27 Agustus 2008

Kisah Kawin Paksa

Seorang anak dipaksa oleh orang tuanya untuk menikah dengan calon pilihan mereka. Si anak telah memiliki pilihan sendiri. Cintanya pada pujaan hatinya begitu besar. Akan tetapi kecintaan pada orang tuanya dia rasa jauh lebih besar lagi. Maka, meski batinnya teriris-iris, dia membuang impiannya dan menuruti kehendak kedua orang tuanya.

Pujaan hati anak itu adalah seorang pemuda yang sangat rendah hati. Dia telah begitu banyak berkorban demi cintanya. Berulang kali dia membuang mimpinya sendiri demi rasa cintanya pada kekasih. Ketika kekasihnya memberi tahu bahwa dirinya sedang dalam dilemma, antara memilih cinta pada kekasih atau pada orang tua, si pemuda terdiam. Dalam hati dia begitu takut akan kehilangan kekasih yang sangat disayanginya. Akan tetapi, bagian hatinya yang lain memberitahunya bahwa bukan tindakan yang benar untuk mendapatkan cinta sang kekasih jika sang kekasih kemudian akan disebut anak durhaka. Dia berpikir bahwa pengorbanan terbesar dalam cinta adalah mengorbankan perasaan cintanya. Maka, jika selama ini dia telah begitu banyak berkorban demi kekasihnya, pengorbanan terpuncak dalam cintapun siap dia lakukan. Maka, kedua insan yang saling mencinta itupun berpisah dan berjanji untuk selalu saling mendoakan kebahagiaan pujaan hati mereka.

Pernikahan tak terhindarkan. Si anak hidup bersama orang yang pada mulanya tidak dia cinta. Hanya rasa bakti kepada orang tua lah yang membuat dia rela hidup dalam keadaan seperti itu. Meski wajah kekasihnya tak pernah bisa lepas dari pelupuk mata, dia tetap menjalani hidup dengan suaminya.

Hari berlalu, pasangan suami istri itu kini sudah hidup bahagia. Si anak, meski masih tetap menyimpan rasa cintanya pada pujaan hati, kini telah mulai bias mencintai suaminya. Karena memang si suami ini orang dengan kepribadian baik, maka diapun bias memperlakukan istrinya dengan penuh cinta. Maka, kebahagiaan akhirnya bisa menyelimuti kehidupan kedua insan ini.

Saat melihat kebahagiaan yang dirasakan si anak, kedua orang tua si anak itu merasa bangga bahwa mereka telah berhasil membahagiakan anaknya. Mereka semakin menganggap bahwa keputusannya untuk memaksa anaknya berpisah dari kekasih yang dia cinta dan memaksanya menikah dengan calon pilihannya adalah tindakan yang benar. "Buktinya, sekarang anak kita bisa hidup bahagia dengan suaminya”. Begitu ucap mereka dengan sangat bangga.

Tanpa diketahui dari mana datangnya, seorang pemuda tampan sudah berada di depan kedua orang si anak ini. Dengan pandangan sangat tajam, si pemuda berkata

"Wahai orang tua, bukan tindakan kalian yang telah memaksa anak kalian menikah dengan pilihan kalian yang membut dia bahagia. Tindakan kalian itu tetap salah. Kalaupun anak kalian sekarang bisa hidup bahagia, itu karena balasan dari keikhlasannya mengesampingkan cintanya sendiri demi untuk berbakti pada kalian. Bukan tindakan kalian yang telah membuatnya bahagia. Sampai kapanpun, tindakan kalian ini adalah tindakan salah yang tidak hanya telah menyakiti hati dan perasaan anak kalian, akan tetapi juga telah menghancurkan hati seorang pemuda yang telah tulus dan penuh pengorbanan mencintainya. Kini, karena keikhlasannya pemuda itu pun hidup sangat bahagia. Semoga Tuhan menyadarkan kalian karena jika kalian mati dan pemuda itu belum memaafkan kalian, maka akhiratmu akan terbebani.”

26 Agustus 2008

Introspeksi

Maaf, postingan kali ini tidak akan panjang. Tapi, meski pendek insyaAllah ini ada gunanya. Berguna bagi saya dan berguna bagi Anda sekalian. Hanya saja, saya jamin ini tidak akan berguna kalau mata hati Anda sudah tertutup. Karena saya yakin hati kita semua tidak buta, maka kita akan mendapat manfaatnya.

Apa sih?
Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin bertanya pada diri sendiri (saya harap Anda pun menanyakannya pada diri Anda sendiri).

Apakah kita benar-benar sayang pada seseorang saat keinginan kita pada orang itu tak terturuti kemudian kita marah kepadanya?

Masih abstrak ya? Oke dech saya buat contoh konkrit saja...

Well, kalau Anda adalah orang tua dari anak-anak Anda sendiri, apakah Anda bisa dikatakan benar-benar sayang pada anak Anda jika mereka (anak Anda) punya keinginan yang berbeda dari keinginan Anda dan Anda marah karenanya?

Atau, apakah Anda masih bisa mengklaim diri Anda orang tua yang benar-benar menyayangi anak Anda jika Anda memaksa (benar-benar memaksa) anak Anda untuk menikah dengan pilihan Anda sementara dia sudah punya pilihan sendiri?

Ah, sungguh tidak masuk akal Anda bisa mengklaim diri sebagai orang tua yang menyayangi anak Anda jika bahkan pilihannya pun tidak Anda hormati. Mungkin Anda merasa bahwa dalam segala hal pilihan Anda jauh lebih baik dari pada pilihan anak Anda. Akan tetapi, jika anak Anda tidak menyukainya dan kemudian Anda tetap memaksa apalagi tanpa mau tahu seperti apa pilihan anak Anda, maka sungguh Anda tidak pantas, dan tidak layak menyebut diri Anda orang tua yang menyayangi anak Anda.

Kalau Anda beralasan bahwa ini demi kebahagiaannya, bahwa anak Anda pasti akan bahagia menikah dengan orang yang sudah mapan, taat beragama, terpandang, dan predikat baik lainnya yang mungkin benar ada pada calon pilihan Anda itu, maka saya yakin Anda perlu introspeksi. Coba renungkan kembali apakah semua predikat itu untuk kebahagiaan anak Anda ataukah demi kehormatan Anda. Karena, jika bagi Anda kebahagiaan anak Anda yang utama (bukan kehormatan Anda sendiri) maka Anda sebagai orang tua pasti rela mengorbankan apapun termasuk kehormatan Anda.

Maka, wahai para orang tua, introspeksi sikap Anda. Meskipun Anda orang terpandang, bahkan kyai sekalipun, Anda masih juga manusia yang penuh nafsu di dalam diri.

Akhir kata, bukti cinta yang sebenarnya adalah pengorbanan. Hanya mereka yang berani mengorbankan kepentingan sendiri lah yang layak disebut benar-benar mencintai. Dan, di antara pengorbanan terbesar adalah mengorbankan rasa cinta. Maka, demi cinta saya pun akan rela mengorbankan rasa cinta ini.....

Bagi mereka yang merasa mencintai dan menyayangi orang lain padahal sebenarnya mereka hanya menyayangi diri mereka sendiri, hanya ada satu kata: SADARLAH...

15 Agustus 2008

Hanya memberi tahu

Ah.. Sudah lama betul saya tidak mengisi tulisan di sini. Seperti biasa, saya tidak punya alasan yang lebih masuk akal selain alasan sibuk. Ya, meskipun alasan ini masuk akal, akan tetapi sebenarnya itu bukan alasan yang sebenarnya. Masih ada alasan lain di balik kata sibuk ini. Kira-kira, kalau ditelusuri lebih lanjut, di balik alasan yang paling sering digunakan orang ini (sibuk) ada satu kata yang lebih tepat menggambarkan penyebab begitu lamanya saya tidak mengupdate blog ini. Saya yakin Anda semua tahu. Ya, malas. Rasa malas lah yang sebenarnya menghalangi saya untuk terus menulis dan berbagi dengan Anda.

Ok, karena saya telah jujur kini saatnya saya memulai tulisan ini. Meskipun di lihat dari judul posting serta isi paragraf pertama tampaknya tulisan kali ini hanya pengumuman, sebetulnya saya benar-benar akan berbagi sesuatu dengan Anda (tentu saja kalau Anda mau menerima :D). Jadi terima kasih kalau Anda semua tidak berhenti di paragraf pertama dan masih membaca paragraf ini.

Baiklah, sebelumnya biarkan saya bertanya. Tolong jawab dengan jujur. “Ketika membaca judul tulisan ini “hanya memberi tahu” apakah Anda berpikir bahwa tulisan ini hanya akan berisi pengumuman? Jika iya, maka mulai saat ini Anda sekalian harus mulai berhati-hati saat mendengar, membaca, menulis, dan berbicara. Dari tiga kata dalam tulisan ini, saya yakin ada satu kata yang begitu penting sehingga mempengaruhi pikiran dan tebakan Anda akan isi tulisan ini. Apakah Anda mengatakan kata itu adalah “hanya”? Jika demikian, maka menurut saya Anda sedikit banyak sudah bisa menebak apa yang akan saya jelaskan. Benar, saya memang akan sedikit mengulas penggunaan kata hanya dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Aku hanya ingin kau tahu betapa besarnya cintaku kepadamu" "Aku hanya ingin berbicara denganmu, itu saja" "Aku menelponmu hanya ingin bilang aku cinta kamu (I just call to say I love you)” “Aku hanya tak habis pikir kenapa dia tega melakukannya”

Saya yakin Anda sering mendengar, membaca, menulis, atau bahkan mengatakan kalimat-kalimat di atas. Dan inti dari semua kalimat itu ada pada kata “hanya”. Dan parahnya selama ini kita begitu cueknya dengan kata yang satu ini sehingga kita kurang memperhatikan arti sebenarnya yang terkandung oleh kata ini. Maksud saya begini, jika kita ingin menggunakan kata hanya dengan benar, maka kita harusnya hanya/benar-benar/sungguh-sungguh punya satu maksud dari kalimat yang kita buat.

Kenyataannya, hampir tidak ada satu orang pun di dunia ini (Anda boleh menyangkal asal ada alasan dan bukti kuat :D) yang pernah menggunakan kata hanya dan dia benar-benar hanya memiliki satu tujuan. Ambil lah contoh kalimat di atas “Aku hanya ingin kau tahu betapa besarnya cintaku kepadamu”. Di dalam kalimat ini, kalau kita benar-benar menggunakan kata hanya dengan benar maka seharusnya tidak ada maksud lain selain bahwa kita mau menunjukkan betapa besar cinta kita pada seseorang. Tapi apakah kita benar-benar hanya ingin menunjukkan rasa cinta pada seseorang saja, dan tidak ada keinginan lainnya setelah itu? Saya pikir dengan menggunakan kalimat di atas kita tidak berhenti hanya pada pengungkapan rasa cinta. Ada keinginan lain yang mungkin tidak kita akui. Misalnya “setelah kau tahu bahwa aku mencintaimu, balas dong cintaku ini” atau “aku ingin setelah kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu engkau mau kembali lagi kepadaku”. Nah, kalau memang demikian berarti kita belum bisa menggunakan kata hanya dengan benar.

Oiya, di dalam posting ini saya juga tidak hanya bermaksud memberi Anda informasi meskipun saya menggunakan kata hanya di dalam judul posting. Di samping memberi Anda informasi, saya juga ingin Anda setuju dengan pendapat saya. Nah, ini jelas contoh nyata bahwa kata hanya ternyata selalu digunakan tidak sebagaimana mestinya. Maka, hati-hatilah saat Anda membaca, mendengar, menulis, atau berbicara dengan menggunakan kata hanya....

Tapi terserah Anda sih, saya hanya ingin memberi tahu :D :D :D

25 Juli 2008

Cinta yang Membunuh

Akhir-akhir ini saya dihantui lirik lagunya D’masiv. Biar nggak penasaran, akan saya tulis potongan liriknya di sini:

Kauhancurkan aku dengan sikapmu
Tak sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah hati ini meyakinkanmu
Cinta ini membunuhku....

Nah, lirik di atas yang selalu menggangu saya. Saya katakan mengganggu karena setiap kali mendengar lagi ini entah di radio, atau di televisi, atau di komputer teman (kalau yang terakhir ini saya jamin mp3 yang bajakan :D), ada yang mau tidak mau saya pikirkan. Saya berharap Anda tidak penasaran tentang apa yang saya pikirkan. Akan tetapi, kalau ternyata Anda penasaran, saran saya baca terus posting ini.

Well, harus saya akui lagu ini memiliki arti tersendiri bagi saya. Apalagi setelah mendengar langsung dari penciptanya (lewat TV tentunya) bahwa lagu ini terinspirasi oleh pengalaman pribadinya. Apakah Anda bisa menebak kira-kira pengalaman seperti apa yang mendorong si pencipta yang personelnya D’masiv ini mencipta lagu yang ’thriller’ seperti ini?

Kalau Anda menebak pengalaman tragis cinta yang ditolak, maka dengan berat hati harus saya katakan tebakan Anda kurang tepat. Kenapa? Karena bukan hanya ’cinta yang ditolak’. Akan tetapi, 'cinta yang ditolak berkali-kali'. Kalau kata si penciptanya sih, dia sempat 'nembak' cewek yang disukainya lebih dari 7 kali. Dan yang benar-benar men’trenyuh’kan adalah semua usahanya yang sampai tujuh kali itu gagal. Alias dia ditolak. Bukan hanya ditolak. Lebih tepatnya ditolak habis-habisan. Atau bahasa lumrahnya ditolak mentah-mentah gitu lah.

Bayangkan, tujuh kali menyatakan cinta pada orang yang sama dan terus menerus ditolak. Bisakah Anda membayangkan bagaimana rasanya? Ah, sayang sekali kalau Anda tidak bisa membayangkan. Sayang sekali kalau Anda tidak pernah ditolak apalagi lebih dari sekali. Karena, kalau demikian Anda tentu tidak akan bisa menikmati lagu ini sepenuh hati. Paling-paling Anda hanya menikmati musiknya saja. Tidak sampai ke emosi yang dibawa oleh liriknya.

”Terus, Kenapa lagu ini mengganggu pikiran pencari hikmah?” Mungkin Anda mulai bertanya demikian. Baiklah, akan saya katakan. Tapi tolong simpan ini baik-baik. Jangan dikatakan sama siapapun. Ini rahasia besar. Jangan sampai bocor. Karena kalau sampai bocor maka saya harus memanggil mario si tukang ledeng. Wah, bisa keluar uang banyak saya untuk menyewa si mario. Jadi, plis ya, setelah membaca ini tolong sangat disebarluarkan.

Sebenarnya.... .... pengalaman tertolak ini, ehem ehem, juga pernah saya rasakan. Dan guess what. Sama seperti pencipta lagu ini, saya juga pernah ditolak oleh seseorang (lebih tepatnya wanita, lebih tepatnya lagi wanita tercantik di dunia :D). Dan sama halnya dengan personel D’masiv, penolakan yang saya rasakan juga lebih dari sekali. Mendingnya (ini bukan bahasa Indonesia baku lho), penolakan yang saya rasakan tidak sebanyak si D’masiv. Lebih mendingnya lagi, tidak seperti D'masiv yang sampai sekarang katanya si gadis tidak bisa menerima (ehem-ehem) cintanya, si wanita yang tercantik di dunia itu pada akhirnya tidak kuasa untuk tidak mengatakan ”iya” saat saya mengatakan ”aku cinta” untuk yang kesekian kali :D.
Itulah, kenapa lagu D'masiv bisa mengganggu saya.....

Dan, tahukah Anda bahwa saya merasa beruntung pernah merasa tertolak? Kenapa? Karena kalau tidak, saya tidak tahu apakah perasaan saya sama dia akan sebesar seperti saat ini :D.

Dan lagi, saya juga merasa beruntung pernah mengalami masa-masa kurang bahagia, masa-masa sulit. Karena pengalaman masa-masa seperti itu membuat saya semakin tegar menghadapi kesulitan dan bisa menikmati setiap bentuk kebahagiaan yang saya rasakan saat ini.

Well, so sweet kan?

03 Juli 2008

Emansipasi: Wahai Para Wanita, Jangan Menunggu Diberi

Hari ini saya dengan sangat terpaksa harus mengakui keunggulan salah seorang rekan kerja yang kebetulan berjenis kelamin perempuan. Namanya bu Yuni. Meski sudah mengeluarkan segenap kemampuan, tetap saja saat tadi bertanding tenis meja melawan rekan saya itu, saya ditaklukkan dua set langsung. Sebetulnya bukan hanya dalam pertandingan tenis meja saja saya takluk. Di pertandingan tenis lapangan saya juga masih harus menelan kekalahan dari dia. Berhubung saya adalah pencari hikmah, maka meski kalah saya tetap harus mencari hikmah. Dan, hikmah itu adalah pemahaman saya yang lebih mendalam (saya rasa) mengenai emansipasi wanita.

Hmm, ngomong-ngomong tentang emansipasi, jika mendengar kata yang satu ini, apa yang terlintas di benak Anda? Saya yakin nama R.A. (Raden Ajeng) Kartini berada di urutan teratas kilasan pikiran Anda. Lalu ketertindasan wanita menduduki tempat selanjutnya. Dan ketidakadilan peran kaum adam dan hawa di urutan ketiga. Apakah dugaan saya betul? Mudah-mudahan betul. :D

Sangat wajar jika nama Kartini segera terlintas di benak Anda. Bagaimana tidak? Lha wong sebagian besar dari kita pertama kali tahu kata emansipasi adalah dulu saat guru kita menjelaskan tentang Kartini. Ini terutama berlaku pada saya. Saya pertama kali mendengar kata asing yang ternyata dari bahasa Inggris ini ketika guru saya menjelaskan panjang lebar mengenai peran Kartini dalam pelajaran sejarah (kalau tidak salah dulu namanya PSPB). Meski waktu itu saya belum tahu betul artinya, sedikitnya saya sudah mulai tahu maksudnya dan kadangkala juga menggunakannya.

Ketertindasan wanita serta ketidakadilan peran laki-laki perempuan juga sangat mungkin dikaitkan dengan kata emansipasi. Kenapa? Sekali lagi karena Kartini. Lho kok Kartini lagi? Ya iya lah (masak ya iya dong :D). Kan beliau wanita pertama yang tercatat di dalam sejarah Indonesia yang dengan gigih memperjuangkan persamaan hak dan peran antara laki-laki dan perempuan. Katanya, dulu peran dan kedudukan wanita dipandang hanya sebelah mata (pegel dong matanya merem melek terus :D). Kalau ayah saya bilang, dulu peran wanita itu hanya tiga: macak, masak, manak (dandan, masak, dan melahirkan). Kalau Anda-Anda (para wanita masa kini) hidup di masa itu, bisakah Anda sekalian membayangkan bagaimana rasanya? Dari sekian banyak aktifitas yang bisa dilakukan, Anda hanya dibatasi untuk melakukan tiga hal di atas. Meski saya seorang pria, saya bisa membayangkan betapa tersiksanya wanita masa itu.

Nah, Kartini telah memulai gerakan untuk menentang pembatasan peran dan kedudukan wanita. Kini, wanita tidak lagi hanya berada di dapur (untuk masak), di depan cermin (untuk macak), di atas kasur (untuk siap-siap manak). Hampir di semua bidang kehidupan, wanita kini telah ikut ambil bagian. Wartawan wanita, banyak. Presiden perempuan, tidak sedikit. Menteri(wati), berlimpah. Bahkan, pimpinan perampok yang jenis kelaminnya perempuan juga sudah ada.

Sayangnya, meski sekarang sudah begitu banyak wanita yang menjabat posisi yang dulu hanya dipegang oleh kaum laki-laki, ternyata masih banyak juga kaum perempuan yang hanya menuntut emansipasi. Mereka tidak melakukan apa-apa untuk bisa mendapatkan peran yang diinginkan. Mereka hanya berteriak-teriak, merengek-rengek, dan meminta kaum adam untuk memberi posisi. Saat posisi sudah didapat dan peran baru sudah dijabat meski hanya sekedar pemberian, mereka baru bisa bernafas lega dan berani berkata bahwa di negaranya emansipasi wanita benar-benar ditegakkan.

Lho, lho, lho, kok jadi jauh begini pembahasan hikmah kali ini. Wah, mungkin saya masih emosi karena kekalahan saya sehingga jari saya jalan-jalan di atas keyboard tanpa saya sadari :D. Tapi, intinya Anda pasti bertanya apa hubungan antara Kartini, Bu Yuni, pemahaman yang lebih baik mengenai emansipasi, dan kekalahan saya dari bu Yuni. Kalau itu pertanyaan Anda, maka jawabannya adalah begini: Kartini memperjuangkan emansipasi wanita karena beliau melihat ketertindasan perempuan dari laki-laki. Untuk melakukan perjuangannya Kartini tidak hanya menuntut dan merengek-rengek pada kaum lelaki masa itu agar peran wanita tidak dibatasi. Sebaliknya, beliau berjuang dengan melakukan tindakan nyata yang membuktikan bahwa wanita juga bisa unggul dalam hal-hal yang dulu hanya dilakukan oleh laki-laki. Nah, di lain pihak, bu Yuni juga telah menunjukkan kepada saya bahwa wanita memang bisa lebih unggul dari laki-laki. Buktinya dia bisa mengalahkan saya dalam pertandingan tenis. Dia tidak hanya merengek untuk diperlakukan sama, tetapi melakukan tindakan nyata yang membuktikan bahwa dirinya (dan kaumnya) tidak kalah, bahkan bisa lebih unggul, dari kaum laki-laki.

Jadi, kalau Anda adalah kaum hawa yang sedang menuntut emansipasi, ada baiknya Anda meniru dua orang di atas, Kartini dan bu Yuni. Jangan hanya menuntut untuk diberi diperlakukan sama, akan tetapi buktikanlah dengan tindakan nyata bahwa Anda memang layak mendapat perlakukan sama.

01 Juli 2008

Menyanyi dari Hati

Menyanyi, siapa di dunia ini yang tidak suka menyanyi? Hmm, rasanya tidak ada dech. Dari Afrika sampai Amerika, semua orang sedari kecil sudah terbiasa menyenandungkan nada-nada meski dengan bahasa yang berbeda. Bahkan, seorang yang notabene tidak bisa bicara pun masih bisa dan suka bersenandung meski tanpa mengeluarkan kata-kata. Yach, seperti saat kita ingin bernyanyi tapi tidak mengerti atau hapal liriknya gitu dech. Mengerti kan maksud saya?

Nah, kalau seorang yang tunawicara saja mau dan mampu bersenandung, apalagi dengan Anda-Anda yang bisa bicara secara sempurna. Pasti, pasti Anda, seperti juga saya sangat menyukai senandung kata-kata yang tertuang dalam sebuah nyanyian. Kenapa bisa begitu? Kalau Anda bertanya demikian, maka jawaban saya adalah bahwa lagu bisa mewakili suasana hati. Sebuah nyanyian bisa menunjukkan kesedihan kita sekaligus kebahagiaan yang sedang kita rasa. Tidak percaya? Tidak mengapa. Tapi coba jawab pertanyaan saya, ketika Anda sedang patah hati karena ditinggal kekasih, misalnya, selain menangis dan curhat pada teman dekat, apalagi yang ingin Anda lakukan? Hmm, rasanya saya mendengar suara hati Anda yang sedang berkata ”saya ingin menyanyi lagu sedih, lagu yang memiliki cerita sama dengan keadaaan saya saat ini". Apakah benar demikian? Kalau demikian berarti pernyataan saya bahwa nyanyian bisa mewakili perasaan adalah benar.

Bukti lain bahwa menyanyi adalah kesukaan hampir semua orang adalah kenyataan bahwa saat ini di berbagai belahan dunia kontes yang paling banyak diminati oleh masyarakat adalah kontes menyanyi. Tengok saja kontes American Idol. Setiap tahunnya berapa juta orang yang ikut ambil bagian dalam audisi kontes tersebut? Menurut yang saya baca sih, jumlah orang yang berminat untuk ambil bagian dalam acara tersebut sangat lah tinggi. Itu baru mereka yang turut ambil bagian dalam kontes tersebut. Belum lagi para pemirsa yang setiap minggunya menyaksikan tayangan kontes dari televisi. Mereka bisa mencapai ratusan juta. Hmm, sekali lagi jumlah mereka yang ingin ikut ambil bagian serta mereka yang selalu menyaksikan kontes ini menunjukkan betapa menyanyi merupakan sesuatu yang sangat digemari. Dan, hal yang sama pun terjadi di belahan dunia lainnya. Anda tahu kan bahwa kontes idol-idolan ini sekarang tidak hanya ada di Amerika saja? Kontes berlisensi American Idol ini diadakan di hampir seluruh penjuru dunia, termasuk juga di Indonesia.

Nah, meski kita semua suka menyanyi, tidak demikian halnya dengar mendengar nyanyian. Tidak sembarang penyanyi bisa membuat kita suka kepadanya. Bahkan, seorang diva yang sudah terkenal pun belum tentu bisa memikat kita meski dengan suaranya yang indah bagai burung camar. Kenapa bisa demikian? Karena keinginan kita untuk menyanyi adalah keinginan yang datang dari hati. Maka, kita pun juga hanya akan menyukai lagu yang menyanyi dari hati. Sejalan dengan nasehat Mary T. Browne bahwa sesuatu hanya akan menarik sesuatu yang sama. Dalam hal ini kegemaran akan senandung yang datangnya dari hati hanya akan bisa dipuaskan oleh senandung yang dinyanyikan dari hati pula, bukan hanya di mulut saja. Hmm, so sweet :D :D :D.

Karena itulah, tidak semua pengamen yang sering kita jumpai di bus-bus bisa menarik perhatian kita. Hanya segelintir pengamen saja yang kita sukai dan membuat kita rela mengeluarkan sedikit uang untuk diberikan kepadanya. Yang sedikit itu pasti menyanyi dari hati. Sedangkan yang lainnya tentu hanya bersenandung di mulut saja.

Dan perlu diingat, ini tidak hanya berlaku dalam hal menyanyi saja. Dalam hal-hal lain dan aktifitas apa saja hukum bahwa sesuatu harus datang dari hati bisa diterapkan jika Anda ingin mendapatkan respon datangnya juga dari hati. Maka, saat berbincang dengan tetangga, saat ngobrol dengan bawahan, saat berkumpul dengan teman, bahkan saat bergurau dengan anak-anak Anda pun, cobalah lakukan semua itu dari hati.


P.S:   Selamat menikmati bulan baru, Juli 2008. Semoga di bulan ini kebaikan kita yang bertambah bukan sebaliknya. Amien.  :-)

29 Juni 2008

Kesamaan yang Menjauhkan

Saya amat-amati, akhir-akhir ini di Negara saya Indonesia raya tercinta sedang mewabah satu penyakit yang menurut saya sih jauh lebih berbahaya dari sekedar HIV AIDS. Yach, setidaknya penyakit yang baru saya sebut terakhir sudah mulai ketemu obatnya. Anda pernah dengar kan kalau buah merah yang banyak terdapat di Papua kabarnya telah terbukti bisa menanggulangi efek mematikan dari penyakit paling fenomenal abad ini tersebut? Sementara, penyakit yang saya sebut pertama bukannya tidak ada obatnya. Obatnya sudah tersedia sejak lama, meski tidak dijual di apotik dan toko obat. Hanya saja tentu suatu obat tidak akan ada manfaatnya kalau tidak diminum tho? Nah, para pengidap penyakit ini hampir semuanya tidak menyadari bahwa diri mereka sedang mengidap penyakit, karena itu obat yang ada pun tidak diminum. Akibatnya, penyakit ini semakin mewabah dan semakin parah.

Anda pasti bertanya-tanya apa sebenarnya penyakit yang saya maksudkan. Baiklah, tidak usah ditunggu lama-lama, langsung saja akan saya beberkan pengamatan saya atas kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitar saya, yang saya yakin juga terjadi di sekitar Anda.

Di sekitar tempat saya, terdapat dua golongan orang yakni kaya dan miskin. Saya yakin ini juga ada di sekitar Anda. Dua orang golongan ini memiliki gaya hidup yang berbeda (yang tentu dong :D). Aktifitas mereka berbeda, tempat bermain berbeda, pendidikan berbeda, bahkan sampai cara bicara pun berbeda. Jadi, hampir dalam segala hal kedua golongan ini berbeda.  Akan tetapi, di antara begitu banyak perbedaan itu, terdapat satu kesamaan. Sayangnya, kesamaan ini tidak menjadikan kedua golongan menjadi dekat dan saling mengerti. Kesamaan di antara mereka itu justru membuat mereka saling menyalahkan. Apakah Anda bisa menerka apakah kesamaan itu? Tidak bisa? Baiklah, kesamaan itu adalah bahwa mereka sama-sama salah menggunakan dalil. Ha?! Maksudnya apa, maksude opo? Maksud saya begini: di dalam ajaran agama saya ada dua dalil untuk kedua golongan tersebut, kaya dan miskin. Kira-kira dalil pertama berbunyi ”Di dalam harta yang kau miliki, ada hak orang-orang miskin". Sedangkan dalil kedua berbunyi "Jangan sekali-kali kau menggantungkan hidupmu pada orang lain".

Nah, menurut Anda, apakah kedua dalil itu berlaku untuk kedua golongan? Ataukah hanya satu dalil saja yang berlaku untuk satu golongan sedangkan dalil lainnya tidak berlaku? Kalau memang hanya satu dalil yang berlaku untuk suatu golongan, kira-kira dalil mana yang seharusnya digunakan oleh golongan kaya, dan dalil mana yang seharusnya dipegang oleh golongan miskin?

Saya yakin Anda bisa menjawabnya dengan benar. Ya, masing-masing dalil di atas hanya berlaku untuk satu golongan. Dalil pertama seharusnya dipegang oleh golongan kaya, sedangkan dalil kedua seharusnya menjadi pegangan golongan miskin. Kalau kedua golongan tersebut bisa memegang dalil secara tepat, tentu tidak akan ada saling salah menyalahkan di antara kedua golongna itu. Orang kaya tentu akan tanpa diminta memberikan sebagian harta yang dimiliki untuk orang miskin yang membutuhkan. Sedangkan orang miskin tidak akan menggantungkan dirinya pada orang kaya dengan cara meminta. Bukankah kalau demikian yang terjadi, hidup akan seimbang. Tidak akan ada rasa saling memandang sebelah mata? Orang kaya tidak akan mengolok-olok yang miskin karena mereka tidak pernah meminta-minta. Dan orang miskin tidak akan membenci yang kaya karena mereka tanpa diminta telah menafkahkan harta yang dimiliki.

Nyatanya, yang terjadi tidak demikian. Kedua golongan itu sama-sama mengambil dan memegang dalil-dalil yang seharusnya menjadi pegangan golongan lainnya. Orang kaya menggunakan dalil kedua, sedangkan orang miskin mengambil dalil pertama. Maka, terjadilah fenomena yang sangat tidak nyaman dipandang mata. Orang kaya menjadi pelit. Saat ada peminta-minta, meski memberi, dalam hati mereka mengutuki si peminta. Sedangkan orang miskin menjadi tidak mandiri dan lebih suka menggantungkan hidupnya pada orang kaya. Ya, demikianlah dampak dari satu kesalahan: salah menggunakan dalil.

Itu baru satu contoh kejadian. Masih banyak kejadian lain yang disebabkan oleh kesalahan menggunakan dalil yang kalau semuanya ditulis dalam postingan ini anda tentu akan kehilangan semangat membaca karena saking banyaknya. Maka, lebih baik saya cukup memberikan satu contoh. Tugas Anda adalah mencari contoh-contoh lainnya. Dan, kalau Anda telah menemukan contoh lain, berbaik hatilah untuk mencantumkannya di dalam komentar. :D.

Akhirul posting (hehehe, niru siapa hayo ?!) mari kita memiilih dan menggunakan dalil yang benar.