24 Mei 2008

Dangdut: Banyak Penyanyi tapi Minim Komposer

Ya, itulah alasan pertama kemunduran musik dangdut. Selanjutnya, alasan kedua bagi semakin muramnya musik dangdut adalah kenyataan meski dengan semakin banyaknya kontes nyanyi dangdut yang tentunya pada akhirnya memunculkan penyanyi dangdut baru, orang-orang yang berkecimpung di wilayah musik ini jarang sekali yang berbekal kemampuan mencipta dan menggubah lagu. Dan, kontes-kontes yang saat ini ramai digelar seperti KDI, atau kontes-kontes yang lainnya memang hanya benar-benar melahirkan penyanyi dangdut baru. Tidak dengan serta merta lahir pula komposer musik dangdut baru.

Anda boleh tidak setuju dengan alasan kedua yang saya ajukan ini. Akan tetapi, Anda boleh melihat kenyataan. Lagu-lagu dangdut yang sekarang ini selalu dinyanyikan oleh para biduan hanyalah karya dari sedikit pencipta. Sebut saja, di antara pencipta itu ada Bang Haji Rhoma Irama, Imam S. Arifin, Mansyur S. Arifin, dan beberapa orang lainnya. Hampir semua lagi yang sekarang ini beredar di pasar musik dangdut adalah karya mereka. Akibatnya, saat kini mereka sudah beruban, usianya semakin bertambah dan masuk ke umur tak produktif lagi, amat wajar jika kemudian musik dangdut seolah-olah kehilangan talenta. Bisa dibilang lagu dangdut yang dinyanyikan saat ini tidak ada hasil karya cipta periode masa kini. Semua adalah ciptaan bertahun-tahun yang lalu yang kadang hanya didaur ulang. Maka, menurut saya jika gejala ini tidak segera di sadari oleh musisi dangdut, musik kebanggaan ini akan segera hilang.

Alasan ketiga bagi kemunduran musik dangdut, menurut saya, adalah kurangnya regenerasi talenta. Atau boleh dibilang tidak ada pembibitan yang dikelola dengan baik. Alasan ini tentunya masih berhubungan erat dengan alasan sebelumnya. Akan tetapi, ada hal baru di sini. Yakni, bahwa para musisi dangdut yang sudah mapan seolah-olah tidak mewariskan dan mengajarkan kemampuannya pada generasi berikut. Ini perlu diperhatikan karena musik dangdut memang berbeda jauh dari musik pop dan rock.

Coba Anda tengok di wilayah kedua musik tersebut. Kalau Anda memperhatikan dengan seksama, maka Anda akan melihat pembibitan terjadi meski tanpa dilakukan dengan sengaja. Ini terjadi di les-les vokal dan kursus-kursus musik. Selain itu, juga sering diadakan event berbagi ilmu oleh para musisi mapan pada musisi yang masih baru belajar. Contohnya, baru-baru ini Ridho Slank menggelar pelatihan gitar. Memang kalimatnya workshop bergitar, akan tetapi kalau dicermati, karena aliran musik Ridlo ini adalah Rock, maka yang diajarkanpun akan terkait dengan musik Rock. Nah, apakah Anda pernah melihat yang sama dilakukan oleh musisi dangdut? Khususnya saya pribadi, saya belum pernah melihat hal semacam itu.

Yang terakhir, tapi bukan yang paling tidak penting, kemunduran musik dangdut disebabkan oleh overflexibility yang dimiliki oleh musik ini (orang para musisinya). Yang saya maksud dengan overflexibility adalah kenyataan bahwa musik dangdut bisa dihasilkan dari musik apapun. Atau, lebih jelasnya, lagu apapun bisa didangdutkan. Ini yang saya maksud dengan overflexibility.

Anda tentu sering mendengar lagu-lagu rock atau pop yang dinyayikan dengan aransemen dangdut kan? Nah, kalau Anda cermati, hampir semua lagi aliran lain bisa dibawakan dengan aransemen dangdut. Memang, ini juga merupakan kelebihan. Dengan bisa menggubah lagu apapun menjadi lagu dangdut, berarti dangdut bisa dimainkan dimanapun dan kapanpun. Ya, memang demikian, akan tetapi kerugian yang diakibatkan oleh terlalu fleksibelnya musik dangdut ini justru lebih besar dari keuntungannya. Ya, betapa sering orang-orang sinis dengan musik dangdut hanya karena sebuah lagu, misalnya lagu jujur, dimainkan dalam irama dangdut? Nah, justru para penikmat musik akan menganggap musik dangdut bukan musik kreatif dan orginal karena hanya mengganti aransemen pun sebuah lagi bisa diubah menjadi lagu dangdut. Kalau para penikmat musik sudah beranggapan demikian dan menganggap rendah musik dangdut maka tentu mereka tidak akan mau lagi menjadi penikmat musik ini. Kalau sudah demikian, maka dangdut akan benar-benar dianggap sebagai musik kampuang jauh di mato.

Rasanya keempat alasan yang saya kemukakan di sini sudah cukup banyak. Wahai para musisi dangdut, ayo kembalikan kejayaan musik dangdut. Bergeraklah akan musik yang katanya asli negeri ini tetap lestari.

P.S. 1. Saya bukan seorang musisi dangdut hanya penggemar.
       2. Semua yang saya tulis di sini bukan hasil dari riset hanya pengamatan sembarangan.

14 Mei 2008

Dangdut: Nasibmu Kini…

Dulu, saat-saat yang paling dinanti (setidaknya di kampung saya saat itu) adalah malam minggu. Jika saat-saat itu datang, hampir semua orang (kecuali yang sedang banyak hutang tentunya) merasakan suasana lain yang akan membuat mereka gembira. Karena jika hari sabtu mulai menjelang malam dan malam minggu mulai datang, maka hiburan yang sudah dinantikan selama satu minggu akan segera bisa dilihat. Dan ah! kecewa sekali rasanya jika setelah kita menunggu begitu lama tiba-tiba pada jam setengah sepuluh malam setelah dunia dalam berita ada laporan khusus tentang kunjungan presiden di suatu daerah. Kenapa? Karena itu artinya hiburan yang sudah kita harapkan kemungkinan tidak akan ditayangkan (apalagi kalau acara laporan khusus itu memakan waktu lama, dan biasanya memang demikian).

Nah, kalau anda termasuk penonton setia TVRI jaman itu, anda pasti tahu acara apa yang saya sebut sebagai hiburan. Tepat! Aneka Ria Safari....

Di acara ini disuguhkan acara musik baik live maupun klip. Dan, ini yang penting, musik yang ditayangkan dalam acara ini adalah musik dangdut. Dan jika acara ini telah dimulai dan musik dangdut mulai bergema, maka telinga kita (atau kami lah) akan begitu khusuk mendengarkan dan mata kita akan penuh konsentrasi memandangi layar televisi meski masih hitam putih. Kenapa lagi? Ya, karena saat itu musik dangdut merupakan musik yang paling digemari oleh penduduk Indonesia (kalau tidak tentu TVRI akan menayangkan musik lainnya yang bukan dangdut). Maka mendengarkan alunan gendang dan tiupan seruling sembari dilengkapi suara syahdu sang biduan mampu membuat kami semua terlena akan masalah yang dihadapi.

Oke, oke. Itu memang dulu. Sekarang dangdut tidak lagi menjadi idola dan artis dangdut pun tidak lagi menjadi pujaan. Yang saat ini digemari adalah musik pop dan yang dipuja adalah band aliran bukan dangdut. Generasi saat ini tidak saja tidak menyukai dangdut, lebih buruk dari itu mereka antipati pada musik satu ini. Salahkah mereka? Tentu saja tidak. Mereka sama sekali tidak bisa disalahkan untuk tidak tertarik pada musik mirip musik India ini. Yang justru harus dipersalahkan akan kondisi yang demikian adalah musisi dangdut sendiri. Mereka patut dipersalahkan dan dikambinghitamkan atas menurunnya animo masyarakat pada musik dangdut karena setidaknya mereka telah melakukan empat kesalahan:

Pertama, musisi dangdut jarang melakukan inovasi. Tentu saja yang saya maksud inovasi bisa berarti apa saja mulai dari inovasi penampilan, inovasi warna vokal, inovasi lirik, inovasi warna musik, dan inovasi-inovasi yang lainnya. Karena kurangnya inovasi ini, dari dulu musik dangdut ya seperti itu saja. Tidak berubah. Cara memukul gendang juga tidak ada bedanya antara dulu dan sekarang. Contoh lain, sedari dulu yang namanya dangdut itu ya dinyanyikan oleh seorang biduan dan diiringi kelompok orkes. Sampai sekarangpun masih begitu. Seorang biduan tetap menjadi sentral penampilan sedangkan grup orkes hanya mengiringi saja dan kehadirannya sebagai grup (jika tanpa biduan) jarang sekali ditunggu-tunggu.

Bandingkan saja misalnya dengan musik pop. Di awal tahun 90-an musik ini masih belum begitu banyak digemari oleh penikmat musik tanah air. Akan tetapi, hanya dalam waktu dua puluh tahun (dihitung dari tahun 90), kini pop didengarkan hampir oleh seluruh generasi muda Indonesia. Kenapa bisa demikian? Karena inovasi yang terjadi di komunitas musik pop (dan rock) sangat bervariasi. Jenis lirik sangat beragam, warna musik amat berbeda, dan penampilan juga tidak sama. Di dalam masyarakat pop kelompok musik tidak lagi hanya berperan mengiringi. Mereka kini telah mampu menjadi pemeran utama dalam pertunjukan musik Kelompok musik seperti itu yang kini dikenal dengan sebutan band sekarang berjumlah sangat banyak dan bahkan mungkin lebih banyak dari biduan pop solo. Dan semakin banyak adanya band, perkembangan musik pop dan rock pun berkembang semakin pesat.

Sementara itu, di lingkar musik dangdut, warna musik tetap begitu-begitu saja. Ditambah lagi, kelompok musik dari dulu hingga kini tetap hanya menjadi pengiring (kecuali grup Sonetanya Bang Haji Rhoma Irama tentu saja :D) dengan keadaan yang tanpa inovasi seperti ini wajar saja kalau jumlah penggemar musik dangdut semakin hari semakin menyusut dan kini hampir punah.....


(sssttt, mau tau apa kesalahan lain yang dilakukan oleh musisi dangdut sehingga musik mereka tidak lagi digemari? Tunggu saja postingan berikutnya....)

06 Mei 2008

The Best Kontes Nyanyi on TV

Akhir-akhir ini tiap jam tujuh malam saya seringkali menghentikan laju remote control televisi saya di stasiun yang motonya “makin Indonesia, makin asyik aja”. Anda pasti tahu stasiun televisi mana yang sedang saya bicarakan ini. Iya, benar. Stasiun televisi swasta pertama Indonesia. Tidak lain dan tidak bukan, Televisi Pendidikan Indonesia.

Televisi yang namanya amat mulia, tapi sayang program-programnya belum semulia namanya. (Mungkin karena menyadari kurang mulia program tayangannya itu pengelola stasiun ini sekarang jarang menyebutkan kepanjangan dari namanya, TPI. Sebagai gantinya, mereka mengganti kata pendidikan dengan kata keluarga. Maka jadilah sebutan TPI: televisi keluarga Indonesia.)

Tiap pukul tujuh malam di channel ini saya temukan sajian yang mau tidak mau membuat saya tidak ingin ke mana-mana. Dangdut Mania dan KDI. Dua acara inilah yang telah memaksa saya berhenti memencet remote kontrol (padahal biasanya tidak ada channel televisi yang saya pelototi lebih dari 10 menit dan di dua acara ini saya harus merelakan waktu untuk duduk dan memelototi TV selama kurang lebih 1 jam hingga jeda iklan. Luar biasa kan?)

Anda tentu bertanya kenapa saya sampai seterpikat itu dengan tayangan yang satu ini. Setidaknya saya 3 jawaban:

Pertama, harus saya akui musik dangdut adalah musik favorit saya. Saya tentu tidak bisa memberikan penjelasan ilmiah kenapa musik yang satu ini harus menjadi yang paling saya sukai. Saya hanya bisa mengatakan mungkin: mungkin dangdutlah yang saya dengar ketika dilahirkan, mungkin musik dangdut lah yang selalu dinyanyikan oleh ibu saat mengandung saya, Mungkin pula ibu ngidam memukul gendang dan meniup seruling saat saya di kandungan. Ya, mungkin saja. Yang pasti, saat mendengarkan musik yang satu ini jiwa saya seperti terserap dalam alunan nada-nadanya.

Kedua, acara ini berbeda dari kontes-kontes lain yang ada. Tantangan yang diberikan (khususnya dalam acara Dangdut Mania) begitu menarik dan sangat sulit. Bayangkan, seorang kontestan ditantang tampil di hadapan penonton (dan disiarkan secara langsung ke seluruh nusantara) untuk menyanyikan lagu yang tidak ia antisipasi sebelumnya. Ini tentu merupakan tantangan yang sangat sulit. Kalau si kontestan tidak benar-benar pencinta musik dangdut, tentu ia akan gelagapan oleh tantangan ini. Maka, melihat ketegangan (atau kesiapan) kontestan menghadapi tantangan ini sungguh memberikan keasyikan tersendiri pada saya tak peduli apakah akhirnya ia bisa mengatasi tantangan itu atau tidak.

Alasan ketiga saya menghentikan pencetan pada remote kontrol untuk menonton TPI adalah Bertha. Iya, Bertha. Benar, Bertha yang kabarnya guru vokalnya sebagian besar penyanyi pop Indonesia itu. Di dalam acara itu dia berperan sebagai komentator. Apakah Bertha tampil cantik dan menarik? Tidak. Ia tampil seperti biasa. Ia tidak bertambah langsing. Masih gem** seperti dulu. Tapi tentu bukan Bertha namanya kalau tidak tampil PD. Sangat PeDe malah.

Bagi saya sangat asyik melihat Bertha mengomentari kemampuan vokal setiap peserta dalam kedua kontes itu, Dangdut Mania dan KDI. Bagi saya, dia adalah orang yang jujur dan tidak suka bertele-tele. Jika menurutnya seorang kontestan memiliki kemampuan vokal yang buruk, ia dengan sangat terus terang dengan bahasa yang tidak berputar-putar akan mengatakan bahwa kemampuan vokal si kontestan payah. Sebaliknya, jika menurutnya seorang kontestan memiliki kemampuan vokal bagus, dia tidak akan sungkan memujinya setinggi langit. Keberterusterangan Bertha itulah yang membuat saya menyukai acara ini. Maka, saat Bertha menjelek-jelekkan ataupun saat ia menyanjung seorang kontestan bagi saya sama-sama enak untuk ditonton.

Nah, agar Anda percaya bahwa kedua acara yang saya sebutkan di atas patut untuk ditonton, tiap pukul tujuh malam jangan malu-malu pindahlah channel TV Anda ke TPI yang makin asyik aja....He-he-he....

 

02 Mei 2008

Sekolah oh Sekolah

Kali ini saya tidak akan berbasa-basi. Jadi, langsung saja.

Tidak terlalu salah kalau dikatakan bahwa saat ini sekolah hanya mencetak manusia yang maju berpikirnya akan tetapi kurang begitu lihai dalam urusan bertindak dan kasih sayang. Tentu anda masih ingat bahwa akhir-akhir ini telah terjadi banyak kasus tawuran antar pelajar. Jika bukan karena cewek, tawuran semacam itu pasti terjadi karena ada adu gengsi.

Mungkin salah satu siswa dari suatu sekolah pernah diperlakukan kurang menyenangkan oleh siswa sekolah lain. Kemudian siswa yang merasa diperlakukan secara tidak menyenangkan itu melapor ke teman-temannya. Dan bisa dibayangkan mereka secara beramai-ramai akan mulai menyerang para siswa dari sekolah yang telah mereka anggap menginjak-injak harga diri mereka. Dalam penyerangan semacam itu yang menjadi korban adalah semua siswa dari sekolah tersebut termasuk mereka yang sama sekali tidak mengetahui duduk persoalan. Bahkan kalau dihitung, antara mereka yang mengerti persoalan dan mereka yang tidak mengetahuinya jumlahnya amat tidak imbang. Jauh lebih besar yang tidak mengetahui. Akan tetapi tetap saja mereka menjadi korban.

 Bukankah dengan demikian berarti sekolah telah gagal mengemban salah satu tujuannya untuk mencetak warga negara yang berbudi pekerti tinggi? Apa hubungannya sekolah dengan palu? Tentu saja tidak ada. Akan tetapi, karena sekolah memang tidak lagi mampu menjadi tempat di mana seorang anak bisa mengembangkan seluruh kemampuannya termasuk dalam hal emosi dan spiritual, maka yang demikian tentu layak terjadi.

Seandainya sekolah bisa menjalankan perannya secara optimal, tentu harusnya bangsa ini menjadi bangsa besar. Kenapa demikian? Karena saat ini sudah hampir semua anak Indonesia mengenyam pendidikan. Hanya segelintir anak saja yang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah. Sayangnya, mereka yang bisa melanjutkan studi justru semakin rusak budi pekertinya. Mereka semakin tidak bisa memahami arti keberadaannya sebagai manusia. Lalu, apakah artinya mencari sekolah favorit? Apakah hanya mencari jaminan masa depan dengan janji-janji untuk mendapatkan pekerjaan. Kalau demikian, apa bedanyanya antara sekolah dengan lembaga pelatihan? Sangat tidak masuk akal yang demikian terjadi.

 Lalu apa solusinya agar sekolah bisa menjadi tempat untuk membuat siswa memiliki budi pekerti tinggi? Tampak tidak ada solusi lain selain berharap agar kurikulum yang ada benar-benar menekankan pada budi pekerti. Sebab, yang sekarang terjadi, kurikulum kita hanya focus pada pengembangan kognitif sementara sisi afektif sama sekali tak tersentuh. Jika demikian, maka meskipun banyak sekolah unggulan di negeri ini, bangsa ini tetap akan menjadi bangsa brengsek yang tidak tahu mana halal dan mana haram. Dan jika yang demikian terjadi, maka jangan kaget kalau dalam beberapa tahun ke depan bangsa akan segera hancur.

01 Mei 2008

Tidur Panjang Saya

Tiba-tiba saya sadar telah begitu lama meninggalkan rumah saya ini. Hampir satu bulan sudah saya tidak menyambangi tempat tinggal yang satu ini. Maka sudah selama itu pula saya tidak menempelkan (memposting, red.) tulisan. Dan sekarang saya ingat bahwa saya punya rumah yang harus dipelihara, diisi, dihuni, dan diperhatikan. Tenang, tidak pernah terbersit di benak saya untuk menjual rumah ini (wong tidak ada harganya kok).

Nah, perlu saya jelaskan di sini bahwa selama ini saya tidak sengaja mengabaikan tempat tinggal teduh ini. Semua itu hanya karena saya mengalami penyakit aneh yang tiba-tiba menyerang. Ya, saya terkena penyakit tidur panjang. Tidur yang sangat panjang. Bukankah satu bulan merupakan waktu yang sangat panjang untuk tidur? Tapi benar. Saya tidak mengada-ada. Saya benar-benar ketiduran. Dan ketika bangun hari ini, saya baru sadar telah begitu lama saya tertidur. Ah, tidur yang aneh.

Tapi, tunggu dulu. Rasanya tidur saya yang hanya selama satu bulan itu tidak aneh. Banyak orang yang pernah mengalaminya. Apalagi kalau dibandingkan dengan tidurnya para penghuni gua pada zaman raja Dikyanus tahun 112 M. Benar-benar tidak aneh kalau dibandingkan dengan tidurnya ashabul kahfi bukan? Lha wong mereka tidur sampai 300 tahun. Bayangkan 300 tahun. Sedangkan saya baru tidur satu bulan saja.

Nah, karena saya sudah menyebut nama ashabul kahfi, maka biarlah saya sedikit menyinggung pertanyaan-pertanyaan saya ketika pertama kali mendengar kisah orang-orang yang memegang  teguh imannya ini. Sekedar informasi, orang-orang yang disebut sebagai ashabul kahfi terdiri dari 7 orang beriman yang karena keadaan (penguasa lalim yang membasmi pihak yang memiliki keimanan berbeda) harus lari meninggalkan negerinya sendiri. Ditemani anjing bernama Qithmir, mereka masuk ke dalam sebuah gua. Dan sesampainya di dalam gua mereka tertidur pulas selama kurang lebih tiga ratus tahun.

Saat mendengar guru saya dulu menuturkan kisah ini, tentu saja saya bertanya-tanya dalam hati: Apa yang dirasakan oleh mereka saat terbangun dan melihat apa-apa di sekitarnya telah berubah? Jujur saja saat itu saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya. Sama sekali tidak terbayangkan. Dan kini, saat saya tidak lagi memikirkan pertanyaan itu, tiba-tiba saya mengalami kejadian yang mau tidak mau membuat saya menghubungkannya dengan peristiwa ashabul kahfi.

Saat saya bangun dari tidur saya yang hanya berlangsung selama satu bulan itu, saya melihat begitu banyak hal yang telah berubah. Begitu banyak blog tetangga sebelah yang sudah membahas banyak hal. Sementara blog saya ini, karena tidur panjang saya, belum membahas apa-apa. Blog saya masih seperti dulu, sedangkan blog tetangga sudah begitu berbeda dan jauh lebih baik. Semuanya hanya karena tidur panjang.

Mungkin saja, perasaan saya saat melihat blog tetangga yang telah jauh lebih baik ini  sama dengan perasaan Ashabul kahfi saat keluar gua dan melihat peradaban telah berubah. Ya, mungkin saja....

06 April 2008

Kuburan: Peringatan Keras yang Dilupakan

Baiklah, karena posting kali ini merupakan sambungan dari posting terdahulu, maka akan  saya mulai tulisan ini dengan kesimpulan. Intinya, manusia masa kini tidak lagi menganggap kuburan sebagai tempat angker dimana dedemit bersemayam. Kesan mengerikan kuburan sudah tak lagi setebal dahulu. Maka, kuburan tidak lagi dianggap sebagai situs yang menakutkan. Ia dipandang layaknya seperti tempat lainnya. Dan sebagaimana tempat lainnya, orang bisa melakukan apapun di kuburan.

Nyatanya, kuburan atau makam atau pemakamanan adalah tempat spesial. Ia tidak bisa begitu saja disamakan dengan tempat lainnya seperti lapangan sepak bola, perkebunan, ataupun persawahan. Karena itu, bagaimanapun kuburan tidak tidak bisa begitu saja diperlakukan sama seperti tempat-tempat lainnya. Dan karenanya, perilaku orang-orang masa kini yang cenderung menganggap dan memperlakukan kuburan layaknya tempat-tempat lain menarik untuk didiskusikan.

Sebagai manusia rasional, kita tentu setuju bahwa kuburan tidak perlu ditakuti. Kita juga pasti sekata bahwa merupakan tindakan bodoh jika kita mengasosiasikan kuburan dengan makhluk-makhluk mengerikan seperti pocong, tengkorak, kuntilanak, sundil bolong, dan sebangsanya. Mengapa? Karena sebagai tempat bersemayam orang yang sudah mati yang saat hidup mungkin kita kenal dekat mana mungkin kuburan menimbulkan bahaya pada nyawa kita. Kalaupun toh si mati yang kita kenal itu hidup lagi, apakah ia akan menyakiti kita? Juga, mana mungkin genderuwo dan kawan-kawannya itu tiba-tiba menjadi penghuni kuburan sementara yang dikubur di sana adalah mereka yang mungkin pernah dekat dengan kita. Secara rasional semua itu tidak masuk akal.

Sampai di sini, rasionalitas kita jelas memberikan manfaat besar. Hanya saja, jika dasar rasionalitas yang kita miliki itu hanya berhenti pada menyingkirkan rasa takut kita pada kuburan, tentu ini harus dikoreksi. Tidak. Seharusnya tidak hanya berhenti pada hilangnya rasa takut. Dasar rasionalitas yang kita miliki seharusnya lebih bisa membawa kita pada pemaknaan berarti terhadap keberadaan kuburan. Artinya, dengan rasionalitas kita harus mampu mengambil pelajaran setiap kali melihat kuburan.

Lalu, pelajaran atau hikmah apa yang bisa diambil saat melihat kuburan? Gampang saja. Kuburan adalah tempat orang mati dikebumikan. Dan di setiap prosesi pemakaman, yang dikubur hanyalah orang yang sudah mati. Meskipun dia seorang hartawan terkaya di dunia, saat ia mati hartanya tidak ikut dipendam bersamanya. Keluarga yang semasa hidup sangat dicinta dan mencintai si mati juga tidak bisa menemani. Mereka tidak akan sudi ikut dipendam bersama. Saya yakin kita semua telah mengerti hal ini.

Maka, jika kita mau menggunakan akal sehat atau rasio seharusnya tiap kali melihat kuburan kita berpikir pada kematian. Bukankah orang yang di kubur di sini dulu juga pernah hidup? Bukankah hanya dia seorang diri yang dipendam di sini meskipun kekayaannya berlimpah dan orang-orang yang mencintainya tersebar di mana-mana? Seharusnya pertanyaan seperti ini bergema di pikiran kita. Dan rasionalitas kita seharusnya menjawab pertanyaan tersebut: kalau orang ini dulu hidup dan sekarang telah mati kemudian di kubur di sini, tentunya saya yang sekarang ini masih hidup suatu saat juga akan mati dan dikubur, kalau orang ini dipendam sendiri meski banyak orang yang mencintainya maka pasti saya pun akan dipendam sendiri tak peduli berapa banyak pemuja saya. Jika sudah demikian, seharusnya tiap kali melihat kuburan perilaku kita akan membaik karena kesadaran kita akan kematian.

Sayangnya, bersama hilangnya ketakutan kita pada kuburan, kita juga menjadi cuek dengannya. Sekarang, kita tidak hanya berani lewat kuburan. Lebih dari itu kita juga menjadi kurang ajar. Maka, tempat yang seharusnya mengingatkan kita pada kematian dan karenanya membuat perilaku kita lebih baik, kini malah digunakan untuk berbuat kemaksiatan. Mulai berzina, mabuk-mabukan, mencuri, bahkan mencari wangsit nomor togel yang akan keluar kini lumrah dilakukan di areal kuburan. Sungguh, sangat berlawanan dari yang seharusnya dilakukan di areal kuburan.

Akhir kata, kalau peringatan yang jelas dan keras seperti kematian saja sudah tidak dipedulikan, lalu apalagi yang bisa menyadarkan kita?

05 April 2008

Kuburan: Dulu dan Sekarang

Tidak ada tempat yang lebih menakutkan dari pada kuburan. Bahkan hanya mendengar namanya disebut saja, khususnya saat matahari sudah terbenam rasanya bulu kuduk kita akan segera berdiri. Kalau ada orang yang bercerita dan ia mengawali ceritanya dengan satu kata ini maka kita harus bersiap-siap untuk mendengarkan cerita yang akan membuat kita tidak berani ke kamar mandi saat terbangun di malam hari oleh panggilan alam yang datang tiba-tiba. Dan kalau kita terpaksa pergi ke rumah seseorang yang untuk sampai ke sana harus melewati kuburan maka akan sangat wajar jika akhirnya kita tidak pulang kalau ketika hendak pulang itu malam mulai menjelang. Intinya, tidak akan ada orang yang menertawai jika kita takut untuk lewat kuburan. Hanya seorang pemberani atau nekat saja yang tidak takut lewat kuburan pada saat malam.

Itu dulu. Dulu saat listrik hanya ada di kota-kota besar. Dulu saat film-film kita masih bertema seks yang dibungkus dalam kerangka film horor. Ya, saat-saat itu kuburan merupakan tempat yang sangat menakutkan yang hanya berani kita lewati siang hari. Bahkan, hanya untuk lewat jalan di sebelahnya saja waktu itu sudah memerlukan keberanian yang ekstra besar. Maka, saat itu jika diminta memilih antara berjalan dua kilo tanpa melewati atau lewat di sebelah kuburan dan berjalan hanya satu kilo akan tetapi harus lewat kuburan rasanya kita pasti akan memilih yang pertama. Konyol? Tidak. Tidak konyol.

Memang saat itu kita masih sangat takut pada gendruwo, pocong, kuntilanak, dan sebangsanya. Apalagi, listrik yang bisa memberi penerangan cukup belum tersedia sehingga saat malam tiba di sekitar kita terasa sangat gelap dan kegelapan seperti itulah yang membuat kita semakin takut. Jadi, kegelapan teritorial karena belum adanya penerang ini semakin menambah kegelapan pikiran di kepala kita sehingga hal-hal yang belum tentu ada itupun menjadi tampak jelas dan kita pun takut untuk bertemu dengan mereka. Yang terjadi? Entah itu hanya rumor atau benar-benar terjadi, saat itu banyak orang yang berkisah telah bertemu dengan makhluk-makhluk yang saya sebutkan.

Sekali lagi, itu dulu. Kini, cara kita melihat kuburan telah berubah. Kita tidak lagi setakut dulu saat harus lewat kuburan. Kita tidak lagi memilih jalan yang jauh hanya demi menghindari kuburan. Tentu saja perubahan ini tidak terjadi dengan sendirinya. Perubahan itu antara lain disebabkan oleh semakin rasionalnya pikiran kita setelah terjamah oleh sains. Pikiran kita kini semakin terang sehingga hal-hal yang dulu samar dan menimbulkan persepsi yang menakutkan sekarang ini menjadi jelas dan ketakutan itu dengan sendirinya sirna.

Di tambah lagi, listrik kini telah menjangkau hampir semua wilayah di negeri kita. Ia tidak hanya dinikmati oleh orang kota tetapi juga telah dirasakan oleh orang-orang desa. Maka secara teritorial desa kini menjadi seterang kota.

Gabungan terangnya pikiran dan teritorial ini membawa dampak yang sungguh-sungguh dahsyat karena saat pikiran terang dan teritorial benderang kita tidak memikirkan hal-hal yang mungkin berada di balik kegelapan. Maka, gendruwo dan kawan-kawannya yang dulu kita bayangkan berada di balik kegelapan kuburan tidak lagi menjadi sumber ketakutan karena kita bisa melihat dengan jelas, dengan mata hati dan mata kepala, mereka tidak tampak di tempat-tempat yang dulu kita bayangkan mereka berada. Dan anehnya, saat kita tidak berpikir makhluk-makhluk itu berada di sekitar kita rumor-rumor tentang mereka yang menemui salah satu dari kita pun tidak lagi terdengar.