31 Maret 2008

Karena Selebritis, Meski Sumbang Tetap Kita Dengarkan...

Saat ini ada tiga orang yang ketika sedang bersama-sama mau tidak mau orang yang melihat mereka harus tertawa. Meskipun ketika sendiri ketiga orang itu tetap lucu, hanya saat bersama lah ketiganya memikat semua penontonnya. Kira-kira siapakah tiga orang itu? Mereka adalah Eko Patrio, Ruben Onsu, dan Madam/Nona Igun.

Siapa pun Anda asal sering menghentikan laju perpindahan remote TV anda di stasiun TV berlambang Ikan terbang pasti kenal mereka. Saat ini mereka hampir setiap hari memandu acara pencarian bakat (?) penyanyi di TV tersebut. Meskipun sebenarnya tidak hanya tiga orang itu saja yang mengisi acara tersebut (selain mereka masih ada lagi dua orang komentator juga seratus juri votelock) namun ketika acara telah mulai jelas terlihat ketiga orang itulah yang menjadi pemilik acara ini. Saking pentingnya mereka, seolah-olah kalau acara tersebut ditayangkan tanpa salah satu dari ketiga orang tersebut maka acara itu tidak lagi menyenangkan untuk ditonton. Yach, mungkin sama pentingnya dengan Tukul Arwana di acara Empat Mata, atau Indra Bekti dan Indi Barend di Ceriwis, atau mungkin malah sepenting Oprah Winfrey dalam acara Oprah Show.

Tapi, biarlah ketiga orang itu dianggap penting atau merasa penting. Dalam pencarian hikmah kali saya tidak akan membicarakan mereka. Mungkin nanti akan nyerempet mereka. Tapi saya janji mereka hanya akan saya serempet tidak akan saya tabrak.

Baiklah, sebelum membahas lebih jauh tentang topik ini akan saya jelaskan terlebih dahulu acara apa yang digawangi ketiga orang itu. Acara tersebut adalah adaptasi dari acara Mama Mia yang sudah meraup cukup sukses. Anda tentu tahu apa itu Mama Mia. Ya, ia adalah acara pencarian bakat penyanyi (tanpa tanda tanya) sekaligus juga manajernya yang harus ibu dari si berbakat. Tidak perlu saya jelaskan prosesnya, yang jelas acara ini menyedot cukup banyak perhatian pemirsa TV. Malah, bisa dikatakan acara ini menjadi satu-satunya acara berrating tinggi dari stasiun bersagkutan.

Karena kesuksesan yang diraih oleh acara Mama Mia itulah maka stasiun TV berlogo ikan terbang mengadaptasikan ke berbagai format acara. Untuk versi dangdut, dibuatlah acara Stardut dengan format acara yang tidak jauh berbeda dari Mama Mia. Sama seperti Mama Mia, Stardut juga berhasil menarik perhatian pemirsa. Maka, saat kedua acara itu usai stasiun bersangkutan ternyata tidak rela melepaskan perhatian penonton. Stasiun ini membuat acara adaptasi lainnya. Kali ini, acara yang dibuat tersebut diberi nama Super Mama.

Sebenarnya program Super Mama tidak berbeda dari kedua acara pendahulunya. Hanya saja ada satu perbedaan yang sangat mencolok. Yakni, peserta acara ini adalah selebritis-selebritis kondang tanah air beserta mama-mama mereka. Maka, tak ayal faktor inilah yang membuat acara Super Mama mampu menyedot perhatian pemirsa. Wajar jika pemirsa penasaran dengan kemampuan vokal para selebritis yang menjadi peserta. Wajar juga kalau kemudian para pemirsa rela duduk berjam-jam untuk menikmati penampilan para selebritis itu meski mereka sadar bagaimanapun kemampuan vokal mereka tidak akan mampu menyaingi vokal penyanyi Indonesia sungguhan. Meskipun mereka sadar penampilan para selebritis itu tidak akan lebih baik dari pada penampilan peserta konten pencarian bakat lain seperti Indonesian Idol. Meskipun mereka sadar bahwa aksi panggung para selebritis peserta itu pun tidak lebih bermutu dari penampilan penyanyi kafe dan penyanyi dangdut di kampung-kampung. Toh, karena para selebritis sudah terlanjur dikenal dan sebagian terlanjur dijadikan idola, maka meski suara mereka sumbang, penampilan mereka tidak istimewa, dan aksi panggung mereka membosankan, pemirsa tetap mau duduk berlama-lama menonton mereka.

Maka, jika Anda ingin tetap PeDe bernyanyi meski dengan suara tak karuan, jadilah selebritis...

25 Maret 2008

Antara Cangkul dan Kalkulator

Bagi seorang pedagang sebuah cangkul mungkin sama sekali tidak berarti dan berguna. Baginya yang lebih berguna adalah kalkulator dan timbangan karena kedua benda itu bisa memudahkan tugasnya dalam menjual barang dan menghitung harga. Sehingga apabila disuruh untuk memilih antara kedua kelompok barang tersebut dia pasti akan menjatuhkan pilihannya pada kelompok barang kedua, yakni kalkulator dan timbangan. Dia tentu tidak akan memilih cangkul karena barang ini tidak bisa membantu melancarkan pekerjaannya sebagai pedagang. Bahkan meskipun diberi secara gratis, dia mungkin tidak akan mau menerima cangkul pemberian itu.

Sebaliknya, bagi seorang petani cangkul tentulah jauh lebih berarti dari pada kalkulator dan timbangan. Baginya cangkul bisa mendatangkan uang. Dengan cangkul ia bisa mengolah sawah. Dengan cangkul ia bisa menanam tanaman yang kelak bisa dipetik hasilnya. Tapi apa yang akan ia dapat jika dia memilih kalkulator atau timbangan? Pak tani tentu akan berpikir bahwa meskipun bisa dipakai untuk menghitung biaya pengolahan dan untuk memperhitungkan hasil panennya, kedua benda itu tetap tidak akan berguna jika yang akan dihitung dan ditimbang tidak ada. Dengan kata lain, bagaimanapun juga dalam pandangan seorang petani alat untuk menumbuhkan tanaman jauh lebih berguna dari pada alat untuk menghitung hasil jerih payahnya.

Maka, si pedagang tidak boleh memaksakan pendapatnya bahwa kalkulator lebih berguna dari pada cangkul. Begitu pula sebaliknya, pak tani tidak boleh ngotot dan memaksa bahwa cangkul lebih berarti dari pada kalkulator. Jika ini terjadi maka bisa dipastikan pertengkaran tidak bisa dihindarkan.

Dari masalah cangkul dan kalkulator di atas bisa kita tarik kesimpulan bahwa belum tentu sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang akan dipandang penting juga oleh orang lain. Sesuatu yang dianggap berguna oleh seseorang belum tentu dipandang berguna oleh orang lainnya. Karena pandangan seseorang mengenai penting tidaknya sesuatu dipengaruhi berbagai faktor. Dan faktor-faktor yang mempengaruhi pandangan seseorang sering kali berbeda satu dengan lainnya. Sebagai konsekwensinya kita tidak boleh memaksakan pandangan dan penilaian kita terhadap sesuatu kepada orang lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah sebatas menjelaskan alasan-alasan penilaian kita terhadap sesuatu kepada orang lain dan bukannya mengharuskan orang lain untuk memandang sesuatu dengan cara sama seperti kita. Sehingga, apakah orang lain akan mengikuti cara pandang kita atau tidak pada akhirnya akan tergantung pada apakah penjelasan kita bisa diterima dan diyakini oleh mereka atau tidak.

      

19 Maret 2008

Menggunakan Kelemahan Secara Menguntungkan

Kalau anda pernah berhadapan dengan orang yang (menurut anda) memiliki segalanya, pastinya anda juga pernah merasakan grogi dan tidak percaya diri dengan apa yang anda katakan atau bahkan yang anda pikirkan. Nah, seperti itulah yang saat sekarang ini sering kali saya rasakan. Dan memang benar, penyebabnya adalah saya selalu merasa bahwa orang yang saya hadapi adalah orang yang memiliki segala sesuatunya di atas saya. Maka, jadilah saya orang yang tidak percaya diri dan tidak berani menyatakan pendapat karena perasaan saya mendorong saya untuk percaya bahwa apa yang dia katakan selalu benar sedangkan yang saya pikirkan (hanya pikirkan) selalu salah.

Mungkin anda berpikir bahwa kemudian saya jadi tidak berani berbuat apa-apa di hadapan orang seperti itu. Jika demikian yang anda pikirkan, sepertinya saya harus memberi nilai nol besar pada anda. Sebab, meski saya merasa tidak percaya diri di hadapan orang seperti itu, tidak berarti saya jadi tidak berbuat apa-apa untuk menutupi perasaan saya tersebut. Kenyataannya, saya justru senang bersama orang berkualitas seperti itu karena pikiran-pikirannya akan demikian mudahnya masuk ke dalam otak saya yang kadang sulit dimasuki pikiran-pikiran baru. Kalau sudah demikian, maka saya akan mendapat banyak pelajaran dari orang di hadapan saya.

Kok bisa demikian? Bagaimana bisa saya belajar banyak dari orang lain sementara dalam hati saya tidak merasa percaya diri?

Well, yang saya lakukan untuk bisa demikian sangatlah sederhana. Saya tidak menggunakan trik langka yang hanya ditulis di dalam buku-buku tebal karya cendikiawan barat dengan harga selangit. Saya hanya menuruti kata-kata salah satu tentangga saya. Apa gerangan kata-kata tetangga saya sehingga bisa membuat saya menempatkan diri pada posisi yang demikian menguntungkan meski sebetulnya perasaan saya sedemikian tersudutkan?

Tidak banyak. Bukan kata-kata mutiara. Ia hanya menyatakan dengan lugunya bahwa kadang kelemahan kita adalah kelebihan kita yang tidak bisa diungguli oleh siapapun. Nah, bermodalkan nasehat itu saya kemudian menerjemahkannya dalam tindakan. Mungkin saja interpretasi saya atas nasehat itu terlalu literal bagi sebagian orang. Akan tetapi, saya benar-benar merasakan manfaatnya. Saya menerjemahkan nasehat itu demikian: kalau kita merasa lemah di hadapan seseorang, maka jangan coba-coba menyembunyikan kelemahan kita dengan mengatakan hal-hal di luar jangkauan kita hanya dengan maksud menunjukkan bahwa kita memiliki kelebihan. Sebaliknya, yang harus kita lakukan hanyalah menunjukkan dengan tulus kelemahan kita kepada orang yang kita ajak bicara. Selain itu, perlihatkan juga pada lawan bicara kita bahwa ia memiliki kualitas unggul (dari pada kita) sehingga amat wajar kalau kita mencuri pengetahuan dari dia. Intinya, tempatkan diri kita di bawah lawan bicara kita, maka otomatis ilmu dari orang tersebut akan mengalir kepada kita dengan lancar. Bukankah air hanya akan mengalir ke tempat yang lebih rendah?

Nah, strategi yang demikian itu yang saya sebut berlindung di balik kelemahan diri sendiri. Saya menyebutnya demikian karena dengan jujur akan perasaan kita mengenai kelebihan yang dimiliki lawan bicara kita dan atas kelemahan kita sendiri justru akan melindungi kita dari perasaan malu yang mungkin saja kita rasakan jika kita berusaha menutupi kelemahan kita tersebut dengan retorika muluk-muluk tapi penuh omong kosong. Maka, bagi saya jujur mengenai perasaan kita, meskipun kejujuran itu juga bukan berarti menunjukkan yang sebenarnya, adalah jauh lebih baik dari pada menutupi perasaan kita dengan kebohongan-kebohongan.

Blogged with the Flock Browser

16 Maret 2008

Ternyata, Pikiran Berpengaruh pada Perasaan Lho... (Part II: Getting more and more serious)

Ilustrasi kedua

Anda sedang berkendaraan menuju rumah seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Dengan penuh semangat Anda mengendarai mobil Anda yang masih tergolong baru. Di tengah perjalanan, tiba-tiba beberapa orang menghentikan mobil dan meminta Anda untuk untuk turun dari mobil. Anda pun menuruti permintaan mereka. Setelah Anda turun dari mobil, salah satu dari orang-orang itu mengatakan bahwa sebentar lagi Anda akan melintasi sebuah jembatan. Dengan nada sangat serius orang itu meminta Anda untuk mencari jalan lain. Dia mengatakan bahwa jembatan itu sudah tua dan tidak kuat lagi menahan beban seberat mobil Anda. Katanya jembatan itu hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki saja. Dengan berjalan kaki pun jembatan itu masih terasa bergetar. Sehingga kalau mobil Anda melintas di atas jembatan itu, maka jembatan itu pasti akan runtuh.

Mendengar penjelasan orang itu ada menjadi penasaran. Bukannya berbalik dan mencari jalur lain, Anda malah memacu kendaran Anda tetap pada jalur semula. Benar saja, tidak lama setelah itu Anda melihat sebuah jembatan di depan Anda. Dilihat dari keadaannya jembatan itu memenag tampak sudah tua dan rapuh. Anda juga tidak melihat satu kendaraan pun yang sedang melintasi jembatan itu. Yang Anda lihat sedang menggunakan jembatan itu hanyalah satu orang. Orang itu berjalan di atas jembatan sambil berpegangan pada pagar. Melihat itu, Anda menjadi teringat pada penjelasan orang-orang yang tadi menghentikan Anda. Anda menjadi takut untuk melintasi jembatan itu. Anda kehilangan keberanian karena membayangkan Anda dan kendaraan Anda akan terjatuh ke sungai bersama runtuhnya jembatan.

Maka Anda pun berniat berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu untuk mencari jalur lain. Pada saat Anda hendak menyalakan mesin, tiba-tiba dari arah yang berlawanan terlihat sebuah truk besar yang akan melintasi jembatan. Karena mencemaskan nasib orang-orang di dalam truk itu, Anda bergegas keluar dari mobil dan bermaksud memperingatkan sopir truk itu, namun, belum juga Anda berteriak, truk itu sudah berada di atas jembatan. Karena ketakutan Anda memejamkan mata dan membayangkan akan mendengar suara keras runtuhnya jembatan itu bersama dengan truk tersebut. Namun, setelah beberapa saat suara yang Anda bayangkan itu tidak juga terdengar. Sebaliknya, perlahan-lahan suara mesin truk itu melintasi Anda.

Melihat kenyataan bahwa jembatan itu masih baik-baik saja setelah dilewati truk, ketakutan Anda untuk melintasi jembatan itu sirna. Anda pun menjadi tersadar bahwa orang-orang tadi hanya bermaksud menakut-nakuti Anda. Maka tanpa ada rasa takut sedikit pun Anda mulai menjalankan kendaraan Anda dan melintasi jembatan itu. Satu jam kemudian, Anda telah berada di rumah teman Anda dengan selamat.

Kenapa Anda menjadi takut untuk melintasi jembatan itu setelah ada orang yang memberi tahu bahwa jembatan itu rapuh? Padahal, ketika truk melintasinya pun jembatan itu masih berdiri tegak. Seperti pada ilustrasi pertama, perasaan takut itu muncul karena Anda memikirkan hal-hal mengerikan yang kenyataannya tidak Anda alami. Terbukti ketika Anda yakin bahwa hal-hal mengerikan itu tidak akan terjadi Anda berani melintasi jembatan itu.

Dari dua ilustrasi di atas, bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa pikiran sangat mempengaruhi perasaan. Pikiran positif akan membangkitkan perasaan-perasaan yang positif juga, seperti bahagia, berani, percaya diri, dll. Sebaliknya pikiran negatif juga akan melahirkan perasaan-perasaan yang negatif pula, seperti perasaan takut, sedih, minder, dll. Sehingga apabila Anda ngin menjadi orang yang memiliki perasaan positif maka selalu lah berpikir positif. Namun, jika saat ini Anda masih memendam perasaan negatif, maka ubahlah perasaan itu menjadi positif dengan cara berpikir positif. SELAMAT MENCOBA (The end)

Ternyata, Pikiran Berpengaruh pada Perasaan Lho... (Part I: Getting more serious)

Mungkin belum ada penelitian yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana hubungan yang sebenarnya antara pikiran dan perasaan. Akan tetapi secara teoritis bisa dihipotesiskan bahwa keduanya saling terkait. Keduanya saling mempengaruhi. Tidak benar apabila ada pernyataan bahwa keduanya terpisah dan sama sekali tidak memiliki kaitan.

Tentu saja Anda berhak memendam keraguan atas hipotesis tersebut. Apalagi, sekali lagi, memang belum ada penelitian yang mendukungnya. Akan tetapi setelah membaca ilustrasi yang akan saya kemukakan, Andapun tidak perlu merasa malu untuk membuang jauh-jauh keraguan Anda.

Ilustrasi Pertama

Anda sedang berada di rumah seorang ahli jiwa untuk mengkonsultasikan masalah kejiwaan yang Anda hadapi. Kepada psikolog itu Anda mengatakan bahwa diri Anda selalu merasa takut untuk pergi keluar kota. Anda menjelaskan bahwa tiap kali Anda diajak pergi keluar kota, di dalam pikiran Anda selalau terbayang pada sekelompok orang berwajah sangar yang siap menghadang Anda dan tidak segan-segan membunuh Anda apabila permintaan mereka tidak Anda penuhi. Karena perasaan takut itulah Anda tidak pernah pergi keluar kota.

Mendengar penjelasan Anda psikolog tersebut mengajak Anda ke sebuah ruang di belakang tempat kerjanya. Di dalam ruangan itu terdapat selembar kayu yang tidak terlalu tipis dan juga tidak begitu tebal. Dengan tersenyum psikolog itu mempersilahkan Anda untuk berdiri di atas kayu itu. Bukan hanya itu, dia juga menyuruh Anda untuk melompat-lompat di atasnya. Setelah itu, Anda disuruhnya untuk menjauh dari lembaran kayu itu. Tanpa perasaan apa-apa Andapun mengikuti segala instruksinya.

Setelah Anda berada agak jauh dari kayu itu, psikolog itu menjelaskan pada Anda bahwa sebenarnya kayu yang baru Anda injak adalah sebuah penutup. Di bawah kayu itu terdapat sumur tua yang amat dalam yang di dinding-dindingnya dipenuhi batu-batu runcing. Sambil memberi penjelasan psikolog itu menggeser kayu. Maka Anda pun melihat bahwa apa yang tadi dijelaskan benar adanya. Mengetahui hal tersebut Anda pun menggigil ketakutan. Anda membayangkan apa jadinya seandainya tadi saat Anda berdiri dan melompat-lompat kayu itu patah. Maka Anda pasti sangat ketakutan dan tidak akan berani lagi disuruh berdiri di atas kayu itu apalagi diminta untuk melompat-lompat di atasnya.

Kenapa sekarang Anda ketakutan padahal sebelum psikolog itu memberi penjelasan Anda sedikit pun tidak merasa gentar? Semua itu karena pikiran Anda. Anda merasa ketakutan karena Anda memikirkan hal-hal mengerikan yang mungkin menimpa Anda apabila Anda berdiri di atas kayu itu. Kenyataannya, bahkan ketika Anda melompat-lompat di atasnya pun kayu itu tetap utuh dan Anda sama sekali tidak mengalami hal-hal yang mengerikan.

Begitu pula sebenarnya yang selama ini menimpa Anda sehingga Anda tidak berani ke luar kota. Karena pikiran Anda selalu membayangkan hal-hal buruk yang mungkin akan menimpa Anda ketika berada di perjalanan, maka perasaan Anda pun menjadi ketakutan. Perasaan takut tak beralasan ini kemudian memaksa Anda untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk tersebut. Dan cara terbaik untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan itu adalah dengan tidak pergi ke luar kota. Padahal kalau saja Anda bisa memikirkan hal-hal yang menyenangkan yang mungkin akan Anda temui, bukannya hal-hal yang menakutkan, tentu Anda tidak perlu merasa takut untuk bepergian ke luar kota. (to be continued)

14 Maret 2008

Baik!? Kerjakan Sekarang (ssstt! Pencari Hikmah lagi serius)

Kalau anda merasa dunia ini adalah tempat yang damai, coba hidupkanlah TV anda dan lihatlah berita-berita kriminal, maka anda akan melihat bahwa masih banyak yang harus anda kerjakan. Ini bukan berarti bahwa apa yang anda sudah kerjakan tidak berguna. Ini menunjukkan bahwa anda memang tidak boleh berhenti dari usaha berbuat kebaikan. Sekali anda berhenti berbuat baik, maka angka kejahatan akan meningkat cepat.

Mungkin anda merasa bahwa apa yang anda lakukan, dalam hal ini berbuat kebajikan, tidak ada nilainya. Mungkin anda menganggap bahwa memberi uang receh kepada pengemis yang duduk di pinggir jalan tidak akan bisa mengubah dunia. Mungkin pula anda berpikir bahwa membuang kulit pisang di sembarang tempat tidak akan membuat dunia makin kacau. Anda mungkin benar. Tapi bisa jadi anda salah.

Bayangkan apabila pengemis yang kita beri uang receh tiba-tiba masuk angin. Sedangkan ia tidak punya cukup uang untuk membeli obat masuk angin. Padahal kalau dibiarkan berlarut-larut masuk angin yang diderita oleh pengemis itu bisa semakin parah bahkan bisa membunuhnya. Dalam hal ini pengemis itu tentu sangat membutuhkan uang recehan untuk kerokan. Dengan kerokan ia akan kembali sehat seperti sedia kala. Maka bisa dilihat bahwa apa yang anda lakukan telah menyelamatkan satu nyawa dari kematian.

Bayangkan juga, apabila ada seorang pemarah yang melewati tempat di mana anda membuang kulit pisang. Kemudian tanpa sengaja ia menginjak kulit pisang tersebut dan terjatuh. Dia tentu akan sangat marah dan bisa jadi ia akan melampiaskan kemarahannya kepada siapapun yang ia temui. Bayangkan jika setelah itu ada seorang petani yang juga pemarah pulang dari sawah dengan membawa cangkul dan sabit dan bertemu orang yang baru terpeleset itu. Si pemarah tentu akan melampiaskan kemarahannya pada petani itu. Dan karena petani tersebut membawa sabit bisa jadi ia membacokannya kepada si pemarah. Maka satu nyawa bisa melayang hanya gara-gara anda membuang kulit pisang sembarangan.

Jadi, hal sekecil apapun yang kita lakukan akan berpengaruh kepada dunia secara keseluruhan. Apabila yang kita lakukan adalah hal baik, maka hal baik itu akan dinikmati oleh seluruh dunia. Sebaliknya jika hal buruk yang kita kerjakan, maka hal buruk itu akan dirasakan oleh seluruh umat manusia.

12 Maret 2008

Masih Tentang Rhoma Irama dan Saya (mas Andrea ada acara)

Halo-halo-halo, jumpa lagi dengan saya the wisdom seeker (he..he..he.., jujur ini ikutan tetangga sebelah saya. Tapi, bagus juga ya. Oke lah, kalo gitu saya akan menggunakan nama ini sebagai alternative nama Indonesia saya). Dan bersama saya anda tentu akan dibawa menyusuri lorong-lorong gelap untuk menemukan sedikit cahaya (ternyata saya bisa puitis juga ya…). Awas, kalau tidak hati-hati di lorong-lorong ini bukannya dapat cahaya bisa jadi anda malah tersesat.

Baiklah, topik hikmah kali ini masih tidak beranjak jauh dari posting kemarin. Tentang penulis tetralogi Laskar Pelangi? Bukan. Bukan tentang si Ikal. Sekarang ini saya tidak ingin mengganggu ketenangan mas Andrea. Dia lagi banyak job. Jadi, biarlah mas Andrea menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Semoga juga kantongnya makin tebal sehingga mimpinya untuk tinggal di desa tertinggi di dunia bisa segera terwujud. Anda mau kan berdoa untuk dia? Well, kalau demikian pada hitungan ketiga kita ucapkan amin bersama-sama. Satu… dua…tiga… AMIEN!

Nah, kali ini saya akan membicarakan tokoh satunya dari posting kemarin. Siapa lagi kalau bukan Bang Haji Rhoma Irama. Mumpung beliau lagi sepi tontonan dan popularitasnya makin menurun karena usianya yang memang sudah tidak muda serta gara-gara Inul dan mantan istri barunya (betul lho, popularitas Bang Haji mulai redup setelah kasus goyang ngebor Inul Daratista dulu itu dan diperparah sama kasus yang di Indonesia ini masih sangat rawan, POLIGAMI, apalagi yang sembunyi-sembunyi dan terkuak, oleh infotainment lagi). Namun, meskipun demikian, walaupun begitu, however (pilih salah satu saja ya...), bagi saya bang Haji tetaplah seorang idola. Kenapa demikian? Jawaban singkat saya: karena kualitasnya. Maka biar anda tidak penasaran, akan segera saya ulas masalah bang Haji ini setelah jeda baris berikut ini. Jangan ke mana-mana. Tetaplah di tempat duduk anda karena sebentar lagi anda akan melihat sisi lain dari this one and only King of Dangdut.

All right, biar saya mulai. Jujur saja, jika mendengar nama Rhoma Irama apa yang terlintas di benak anda pada satu detik pertama? Dangdut! Masuk akal. Soneta! Sangat bisa diterima. Inul Daratista! Wah yang ini pasti baru kenal sama bang Haji nih. Tapi nggak papa. Yang penting masih ada hubungannya dengan Rhoma Irama. Yang terlintas dalam benak saya juga seperti itu. Dangdut, Soneta, dan, yang ini sebenarnya dipopulerkan bukan oleh bang Haji tapi oleh para penirunya, kata “Terlalu!”. Yang jelas tidak pernah terlintas nama si ratu ngebor, Inul Daratista (I'm so sorry Mbak..)

Itu baru pada satu detik pertama. Kalau saya membiarkan angan-angan saya melayang entah ke mana-mana selama lebih dari semenit maka banyak hal lain yang timbul dalam memori saya saat nama bang Haji disebut. Pacar, Piano, Setan, Siksa Kubur, Tukang Adu Domba, Keluarga Berencana, burung Garuda, Indonesia, Orang Buta, Pengemis, Pengamen, dan banyak lagi yang lainnya. Luar biasa kan? Satu nama bisa memiliki begitu banyak asosiasi. Dalam hal ini anda harus mengakui Bang Haji tidak tertandingi oleh musisi Indonesia lainnya, apalagi oleh musisi dangdut masa kini. (Sori mbak Dewi Perssik. Maaf, mas Syaiful Jamil)

Kalau anda bertanya kenapa bisa demikian. Jawaban saya sangat simple: karya Bang Haji membahas wilayah dan aspek kehidupan yang begitu luas. Lirik-lirik yang dia ciptakan bisa menggambarkan berbagai masalah kehidupan dengan kedalaman pemahaman yang tidak perlu diragukan. Dan, ini yang sangat penting, semua lirik-lirik itu begitu dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dan melegenda. Untuk yang terakhir ini, keberuntungan mungkin memainkan peranan sangat penting. Akan tetapi untuk yang pertama, keberagaman tema serta kedalaman muatan lirik lagu, keberuntungan tidak berlaku. Dibutuhkan seorang berjiwa sekaligus seniman, budayawan, santri, motivator, dan musisi yang benar-benar ulung untuk bisa menghasilkan karya seperti itu. Maka, mendengarkan lagu-lagu bang Haji saya bisa senantiasa melihat sosok yang berbeda. Kadang menjadi santri, kadang budayawan, dan kadang motivator. Adapun jiwa seniman dan musisi bang Haji bisa selalu saya rasakan di tiap dendang lagunya.

Di dalam lagu Istri Solehah, misalnya, jiwa santri bang Haji sedang memegang kendali. Maka perenungan-perenungan religius begitu terasa di tiap liriknya. Saya jamin kalau anda mendengarkan lagu ini secara seksama anda akan sampai pada persetujuan bahwa istri yang akan membuat bahagia tidak harus berparas cantik. Begitupun suami tidak harus berwajah tampan. Yang paling penting adalah baik tidaknya hati. Tentu saja akan baik lagi kalau sudah hatinya baik, parasnya cantik atau tampak, pintar, kaya, dan keturunan orang terpandang. Pokoknya ideal (sekarang ada nggak ya yang seperti ini…?)

Contoh lain, dalam lagu Begadang tampak nyata bahwa bang Haji berjiwa budayawan. Dia bisa memotret fenomena yang terjadi di lingkungannya secara tepat. Dia bisa menggambarkan kebiasaan begadang dan efeknya pada kehidupan pribadi seseorang. Sebutan apalagi yang bisa diberikan pada orang yang bisa melakukan hal semacam itu kalau tidak budayawan.

Nah, oleh bang Haji dua lagu itu bisa dibuat dalam komposisi nada yang begitu enak didengar. Lagu istri sholeha yang terkesan menasehati bisa dengan mudah masuk ke sanubari lantaran musiknya (juga jangan lupa suara penyanyinya yang mendayu-dayu) begitu indahnya terdengar di telinga. Demikian juga begadang. Lagu yang sebenarnya bertema remeh temeh ini bisa menarik hati untuk menyimaknya karena kepiawaian bang haji dalam menyusun nada.

Tentu saja dua contoh belumlah cukup. Tapi biarlah akan saya biarkan anda mencari dan mendengarkan lagu bang haji yang lainnya untuk kemudian menganalisa kualitas apakah yang dominan pada diri bang Haji saat menciptakan lagu tersebut: Budayawan kah, Sastrawan kah, Sufi kah, atau kah-kah yang lainnya.

Akhir kata, dengan kualitas semacam itu apakah saya harus malu mengakui bahwa Bang Haji Rhoma Irama adalah salah satu tokoh idola saya?