30 April 2009
Calon Penghuni Surga
Sebelumnya, yang perlu digarisbawahi dari pernyataan di atas adalah frasa ‘bertemu dan berpisah karena Allah’. Tentu saja kata ‘bertemu’ dan 'berpisah’ di sini tidak digunakan secara denotatif yang berarti ‘bersama dan berjauh-jauhan secara fisik’. Kenapa demikian? Karena, jika makna ini yang dimaksudkan oleh dua kata tersebut, maka akan menunjukkan betapa mudahnya untuk mendapat predikat sebagai calon penghuni surga. Padahal, dalam konteks keagamaan, mencapai surga merupakan salah satu pencapaian tertinggi manusia yang tentu saja hanya bisa diraih dengan usaha yang berat. Seperti halnya untuk bisa menjadi pintar seseorang harus giat belajar, atau sebagaimana untuk jadi kaya seseorang harus kerja keras, untuk menjadi calon penghuni surga seseorang juga harus berjuang keras.
Berdasarkan alasan di atas, saya berkesimpulan bahwa kata ‘bertemu’ di sini mengandung makna konotatif ‘saling mencintai’ sedangkan ‘berpisah’ memuat arti ‘saling melepaskan’. Kedua makna konotatif ini jelas-jelas lebih sesuai dengan kriteria calon penghuni surga karena keduanya sama-sama berat untuk dilakukan. Nyatanya, tidaklah mudah untuk mencintai seseorang karena Allah. Demikian juga sangat sulit untuk berpisah dari seseorang yang dicintai karena Allah.
Selain itu, yang juga perlu dijelaskan dari pernyataan di atas adalah frasa ‘dua orang manusia’. In my humble opinion, frasa tersebut tidak mengacu semata-mata pada dua orang dengan jenis kelamin berbeda alias laki-laki dan perempuan, atau cowok dan cewek. Frasa ini juga bisa mengacu pada dua orang berjenis kelamin sama yang saling mencintai dan saling melepaskan dalam konteks persahabatan atau persaudaraan. Contoh mudahnya adalah persaudaraan yang terjalin antara sahabat muhajirin dan anshor pada masa Rasulullah. Namun demikian, dalam catatan ini saya hanya akan mengulas aplikasi pernyataan di atas dalam konteks hubungan antara laki-laki dan perempuan alias konteks percintaan.
Nah, bagaimanakah implementasi pernyataan tersebut dalam konteks percintaan? Bagaimanakah ‘saling mencintai dan saling melepaskan karena Allah’ ini berlaku dalam hubungan romantis yang melibatkan perasaan cinta? Lebih terperinci lagi, bagaimanakah dua orang (laki-laki dan perempuan) bisa saling mencintai karena Allah dan juga saling melepaskan karena Dia?
Tentu saja tidak mudah untuk menjelaskan jenis percintaan dan perpisahan yang didasari oleh dorongan penghambaan pada sang Khaliq. Saya yakin psikolog berpengalaman pun akan kesulitan membedakan percintaan dan perpisahan yang didorong oleh keikhlasan dan yang dilandasi oleh hal lainnya. Karenanya, saya yakin apa yang akan saya utarakan ini pasti akan memicu pro kontra dan saat menulis ini saya sudah siap menghadapi dan menerima ketidaksetujuan Anda asal disampaikan dengan cara yang baik dan tentu saja dilandasi alasan yang masuk akal nan logis.
Bagi saya, percintaan karena Allah adalah setiap hubungan percintaan yang didasari oleh niat baik dan yang memiliki tujuan baik. Di sini saya menggunakan istilah niat baik dan tujuan baik dengan pemahaman bahwa niat dan tujuan tersebut memenuhi kriteria sebagai niat dan tujuan yang diridhoi Allah. Keduanya (niat dan tujuan) harus ada dan menjadi dasar hubungan percintaan di antara dua insan.
Konkretnya, menurut hemat saya percintaan yang dilandasi oleh niat baik adalah percintaan yang diniati untuk saling mengenal dan menyesuaikan watak pasangan. Sementara itu, tujuan yang baik dari hubungan semacam itu adalah untuk membina rumah tangga melalui pintu pernikahan. Bisa dilihat di sini bahwa keduanya harus selalu ada dan saling melengkapi. Niat atau tujuan baik saja tidaklah cukup. Niat untuk mengenal watak pasangan saja tidaklah memadahi jika tidak dilengkapi dengan tujuan untuk menikah. Begitu pula tujuan untuk menikah saja tidaklah cukup tanpa adanya niat untuk saling mengenal dan menyesuikan watak pasangan.
Sampai di sini, bagi Anda yang saat ini sedang dalam masa ‘berpacaran’ coba dech tengok ke dalam lubuk sanubari Anda. Korek-koreklah nurani Anda untuk mencari tahu apakah hubungan yang selama ini Anda bina dengan pasangan Anda sudah didasari oleh niat dan tujuan yang baik setidaknya seperti yang sudah saya tuliskan di atas. Jika niat dan tujuan semacam itu telah mendasari hubungan Anda, jaga dan sterilkanlah keduanya. Jangan biarkan niat-niat ‘jahat’ menyusup dan mempengaruhi pikiran Anda sehingga membelokkan niat baik Anda. Sebaliknya jika ternyata selama ini niat dan tujuan Anda tidaklah mulia, mulai sekarang luruskanlah niat Anda. Buanglah jauh-jauh pikiran nista dari kepala Anda.
Dalam konteks ini ada satu pepatah lama yang menurut saya relevan: tanamlah padi dan perhatikanlah rumput pasti akan ikut tumbuh. Tanamlah rumput, dan awasi tidak ada padi yang ikut tumbuh. Maka, landasilah percintaan Anda dengan niat dan tujuan baik, karena saat niat dan tujuan Anda baik pun, hal-hal yang tidak baik pasti akan ikut mewarnai hubungan Anda. Sebaliknya, jika Anda sudah melandasi hubungan percintaan Anda dengan niat tak baik, jangan harap hal-hal baik akan mewarnai hubungan Anda.
Selanjutnya, apakah yang dimaksud dengan saling melepaskan karena Allah? Masih dalam konteks hubungan percintaan, secara sederhana frasa ini bisa dijelaskan demikian: secara sadar memutuskan dan mengakhiri hubungan romantisme di antara dua pasangan saat keduanya masih saling mencintai dengan pertimbangan demi kebaikan bersama. Bentuk dari 'kebaikan bersama' dalam konteks ini bisa bermacam-macam. Bisa jadi setelah berusaha saling mengenal dan berusaha menyesuikan watak, keduanya sama-sama merasa mendapati ketidakcocokan watak yang terlalu jauh yang jika dipaksakan untuk dilanjut ke jenjang pernikahan justru akan membahayakan kelanggengan pernikahan itu sendiri. Mungkin juga perpisahan itu disebabkan oleh faktor eksternal semisal tiadanya restu dari orang tua sehingga jika hubungan itu dilanjutkan akan menyakiti perasaan mereka. Nah, saat sepasang kekasih memutuskan untuk berpisah dengan alasan-alasan seperti ini, saat itulah mereka sedang mempraktikkan ‘saling melepaskan karena Allah ‘.
Hanya saja, terkait dengan restu orang tua ada beberapa hal yang harus dicatat. Jika alasan orang tua tidak merestui pernikahan tersebut sesuai dengan syariah semisal calon pasangan si anak terbukti sebagai orang munafik atau kafir atau musyrik, maka si anak yang menolak mengakhiri hubungan percintaan tersebut masuk ke dalam kategori anak durhaka. Namun, jika alasan orang tua tidak dibenarkan oleh syariah, misalnya, karena calon suami atau istri dari si anak berasal dari keluarga yang derajat sosialnya lebih rendah dari derajat sosial mereka sehingga mereka merasa malu jika mendapat menantu dari kalangan tersebut, maka si anak yang menolak untuk mengakhiri hubungannya dengan sang pasangan tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori anak durhaka. Justru, jika dengan alasan seperti itu orang tua tetap memaksa anaknya untuk mengakhiri hubungan percintaannya dengan sang pasangan, maka mereka sendirilah yang mendapat predikat orang tua durhaka.
Nah, bagi Anda yang merasa pernah mengakhiri hubungan dengan seseorang, ingat-ingatlah apa alasan yang mendasari keputusan Anda itu. Jika alasan Anda memang demi kebaikan bersama, maka menurut saya Anda patut mendapatkan predikat calon penghuni surga. Namun, jika ternyata Anda memiliki alasan lain, maka saya tidak tahu harus menyebut Anda apa.
Akhir kata, ternyata percintaan pun bisa mengantarkan kita menjadi calon penghuni surga. Cukup luruskan niat dan tujuan Anda saat membina hubungan dengan seseorang. Dan jika Anda harus mengakhiri hubungan itu, landasilah perpisahan Anda dengan alasan demi kebaikan.
03 Desember 2008
Si Bungsu yang Teraniaya
Kenyataannya, tidak selamanya menjadi anak bungsu selalu menyenangkan. Bertolak belakang dari pandangan umum bahwa menjadi anak bungsu merupakan anugerah, sebenarnya terlahir paling akhir bisa jadi merupakan sebuah bencana. Kalo Anda tidak percaya, baiklah lanjutkan membaca postingan ini karena tulisan semacam ini hanya terdapat di sini. Kalo ada di tempat lain, berarti itu postingan copy paste dari blog ini (mode narsis ON :D)
Baiklah, saya tidak akan berpanjang lebar lagi. Akan saya upayakan untuk menjelaskan pendapat saya secara ringkas, padat, dan jelas. AKan tetapi, sebelumnya harus diingat bahwa yang akan saya tulis ini tidak berlaku umum. Ya seperti kata pepatah, di setiap teori pasti ada pengecualian.
Well, tapi saya kok capek banget ya...? Yawdah dech, bahasan tentang si bungsu yang teraniaya ini akan saya lanjutkan kapan-kapan saja biar lebih komprehensif. Ditunggu ya....
(Selang tiga hari kemudian)
Huff, rasanya dua hari sudah cukup bagi saya beristirahat. Kini tiba saatnya saya melanjutkan dan menyelesaikan tulisan ini. Siapa tahu ada yang sudah tidak sabar menunggu. (Narsis lagi... hehe).
Sebenarnya, banyak alasan yang saya miliki sehingga saya berkesimpulan bahwa menjadi anak bungsu tidaklah menyenangkan akan tetapi justru menyakitkan. Namun, di posting kali ini saya tidak akan mengemukakan semua alasan yang saya miliki. Dua alasan saja saya rasa sudah akan bisa meyakinkan Anda bahwa memang menjadi anak bungsu tidaklah semenyenangkan seperti yang Anda bayangkan selama ini.
Pertama, dalam sebuah keluarga dengan beberapa anak, anak bungsu pasti akan mendapatkan satu stigma yang tidak menyenangkan yakni selamanya ia akan dianggap kekanak-kanakan atau tidak dewasa. Stigma ini akan terus melekat pada anak bungsu mungkin hingga ajal menjemputnya (hihihi, tragis banget bahasanya. Ngeri sendiri saya membaca kalimat ini).
Lho, emangnya mendapat stigma kekanak-kanakan akan membuat hidup jadi tidak menyenangkan? Ya iya lah... stigma kekanak-kanakan akan membuat hidup kita jadi sangaaat tidak menyenangkan. Kenapa? Karena stigma ini akan menjadi awal dan alasan tindakan dan perlakuan tidak menyenangkan yang akan diterima si anak di masa yang akan datang baik dari keluarga sendiri (termasuk di dalamnya orang tua dan kakak-kakak) maupun dari orang lain.
Kok bisa demikian? Ya bisa lah... Sekarang coba Anda bayangkan. Jika Anda menganggap anak Anda atau adik Anda masih anak-anak, bagaimana perlakuan Anda pada anak atau adik Anda itu? Saya percaya, jawaban yang pertama kali akan Anda lontarkan adalah "saya akan menyayanginya sepenuh hati". Bagus, memang seorang anak kecil sangat membutuhkan kasih sayang orang tua dan kakak-kakaknya. Terus, kalo anak atau adik yang Anda anggap masih kecil itu punya keinginan yang berbeda dengan Anda, apa yang Anda lakukan? Kok diem? Bingung ya? Ayolah, ungkapkan saja isi pikiran Anda dengan jujur. Apa yang akan Anda lakukan jika kondisinya demikian?
Nah, itu dia. Itulah penjelasannya kenapa mendapat stigma tak pernah dewasa tidak menyenangkan. Karena dengan stigma demikian, hakikatnya sebagian atau lebih dari kemerdekaan seorang anak sudah terenggut. Kok saya bisa berkata demikian? Iya, karena saya yakin saat seorang anak atau adik yang Anda anggap masih kanak-kanak memiliki keinginan yang berbeda dari keinginan Anda, maka yang akan Anda lakukan adalah berusaha dengan berbagai cara agar si anak mau mengubah keinginannya dan menuruti keinginan Anda. Iya kan? Kenapa demikian? Karena saat Anda menganggap anak atau adik Anda masih belum dewasa, maka Anda pasti akan beranggapan bahwa dia belum bisa memilah antara yang baik dan buruk. Akibatnya, saat pilihan anak berbeda dengan pilihan Anda maka Anda pasti akan menyalahkan pilihannya dan membenarkan pilihan Anda. "Kan dia masih kanak-kanak, sedangkan aku sudah mengenyam asam garam kehidupan". Pasti begitu gumama Anda dalam hati. Benar begitu tho? Ayo ngaku...
Kedua, ada satu peraturan tak tertulis di masyarakat (khususnya masyarakat daerah tertentu. terutama di daerah K***s, hehehehe) bahwa anak bungsu berkewajiban menjaga orang tua. Nah, peraturan yang mewajibkan ini sangat-sangat-sangat tidak menyenangkan.
"Lho, ini alasan yang tidak bisa diterima. Ini alasan yang sama sekali tidak ada landasannya. Apapun alasannya, menjaga orang tua harus dilakukan dengan penuh keihlasan, tidak boleh menggerutu atau mengeluh karena orang tua juga telah menjaga kita saat kita masih bayi. Jadi menjaga orang tua khususnya saat mereka sudah tua memang sebuah kewajiban sekaligus cara kita membalas kebaikan mereka".
Saya yakin kebanyakan dari Anda akan menggerutu demikian dalam hati saat membaca alasan kedua yang saya kemukakan. Baiklah, saya tidak akan melarang Anda menggerutu. Tapi, sebelum Anda melanjutkan gerutuan, tolong dengarkan dulu penjelasan saya kenapa saya berpendapat demikian.
Begini, memang benar menjaga orang tua saat mereka sudah tua adalah salah satu cara untuk membalas kebaikan mereka pada kita. Saya setuju seratus persen dengan ini. Bahkan, saya berani menyatakan bahwa kebaikan yang kita lakukan dengan cara melayani mereka saat mereka sudah tua masih lah jauh dari kebaikan yang mereka lakukan pada kita. Jika seumur hidup pun kita mengabdi dan melayani mereka, itu belum seimbang dengan kebaikan yang telah mereka lakukan pada kita. (Puas???)
Jadi, saya tidak mempersoalkan kewajiban menjaga orang tua ini. Fokus saya adalah aturan tak tertulis tentang kewajiban ini yang seolah-olah 90 persennya hanya dibebankan pada anak bungsu. Ini yang tidak adil. Ini yang dzalim. Kok bisa? Iya, karena jelas bagaimanapun ini bukan hanya kewajiban anak bungsu. Menjaga dan melayani orang tua adalah hak dan kewajiban semua anak termasuk anak sulung, anak tengah, anak setengah tengah dan anak bungsu. Maka, membebankan kewajiban ini hanya pada anak bungsu, apalagi dengan alasan agama jelas merupakan tindakan tak adil yang merampas hak-hak anak bungsu.
Masih bingung dengan alasan kedua ini? Baiklah, akan saya perjelas dengan contoh. Bayangkan, Anda adalah anak sulung, atau anak kedua, atau anak ketiga (pokoknya jangan anak bungsu) dari sebuah keluarga. Bayangkan, suatu saat Anda jatuh cinta pada seseorang yang kebetulan berasal dari luar kota. Anda sangat mencintai dia dan diapun mencintai Anda. Dia mau menikah dengan Anda akan tetapi tidak bisa tinggal bersama dengan orang tua Anda karena pekerjaannya di luar kota. Nah, pada saat demikian apa yang akan Anda lakukan? Saya yakin Anda akan menerima syarat itu dan melanjutkan niat Anda untuk menikah dengan orang yang Anda cintai itu meski setelah menikah Anda berdua tidak lagi harus bersama dengan Orang tua Anda. Kenapa Anda berani mengambil keputusan semacam ini? Lagi-lagi saya yakin karena Anda merasa tidak berkewajiban untuk menjaga orang tua. "Toh, masih ada adik saya". Saya yakin Anda berpikir demikian. AYo ngaku.....
Sekarang, bayangkan Anda dan adik-adik Anda selain si bungsu sudah menikah dan keluar dari rumah orang tua (meskipun tidak keluar kota). Suatu ketika adik bungsu Anda jatuh cinta pada seseorang yang juga berasal dari luar kota dan kerjanya pun di luar kota. Adik Anda sangat mencintai orang itu dan begitu pula sebaliknya. Dan mereka pun siap untuk menikah. Nah, sebagai kakak, apa yang akan Anda lakukan dalam keadaan demikian? Apakah Anda akan dengan serta merta menyetujui pilihan Adik bungsu Anda itu?
Nah, iya kan? Anda pasti tidak akan begitu saja menyetujui pilihan adik bungsu Anda. Jika Anda seorang yang ekstrim, bisa jadi Anda akan secara mentah-mentah menolak pilihan Adik Anda itu. Anda mungkin akan berargumen ini itu untuk menguatkan penolakan Anda dan agar terdengar rasional. Padahal, saya yakin di dalam hati Anda takut jika adik Anda jadi menikah dengan orang luar kota, maka bisa jadi dia ikut keluar kota. "Kalau demikian, siapa yang akan menjaga orang tua". Pasti, Anda berpikir demikian. Ngaku-ngaku.... (hehehehe)
Pertanyaannya, jika Anda boleh memutuskan untuk menikah dengan seseorang dan kemudian meninggalkan rumah, kenapa Anda melarang adik bungsu Anda untuk melakukan hal yang sama? "Lho, dia akan anak bungsu. Dia harus menjaga orang tua" Nah, ketahuan kan alasan Anda. Berarti benar kan bahwa menjadi anak bungsu tidak menyenangkan karena ia dibebani oleh kakak-kakak dan masyarakat sekitarnya untuk memikul tanggung jawab menjaga orang tua.
Udah ah, cukup segitu dulu postingan kali ini. Kalo, tidak sepakat dengan pendapat saya, silakan kasih komentar.... Bye....
Disclaimer
Nah, karena pengalaman hidup yang menanjak dan penuh onak dan duri itulah akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi menjadi pencari hikmah. Apakah Anda bertanya mengapa? Hmm, jawabannya singkat. Karena, meskipun saya bisa mengambil hikmah dari segala yang terjadi pada diri saya, toh hikmah itu tidak menjadikan saya lebih bijak. Kok bisa? Iya bisa lah, masak ya bisa donk. Karena sejauh ini saya hanya rajin mencari hikmah tanpa mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Misalnya, saya tahu bahwa Tuhan itu maha adil. Saya meyakini itu. Tiap kali ada hal-hal tidak menyenangkan yang menimpa saya, saya selalu mengacu pada hikmah di atas yakni bahwa tuhan maha adil. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa meski dengan pengakuan yang begitu tulus bahwa Tuhan maha Adil, toh tiap kali tertimpa masalah hati masih saya masih selalu bertanya-tanya "Kenapa Tuhan tidak adil? Kenapa tuhan tidak adil pada hambaNya yang mengakui bahwa Dia maha adil?" Begitulah. Jadi, pengetahuan saya akan keadilan tuhan itu masih hanya sebatas kata-kata. Dan karena pemahaman saya masih sebatas kata-kata itulah sehingga saya bisa membaginya dengan Anda.
Karena itulah mulai sekarang saya akan berhenti menjadi pencari hikmah. Di blog ini saya tidak lagi akan menuliskan pengalaman-pengalaman dengan hikmah-hikmah eksplisit. Sebaliknya, blog ini mulai saat ini hanya menjadi menjadi tempat saya menumpahkan isi kepala. Saya tidak mau lagi melabeli apapun yang saya tuliskan di sini dengan hikmah. Pokoknya apapun yang terlintas di kepala saya, dan saya berhasrat untuk menuliskannya, maka di blog inilah curahan isi kepala saya akan berlabuh.
Jadi, bagi Anda pengunjung setia blog ini (emang ada ya...?) mulai sekarang jangan berharap untuk mendapati postingan-postingan sok bijak. Saya jamin postingan-postingan semacam itu tidak akan lagi Anda dapati di sini karena mulai saat ini blog ini akan berubah. Ya, saya tidak mau lagi sok bijak. Di sini, saya akan menjadi diri sendiri seutuhnya. Kalo saya merasakan hidup saya berat dan saya ingin mengeluh, maka yang akan akan jumpai di sini adalah postingan keluhan. Kalo saya sedang marah pada keadaan ataupun pada diri sendiri, saya akan meluapkannya di sini. Begitu dech.....
07 November 2008
Doa Yang Aneh, Isn't It?
Walah, kok jadi ngalur ngidul gini. Hmm, intinya gini, dari hasil blogwalking saya itu, ada satu doa yang menurut saya emosional tapi lucu. Selengkapnya doanya di bawah ini:
Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah… Tapi kalau bukan jodohku, Jodohkanlah….
Jika dia tidak berjodoh denganku, maka jadikanlah kami jodoh… Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, selain aku…
Kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, biarinkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku…
Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh, jodohkanlah kami kembali…
Kalau dia jodoh orang lain, putuskanlah! Jodohkanlah dengan ku….
Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar orang itu ketemu jodoh dengan yang lain dan kemudian Jodohkan kembali dia denganku…
Amin
Maaf, warnanya sengaja saya bikin merah, biar tambah sangar. Oya, gimana menurut Anda? Lucu kan? Memang lucu. Tapi, kalau Anda sangat mencintai seseorang, doa semacam itu jadi doa yang wajar. Nggak percaya? Baiklah, coba bayangkan Anda telah membina hubungan asmara dalam waktu yang sangat lama. Saat Anda siap untuk hidup bersama kekasih eh terjadi masalah. Ya masalahnya sih bisa macem-macem. Bisa jadi calon mertua menolak Anda, atau mereka tidak merestui, atau hubungan Anda tidak disetujui, atau oleh orang tuanya kekasih Anda dijodohkan sama orang lain (sama gak ya?). Nah, pada saat seperti itu pasti doa di atas akan menjadi doa yang wajar bagi Anda.
Yach, akhirnya saya serahkan semua pada Anda. Mau memanjatkan doa seperti di atas atau cukup doa seperti ini:
"Ya Allah, Engkau lah dzat yang maha mengetahui apa yang terbaik bagi hambaMu. Maka, tunjukkanlah kami jalan keluar terbaik atas persoalan yang sedang kami hadapi. Amien"
Silakan, doa mana yang lebih Anda sukai...
PS: doa di atas yang berwarna merah sama copas dari sini
05 November 2008
Tentang Kawin Paksa Lagi :D
Tapi karena saya masih bingung bagaimana menyusun akhir cerita yang bahagia namun dengan cara yang senatural mungkin, akhirnya iseng-iseng saya buka statistik pengunjung blog ini. Eh, ternyata, tidak sedikit juga lho yang sampai ke sini lewat google dengan mengetikkan kata kunci terkait kawin paksa. Karena penasaran, saya coba juga googling untuk mencari tulisan-tulisan tentang kawin paksa. Hmm, ternyata banyak juga lho yang membahasnya. Yang lebih yahud lagi pembahasannya juga dari berbagai aspek. Jika Anda penasaran akan tulisan-tulisan tentang kawin paksa yang saya baca, silahkan klik link-link di bawah ini. Oiya, link-link tersebut saya dapat dengan keyword "sikap rasulullah terhadap kawin paksa". Ok dech, ini dia link-link yang saya maksud:
http://www.komitsurabayaselatan2006.co.cc/2008/08/kala-nafas-cinta-terenggut-tanpa-daya.html
http://www.rahima.or.id/SR/14-05/Khazanah.htm
http://andypermana.blog.friendster.com/2008/04/
http://pacaranislami.wordpress.com/2007/07/26/walau-bukan-siti-nurbaya/
http://www.kaylapustaka.com/content/view/6/5/
Nah, masih terkait sama kawin paksa, saya juga coba googling "menghadapi penolakan calon mertua". Mau tahu hasilnya? Silakan dech klik link-link berikut ini:
http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0404/30/131135.htm
http://alfaroby.wordpress.com/2007/11/29/cara-menghadapi-calon-mertua/
http://pengusahamuslim.com/modules/smartsection/item.php?itemid=145&keywords=kelapangan
http://incridiblog.com/2008/07/16/adsense-dan-calon-mertua/
http://keluargabahagia.epajak.org/vcd/penolakan/
Ok, cukup segitu dulu ya. Semoga bermanfaat...
03 November 2008
Kancil dan Anak Singa
Mendengar cemoohan dari warga hutan yang menganggapnya gila, kancil sama sekali tak peduli. Bahkan, saat keluarga besar kancil mulai menunjukkan keraguannya untuk terus mendukung niat kancil menikahi putri singa pun, dia tetap meneguhkan niatnya itu. Di dalam lubuk hati yang paling dalam kancil tahu bahwa dirinya atau putri singa akan sama-sama bisa bahagia tanpa harus memaksakan diri untuk hidup bersama. Dia tahu bahwa meski perpisahan dengan putri singa akan menggoreskan luka yang sangat dalam di hatinya, luka itu bukan tak terobati.
Namun, bagi kancil bukan hanya sekedar kebahagiaan yang ingin diraihnya. Yang ingin dia gapai adalah kebahagiaan hidup bersama orang yang selama ini telah begitu sabar menemaninya melewati kesulitan-kesulitan. Lebih dari itu, kancil juga tidak mau menjadi bagian dari golongan orang yang mudah mengucap janji semudah mereka melupakannya. Ya, kancil telah berjanji untuk menikahi putri singa apapun keadaannya dan bagaimanapun kesulitan yang akan dihadapinya untuk mewujudkan cita-citanya itu. Maka, selama putri singa belum menerima lamaran dan pinangan hewan lain, ia akan sekuat tenaga mempertahankan niatnya dan sekuat daya mewujudkannya. Dia telah berketetapan dalam hati bahwa perjuangannya akan berhenti saat putri singa menerima lamaran hewan lain dan menikah dengannya.
Sayang, keadaan memang tak kunjung memihak pada kancil. Meski berbagai cara telah dia lakukan untuk mendapatkan simpati dan restu singa, toh restu itu tak jua ia terima. Malah, tekanan yang dirasakan oleh putri singa untuk segera menerima pangeran singa dari hutan sebelah untuk menjadi suaminya semakin hari semakin besar.
Mengetahui betapa berat tekanan yang dirasakan oleh kekasihnya, kancil bermaksud menemui putri singa di tepat di hari ulang tahunnya. Maka kedua hewan yang sedang mengasihi dan menyayangi itu pun terlibat dalam perbincangan serius. Saking seriusnya obrolan mereka sampai-sampai canda tawa yang biasanya selalu mewarnai obrolan mereka hari itu seolah tidak ada. Dari detik ke detik putri singa hanya meneteskan air mata dan karenanya kancil pun tak kuasa untuk tidak berkaca-kaca.
"Kanda, aku tak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah melakukan segala cara agar ayahanda dan ibunda merestui hubungan kita. Tapi, tak sedikitpun usahaku membuahkan hasil. Mereka tetap tidak peduli dengan perasaan kita," ucap putri singa sembari mengusap air mata yang meleleh di pipinya.
"Iya dinda, aku paham betapa sulit posisimu saat ini. Aku tahu bahwa seberapapun besarnya cintamu padaku, mereka tetaplah orang tuamu. Maka sangat wajar jika engkau bingung harus memilih aku atau mereka" dengan tersendat-sendat kancil berusaha menenangkan perasaan putri singa.
"Dan aku sangat memahami jika pilihanmu adalah antara kekasih dan orang tua, tentu bobot orang tua jauh lebih besar dari pada kekasih. Apalagi si kekasih itu aku yang hanya seekor kancil," ucap kancil dengan suara yang semakin terbata-bata.
"Jangan bilang begitu kanda. Aku sangat-sangat mencintaimu meski engkau hanya seekor kancil. Bagiku engkau jauh lebih baik dari pada singa manapun di seluruh dunia ini" sergah putri singa yang menyadari perasaan kekasihnya sedang sangat terluka.
"Dalam hidup yang hanya sekali ini, kanda, aku ingin mencintai satu hewan. Dan itu adalah engkau" ucap putri singa sambil menggenggam tangan dan menatap tajam wajah kekasihnya yang sedang terluka itu.
* Bersambung (ngantuuuks, udah malem bangetttts). Tunggu kelanjutannya ya. Paling besok udah ada. Gak janji tapi. hehehe
02 November 2008
Romantic Sorrow...
Biar cinta
Terhalang gunung dan samudera
Aku tetap
Memegang janjiku padamu
Biar jurang
Yang terjal ada di depanku
Takkan goyah
Sumpahku kepada dirimu
Kita bagai bunga dan kumbang
Hatiku pasti hatimu jua
Namun mengapa ada saja
Yang benci tulus cinta kita
( korus )
Jangan pisahkan, aku dan dia
Tuhan tolonglah, ku cinta dia
Biarkan kami tetap bersama
Di dalam suka dan duka...
Ayo Tebak, di atas lirik lagunya siapa? Terus kenapa saya mempostingnya di sini? Bagi yang tahu, silahkan kasih komentar. Komentar terbaik akan saya jadikan topik posting selanjutnya... Hehehehe
20 Oktober 2008
Tekuni Yang Kau Punya, Katanya
Hampir tiap kali keluar kota, tanpa sengaja saya ketemu dengannya. Dengan pakaian seadanya, dia biasa naik ke bis jurusan antar kota antar propinsi. Tak pernah kulihat dia bermain musik di situ sendirian. Hampir tiap kali berjumpa dengan saya, dia selalu bersama dengan seorang rekannya. Ya, ini dia nilai tambah lain yang dia miliki. Karena, jika dibandingkan, memainkan musik bersama seorang rekan tentu jauh lebih meriah ketimbang sendirian. Apalagi, rekan yang diajaknya itu juga selalu orang yang memiliki kepiawaian bermusik yang hampir sepadan dengan kamampuannya.
Maka, tiap kali dia naik ke bis yang saya tumpangi, ada perasaan gembira yang saya rasa. Karena saya yakin, saat dia mulai menyanyi, tanpa saya sadari pasti saya akan ikut menyanyikan lirik-lirik lagu yang ia mainkan. Mungkin ada baiknya saya selalu membawa semua lirik lagu yang ada, mulai dari lirik lagunya peterpan, ungu, rhoma irama, elvi sukaesih, bahkan lirik lagunya the rollies, the beatles, koes ploes, dan lirik lagu lainnya. Ya biar saya bisa senantiasa ikut mengiringi alunan musik yang dimainkannya dengan sempurna.
Yach, seperti yang sudah bisa Anda duga, dia bukanlah artis kampung, artis daerah, apalagi artis papan atas ibu kota. Dia hanya seorang pengamen yang beroperasi di terminal Purabaya atau Bungurasih, Surabaya. Tapi, saya bisa memberikan jaminan pada Anda, jika Anda bertemu dengannya, pasti Anda akan menikmati suguhan yang ia berikan. Sayang, saya belum punya kesempatan untuk bisa mengambil fotonya. Seandainya saya punya foto idola saya itu, tentu akan saya pasang di sini sebagai tanda penghargaan saya pada keseriusan berkaryanya. Karena, keseriusannya telah memberi saya inspirasi. Tanpa sepatah katapun, dia telah berhasil bicara telak ke hati saya. Apa gerangan yang dikatakannya? Dia berteriak kepada saya "Untuk menjadi bermanfaat dan disukai, kita tak harus menjadi orang penting. Cukup seriusi saya apa yang engkau miliki. Maka, keseriusan kita akan menjadikan kita bermanfaat dan disukai...."
Ya ya ya, terima kasih pengamen idolaku.......
27 Agustus 2008
Kisah Kawin Paksa
Pujaan hati anak itu adalah seorang pemuda yang sangat rendah hati. Dia telah begitu banyak berkorban demi cintanya. Berulang kali dia membuang mimpinya sendiri demi rasa cintanya pada kekasih. Ketika kekasihnya memberi tahu bahwa dirinya sedang dalam dilemma, antara memilih cinta pada kekasih atau pada orang tua, si pemuda terdiam. Dalam hati dia begitu takut akan kehilangan kekasih yang sangat disayanginya. Akan tetapi, bagian hatinya yang lain memberitahunya bahwa bukan tindakan yang benar untuk mendapatkan cinta sang kekasih jika sang kekasih kemudian akan disebut anak durhaka. Dia berpikir bahwa pengorbanan terbesar dalam cinta adalah mengorbankan perasaan cintanya. Maka, jika selama ini dia telah begitu banyak berkorban demi kekasihnya, pengorbanan terpuncak dalam cintapun siap dia lakukan. Maka, kedua insan yang saling mencinta itupun berpisah dan berjanji untuk selalu saling mendoakan kebahagiaan pujaan hati mereka.
Pernikahan tak terhindarkan. Si anak hidup bersama orang yang pada mulanya tidak dia cinta. Hanya rasa bakti kepada orang tua lah yang membuat dia rela hidup dalam keadaan seperti itu. Meski wajah kekasihnya tak pernah bisa lepas dari pelupuk mata, dia tetap menjalani hidup dengan suaminya.
Hari berlalu, pasangan suami istri itu kini sudah hidup bahagia. Si anak, meski masih tetap menyimpan rasa cintanya pada pujaan hati, kini telah mulai bias mencintai suaminya. Karena memang si suami ini orang dengan kepribadian baik, maka diapun bias memperlakukan istrinya dengan penuh cinta. Maka, kebahagiaan akhirnya bisa menyelimuti kehidupan kedua insan ini.
Saat melihat kebahagiaan yang dirasakan si anak, kedua orang tua si anak itu merasa bangga bahwa mereka telah berhasil membahagiakan anaknya. Mereka semakin menganggap bahwa keputusannya untuk memaksa anaknya berpisah dari kekasih yang dia cinta dan memaksanya menikah dengan calon pilihannya adalah tindakan yang benar. "Buktinya, sekarang anak kita bisa hidup bahagia dengan suaminya”. Begitu ucap mereka dengan sangat bangga.
Tanpa diketahui dari mana datangnya, seorang pemuda tampan sudah berada di depan kedua orang si anak ini. Dengan pandangan sangat tajam, si pemuda berkata
"Wahai orang tua, bukan tindakan kalian yang telah memaksa anak kalian menikah dengan pilihan kalian yang membut dia bahagia. Tindakan kalian itu tetap salah. Kalaupun anak kalian sekarang bisa hidup bahagia, itu karena balasan dari keikhlasannya mengesampingkan cintanya sendiri demi untuk berbakti pada kalian. Bukan tindakan kalian yang telah membuatnya bahagia. Sampai kapanpun, tindakan kalian ini adalah tindakan salah yang tidak hanya telah menyakiti hati dan perasaan anak kalian, akan tetapi juga telah menghancurkan hati seorang pemuda yang telah tulus dan penuh pengorbanan mencintainya. Kini, karena keikhlasannya pemuda itu pun hidup sangat bahagia. Semoga Tuhan menyadarkan kalian karena jika kalian mati dan pemuda itu belum memaafkan kalian, maka akhiratmu akan terbebani.”
26 Agustus 2008
Introspeksi
Apa sih?
Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin bertanya pada diri sendiri (saya harap Anda pun menanyakannya pada diri Anda sendiri).
Apakah kita benar-benar sayang pada seseorang saat keinginan kita pada orang itu tak terturuti kemudian kita marah kepadanya?
Masih abstrak ya? Oke dech saya buat contoh konkrit saja...
Well, kalau Anda adalah orang tua dari anak-anak Anda sendiri, apakah Anda bisa dikatakan benar-benar sayang pada anak Anda jika mereka (anak Anda) punya keinginan yang berbeda dari keinginan Anda dan Anda marah karenanya?
Atau, apakah Anda masih bisa mengklaim diri Anda orang tua yang benar-benar menyayangi anak Anda jika Anda memaksa (benar-benar memaksa) anak Anda untuk menikah dengan pilihan Anda sementara dia sudah punya pilihan sendiri?
Ah, sungguh tidak masuk akal Anda bisa mengklaim diri sebagai orang tua yang menyayangi anak Anda jika bahkan pilihannya pun tidak Anda hormati. Mungkin Anda merasa bahwa dalam segala hal pilihan Anda jauh lebih baik dari pada pilihan anak Anda. Akan tetapi, jika anak Anda tidak menyukainya dan kemudian Anda tetap memaksa apalagi tanpa mau tahu seperti apa pilihan anak Anda, maka sungguh Anda tidak pantas, dan tidak layak menyebut diri Anda orang tua yang menyayangi anak Anda.
Kalau Anda beralasan bahwa ini demi kebahagiaannya, bahwa anak Anda pasti akan bahagia menikah dengan orang yang sudah mapan, taat beragama, terpandang, dan predikat baik lainnya yang mungkin benar ada pada calon pilihan Anda itu, maka saya yakin Anda perlu introspeksi. Coba renungkan kembali apakah semua predikat itu untuk kebahagiaan anak Anda ataukah demi kehormatan Anda. Karena, jika bagi Anda kebahagiaan anak Anda yang utama (bukan kehormatan Anda sendiri) maka Anda sebagai orang tua pasti rela mengorbankan apapun termasuk kehormatan Anda.
Maka, wahai para orang tua, introspeksi sikap Anda. Meskipun Anda orang terpandang, bahkan kyai sekalipun, Anda masih juga manusia yang penuh nafsu di dalam diri.
Akhir kata, bukti cinta yang sebenarnya adalah pengorbanan. Hanya mereka yang berani mengorbankan kepentingan sendiri lah yang layak disebut benar-benar mencintai. Dan, di antara pengorbanan terbesar adalah mengorbankan rasa cinta. Maka, demi cinta saya pun akan rela mengorbankan rasa cinta ini.....
Bagi mereka yang merasa mencintai dan menyayangi orang lain padahal sebenarnya mereka hanya menyayangi diri mereka sendiri, hanya ada satu kata: SADARLAH...
03 Juli 2008
Emansipasi: Wahai Para Wanita, Jangan Menunggu Diberi
Hari ini saya dengan sangat terpaksa harus mengakui keunggulan salah seorang rekan kerja yang kebetulan berjenis kelamin perempuan. Namanya bu Yuni. Meski sudah mengeluarkan segenap kemampuan, tetap saja saat tadi bertanding tenis meja melawan rekan saya itu, saya ditaklukkan dua set langsung. Sebetulnya bukan hanya dalam pertandingan tenis meja saja saya takluk. Di pertandingan tenis lapangan saya juga masih harus menelan kekalahan dari dia. Berhubung saya adalah pencari hikmah, maka meski kalah saya tetap harus mencari hikmah. Dan, hikmah itu adalah pemahaman saya yang lebih mendalam (saya rasa) mengenai emansipasi wanita.
Hmm, ngomong-ngomong tentang emansipasi, jika mendengar kata yang satu ini, apa yang terlintas di benak Anda? Saya yakin nama R.A. (Raden Ajeng) Kartini berada di urutan teratas kilasan pikiran Anda. Lalu ketertindasan wanita menduduki tempat selanjutnya. Dan ketidakadilan peran kaum adam dan hawa di urutan ketiga. Apakah dugaan saya betul? Mudah-mudahan betul. :D
Sangat wajar jika nama Kartini segera terlintas di benak Anda. Bagaimana tidak? Lha wong sebagian besar dari kita pertama kali tahu kata emansipasi adalah dulu saat guru kita menjelaskan tentang Kartini. Ini terutama berlaku pada saya. Saya pertama kali mendengar kata asing yang ternyata dari bahasa Inggris ini ketika guru saya menjelaskan panjang lebar mengenai peran Kartini dalam pelajaran sejarah (kalau tidak salah dulu namanya PSPB). Meski waktu itu saya belum tahu betul artinya, sedikitnya saya sudah mulai tahu maksudnya dan kadangkala juga menggunakannya.
Ketertindasan wanita serta ketidakadilan peran laki-laki perempuan juga sangat mungkin dikaitkan dengan kata emansipasi. Kenapa? Sekali lagi karena Kartini. Lho kok Kartini lagi? Ya iya lah (masak ya iya dong :D). Kan beliau wanita pertama yang tercatat di dalam sejarah Indonesia yang dengan gigih memperjuangkan persamaan hak dan peran antara laki-laki dan perempuan. Katanya, dulu peran dan kedudukan wanita dipandang hanya sebelah mata (pegel dong matanya merem melek terus :D). Kalau ayah saya bilang, dulu peran wanita itu hanya tiga: macak, masak, manak (dandan, masak, dan melahirkan). Kalau Anda-Anda (para wanita masa kini) hidup di masa itu, bisakah Anda sekalian membayangkan bagaimana rasanya? Dari sekian banyak aktifitas yang bisa dilakukan, Anda hanya dibatasi untuk melakukan tiga hal di atas. Meski saya seorang pria, saya bisa membayangkan betapa tersiksanya wanita masa itu.
Nah, Kartini telah memulai gerakan untuk menentang pembatasan peran dan kedudukan wanita. Kini, wanita tidak lagi hanya berada di dapur (untuk masak), di depan cermin (untuk macak), di atas kasur (untuk siap-siap manak). Hampir di semua bidang kehidupan, wanita kini telah ikut ambil bagian. Wartawan wanita, banyak. Presiden perempuan, tidak sedikit. Menteri(wati), berlimpah. Bahkan, pimpinan perampok yang jenis kelaminnya perempuan juga sudah ada.
Sayangnya, meski sekarang sudah begitu banyak wanita yang menjabat posisi yang dulu hanya dipegang oleh kaum laki-laki, ternyata masih banyak juga kaum perempuan yang hanya menuntut emansipasi. Mereka tidak melakukan apa-apa untuk bisa mendapatkan peran yang diinginkan. Mereka hanya berteriak-teriak, merengek-rengek, dan meminta kaum adam untuk memberi posisi. Saat posisi sudah didapat dan peran baru sudah dijabat meski hanya sekedar pemberian, mereka baru bisa bernafas lega dan berani berkata bahwa di negaranya emansipasi wanita benar-benar ditegakkan.
Lho, lho, lho, kok jadi jauh begini pembahasan hikmah kali ini. Wah, mungkin saya masih emosi karena kekalahan saya sehingga jari saya jalan-jalan di atas keyboard tanpa saya sadari :D. Tapi, intinya Anda pasti bertanya apa hubungan antara Kartini, Bu Yuni, pemahaman yang lebih baik mengenai emansipasi, dan kekalahan saya dari bu Yuni. Kalau itu pertanyaan Anda, maka jawabannya adalah begini: Kartini memperjuangkan emansipasi wanita karena beliau melihat ketertindasan perempuan dari laki-laki. Untuk melakukan perjuangannya Kartini tidak hanya menuntut dan merengek-rengek pada kaum lelaki masa itu agar peran wanita tidak dibatasi. Sebaliknya, beliau berjuang dengan melakukan tindakan nyata yang membuktikan bahwa wanita juga bisa unggul dalam hal-hal yang dulu hanya dilakukan oleh laki-laki. Nah, di lain pihak, bu Yuni juga telah menunjukkan kepada saya bahwa wanita memang bisa lebih unggul dari laki-laki. Buktinya dia bisa mengalahkan saya dalam pertandingan tenis. Dia tidak hanya merengek untuk diperlakukan sama, tetapi melakukan tindakan nyata yang membuktikan bahwa dirinya (dan kaumnya) tidak kalah, bahkan bisa lebih unggul, dari kaum laki-laki.
Jadi, kalau Anda adalah kaum hawa yang sedang menuntut emansipasi, ada baiknya Anda meniru dua orang di atas, Kartini dan bu Yuni. Jangan hanya menuntut untuk diberi diperlakukan sama, akan tetapi buktikanlah dengan tindakan nyata bahwa Anda memang layak mendapat perlakukan sama.
01 Juli 2008
Menyanyi dari Hati
Menyanyi, siapa di dunia ini yang tidak suka menyanyi? Hmm, rasanya tidak ada dech. Dari Afrika sampai Amerika, semua orang sedari kecil sudah terbiasa menyenandungkan nada-nada meski dengan bahasa yang berbeda. Bahkan, seorang yang notabene tidak bisa bicara pun masih bisa dan suka bersenandung meski tanpa mengeluarkan kata-kata. Yach, seperti saat kita ingin bernyanyi tapi tidak mengerti atau hapal liriknya gitu dech. Mengerti kan maksud saya?
Nah, kalau seorang yang tunawicara saja mau dan mampu bersenandung, apalagi dengan Anda-Anda yang bisa bicara secara sempurna. Pasti, pasti Anda, seperti juga saya sangat menyukai senandung kata-kata yang tertuang dalam sebuah nyanyian. Kenapa bisa begitu? Kalau Anda bertanya demikian, maka jawaban saya adalah bahwa lagu bisa mewakili suasana hati. Sebuah nyanyian bisa menunjukkan kesedihan kita sekaligus kebahagiaan yang sedang kita rasa. Tidak percaya? Tidak mengapa. Tapi coba jawab pertanyaan saya, ketika Anda sedang patah hati karena ditinggal kekasih, misalnya, selain menangis dan curhat pada teman dekat, apalagi yang ingin Anda lakukan? Hmm, rasanya saya mendengar suara hati Anda yang sedang berkata ”saya ingin menyanyi lagu sedih, lagu yang memiliki cerita sama dengan keadaaan saya saat ini". Apakah benar demikian? Kalau demikian berarti pernyataan saya bahwa nyanyian bisa mewakili perasaan adalah benar.
Bukti lain bahwa menyanyi adalah kesukaan hampir semua orang adalah kenyataan bahwa saat ini di berbagai belahan dunia kontes yang paling banyak diminati oleh masyarakat adalah kontes menyanyi. Tengok saja kontes American Idol. Setiap tahunnya berapa juta orang yang ikut ambil bagian dalam audisi kontes tersebut? Menurut yang saya baca sih, jumlah orang yang berminat untuk ambil bagian dalam acara tersebut sangat lah tinggi. Itu baru mereka yang turut ambil bagian dalam kontes tersebut. Belum lagi para pemirsa yang setiap minggunya menyaksikan tayangan kontes dari televisi. Mereka bisa mencapai ratusan juta. Hmm, sekali lagi jumlah mereka yang ingin ikut ambil bagian serta mereka yang selalu menyaksikan kontes ini menunjukkan betapa menyanyi merupakan sesuatu yang sangat digemari. Dan, hal yang sama pun terjadi di belahan dunia lainnya. Anda tahu kan bahwa kontes idol-idolan ini sekarang tidak hanya ada di Amerika saja? Kontes berlisensi American Idol ini diadakan di hampir seluruh penjuru dunia, termasuk juga di Indonesia.
Nah, meski kita semua suka menyanyi, tidak demikian halnya dengar mendengar nyanyian. Tidak sembarang penyanyi bisa membuat kita suka kepadanya. Bahkan, seorang diva yang sudah terkenal pun belum tentu bisa memikat kita meski dengan suaranya yang indah bagai burung camar. Kenapa bisa demikian? Karena keinginan kita untuk menyanyi adalah keinginan yang datang dari hati. Maka, kita pun juga hanya akan menyukai lagu yang menyanyi dari hati. Sejalan dengan nasehat Mary T. Browne bahwa sesuatu hanya akan menarik sesuatu yang sama. Dalam hal ini kegemaran akan senandung yang datangnya dari hati hanya akan bisa dipuaskan oleh senandung yang dinyanyikan dari hati pula, bukan hanya di mulut saja. Hmm, so sweet :D :D :D.
Karena itulah, tidak semua pengamen yang sering kita jumpai di bus-bus bisa menarik perhatian kita. Hanya segelintir pengamen saja yang kita sukai dan membuat kita rela mengeluarkan sedikit uang untuk diberikan kepadanya. Yang sedikit itu pasti menyanyi dari hati. Sedangkan yang lainnya tentu hanya bersenandung di mulut saja.
Dan perlu diingat, ini tidak hanya berlaku dalam hal menyanyi saja. Dalam hal-hal lain dan aktifitas apa saja hukum bahwa sesuatu harus datang dari hati bisa diterapkan jika Anda ingin mendapatkan respon datangnya juga dari hati. Maka, saat berbincang dengan tetangga, saat ngobrol dengan bawahan, saat berkumpul dengan teman, bahkan saat bergurau dengan anak-anak Anda pun, cobalah lakukan semua itu dari hati.
P.S: Selamat menikmati bulan baru, Juli 2008. Semoga di bulan ini kebaikan kita yang bertambah bukan sebaliknya. Amien. :-)
29 Juni 2008
Kesamaan yang Menjauhkan
Saya amat-amati, akhir-akhir ini di Negara saya Indonesia raya tercinta sedang mewabah satu penyakit yang menurut saya sih jauh lebih berbahaya dari sekedar HIV AIDS. Yach, setidaknya penyakit yang baru saya sebut terakhir sudah mulai ketemu obatnya. Anda pernah dengar kan kalau buah merah yang banyak terdapat di Papua kabarnya telah terbukti bisa menanggulangi efek mematikan dari penyakit paling fenomenal abad ini tersebut? Sementara, penyakit yang saya sebut pertama bukannya tidak ada obatnya. Obatnya sudah tersedia sejak lama, meski tidak dijual di apotik dan toko obat. Hanya saja tentu suatu obat tidak akan ada manfaatnya kalau tidak diminum tho? Nah, para pengidap penyakit ini hampir semuanya tidak menyadari bahwa diri mereka sedang mengidap penyakit, karena itu obat yang ada pun tidak diminum. Akibatnya, penyakit ini semakin mewabah dan semakin parah.
Anda pasti bertanya-tanya apa sebenarnya penyakit yang saya maksudkan. Baiklah, tidak usah ditunggu lama-lama, langsung saja akan saya beberkan pengamatan saya atas kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitar saya, yang saya yakin juga terjadi di sekitar Anda.
Di sekitar tempat saya, terdapat dua golongan orang yakni kaya dan miskin. Saya yakin ini juga ada di sekitar Anda. Dua orang golongan ini memiliki gaya hidup yang berbeda (yang tentu dong :D). Aktifitas mereka berbeda, tempat bermain berbeda, pendidikan berbeda, bahkan sampai cara bicara pun berbeda. Jadi, hampir dalam segala hal kedua golongan ini berbeda. Akan tetapi, di antara begitu banyak perbedaan itu, terdapat satu kesamaan. Sayangnya, kesamaan ini tidak menjadikan kedua golongan menjadi dekat dan saling mengerti. Kesamaan di antara mereka itu justru membuat mereka saling menyalahkan. Apakah Anda bisa menerka apakah kesamaan itu? Tidak bisa? Baiklah, kesamaan itu adalah bahwa mereka sama-sama salah menggunakan dalil. Ha?! Maksudnya apa, maksude opo? Maksud saya begini: di dalam ajaran agama saya ada dua dalil untuk kedua golongan tersebut, kaya dan miskin. Kira-kira dalil pertama berbunyi ”Di dalam harta yang kau miliki, ada hak orang-orang miskin". Sedangkan dalil kedua berbunyi "Jangan sekali-kali kau menggantungkan hidupmu pada orang lain".
Nah, menurut Anda, apakah kedua dalil itu berlaku untuk kedua golongan? Ataukah hanya satu dalil saja yang berlaku untuk satu golongan sedangkan dalil lainnya tidak berlaku? Kalau memang hanya satu dalil yang berlaku untuk suatu golongan, kira-kira dalil mana yang seharusnya digunakan oleh golongan kaya, dan dalil mana yang seharusnya dipegang oleh golongan miskin?
Saya yakin Anda bisa menjawabnya dengan benar. Ya, masing-masing dalil di atas hanya berlaku untuk satu golongan. Dalil pertama seharusnya dipegang oleh golongan kaya, sedangkan dalil kedua seharusnya menjadi pegangan golongan miskin. Kalau kedua golongan tersebut bisa memegang dalil secara tepat, tentu tidak akan ada saling salah menyalahkan di antara kedua golongna itu. Orang kaya tentu akan tanpa diminta memberikan sebagian harta yang dimiliki untuk orang miskin yang membutuhkan. Sedangkan orang miskin tidak akan menggantungkan dirinya pada orang kaya dengan cara meminta. Bukankah kalau demikian yang terjadi, hidup akan seimbang. Tidak akan ada rasa saling memandang sebelah mata? Orang kaya tidak akan mengolok-olok yang miskin karena mereka tidak pernah meminta-minta. Dan orang miskin tidak akan membenci yang kaya karena mereka tanpa diminta telah menafkahkan harta yang dimiliki.
Nyatanya, yang terjadi tidak demikian. Kedua golongan itu sama-sama mengambil dan memegang dalil-dalil yang seharusnya menjadi pegangan golongan lainnya. Orang kaya menggunakan dalil kedua, sedangkan orang miskin mengambil dalil pertama. Maka, terjadilah fenomena yang sangat tidak nyaman dipandang mata. Orang kaya menjadi pelit. Saat ada peminta-minta, meski memberi, dalam hati mereka mengutuki si peminta. Sedangkan orang miskin menjadi tidak mandiri dan lebih suka menggantungkan hidupnya pada orang kaya. Ya, demikianlah dampak dari satu kesalahan: salah menggunakan dalil.
Itu baru satu contoh kejadian. Masih banyak kejadian lain yang disebabkan oleh kesalahan menggunakan dalil yang kalau semuanya ditulis dalam postingan ini anda tentu akan kehilangan semangat membaca karena saking banyaknya. Maka, lebih baik saya cukup memberikan satu contoh. Tugas Anda adalah mencari contoh-contoh lainnya. Dan, kalau Anda telah menemukan contoh lain, berbaik hatilah untuk mencantumkannya di dalam komentar. :D.
Akhirul posting (hehehe, niru siapa hayo ?!) mari kita memiilih dan menggunakan dalil yang benar.
28 Juni 2008
Antara Morpheous, Mariah Carrey, dan R. Kelly
Ada hubungan apa di antara ketiga orang tersebut? Ada yang tahu? Silahkan dipikirkan. Waktu kalian tidak banyak. Saya hitung sampai lima.
1
2
3
4
5
Jadi tidak ada yang tahu. Baiklah kalau begitu biar saya mulai cerita saya kali ini. Dengarkan baik-baik karena saya hanya akan bercerita sekali dan tidak akan mengulangi untuk kedua, ketiga, apalagi yang keempat kali. Semua HP harap dimatikan. Atau ringtone di silent saja biar tidak menganggu saya.
Baiklah, pertama akan saya bahas Morpheous. Dia adalah salah satu tokoh dalam film Trilogi The Matrix. Ingat? Bagi yang tidak ingat atau bahkan belum pernah menonton film ini, ijinkan saya sedikit menggambarkan film ini sekalian membeberkan seperti apa Morpheous. The Matrix merupakan salah satu film sukses Hollywood bertema science fiction atau fiksi ilmiah. Dan menurut pandangan subjektif pencari hikmah, film ini termasuk ke dalam kategori film berat yang tidak semua orang bisa menikmatinya. Ya bagaimana tidak berat kalau ceritanya begitu membingungkan secara nalar. Apakah Anda bertanya kenapa membingungkan? Seseorang bisa masuk ke dalam sebuah dunia yang benar-benar berbeda dari dunia yang dia tinggali hanya dengan cara menyambungkan diri dengan sebuah alat semacam komputer. Begitu kira-kira cerita film ini. Dan jika seseorang mati di dalam dunia yang dimasukinya lewat komputer itu, maka dia akan benar-benar mati di dalam dunia nyata. Membingungkan tho? Kalau tidak, berarti Anda patut bersyukur karena mungkin IQ dan kemampuan logika Anda termasuk Genius.
Lalu siapa Morpheous itu? Dia adalah salah tokoh utama yang perannya di dalam film secara keseluruhan tidak boleh dipandang sebelah mata. Neo, si tokoh utama, masuk ke dalam dunia matrix dan kemudian bermetamorfosa menjadi Sang Pahlawan tidak lain dan tidak bukan adalah karena Morpheous. Morpheous yang menemukan dan membimbingnya meski ketika Neo bertanya bagaimana Morpheous menemukan dirinya dia menjawab ”bukan aku yang menemukanmu, tapi engkaulah yang telah lama mencariku, dan kini kau menemukanku". Hmmm, filosofis banget ya.
Dan, ini yang penting. Morpheous bisa melakukan semua itu karena dia percaya. Dia percaya bahwa dia akan menemukan Neo seperti yang dikatakan oleh Oracle, tokoh lainnya. Dia juga percaya bahwa Neo lah sang terpilih yang akan bisa menyelamatkan the matrix. Dan, Kepercayaan serta keyakinan Morpheous ini kemudian menular kepada Neo yang akhirnya memang menjadi tokoh utama penyelamat dunia. Semua itu terjadi karena Morpheous percaya.
Cukup tentang Morpheous, sekarang biar saya cerita sedikit tentang Mariah Carrey. Kalau yang ini saya yakin Anda-anda sekalian sudah lebih paham dari pada saya. Benar, dia adalah salah seorang diva pop dengan suara (katanya) hingga minus 5 oktaf. Wow, luar biasa. Bayangkan minus lima oktaf! Atau sederhananya, dia bisa menyuarakan hingga lima nada di bawah nada Do (Si Cantik Al Qudsy pasti ketawa membaca ini dan mungkin akan bilang ”sok tahu”). Dengan suara yang sedemikian istimewa, ditambah body seksi serta wajah (menurut saya) kalem, maka tidak mengherankan kalau Diva yang satu ini menjadi penyanyi papan atas dunia yang album lagunya sangat ditunggu-tunggu.
Meski secara pribadi saya menyukai hampir semua lagunya, hanya satu lagu saja lah yang membuat dia masuk nominasi untuk disandingkan dengan Morpheous di dalam postingan ini. Lagu apa hayo???
“There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, It's hard to kill
Who knows what miracles, you can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe”
Lalu ada kesamaan apa sampai R. Kelly dikaitkan dengan kedua orang di atas? Santai saja man. Nggak usah grusah-grusuh. Pasti akan saya jelaskan kok.
Begini, salah satu lagu R. Kelly yang paling terkenal, fenomenal, dan inspiratif adalah lagu berjudul “I believe I can fly”. Bagi yang pernah membuka profile saya tentu sudah tahu bahwa lagu ini merupakan lagu favorit saya. Bagi saya lagu ini sedemikian inspiratif dan menggugah sehingga tiap kali diterpa masalah, mendengarkan lagu ini sanggup memulihkan semangat juang saya. Liriknya tidak usah saya tuliskan ya? Googling aja pasti ketemu kok (padune ora apal :D).
Demikianlah hubungan dekat ketiga orang itu (Morpheous, Mariah Carrey, dan R. Kelly). Ketiganya menyerukan satu pesan bahwa kunci penting untuk meraih sesuatu adalah dengan percaya. Lalu, apakah Anda mau meraih yang Anda inginkan? Kalau iya, mulai sekarang yakinkan diri Anda seyakin-yakinnya bahwa Anda bisa meraih keinginan itu. Cepat atau lambat, jika Anda tetap berpegang tegus pada keyakinan itu, keinginan Anda pasti akan tergapai.
26 Mei 2008
Pelajaran dari Ksatria Bergitar
Yach begitulah, apapun yang kita makan, kita tetap butuh hal yang sama setelah itu, yakni air. Tanpa air, rasanya apa saja kita makan tidak lagi terasa menyenangkan. Bisa jadi malah menyiksa kerongkongan dan perut kita. Apalagi kalau makanannya pedas. Uh, pasti deh air adalah keharusan.
Nah, kalau air adalah keharusan setelah makan, maka terkait dengan pekerjaan, agar pekerjaan itu menghasilkan dan menyenangkan serta menjadi andalan, ada juga satu keharusan yang harus dipenuhi. Apa itu? Biar Anda penasaran, biarkan terlebih dahulu saya bercerita mengenai pengalaman saya berhadapan dengan ksatria bergitar di sebuah terminal.
Eit! Tunggu dulu. Jangan dikira sang ksatria yang satu ini sama dengan ksatria yang sebelumnya sudah saya ceritakan. Itu tuh, sang ksatria bergitar yang tubuhnya dipenuhi tato yang menyadarkan saya bahwa saya masih belum bisa lulus ujian untuk senantiasa berbaik sangka. Ksatria yang satu ini beda. Bukan orang yang sama.
Anda mungkin berpikir dalam hati, "kok pencari hikmah ini belajarnya dari para pengamen sih?". Yach, sebagai pencari hikmah saya memang harus bisa mengambil pelajaran dari manapun, apapun, dan siapapun. Dan termasuk dalam katergori siapapun ini ya si pengamen. Dan, benar memang seringkali saya mendapatkan pelajaran saat ketemu pengamen.
Pernah suatu suatu ketika saya naik bis dan menumpanglah seorang pengamen dengan menenteng gitarnya. Perawakannya seperti seorang bintang film. Ganteng. Juga kekar, yach... kira-kira seperti George Rudy yang dulu pernah memerankan prabu Brama Kumbara di TPI. Tahu kan, ganteng, tinggi, gagah, kekar. Pokoknya semua yang baik-baik ada padanya. Tetapi, oh my godness, saat dia mulai memainkan gitar dan membuka mulut untuk bersenandung, gendang telingan saya ini terasa sangat sakit sehingga saya secara terang-terangan menutupi kedua kuping saya ini. Kenapa coba? Benar, dia tidak bisa memainkan gitarnya dengan benar. Asal genjreng saja seperti saat keponakan saya yang masih kecil memainkan gitarnya. Tapi, telinga saya sakit bukan hanya karena itu. Yang lebih mendorong saya untuk menutup kedua kuping saya adalah karena si pangamen tadi ternyata gagu, bisu. Bayangkan, sudah suara gitarnya sumbang minta ampun, ditambah nyanyian yang dibawakan bukanlah nyanyian. Hanya gremengan, atau teriakan-teriakan tak jelas nadanya. Benar-benar membikin telinga sakit dalam arti literal.
Nah, saat melihat si pengamen tadi saya berpkir bahwa seharusnya kita bekerja itu yang melihat-lihat kemampuan dan keterbatasan kita. Lucu kan, kalau seorang yang bisu (dalam arti yang sebenarnya) memaksakan diri untuk mencari uang dengan cara mengamen. Ya, harusnya kan orang yang bersikeras mencari uang dengan cara ngamen haruslah orang yang 1) bisa memainkan alat musik dengan baik, dan 2) bisa menyanyi dengan bagus, tanpa nada sumbang. Si pengamen yang barusan itu jelas-jelas tidak memenuhi kedua syarat di atas. Lha kok tetap maksa mencari nafkah dengan mengamen. Ini namanya tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Kata guru ngaji saya, orang yang tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya itu adalah orang yang dzalim. Dalam kasus pengamen tadi, dia tidak hanya menzalimi diri sendiri akan tetapi juga menzalimi orang lain.
P.S. Postingan berikutnya akan membahas tentang pengamen yang kehadirannya dinanti-nanti.
Tunggu saja!
25 Mei 2008
Buruk Sangka
“Jangan lihat buku dari kovernya” itu kata pepatah. “Jangan lihat orang dari kasingnya” itu kata Tukul Arwana. “Jangan menilai orang hanya dari penampilan fisiknya” Itu kata saya. Mana di antara ketiga kata-kata itu menurut Anda yang paling benar? Yang paling benar ya ketiga-tiganya. Lha wong arti semuanya sama. Ya maksudnya seperti kata saya di atas, jangan menilai orang hanya dari penampilan fisiknya.
Saya yakin sebagian besar dari kita, atau bahkan kita semuanya sudah pernah mendengar dan mengerti nasehat kata-kata bijak ini. Setidaknya sedari SD kita telah diajari oleh bapak/ibu/saudara/saudari guru kita (coret yang tidak perlu) bahwa penampilan fisik tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan hati seseorang. Ya, meskipun para motivator juga sering kali menasehati kita jika ingin mengubah kepribadian maka pertama-tama yang harus diubah adalah penampilan. Tapi, saya cenderung lebih setuju dengan yang pertama tadi bahwa penampilan bukanlah patokan kepribadian.
Nah, saudara-saudara sekalian, meskipun kita semua telah pernah mendengar serta telah mengerti maksud dari kata-kata bijak itu, akan tetapi sebagian besar dari kita jarang sekali mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan saya juga termasuk dari sebagian besar orang itu. Meski sudah tahu setahu-tahunya, dan sudah paham sepaham-pahamnya kata-kata bijak itu, toh ketika diuji untuk mempraktikkannya, saya masih belum lulus. Saya gagal untuk berpikir positif terhadap orang di hadapan saya bagaimanapun bentuknya. Sebaliknya, saya malah terjebak dalam buruk sangka yang pada akhirnya harus saya sesali saat mengetahui pikiran negatif saya itu ternyata salah.
Begini ceritanya, suatu hari saat saya harus pergi keluar kota naik bis umum (hahaha, tidak berarti saya biasanya naik mobil pribadi lho ya), seperti layaknya bis lain, di tengah perjalanan ada seorang ksatria bergitar (pengamen - red.) masuk ke bis yang saya tumpangi. Nah, pada saat inilah pikiran negatif saya pada si ksatria tadi mulai bekerja. Setidaknya ada tiga pikiran buruk saya pada sang ksatria. Pertama, dia pasti sebenarnya tidak bisa memainkan gitar dengan baik. Yang kedua, meski dia bisa bermain gitar dengan baik, tentu dia hanya bisa menyanyikan lagu-lagu yang liriknya nggak bermutu, apalagi lirik-lirik yang religius. Dan, yang ketiga, dia pasti akan meminta dengan cara memaksa pada para penumpang untuk memberikan recehan.
Saudara-saudara, tidak dengan sendirinya sangkaan buruk saya itu mengganggu pikiran saya. Ada yang membangkitkannya hingga saya berpikir demikian. Dan, tahukah saudara-saudara sekalian, yang membangkitkan sangkaan buruk saya pada si ksatria tadi adalah penampilannya. Bayangkan saja, si ksatria tadi hampir seluruh tubuhnya dipenuhi oleh tato. Memang sih bukan semua bagian tubuhnya bertato. Saya hanya ingin mengatakan bahwa tatonya banyak dan gambarnya serta tulisannya pun sangar. Nah, dalam budaya Indonesia yang kalem ini, kalau kita melihat orang dengan penampilan semacam itu tentu tidak terlalu salah jika kemudian kita memiliki pikiran buruk pada orang itu. Kenyataannya kan memang tato sering kali dipakai oleh mereka yang disebut preman dan tato juga seringkali memang digunakan sebagai simbol kekerasan. Jadi, wajar lah kalau saya berburuk sangka pada beliaunya.
Tapi, apakah ketiga sangkaan buruk di atas tadi terbukti. Ternyata eh ternyata, saat si ksatria mulai memainkan jarinya pada senar gitar, sangkaan buruk pertama saya terpatahkan. Dia bisa memainkan gitarnya dengan cukup apik. Terbukti saya terbawa oleh alunan nada-nada yang dimainkannya. Kemudian, saat dia mulai membuka suara untuk menyanyi, terbukti pula lah bahwa sangkaan buruk kedua saya juga keliru. Yang keluar dari mulutnya adalah sebuah lagu religius. Yah, seperti lirik taubatnya seorang preman. Kira-kira begini liriknya
“Gema adzan subuh, aku ketiduran. Gema adzan dzuhur, aku sibuk bekerja. …… Pantaskah surga untukku?!”
Nah loh, tidak seperti yang saya bayangkan to? Dan, selanjutnya saat lagu yang dinyanyikan sudah usai dan tiba saatnya bagi si ksatria untuk meminta imbalan, sungguh kata-kata yang diucapkannya sanggup meluluhlantakkan sangkaan buruk saya yang ketiga. Dengan sangat sopan si ksatria memohon pada semua penumpang untuk bisa memberikan recehan seikhlasnya. Dan, saat ada penumpang yang tidak memberinya recehan, dia tidak menampakkan wajah kecewa. Hanya satu kata yang terucap dari mulutnya “Nggih, matur nuwun”
Hahaha, lagi-lagi saya tidak lulus ujian untuk tidak menilai orang dari penampilannya. Capek dech!02 Mei 2008
Sekolah oh Sekolah
Tidak terlalu salah kalau dikatakan bahwa saat ini sekolah hanya mencetak manusia yang maju berpikirnya akan tetapi kurang begitu lihai dalam urusan bertindak dan kasih sayang. Tentu anda masih ingat bahwa akhir-akhir ini telah terjadi banyak kasus tawuran antar pelajar. Jika bukan karena cewek, tawuran semacam itu pasti terjadi karena ada adu gengsi.
Mungkin salah satu siswa dari suatu sekolah pernah diperlakukan kurang menyenangkan oleh siswa sekolah lain. Kemudian siswa yang merasa diperlakukan secara tidak menyenangkan itu melapor ke teman-temannya. Dan bisa dibayangkan mereka secara beramai-ramai akan mulai menyerang para siswa dari sekolah yang telah mereka anggap menginjak-injak harga diri mereka. Dalam penyerangan semacam itu yang menjadi korban adalah semua siswa dari sekolah tersebut termasuk mereka yang sama sekali tidak mengetahui duduk persoalan. Bahkan kalau dihitung, antara mereka yang mengerti persoalan dan mereka yang tidak mengetahuinya jumlahnya amat tidak imbang. Jauh lebih besar yang tidak mengetahui. Akan tetapi tetap saja mereka menjadi korban.
Seandainya sekolah bisa menjalankan perannya secara optimal, tentu harusnya bangsa ini menjadi bangsa besar. Kenapa demikian? Karena saat ini sudah hampir semua anak Indonesia mengenyam pendidikan. Hanya segelintir anak saja yang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah. Sayangnya, mereka yang bisa melanjutkan studi justru semakin rusak budi pekertinya. Mereka semakin tidak bisa memahami arti keberadaannya sebagai manusia. Lalu, apakah artinya mencari sekolah favorit? Apakah hanya mencari jaminan masa depan dengan janji-janji untuk mendapatkan pekerjaan. Kalau demikian, apa bedanyanya antara sekolah dengan lembaga pelatihan? Sangat tidak masuk akal yang demikian terjadi.
06 April 2008
Kuburan: Peringatan Keras yang Dilupakan
Baiklah, karena posting kali ini merupakan sambungan dari posting terdahulu, maka akan saya mulai tulisan ini dengan kesimpulan. Intinya, manusia masa kini tidak lagi menganggap kuburan sebagai tempat angker dimana dedemit bersemayam. Kesan mengerikan kuburan sudah tak lagi setebal dahulu. Maka, kuburan tidak lagi dianggap sebagai situs yang menakutkan. Ia dipandang layaknya seperti tempat lainnya. Dan sebagaimana tempat lainnya, orang bisa melakukan apapun di kuburan.
Nyatanya, kuburan atau makam atau pemakamanan adalah tempat spesial. Ia tidak bisa begitu saja disamakan dengan tempat lainnya seperti lapangan sepak bola, perkebunan, ataupun persawahan. Karena itu, bagaimanapun kuburan tidak tidak bisa begitu saja diperlakukan sama seperti tempat-tempat lainnya. Dan karenanya, perilaku orang-orang masa kini yang cenderung menganggap dan memperlakukan kuburan layaknya tempat-tempat lain menarik untuk didiskusikan.
Sebagai manusia rasional, kita tentu setuju bahwa kuburan tidak perlu ditakuti. Kita juga pasti sekata bahwa merupakan tindakan bodoh jika kita mengasosiasikan kuburan dengan makhluk-makhluk mengerikan seperti pocong, tengkorak, kuntilanak, sundil bolong, dan sebangsanya. Mengapa? Karena sebagai tempat bersemayam orang yang sudah mati yang saat hidup mungkin kita kenal dekat mana mungkin kuburan menimbulkan bahaya pada nyawa kita. Kalaupun toh si mati yang kita kenal itu hidup lagi, apakah ia akan menyakiti kita? Juga, mana mungkin genderuwo dan kawan-kawannya itu tiba-tiba menjadi penghuni kuburan sementara yang dikubur di sana adalah mereka yang mungkin pernah dekat dengan kita. Secara rasional semua itu tidak masuk akal.
Sampai di sini, rasionalitas kita jelas memberikan manfaat besar. Hanya saja, jika dasar rasionalitas yang kita miliki itu hanya berhenti pada menyingkirkan rasa takut kita pada kuburan, tentu ini harus dikoreksi. Tidak. Seharusnya tidak hanya berhenti pada hilangnya rasa takut. Dasar rasionalitas yang kita miliki seharusnya lebih bisa membawa kita pada pemaknaan berarti terhadap keberadaan kuburan. Artinya, dengan rasionalitas kita harus mampu mengambil pelajaran setiap kali melihat kuburan.
Lalu, pelajaran atau hikmah apa yang bisa diambil saat melihat kuburan? Gampang saja. Kuburan adalah tempat orang mati dikebumikan. Dan di setiap prosesi pemakaman, yang dikubur hanyalah orang yang sudah mati. Meskipun dia seorang hartawan terkaya di dunia, saat ia mati hartanya tidak ikut dipendam bersamanya. Keluarga yang semasa hidup sangat dicinta dan mencintai si mati juga tidak bisa menemani. Mereka tidak akan sudi ikut dipendam bersama. Saya yakin kita semua telah mengerti hal ini.
Maka, jika kita mau menggunakan akal sehat atau rasio seharusnya tiap kali melihat kuburan kita berpikir pada kematian. Bukankah orang yang di kubur di sini dulu juga pernah hidup? Bukankah hanya dia seorang diri yang dipendam di sini meskipun kekayaannya berlimpah dan orang-orang yang mencintainya tersebar di mana-mana? Seharusnya pertanyaan seperti ini bergema di pikiran kita. Dan rasionalitas kita seharusnya menjawab pertanyaan tersebut: kalau orang ini dulu hidup dan sekarang telah mati kemudian di kubur di sini, tentunya saya yang sekarang ini masih hidup suatu saat juga akan mati dan dikubur, kalau orang ini dipendam sendiri meski banyak orang yang mencintainya maka pasti saya pun akan dipendam sendiri tak peduli berapa banyak pemuja saya. Jika sudah demikian, seharusnya tiap kali melihat kuburan perilaku kita akan membaik karena kesadaran kita akan kematian.
Sayangnya, bersama hilangnya ketakutan kita pada kuburan, kita juga menjadi cuek dengannya. Sekarang, kita tidak hanya berani lewat kuburan. Lebih dari itu kita juga menjadi kurang ajar. Maka, tempat yang seharusnya mengingatkan kita pada kematian dan karenanya membuat perilaku kita lebih baik, kini malah digunakan untuk berbuat kemaksiatan. Mulai berzina, mabuk-mabukan, mencuri, bahkan mencari wangsit nomor togel yang akan keluar kini lumrah dilakukan di areal kuburan. Sungguh, sangat berlawanan dari yang seharusnya dilakukan di areal kuburan.
Akhir kata, kalau peringatan yang jelas dan keras seperti kematian saja sudah tidak dipedulikan, lalu apalagi yang bisa menyadarkan kita?
05 April 2008
Kuburan: Dulu dan Sekarang
Tidak ada tempat yang lebih menakutkan dari pada kuburan. Bahkan hanya mendengar namanya disebut saja, khususnya saat matahari sudah terbenam rasanya bulu kuduk kita akan segera berdiri. Kalau ada orang yang bercerita dan ia mengawali ceritanya dengan satu kata ini maka kita harus bersiap-siap untuk mendengarkan cerita yang akan membuat kita tidak berani ke kamar mandi saat terbangun di malam hari oleh panggilan alam yang datang tiba-tiba. Dan kalau kita terpaksa pergi ke rumah seseorang yang untuk sampai ke sana harus melewati kuburan maka akan sangat wajar jika akhirnya kita tidak pulang kalau ketika hendak pulang itu malam mulai menjelang. Intinya, tidak akan ada orang yang menertawai jika kita takut untuk lewat kuburan. Hanya seorang pemberani atau nekat saja yang tidak takut lewat kuburan pada saat malam.
Itu dulu. Dulu saat listrik hanya ada di kota-kota besar. Dulu saat film-film kita masih bertema seks yang dibungkus dalam kerangka film horor. Ya, saat-saat itu kuburan merupakan tempat yang sangat menakutkan yang hanya berani kita lewati siang hari. Bahkan, hanya untuk lewat jalan di sebelahnya saja waktu itu sudah memerlukan keberanian yang ekstra besar. Maka, saat itu jika diminta memilih antara berjalan dua kilo tanpa melewati atau lewat di sebelah kuburan dan berjalan hanya satu kilo akan tetapi harus lewat kuburan rasanya kita pasti akan memilih yang pertama. Konyol? Tidak. Tidak konyol.
Memang saat itu kita masih sangat takut pada gendruwo, pocong, kuntilanak, dan sebangsanya. Apalagi, listrik yang bisa memberi penerangan cukup belum tersedia sehingga saat malam tiba di sekitar kita terasa sangat gelap dan kegelapan seperti itulah yang membuat kita semakin takut. Jadi, kegelapan teritorial karena belum adanya penerang ini semakin menambah kegelapan pikiran di kepala kita sehingga hal-hal yang belum tentu ada itupun menjadi tampak jelas dan kita pun takut untuk bertemu dengan mereka. Yang terjadi? Entah itu hanya rumor atau benar-benar terjadi, saat itu banyak orang yang berkisah telah bertemu dengan makhluk-makhluk yang saya sebutkan.
Sekali lagi, itu dulu. Kini, cara kita melihat kuburan telah berubah. Kita tidak lagi setakut dulu saat harus lewat kuburan. Kita tidak lagi memilih jalan yang jauh hanya demi menghindari kuburan. Tentu saja perubahan ini tidak terjadi dengan sendirinya. Perubahan itu antara lain disebabkan oleh semakin rasionalnya pikiran kita setelah terjamah oleh sains. Pikiran kita kini semakin terang sehingga hal-hal yang dulu samar dan menimbulkan persepsi yang menakutkan sekarang ini menjadi jelas dan ketakutan itu dengan sendirinya sirna.
Di tambah lagi, listrik kini telah menjangkau hampir semua wilayah di negeri kita. Ia tidak hanya dinikmati oleh orang kota tetapi juga telah dirasakan oleh orang-orang desa. Maka secara teritorial desa kini menjadi seterang kota.
Gabungan terangnya pikiran dan teritorial ini membawa dampak yang sungguh-sungguh dahsyat karena saat pikiran terang dan teritorial benderang kita tidak memikirkan hal-hal yang mungkin berada di balik kegelapan. Maka, gendruwo dan kawan-kawannya yang dulu kita bayangkan berada di balik kegelapan kuburan tidak lagi menjadi sumber ketakutan karena kita bisa melihat dengan jelas, dengan mata hati dan mata kepala, mereka tidak tampak di tempat-tempat yang dulu kita bayangkan mereka berada. Dan anehnya, saat kita tidak berpikir makhluk-makhluk itu berada di sekitar kita rumor-rumor tentang mereka yang menemui salah satu dari kita pun tidak lagi terdengar.