12T16:21:23.368+07:00</updated><title type='text'>Kita Mampu, Ngapaian Bergantung Pada Orang Lain?</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Berharap agar orang lain membuka jalan bagi kita adalah perbuatan yang sia-sia dan juga akan menimbulkan luka. Saat anda berharap mendapat sesuatu atau menjadi sesuatu, misalnya ingin menjadi seorang pesinetron, dan anda menggantungkan harapan itu pada seseorang yang anda kenal (apalagi orang yang tidak anda kenal), maka anda harus siap-siap untuk kecewa. Hanya sedikit dari orang seperti anda yang akan sampai pada tujuan semula. Kebanyakan dari orang semacam anda akan menerima kenyataan bahwa waktu anda terbuang dengan sia-sia.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Bagaimanapun dan dalam keadaan seperti apapun, yang paling peduli dengan anda adalah anda sendiri. Salah besar ketika anda berpikir bahwa orang lain lebih mementingkan diri anda dari pada kepentingannya sendiri. Meskipun kadang ada orang yang mau peduli pada keadaan anda, tidak berarti bahwa orang itu akan hanya mempedulikan anda dan tidak mempedulikan kepentingannya sendiri. Yang benar adalah sebaik apapun orang lain, ia hanya akan bisa membantu anda sebisanya. Dan, harus anda tahu, biasanya kemampuannya membantu kita masih jauh dari apa yang kita inginkan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Dalam hal keinginan untuk menjadi pesinetron di atas, orang lain (sebaik apapun ia) hanya akan bisa membantu kita manakala ia punya waktu, tenaga, biaya, dan jaringan. Jika salah satu dari keempat hal tersebut tidak dimiliki, maka tentu ia akan kesulitan membantu kita. Dan, tidak boleh anda lupa, bahwa orang lain juga memiliki kepentingannya sendiri. Bagaimana mungkin orang lain akan membantu mempromosikan anda menjadi pesinetron jika ia sendiri sedang dililit masalah hutang. Apakah dalam keadaan seperti itu anda akan memaksanya untuk mempromosikan anda dan mengabaikan kepentingannya sendiri. Rasanya, meskipun anda paksa ia tetap akan mendahulukan kepentingannya sendiri. Baru setelah itu, MUNGKIN ia akan membantu mencari jalan bagi anda untuk menjadi pesinetron. Tentunya, jika anda telah mengandalkannya dan mempercayakan kepadanya cita-cita anda, anda pasti akan kecewa berat saat menemui keadaan seperti ini.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Nah, kekecewaan seperti ini akan terus menerus anda telan jika anda masih mengharapkan orang lain menjadi pembuka jalan bagi cita-cita anda. Karena itu, agar anda tidak menelan kekecewaan karena harapan yang terlalu tinggi pada orang lain, maka sebaiknya mulai sekarang jangan menyerahkan nasib anda pada orang lain. Kejarlah cita-cita anda dengan usaha sendiri. Ketika anda merasa menemukan orang yang bisa membantu, jangan seratus persen anda serahkan segalanya pada orang itu. Biarkan dia membantu, akan tetapi tetap anda yang paling agresif mengejar keinginan tersebut, bukannya berhenti karena anda merasa sudah ada orang lain yang bisa dipercaya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Tapi, ada kabar baik bagi anda yang terbiasa menyerahkan nasib pada orang lain yang memang mau membantu. Perbuatan anda ini masih lebih baik. Lho kok? Iya, perbuatan semacam itu masih lebih baik dibanding menggantungkan diri pada orang yang tidak anda kenal dan tidak menyatakan kesediaannya untuk membantu anda. Apakah ada orang semacam ini? Banyak. Saat ini ada begitu banyak orang yang menggantungkan harapan pada orang lain padahal orang itu tidak ia kenal dan menyatakan kesediaan untuk mewujudkan harapan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-7917382966176358305?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/7917382966176358305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/kita-mampu-ngapaian-bergantung-pada.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7917382966176358305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/7917382966176358305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/kita-mampu-ngapaian-bergantung-pada.html' title='Kita Mampu, Ngapaian Bergantung Pada Orang Lain?'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-6773969644360139071</id><published>2007-12-07T16:54:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T17:39:41.516+07:00</updated><title type='text'>Saya dan Anda Sempurna</title><content type='html'>Saya termasuk orang yang beruntung. Ketika dilahirkan ke dunia ini, seluruh anggota tubuh saya lengkap. Tidak ada satu pun yang dikurangi. Tangan ada dua. Kaki dua. Mata dua. Telinga dua. Juga tidak ada yang ditambahi. Hidung saya satu. Mulut satu. Kepala juga satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ditambah dengan akal yang sehat maka sudah seharusnya kalau saya (dan anda) senantiasa memanjatkan syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja seharusnya bersyukur bukan merupakan hal yang sulit saya lakukan mengingat kesempurnaan yang diberikan kepada saya. Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian. Memanjatkan syukur dengan kesungguhan ternyata memerlukan ilmu yang tidak sedikit. Di sini, yang saya maksud bersyukur dengan kesungguhan adalah meyakini sepenuh hati, tidak hanya di mulut, bahwa apapun yang saat ini menimpa kita, yang kita hadapi, adalah yang terbaik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kenapa bersyukur sulit dilakukan? Belajar dari pengalaman hidup saya sejauh ini, hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa kita semua selalu mengharapkan sesuatu yang lebih baik dari yang saat ini kita miliki. Kalau kita tidak punya sepeda motor, misalnya, kita pasti berharap untuk memiliki sepeda motor. Jika kita telah punya sepeda motor, kita pasti menginginkan mobil. Dan kalau kita sudah punya mobil, kita pasti menginginkan yang lebih baik dari mobil yang saat ini kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kita sadari, keinginan semacam itulah yang menyulitkan kita untuk bersyukur. Padahal, tanpa adanya rasa syukur kita tidak akan bisa merasakan kebahagiaan. Itu pasti. Setampan apapun saya, sekaya apapun saya, seterkenal apapun saya, jika saya tidak bisa bersyukur maka sampai kapanpun saya tidak akan bisa menikmati kebahagiaan. Mungkin saya merasa senang saat keinginan saya terpenuhi, akan tetapi rasa senang semacam itu tentu tidak akan bisa bertahan lama, karena saat ada keinginan yang baru saya pasti akan kembali merasa sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk itulah saya selalu mencoba menerima keadaan apapun baik itu terasa membebani atau terasa menyiksa sekalipun. Meskipun berat, saya tetap melakukannya. Dan tentu saja, dengan senantiasa mengingat betapa SEMPURNA keadaan saya dan dengan mencoba menahan keinginan-keinginan, bersyukur tidak terlalu sulit bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akan beda ceritanya jika keadaan saya tidak sesempurna saat ini. Mungkin kalau kaki saya hanya satu, atau lubang hidung saya tertutup semua, saya tidak akan bisa bersyukur. Akan tetapi saya berharap agar anda yang keadaannya tidak sesempurna saya, anda tetap bisa bersyukur. Saya bisa bersyukur karena saya berusaha menahan keinginan, selalu melihat kesempurnaan saya, dan membandingkan diri saya dengan anda. Nah, anda harus terus mencari cara untuk bisa bersyukur agar hidup anda terasa menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa menduga betapa sulitnya hidup dengan kaki satu. Tentu kesulitan hidup yang anda hadapi dengan hanya kaki satu akan terasa semakin menyiksa kalau anda tidak bisa menerima keadaan tersebut dan mensyukurinya. Akan tetapi, karena bagaimanapun saya bukan anda, maka saya tidak bisa memberi tahu anda bagaimana agar anda bisa bersyukur. Anda sendirilah yang harus mencari caranya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-6773969644360139071?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/6773969644360139071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/saya-dan-anda-sempurna.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6773969644360139071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6773969644360139071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/saya-dan-anda-sempurna.html' title='Saya dan Anda Sempurna'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-6247431393099260916</id><published>2007-12-05T16:09:00.000+07:00</published><updated>2007-12-05T16:48:07.273+07:00</updated><title type='text'>Rumput tetangga tidak lebih hijau</title><content type='html'>Hari ini saya merasa amat lelah dengan rutinitas. Sebenarnya, bukan sekali ini saja saya merasakan kelelahan, kejenuhan, dan mungkin kekesalan terhadap aktifitas rutin sehari-hari yang saya jalani. Perasaan seperti ini sudah sangat sering mengganggu kekhusukan saya menjalani waktu dan merenggut keceriaan saya untuk menikmati masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati sering saya bertanya apakah hanya saya seorang yang mengalami hal seperti ini, bosan dengan kegiatan di depan mata dan menginginkan kegiatan lain yang sepertinya lebih menyenangkan. Ataukah orang lain juga merasakan hal serupa. Ah, dalam hal ini saya sudah melakukan kesalahan, yakni bertanya dalam hati. Kenapa saya bilang saya salah? Ya, karena ketika saya bertanya dalam hati tidak ada jawaban pasti yang saya dapatkan selain jawaban menerka. Sehingga apa yang saya lakukan selama ini, bertanya-tanya dalam hati, adalah sebuah kesia-siaan. Lho kok? Iya, sebab jawaban dari pertanyaan saya ini begitu mudahnya muncul setelah saya bertanya pada rekan-rekan saya. Andai sedari muncul di kepala pertanyaan ini langsung saya lontarkan pada orang lain, tidak saya tanyakan dalam hati sendiri, tentu saya telah mendapatkan jawabannya sedari dulu dan saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk berpikir sendiri dengan hasil yang tidak pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho kok jadi ngelantur. Oh ya, kenyataan menunjukkan bahwa perasaan bosan dan jenuh dengan keadaan diri, terutama dengan rutinitas sehari-hari juga dialami oleh orang lain. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thank God&lt;/span&gt;, saya masih normal seperti orang lain. Dan seperti yang saya alami, orang lain juga berpikir bahwa keadaan atau rutinitas orang lain masih lebih baik dan lebih menyenangkan dari keadaan atau rutinitas kita. Di sini pepatah "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau" &lt;/span&gt;terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tapi, apakah benar rumput tetangga lebih hijau dari punya kita? Apakah benar keadaan dan rutinitas orang lain lebih menyenangkan dari keadaan dan rutinitas kita?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kalau jawaban dari pertanyaan di atas iya, maka solusi untuk mengatasi masalah kejenuhan kita pada keadaan dan rutinitas akan jauh lebih mudah. Cukup lakukan saja aktifitas orang lain dan cobalah untuk hidup dalam keadaan seperti keadaan orang tersebut. Selesai! Bukankah menjalani rutinitas orang lain dan hidup dalam keadaan orang lain yang kita anggap lebih menyenangkan akan membuat hidup kita juga menyenangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, belum tentu rumput tetangga benar-benar lebih hijau dari rumput di halaman kita. Bisa jadi hanya karena kita melihat rumput kita dengan cara menginjaknya dan mengamati rumput tetangga dari kejauhan sehingga pengamatan kita salah. Bukankah gunung-gunung terlihat begitu asri dari kejauhan? Bukankah bulan terlihat amat eksotis dari bumi? Tapi, apa yang terjadi saat kita mendaki gunung, warna hijau asri yang tampak dari jauh hilang entah kemana. Begitu pula, ketika Neil Amstrong menginjak bulan untuk pertama kali, terkuaklah fakta bahwa permukaan bulan tidak seindah yang selama ini dibayangkan orang. Begitu pula yang terjadi dengan rumput di halaman tetangga. Karena kita melihatnya dari jauh maka warna hijaunya terlihat begitu memikat. Seolah tidak terlihat kekurangan sedikitpun. Sedangkan rumput di halaman kita, karena kita melihat dengan menginjak di atasnya, kita tahu seluk beluknya, maka rumput kita terlihat begitu buruk rupa, sama sekali tidak indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun dengan rutinitas dan keadaan kita. Sebenarnya hanya karena kita tidak tahu sisi buruk dari keadaan orang lain sajalah sehingga kita merasa keadaan tersebut lebih menyenangkan. Sebaliknya, karena kita selalu fokus pada sisi buruk dari keadaan dan rutinitas kita sehingga hidup yang kita jalani terasa tidak menyenangkan. Jadi, tidak ada jaminan ketika kita menjalani rutinitas dan keadaan orang lain yang kita anggap menyenangkan maka kita tidak akan lagi merasa jenuh dan bosan, karena seperti yang telah saya katakan di atas semuanya hanya masalah sudut pandang. Ketika melihat keadaan diri sendiri kita menggunakan sudut pandang negatif, sementara saat mengamati kehidupan orang lain kita menggunakan sudut pandang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusinya? Ya mari coba menggunakan cara pandang sebaliknya. Mari kita lihat keadaan kita pada sisi positifnya saja dan coba amati keadaan orang pada sisi negatifnya. Saya yakin jika kita bisa merubah cara pandang ini maka rumput tetangga tidak akan lagi terlihat lebih hijau. Sebaliknya rumput di halaman rumah kita lah yang selalu terlihat lebih hijau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-6247431393099260916?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/6247431393099260916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/rumput-tetangga-tidak-lebih-hijau.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6247431393099260916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/6247431393099260916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/rumput-tetangga-tidak-lebih-hijau.html' title='Rumput tetangga tidak lebih hijau'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1719803304919122378.post-4084234298095891220</id><published>2007-12-03T17:29:00.001+07:00</published><updated>2011-01-21T22:47:58.180+07:00</updated><title type='text'>Gagal Lagi Gagal Lagi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah anda amat menginginkan sesuatu? Jawabannya sudah tentu, iya. Tapi apakah anda pernah mengalami kegagalan mendapatkan apa yang anda inginkan. Saya yakin jawabannya juga sama, iya. Pertanyaan berikutnya akan lebih sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang anda lakukan saat tidak berhasil mencapai yang anda inginkan?&lt;br /&gt;Nangis? Ngamuk? Pingsan? Atau stress dan tidak doyan makan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika salah satu opsi di atas merupakan reaksi anda, maka anda tidak jauh berbeda dari saya. Sudah sering, bahkan terlalu sering saya tidak berhasil mendapat apa yang saya mau. Pingin punya pacar, eh ditolak. Setelah punya pacar dan ingin menikah, orang tua si dia sulit di tembus. Pingin kuliah ke luar negeri, berkali-kali dapat surat yang menyatakan saya gagal.&lt;br /&gt;Apakah saya stress? Pasti. Tapi saya tidak berniat untuk mengamuk atau jadi tidak doyan makan. Malah, makan saya makin banyak. Kalau biasanya cuma habis satu piring sekali makan, saat pikiran tidak enak karena menerima kenyataan kegagalan, saya harus menambah porsi makan saya jadi dua piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat juga sih terbersit untuk menyalahkan tuhan karena sepertinya dia tidak memberi kesempatan pada saya untuk mendapatkan yang saya mau. Tapi kata hati saya tidak bisa melakukannya. Saya tidak berani menyalahkan tuhan atas segala kesialan yang saya terima. Kenapa? Karena saya yakin seyakin-yakinnya bahwa yang saya dapatkan (meskipun masuk kategori kegagalan dan kesialan) tetap merupakan yang terbaik. Dan tentu saja tuhan sangat adil. Meski penuh luka dan air mata (kayak perang aja), saya berusaha untuk bangkit dengan melihat mereka yang nasibnya jauh lebih sial dari saya. Sulit memang. Siapa bilang mudah menerima keadaan tak menyenangkan. Meski tahu dan sadar bahwa keadaan kita masih jauh lebih baik dari keadaan orang lain, toh tidak dengan serta merta kita akan menerima dengan 'legowo' nasib buruk kita. Saya pun demikian. Tidak dengan serta merta saya menerima keadaan buruk yang menimpa saya. Tetap saya ingin marah dengan keadaan. Tapi lambat laun perasaan saya kembali normal dan kata hati mulai bisa mengendalikan tindakan.&lt;br /&gt;Setelah hati kembali tenang dan pikiran sudah tidak lagi meluap-luap, barulah saya mulai bisa mencari hikmah di balik kegagalan yang saya alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya sial? Kenapa saya kurang beruntung? Kenapa dan kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan ini mulai saya cari jawabannya. Dan ternyata saya tidak sial. Begitupun anda. Saat kita (anda dan saya) tidak berhasil mendapatkan yang kita mau, bukan berarti kita sedang sial. Bukan berarti kita sedang kurang beruntung. That's the best thing that should happen. Itu yang terbaik. Terbaik bagi siapa? Terbaik bagi kita dan terbaik bagi orang lain. Siapa sih yang tahu yang terbaik buat kita selain dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda masih ngeyel "itu kan jawaban orang yang kalah..." mungkin anda benar bahwa itu adalah kata-kata orang yang kalah. Tetapi anda harus ingat bahwa menang dan kalah memiliki definisi berbeda-beda. Bukan berarti kalau tim anda bisa memasukkan bola ke gawang lawan lebih banyak dari pada yang dilakukan tim lawan anda berarti anda menang. Tetap saja kalau anda melakukannya tidak dengan fair (dengan pura-pura jatuh di kota pinalti, misalnya) tim anda tetap tidak bisa dikatakan menang. Begitu pula dengan nasib sial yang kita alami. Meski secara kasat mata kita dikatakan gagal, kalau kita bisa menerima keadaan kita dan berusaha memperbaiki kualitas kita, maka kita tidak patut dikatakan sebagai orang yang gagal. Seharusnya, masyarakat kita berpendirian seperti ini dalam menyikapi 'kegagalan' sehingga tidak ada lagi kata 'gagal'. Tapi, kata apa yang layak untuk mengganti kata gagal yang sudah kadung sering digunakan oleh masyarakat kita. Ah, biar anda sendiri yang mencari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya jadi ingat satu adegan dalam film "meet the robinsons". Di film ini diceritakan seorang anak jenius tidak berhasil memperbaiki suatu perangkat, dan apa yang dilakukan oleh keluarga si anak tersebut? Mereka bersorak "hidup gagal" "hidup kegagalan". Jika saja kita semua bisa bersikap demikian, saya yakin bangsa ini akan cepat menjadi bangsa maju....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata "HIDUP KEGAGALAN"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1719803304919122378-4084234298095891220?l=mencari-hikmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/feeds/4084234298095891220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/gagal-lagi-gagal-lagi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/4084234298095891220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1719803304919122378/posts/default/4084234298095891220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mencari-hikmah.blogspot.com/2007/12/gagal-lagi-gagal-lagi.html' title='Gagal Lagi Gagal Lagi'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_OukHMv_EbZ4/SGEu6HijH6I/AAAAAAAAAA0/J5dTD2Hj5xI/S220/Copy+of+7.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
