Tampilkan postingan dengan label Idola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idola. Tampilkan semua postingan

20 Oktober 2008

Tekuni Yang Kau Punya, Katanya

Boleh dikata, penyanyi nyentrik yang satu ini adalah idola saya. Tiap kali dia mulai memainkan gitarnya dan menyanyikan lirik-lirik lagu baik lawas atau baru baik dangdut atau pop, saya selalu merasa hanyut. Oh, kebisaannya menyanyikan hampir semua genre lagu merupakan salah satu nilai tambahnya di mata saya. Akan tetapi yang paling utama adalah keseriusannya dalam memainkan musik dan menyesuaikan suaranya.

Hampir tiap kali keluar kota, tanpa sengaja saya ketemu dengannya. Dengan pakaian seadanya, dia biasa naik ke bis jurusan antar kota antar propinsi. Tak pernah kulihat dia bermain musik di situ sendirian. Hampir tiap kali berjumpa dengan saya, dia selalu bersama dengan seorang rekannya. Ya, ini dia nilai tambah lain yang dia miliki. Karena, jika dibandingkan, memainkan musik bersama seorang rekan tentu jauh lebih meriah ketimbang sendirian. Apalagi, rekan yang diajaknya itu juga selalu orang yang memiliki kepiawaian bermusik yang hampir sepadan dengan kamampuannya.

Maka, tiap kali dia naik ke bis yang saya tumpangi, ada perasaan gembira yang saya rasa. Karena saya yakin, saat dia mulai menyanyi, tanpa saya sadari pasti saya akan ikut menyanyikan lirik-lirik lagu yang ia mainkan. Mungkin ada baiknya saya selalu membawa semua lirik lagu yang ada, mulai dari lirik lagunya peterpan, ungu, rhoma irama, elvi sukaesih, bahkan lirik lagunya the rollies, the beatles, koes ploes, dan lirik lagu lainnya. Ya biar saya bisa senantiasa ikut mengiringi alunan musik yang dimainkannya dengan sempurna.

Yach, seperti yang sudah bisa Anda duga, dia bukanlah artis kampung, artis daerah, apalagi artis papan atas ibu kota. Dia hanya seorang pengamen yang beroperasi di terminal Purabaya atau Bungurasih, Surabaya. Tapi, saya bisa memberikan jaminan pada Anda, jika Anda bertemu dengannya, pasti Anda akan menikmati suguhan yang ia berikan. Sayang, saya belum punya kesempatan untuk bisa mengambil fotonya. Seandainya saya punya foto idola saya itu, tentu akan saya pasang di sini sebagai tanda penghargaan saya pada keseriusan berkaryanya. Karena, keseriusannya telah memberi saya inspirasi. Tanpa sepatah katapun, dia telah berhasil bicara telak ke hati saya. Apa gerangan yang dikatakannya? Dia berteriak kepada saya "Untuk menjadi bermanfaat dan disukai, kita tak harus menjadi orang penting. Cukup seriusi saya apa yang engkau miliki. Maka, keseriusan kita akan menjadikan kita bermanfaat dan disukai...."

Ya ya ya, terima kasih pengamen idolaku.......

28 Juni 2008

Antara Morpheous, Mariah Carrey, dan R. Kelly

Ada hubungan apa di antara ketiga orang tersebut? Ada yang tahu? Silahkan dipikirkan. Waktu kalian tidak banyak. Saya hitung sampai lima.

1
2
3
4
5

Jadi tidak ada yang tahu. Baiklah kalau begitu biar saya mulai cerita saya kali ini. Dengarkan baik-baik karena saya hanya akan bercerita sekali dan tidak akan mengulangi untuk kedua, ketiga, apalagi yang keempat kali. Semua HP harap dimatikan. Atau ringtone di silent saja biar tidak menganggu saya.

Baiklah, pertama akan saya bahas Morpheous. Dia adalah salah satu tokoh dalam film Trilogi The Matrix. Ingat? Bagi yang tidak ingat atau bahkan belum pernah menonton film ini, ijinkan saya sedikit menggambarkan film ini sekalian membeberkan seperti apa Morpheous. The Matrix merupakan salah satu film sukses Hollywood bertema science fiction atau fiksi ilmiah. Dan menurut pandangan subjektif pencari hikmah, film ini termasuk ke dalam kategori film berat yang tidak semua orang bisa menikmatinya. Ya bagaimana tidak berat kalau ceritanya begitu membingungkan secara nalar. Apakah Anda bertanya kenapa membingungkan? Seseorang bisa masuk ke dalam sebuah dunia yang benar-benar berbeda dari dunia yang dia tinggali hanya dengan cara menyambungkan diri dengan sebuah alat semacam komputer. Begitu kira-kira cerita film ini. Dan jika seseorang mati di dalam dunia yang dimasukinya lewat komputer itu, maka dia akan benar-benar mati di dalam dunia nyata. Membingungkan tho? Kalau tidak, berarti Anda patut bersyukur karena mungkin IQ dan kemampuan logika Anda termasuk Genius.

Lalu siapa Morpheous itu? Dia adalah salah tokoh utama yang perannya di dalam film secara keseluruhan tidak boleh dipandang sebelah mata. Neo, si tokoh utama, masuk ke dalam dunia matrix dan kemudian bermetamorfosa menjadi Sang Pahlawan tidak lain dan tidak bukan adalah karena Morpheous. Morpheous yang menemukan dan membimbingnya meski ketika Neo bertanya bagaimana Morpheous menemukan dirinya dia menjawab ”bukan aku yang menemukanmu, tapi engkaulah yang telah lama mencariku, dan kini kau menemukanku". Hmmm, filosofis banget ya.

Dan, ini yang penting. Morpheous bisa melakukan semua itu karena dia percaya. Dia percaya bahwa dia akan menemukan Neo seperti yang dikatakan oleh Oracle, tokoh lainnya. Dia juga percaya bahwa Neo lah sang terpilih yang akan bisa menyelamatkan the matrix. Dan, Kepercayaan serta keyakinan Morpheous ini kemudian menular kepada Neo yang akhirnya memang menjadi tokoh utama penyelamat dunia. Semua itu terjadi karena Morpheous percaya.

Cukup tentang Morpheous, sekarang biar saya cerita sedikit tentang Mariah Carrey. Kalau yang ini saya yakin Anda-anda sekalian sudah lebih paham dari pada saya. Benar, dia adalah salah seorang diva pop dengan suara (katanya) hingga minus 5 oktaf. Wow, luar biasa. Bayangkan minus lima oktaf! Atau sederhananya, dia bisa menyuarakan hingga lima nada di bawah nada Do (Si Cantik Al Qudsy pasti ketawa membaca ini dan mungkin akan bilang ”sok tahu”). Dengan suara yang sedemikian istimewa, ditambah body seksi serta wajah (menurut saya) kalem, maka tidak mengherankan kalau Diva yang satu ini menjadi penyanyi papan atas dunia yang album lagunya sangat ditunggu-tunggu.

Meski secara pribadi saya menyukai hampir semua lagunya, hanya satu lagu saja lah yang membuat dia masuk nominasi untuk disandingkan dengan Morpheous di dalam postingan ini. Lagu apa hayo???

“There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, It's hard to kill
Who knows what miracles, you can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe”

Itu sedikit liriknya. Ada yang tahu apa judul lagunya? Iya,  benar. When You Believe. Yach, kira-kira lagu ini adalah untuk mencapai sesuatu, yang pertama kali harus kita lakukan adalah mempercayai atau meyakini bahwa kita bisa meraih yang kita inginkan itu. So sweet kan? Nah, sekarang sudah tahu kan kaitan Mariah Carrey ini dengan Morpheous?

Lalu ada kesamaan apa sampai R. Kelly dikaitkan dengan kedua orang di atas? Santai saja man. Nggak usah grusah-grusuh. Pasti akan saya jelaskan kok.

Begini, salah satu lagu R. Kelly yang paling terkenal, fenomenal, dan inspiratif adalah lagu berjudul “I believe I can fly”. Bagi yang pernah membuka profile saya tentu sudah tahu bahwa lagu ini merupakan lagu favorit saya. Bagi saya lagu ini sedemikian inspiratif dan menggugah sehingga tiap kali diterpa masalah, mendengarkan lagu ini sanggup memulihkan semangat juang saya. Liriknya tidak usah saya tuliskan ya? Googling aja pasti ketemu kok (padune ora apal :D).

Demikianlah hubungan dekat ketiga orang itu (Morpheous, Mariah Carrey, dan R. Kelly). Ketiganya menyerukan satu pesan bahwa kunci penting untuk meraih sesuatu adalah dengan percaya. Lalu, apakah Anda mau meraih yang Anda inginkan? Kalau iya, mulai sekarang yakinkan diri Anda seyakin-yakinnya bahwa Anda bisa meraih keinginan itu. Cepat atau lambat, jika Anda tetap berpegang tegus pada keyakinan itu, keinginan Anda pasti akan tergapai.

06 Mei 2008

The Best Kontes Nyanyi on TV

Akhir-akhir ini tiap jam tujuh malam saya seringkali menghentikan laju remote control televisi saya di stasiun yang motonya “makin Indonesia, makin asyik aja”. Anda pasti tahu stasiun televisi mana yang sedang saya bicarakan ini. Iya, benar. Stasiun televisi swasta pertama Indonesia. Tidak lain dan tidak bukan, Televisi Pendidikan Indonesia.

Televisi yang namanya amat mulia, tapi sayang program-programnya belum semulia namanya. (Mungkin karena menyadari kurang mulia program tayangannya itu pengelola stasiun ini sekarang jarang menyebutkan kepanjangan dari namanya, TPI. Sebagai gantinya, mereka mengganti kata pendidikan dengan kata keluarga. Maka jadilah sebutan TPI: televisi keluarga Indonesia.)

Tiap pukul tujuh malam di channel ini saya temukan sajian yang mau tidak mau membuat saya tidak ingin ke mana-mana. Dangdut Mania dan KDI. Dua acara inilah yang telah memaksa saya berhenti memencet remote kontrol (padahal biasanya tidak ada channel televisi yang saya pelototi lebih dari 10 menit dan di dua acara ini saya harus merelakan waktu untuk duduk dan memelototi TV selama kurang lebih 1 jam hingga jeda iklan. Luar biasa kan?)

Anda tentu bertanya kenapa saya sampai seterpikat itu dengan tayangan yang satu ini. Setidaknya saya 3 jawaban:

Pertama, harus saya akui musik dangdut adalah musik favorit saya. Saya tentu tidak bisa memberikan penjelasan ilmiah kenapa musik yang satu ini harus menjadi yang paling saya sukai. Saya hanya bisa mengatakan mungkin: mungkin dangdutlah yang saya dengar ketika dilahirkan, mungkin musik dangdut lah yang selalu dinyanyikan oleh ibu saat mengandung saya, Mungkin pula ibu ngidam memukul gendang dan meniup seruling saat saya di kandungan. Ya, mungkin saja. Yang pasti, saat mendengarkan musik yang satu ini jiwa saya seperti terserap dalam alunan nada-nadanya.

Kedua, acara ini berbeda dari kontes-kontes lain yang ada. Tantangan yang diberikan (khususnya dalam acara Dangdut Mania) begitu menarik dan sangat sulit. Bayangkan, seorang kontestan ditantang tampil di hadapan penonton (dan disiarkan secara langsung ke seluruh nusantara) untuk menyanyikan lagu yang tidak ia antisipasi sebelumnya. Ini tentu merupakan tantangan yang sangat sulit. Kalau si kontestan tidak benar-benar pencinta musik dangdut, tentu ia akan gelagapan oleh tantangan ini. Maka, melihat ketegangan (atau kesiapan) kontestan menghadapi tantangan ini sungguh memberikan keasyikan tersendiri pada saya tak peduli apakah akhirnya ia bisa mengatasi tantangan itu atau tidak.

Alasan ketiga saya menghentikan pencetan pada remote kontrol untuk menonton TPI adalah Bertha. Iya, Bertha. Benar, Bertha yang kabarnya guru vokalnya sebagian besar penyanyi pop Indonesia itu. Di dalam acara itu dia berperan sebagai komentator. Apakah Bertha tampil cantik dan menarik? Tidak. Ia tampil seperti biasa. Ia tidak bertambah langsing. Masih gem** seperti dulu. Tapi tentu bukan Bertha namanya kalau tidak tampil PD. Sangat PeDe malah.

Bagi saya sangat asyik melihat Bertha mengomentari kemampuan vokal setiap peserta dalam kedua kontes itu, Dangdut Mania dan KDI. Bagi saya, dia adalah orang yang jujur dan tidak suka bertele-tele. Jika menurutnya seorang kontestan memiliki kemampuan vokal yang buruk, ia dengan sangat terus terang dengan bahasa yang tidak berputar-putar akan mengatakan bahwa kemampuan vokal si kontestan payah. Sebaliknya, jika menurutnya seorang kontestan memiliki kemampuan vokal bagus, dia tidak akan sungkan memujinya setinggi langit. Keberterusterangan Bertha itulah yang membuat saya menyukai acara ini. Maka, saat Bertha menjelek-jelekkan ataupun saat ia menyanjung seorang kontestan bagi saya sama-sama enak untuk ditonton.

Nah, agar Anda percaya bahwa kedua acara yang saya sebutkan di atas patut untuk ditonton, tiap pukul tujuh malam jangan malu-malu pindahlah channel TV Anda ke TPI yang makin asyik aja....He-he-he....

 

12 Maret 2008

Masih Tentang Rhoma Irama dan Saya (mas Andrea ada acara)

Halo-halo-halo, jumpa lagi dengan saya the wisdom seeker (he..he..he.., jujur ini ikutan tetangga sebelah saya. Tapi, bagus juga ya. Oke lah, kalo gitu saya akan menggunakan nama ini sebagai alternative nama Indonesia saya). Dan bersama saya anda tentu akan dibawa menyusuri lorong-lorong gelap untuk menemukan sedikit cahaya (ternyata saya bisa puitis juga ya…). Awas, kalau tidak hati-hati di lorong-lorong ini bukannya dapat cahaya bisa jadi anda malah tersesat.

Baiklah, topik hikmah kali ini masih tidak beranjak jauh dari posting kemarin. Tentang penulis tetralogi Laskar Pelangi? Bukan. Bukan tentang si Ikal. Sekarang ini saya tidak ingin mengganggu ketenangan mas Andrea. Dia lagi banyak job. Jadi, biarlah mas Andrea menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Semoga juga kantongnya makin tebal sehingga mimpinya untuk tinggal di desa tertinggi di dunia bisa segera terwujud. Anda mau kan berdoa untuk dia? Well, kalau demikian pada hitungan ketiga kita ucapkan amin bersama-sama. Satu… dua…tiga… AMIEN!

Nah, kali ini saya akan membicarakan tokoh satunya dari posting kemarin. Siapa lagi kalau bukan Bang Haji Rhoma Irama. Mumpung beliau lagi sepi tontonan dan popularitasnya makin menurun karena usianya yang memang sudah tidak muda serta gara-gara Inul dan mantan istri barunya (betul lho, popularitas Bang Haji mulai redup setelah kasus goyang ngebor Inul Daratista dulu itu dan diperparah sama kasus yang di Indonesia ini masih sangat rawan, POLIGAMI, apalagi yang sembunyi-sembunyi dan terkuak, oleh infotainment lagi). Namun, meskipun demikian, walaupun begitu, however (pilih salah satu saja ya...), bagi saya bang Haji tetaplah seorang idola. Kenapa demikian? Jawaban singkat saya: karena kualitasnya. Maka biar anda tidak penasaran, akan segera saya ulas masalah bang Haji ini setelah jeda baris berikut ini. Jangan ke mana-mana. Tetaplah di tempat duduk anda karena sebentar lagi anda akan melihat sisi lain dari this one and only King of Dangdut.

All right, biar saya mulai. Jujur saja, jika mendengar nama Rhoma Irama apa yang terlintas di benak anda pada satu detik pertama? Dangdut! Masuk akal. Soneta! Sangat bisa diterima. Inul Daratista! Wah yang ini pasti baru kenal sama bang Haji nih. Tapi nggak papa. Yang penting masih ada hubungannya dengan Rhoma Irama. Yang terlintas dalam benak saya juga seperti itu. Dangdut, Soneta, dan, yang ini sebenarnya dipopulerkan bukan oleh bang Haji tapi oleh para penirunya, kata “Terlalu!”. Yang jelas tidak pernah terlintas nama si ratu ngebor, Inul Daratista (I'm so sorry Mbak..)

Itu baru pada satu detik pertama. Kalau saya membiarkan angan-angan saya melayang entah ke mana-mana selama lebih dari semenit maka banyak hal lain yang timbul dalam memori saya saat nama bang Haji disebut. Pacar, Piano, Setan, Siksa Kubur, Tukang Adu Domba, Keluarga Berencana, burung Garuda, Indonesia, Orang Buta, Pengemis, Pengamen, dan banyak lagi yang lainnya. Luar biasa kan? Satu nama bisa memiliki begitu banyak asosiasi. Dalam hal ini anda harus mengakui Bang Haji tidak tertandingi oleh musisi Indonesia lainnya, apalagi oleh musisi dangdut masa kini. (Sori mbak Dewi Perssik. Maaf, mas Syaiful Jamil)

Kalau anda bertanya kenapa bisa demikian. Jawaban saya sangat simple: karya Bang Haji membahas wilayah dan aspek kehidupan yang begitu luas. Lirik-lirik yang dia ciptakan bisa menggambarkan berbagai masalah kehidupan dengan kedalaman pemahaman yang tidak perlu diragukan. Dan, ini yang sangat penting, semua lirik-lirik itu begitu dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dan melegenda. Untuk yang terakhir ini, keberuntungan mungkin memainkan peranan sangat penting. Akan tetapi untuk yang pertama, keberagaman tema serta kedalaman muatan lirik lagu, keberuntungan tidak berlaku. Dibutuhkan seorang berjiwa sekaligus seniman, budayawan, santri, motivator, dan musisi yang benar-benar ulung untuk bisa menghasilkan karya seperti itu. Maka, mendengarkan lagu-lagu bang Haji saya bisa senantiasa melihat sosok yang berbeda. Kadang menjadi santri, kadang budayawan, dan kadang motivator. Adapun jiwa seniman dan musisi bang Haji bisa selalu saya rasakan di tiap dendang lagunya.

Di dalam lagu Istri Solehah, misalnya, jiwa santri bang Haji sedang memegang kendali. Maka perenungan-perenungan religius begitu terasa di tiap liriknya. Saya jamin kalau anda mendengarkan lagu ini secara seksama anda akan sampai pada persetujuan bahwa istri yang akan membuat bahagia tidak harus berparas cantik. Begitupun suami tidak harus berwajah tampan. Yang paling penting adalah baik tidaknya hati. Tentu saja akan baik lagi kalau sudah hatinya baik, parasnya cantik atau tampak, pintar, kaya, dan keturunan orang terpandang. Pokoknya ideal (sekarang ada nggak ya yang seperti ini…?)

Contoh lain, dalam lagu Begadang tampak nyata bahwa bang Haji berjiwa budayawan. Dia bisa memotret fenomena yang terjadi di lingkungannya secara tepat. Dia bisa menggambarkan kebiasaan begadang dan efeknya pada kehidupan pribadi seseorang. Sebutan apalagi yang bisa diberikan pada orang yang bisa melakukan hal semacam itu kalau tidak budayawan.

Nah, oleh bang Haji dua lagu itu bisa dibuat dalam komposisi nada yang begitu enak didengar. Lagu istri sholeha yang terkesan menasehati bisa dengan mudah masuk ke sanubari lantaran musiknya (juga jangan lupa suara penyanyinya yang mendayu-dayu) begitu indahnya terdengar di telinga. Demikian juga begadang. Lagu yang sebenarnya bertema remeh temeh ini bisa menarik hati untuk menyimaknya karena kepiawaian bang haji dalam menyusun nada.

Tentu saja dua contoh belumlah cukup. Tapi biarlah akan saya biarkan anda mencari dan mendengarkan lagu bang haji yang lainnya untuk kemudian menganalisa kualitas apakah yang dominan pada diri bang Haji saat menciptakan lagu tersebut: Budayawan kah, Sastrawan kah, Sufi kah, atau kah-kah yang lainnya.

Akhir kata, dengan kualitas semacam itu apakah saya harus malu mengakui bahwa Bang Haji Rhoma Irama adalah salah satu tokoh idola saya?

08 Maret 2008

Andrea Hirata, Rhoma Irama, dan Saya

(Dari kiri ke kanan): Andrea Hirata, Rhoma Irama, dan Saya

Baru-baru ini saya mengkhatamkan tiga buku dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Bagi anda yang merasa penggemar novel Laskar Pelangi saya yakin anda tahu judul ketiga buku ini. Ya. Betul! Judulnya adalah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Tepuk tangan buat anda semua. Wah, anda memang benar-benar penggemar Laskar Pelangi.

Nah, karena anda tahu judul ketiga buku yang sudah saya baca tentu anda juga tahu judul buku terakhir dari tetralogi ini yang belum saya miliki. Benar. Sekali lagi anda bisa menjawab dengan benar. Buku terakhir ini berjudul Maryamah Karpov. Menurut informasi yang saya dapat dari teliksandi saya di berbagai toko buku, novel terakhir ini akan terbit dan dilempar ke pasar bulan April mendatang.

Jadi, para fans Andrea Hirata, Anda harus bersiap-siap berebut untuk mendapatkan buku ini. Kalau perlu anda boleh kok menunggu di depan toko buku satu hari sebelum buku ini resmi dijual di toko buku. Atau, kalau anda masih khawatir tidak akan kebagian, anda boleh juga mendirikan tenda di depan toko buku-toko buku dua atau tiga hari sebelumnya. Bahkan, satu minggu sebelumnya juga nggak papa. Tapi kalau saya, saya tidak akan melakukan itu. meskipun saya termasuk penggemar mas Andrea (sok akrab…), saya tidak akan melakukan tindakan ‘gila’ semacam itu.

Kembali ke fokus hikmah kali ini, setelah membaca ketiga buku mas Andrea ini saya menemukan satu kesamaan antara dia dengan saya. Kalau anda menebak bahwa kesamaan saya dengan mas Andrea adalah sama-sama lulusan Sorbone University maka anda salah besar. Jika anda mengira bahwa saya dan mas Andrea sama-sama peraih beasiswa Uni Eropa anda juga masih salah besar.

He… he…he.., baiklah, sebenarnya kesamaan saya dengan mas Andrea adalah kami sama-sama penggemar Bang Haji Rhoma Irama. Anda ingat kan bahwa di ketiga buku tersebut nama Bang Haji selalu disebut-sebut. Di novel Laskar Pelangi, saat mas Andrea menggambarkan keadaan sekolahnya, anda tentu masih ingat, siapa artis dangdut yang disebut? Rhoma Irama di dalam poster Hujan Duit. Terus, di novel Sang Pemimpi juga tidak lupa disebut nama Bang Haji. Anda tentu tidak lupa bahwa di kamarnya Ikal memajang poster Bang Haji Rhoma Irama sementara Arai menggantungkan gambar Jim Morrison dan Jimbron menempelkan gambar-gambar kuda. Sedangkan di novel Edensor mas Andrea lagi-lagi menyebut nama Bang Haji. Dan menurut saya kali dia beanr-benar keterlaluan. Ah, bukan keterlaluan. Maksud saya kali ini dia benar-benar menunjukkan kekaguman pada si raja dangdut ini. Betapa tidak? Di novel ini ia menyebut nama Bang Haji dengan tidak main-main. Ya, dia membandingkan Bang Haji dengan ekonom klasik Adam Smith. Gilaaaa…..

Maka, membaca ketiga novel itu saya senyum-senyum sendiri. Bukan hanya karena saya bangga memiliki kesamaan dengan mas Andrea sebagai penggemar Rhoma Irama. Lebih dari itu, saya merasa geli dengan sikap orang-orang yang baru pulang dari luar negeri. Kebanyakan mereka sudah lupa dengan kebudayaan sendiri. Gaya hidup mereka berubah drastis. Tidak jarang, sekembali dari luar negeri mereka memandang sebelah mata tradisi ibu pertiwi, termasuk musiknya. Maka, karawitan, wayang, atau ketoprak tidak lagi mereka apresiasi. Padahal, pada saat bersamaan orang-orang bule sedang gencar-gencarnya mempelajari semua itu dan dengan bangga membawa semua itu ke negeri mereka sendiri-sendiri.

Untuk itu, saya sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Andrea Hirata. Bagi saya, menyebut nama Rhoma Irama di dalam novel anda dan menganggapnya idola merupakan bukti nyata bahwa Anda bukan kacang yang lupa akan kulitnya.

07 Maret 2008

Mati Syahid ala Hollywood

Kemarin saya nonton (lagi) film Braveheart karya Mel Gibson dimana ia juga main sebagai pemeran utama. Ah, ada satu perasaan asyik saat menonton adegan demi adegan film ini. Film yang mengambil setting tahun 1300-an lebih tepatnya tahun 1280 di Skotlandia ini begitu enak ditonton hingga tak terasa tiga jam berlalu begitu saja. Sungguh tidak banyak film yang mampu menyihir saya hingga mau duduk berlama-lama dan menunggu akhir cerita.

Tentu bukan saya saja yang merasakan keasyikan yang diberikan oleh film ini. Saya yakin di luar sana banyak orang lain, yang lebih mengerti dan mencintai film ketimbang saya, yang merasakan betapa film ini dibuat dengan amat serius. Mel Gibson mampu memberi sentuhan di tiap detail hingga adegan demi adegan begitu sambung menyambung dan menggantungkan jawaban di endingya. Tidak perlu saya katakan lagi, karena anda sekalian pasti sudah tahu, bahwa suatu cerita yang mampu membuat penonton penasaran mengenai endingnya akan mampu membuat penonton duduk manis memelototi hingga akhir. Dan memang demikian yang terjadi pada film ini.

Tidak hanya ceritanya, faktor-lainnya juga memberi kontribusi film ini dalam menyihir penonton. Perpaduan musik latar, efek visual dan kelihaian aktor dan aktrisnya memainkan peran telah menjadikan film ini sebuah maha karya. Lihat saja, misalnya, saat William Wallace berbicara pada utusan Longshank yang juga sekaligus menantunya, Princess Isabelle. Betapa dalam adegan ini Mel Gibson mampu menunjukkan emosi yang ditahannya sekaligus mengesankan betapa ia menghormati wanita. Bukan hanya kemampuan acting Mel Gibson saja yang patut diacungi jempol. Peran lawan mainnya dalam adegan ini juga layak mendapat pujian. Bagaimanapun tidaklah mudah memerankan seorang wanita yang dalam hati memuja orang yang ada di hadapannya (diceritakan Princess Isabelle mengagumi William Wallace setelah mendengar bahwa pemicu awal pemberontakannya adalah kematian istrinya, Murron, di tangan seorang komandan Inggris) akan tetapi di pihak lain ia sendiri merupakan utusan dari musuh orang tersebut. Emosi yang dibawa dalam adegan ini begitu kompleks hingga saya yakin tidak sembarang aktor atau aktris bisa melakukannya.

Dan salah satu kekaguman saya pada film ini adalah kemampuannya memvisualisasikan apa yang disebut dengan “kematian indah” dan “mati merana”. Selama ini saya sering bertanya mengenai perbedaan rasanya mati antara orang yang hidupnya dipenuhi kejahatan dan mereka yang hidup lurus dan memperjuangkan kebenaran. Nah, film ini berhasil menggambarkannya. Kematian yang indah dirasakan oleh William Walace di akhir hidupnya. Meski meregang nyawa di penyiksaan dengan cara dipenggal, toh William Wallace bisa merasakan mati dengan tenang dan bahkan mati dengan menyenangkan. Betapa tidak? Saat tubuh disayat-sayat oleh algojo, yang ada di matanya hanyalah senyum sang istri yang telah lama mati yang amat dirindukannya. Maka ketika kepala dipenggal, senyuman terlihat tersungging di bibir William Wallace. Dan itulah menurut saya yang disebut dengan kematian yang indah, mati syahid ala Hollywood.

Sebaliknya, “kematian merana” dirasakan oleh Longshank, raja Inggris yang menjajah Skotlandia dengan kejam dan yang diperangi William Wallace. Tidak seperti William Wallace, Longshank memang mati di atas peraduannya yang empuk dan indah. Akan tetapi, sebelum ajal menjemputnya ia terkena stroke sehingga membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata. Dan di sinilah letak gambaran betapa menyakitkannya kematian yang harus ia rasakan. Dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa itu, menantunya, Princess Isabelle, yang karena satu dan lain hal akan menjadi penerus kekuasaanya membisikinya kata-kata yang teramat sangat menyakitkan, yaitu bahwa dia mencintai William Wallace dan akan menganggapnya sebagai pahlawan kelak saat ia berkuasa. Coba anda bayangkan betapa terpukulnya perasaan Longshank mengetahui bahwa menantuanya amat mencintai musuh besarnya dan akan menganggap musuh besarnya itu sebagai pahlawan. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah bahwa sang menantu akan melanjutkan kekuasaannya. Dan yang lebih menyakitkan lagi ia tidak bsia berbuat apa-apa. Yach, kira-kira sakitnya seperti jika anda punya teman yang anda ajari menulis dan kemudian si teman itu selalu menulis di surat kabar dan selalu menjelek-jelekkan anda sedangkan anda tidak bisa membalas tulisan teman anda itu (he..he..he, nggak nyambung ya….). Pada saat seperti itulah Longshank mati. Mati merana kan?

Begitulah, film ini memang patut saya acungi empat jempol sekaligus. Tapi, tentunya saya tidak bisa menggambarkan semua keindahan film tersebut dalam tulisan ini. Yang baru saya gambarkan di atas barus seperseribu persennya. Untuk itulah sebaiknya anda menontonnya sendiri. Pinjamlah VCD di penyewaan (ingat jangan beli bajakan) dan nikmatilah film ini bersama orang-orang yang anda sayangi. Saya yakin jika anda menontonnya bersama orang yang anda sayangi maka di akhir film hubungan anda akan semakin mesra sebab film ini juga mengajarkan betapa berartinya orang yang kita sayangi bagi hidup kita. Selamat menikmati.

Lho, lho, lho! Terus hikmahnya apa? Ah, coba anda tebak sendiri…. :D