MENCARI HIKMAH

SELALU ADA HIKMAH DI BALIK PERISTIWA

Ban Bocor

Kemarin, saya mengalami kejadian yang luar biasa. Sebetulnya bukan cuma kemarin saya mengalami hal semacam itu. Sudah sering saya mengalaminya. Hanya saja, lebih seringnya saya tidak sempat menuliskannya. Dan kini, karena saya sedang online, maka saya sempatkan diri untuk menuliskan kejadian yang luar biasa itu.

Begini ceritanya. Seperti biasa, ketika jam mengajar dan tanggung jawab lain di sekolah dirasa sudah selesai saya kerjakan, saya memutuskan untuk pulang. Tentu saja, masih seperti yang saya ceritakan di sini, saya masih naik sepeda motor. Sekedar mengingatkan, jarak yang harus saya tempuh sekitar 25 km. Matahari masih sangat menyengat sehingga aspal jalanpun terasa sangat panas (untung saya sudah membeli lagi sarung tangan baru sehingga punggung tangan saya tetap putih :D).

Di tengah perjalanan, tak ada kejadian yang tidak diharapkan. Tidak ada pengendara yang menyalip ugal-ugalan. Juga tidak ada orang yang menyeberang jalan sembarangan. Segalanya berjalan tertib dan teratur (andai tertib dan teratur telah menjadi sifat manusian Indonesia, pasti negeri ini sangat nyaman untuk ditinggali). Seperempat perjalanan, setengah perjalanan, tiga perempat perjalanan, hingga akhirnya tinggal beberapa meter lagi saya sampai di rumah. Tak ada kejadian yang tak diharapkan.

Nyanyian dalam kepala saya semakin keras mengingat sebentar lagi akan berjumpa dengan buah hati yang sekecut apapun tetap saya ciumi (ya iyalah namanya juga anak sendiri, masih bayi lagi :D), ketika tiba-tiba 'dor', ban belakang motor saya bocor. Sedikit oleng, saya memelankan laju sepeda motor. Lalu berhenti sejenak untuk memeriksa apakah benar ban motor saya yang bocor. Memang benar, ban belakang saya sudah tidak berdaya. Dia tak lagi segagah ketika berangkat pagi harinya. Kini dia tampak lesu, lemah, dan tak bergairah. Diajak bercandapun dia tak menanggapi. Duh, kasihan sekali...

Karena iba dengan keadaannya, saya memutuskan untuk tidak menunggangi sepeda motor lagi meskipun tinggal beberapa tarikan gas lagi saya akan sampai rumah. Tunggangan saya itu saya tuntun dengan mesra, meski sedikit terpaksa. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dst... hingga akhirnya saya pun sampai di rumah bermandikan peluh, dan bertemankan pegal. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir manis saya :D. Tak ada keluhan, tak ada pula umpatan.

"Lho, bagian mana yang luar biasa, katanya kejadian luar biasa?" demikian mungkin Anda bertanya. Saya memang sengaja tidak menunjukkan bagian mana yang menurut saya luar biasa. Saya ingin Anda yang menebak.

Lanjut...

Menciptakan Kebahagiaan

Siapa sih di dunia ini yang tidak ingin hidup bahagia? Saya yakin tidak ada satu orang pun yang akan mengacungkan jarinya jika pertanyaan itu diajukan pada mereka. Sebab memang tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mengharapkan hidup dalam kesengsaraan. Bahkan seorang sufi pun tidak pernah menginginkan menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan. Mungkin mereka hidup dalam kepapaan. Tapi meski dalam keadaan seperti itu mereka tetap mengejar kebahagiaan. Hanya saja kebahagiaan yang mereka kejar memang beda dari yang dikejar oleh orang awam seperti kita.

Meski semua orang ingin hidup bahagia, toh kenyataan yang terjadi di dunia ini sering kali tidak sama seperti yang diimpikan. Seringkali kita justru hidup dalam penderitaan. Seringkali yang kita ingini tidak terwujud. Seringkali pula usaha yang kita lakukan untuk mencapai kebahagiaan tidak membawa kita pada keadaan yang kita tuju. Dan tentu saja itu bukan dunia hayal. Hal yang semacam itu memang bisa terjadi dan memang sering terjadi.

Nah, yang menjadi masalah bagi kita bukanlah tidak terwujudnya impian kita. Yang justru menyakiti kita dan seringkali membuat kita terpuruk justru adalah sikap negatif kita menghadapi kegagalan. Sikap inilah yang memperparah dan menyakiti kita. Misalnya, saat kita ingin tulisan kita dimuat di surat kabar dan kenyataannya tulisan kita dianggap belum memenuhi kriteria untuk dimuat, ada sebagian kita yang tidak terpengaruh oleh kenyataan itu. Mereka tetap terus rajin menulis. Kegagalan untuk dimuat tidak menjadikan mereka patah arang. Akan tetapi, bagi beberapa orang lainnya, kegagalan semacam itu bisa benar-benar membuat mereka berhenti menulis. Mereka tidak menganggap kegagalan yang mereka alami sebagai sesuatu yang lumrah dan biasa terjadi. Mereka menyakiti diri mereka sendiri, mungkin dengan mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa memang mereka tak memiliki bakat menulis sehingga sampai kapanpun mereka mencoba mengirimkan artikel, tidak akan ada satupun tulisan mereka yang akan dimuat di surat kabar.

Di antara dua orang di atas, tentu bisa dilihat siapa yang menjalani hidup bahagia dan yang mengalami penderitaan hidup. Meskipun sama-sama gagal, orang pertama tetap bahagia. Mereka tidak menganggap kegagalannya sebagai akhir dari segala-galanya. Mereka tetap hidup dengan optimis. Sementara itu, riwayat orang kedua sudah tamat saat kegagalan menjemput mereka karena mereka memang berpikir bahwa dengan kegagalan itu mereka sudah tamat.

Lanjut...

Ngebut Demi Negara

Mungkin Anda sekalian mengira saya akan menulis tentang Doni Tata, atau Dani Pedrosa, atau bahkan Valentino Rossi. Tidak, saya tidak akan menulis tentang mereka karena semua orang sudah tahu bahwa orang-orang itu adalah pembalap yang kerjanya ngebut dan dengan ngebutnya itu mereka bisa mengharumkan nama bangsa dan negara. Karena itulah, mereka sudah tidak perlu lagi diceritakan. Semua orang sudah tahu. Anda juga kan?

Tapi, bukan hanya para pembalap MotoGP saja yang bisa ngebut demi bangsa dan negara? Ternyata, saya juga bisa melakukan itu. Dan lebih dari Rossi dan kawan-kawannya yang hanya ngebut sewaktu-waktu, saya hampir setiap hari ngebut demi negara :p

Begini ceritanya. Hari-hari ini saya ngajar di sebuah sekolah SSN. Bukan Sekolah Standar Nasional, tapi Sekolah Sangat Ndeso. Letak sekolah ini cukup jauh dari tempat tinggal saya. Dengan naik sepeda motor berkecepatan sedang, perjalanan bisa ditempuh kira-kira 45 menit sampai satu jam.

Tiap hari saya harus menempuh perjalanan dengan medan yang cukup berat itu. Sementara, di rumah saya juga sering kali harus menyelesaikan pekerjaan freelance yang biasanya saya kerjakan mulai dini hari. Di sinilah persoalannya mengemuka. Pekerjaan freelance saya itu seringkali mampu membius dan menceburkan saya ke rimba kata-kata (Mbak Ririe, pinjam kata-katanya ya?). Rasanya tanggung jika harus memutus keasyikan bergelut dengan kata-kata saat pekerjaan belum sempurna. Karena, seringkali kata-kata itu sulit untuk terlintas lagi jika sudah terputus oleh hal lain.

Demi agar tidak merasa tanggung, saya pun biasanya memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu sebelum berangkat mengajar. Nah, inilah penyebab tindakan patriotisme saya. Keputusan untuk menyempurnakan pekerjaan itu membuat saya tidak menyadari bahwa jarum jam sudah melewati angka yang seharusnya. Dan ketika menoleh ke pojok kanan bawah komputer, baru lah saya sadar bahwa waktu sudah sangat muepet.

Saking mepetnya, tidak ada cara lain agar tidak terlambat sampai sekolah, kecuali NGEBUT. Maka, seperti itulah yang saya lakukan hampir setiap hari: Ngebut pagi-pagi di medan yang cukup berat demi agar tidak terlambat sampai sekolah dan bisa memberi pelajaran tepat waktu. Nah, bukankah ngebut saya ini adalah demi Bangsa dan Negara :D (Narsis mode: ON)?

Lanjut...

Loving The Unexpected

Hari-hari ini pencari hikmah sedang dihadapkan pada pekerjaan yang tak
diharapkan seperti ketika dulu dia memutuskan untuk mengambil
pekerjaan itu. Agar Anda semua penasaran, saya tidak akan menjelaskan
pekerjaan yang saya maksud. Yang jelas, bayangannya dulu mengenai
pekerjaan itu sangat ideal. Sedikit bocoran, dulu si pencari hikmah
membayangkan bahwa dengan mengambil pekerjaan itu dia akan bisa
membantu kolega-kolega seprofesi untuk lebih profesional dalam
bekerja. Kenyataannya, kini dia, mungkin karena terlalu dipercaya oleh
para koleganya, justru tidak memiliki waktu untuk meningkatkan
profesionalismenya sendiri. Coba Anda bayangkan, bahkan untuk
meningkatkan profesionalismenya sendiri saja tak ada waktu, apalagi
membantu orang lain agar lebih profesional. Kenapa bisa demikian?
Baiklah, itu semua karena dia 'terpaksa' mengerjakan pekerjaan yang
sebenarnya bukan bidangnya. Akan tetapi, jika dia tak mengambil
pekerjaan itu maka akan banyak yang menjadi korban. Karena itu,
meskipun awalnya dia mengerjakan pekerjaan ini setengah hati, demi
kepentingan orang banyak diapun rela mengerjakan yang kurang
disukainya itu.
Tentu saja, bekerja setengah hati akan memberi hasil yang
setengah-setengah. Untuk itu, dia bertekad dalam hati untuk mulai
menjalankan tugasnya itu dengan penuh cinta. Dan, untuk tujuan
memotivasi diri, pencari hikmah pun membuat motto baru untuk hidupnya:
I LOVE TROUBLE, I LOVE THE UNEXPECTED.
Cheers!!!

Lanjut...

Maaf

Para pengunjung sekalian, baik yang sengaja datang maupun yang
'kesasar' sampai di blog ini, saya, pencari hikmah, dengan ini memohon
maaf setulus-tulusnya jika yang Anda dapati di blog ini hanyalah
postingan-postingan jadul alias kadaluarsa. Banyak alasan yang bisa
saya sampaikan. Tapi, ijinkan saya jujur bahwa tak diupdatenya blog
ini adalah karena ghirah ngeblog saya belum tumbuh lagi. Mohon
dimaklumi. Tapi saya berjanji bahwa suatu saat blog ini akan kembali
saya urus dan sering saya update. Sekian.

Terima kasih,
PC

Lanjut...

Calon Penghuni Surga

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa salah satu calon penghuni surga adalah ‘dua orang manusia yang bertemu dan berpisah karena Allah’. Saya yakin Anda semua pernah membaca atau mendengar ini. Karena itu, saya ingin bercerita sedikit mengenai pemahaman baru saya terhadap hadits ini yang mungkin saja berbeda dari pemahaman Anda selama ini.

Sebelumnya, yang perlu digarisbawahi dari pernyataan di atas adalah frasa ‘bertemu dan berpisah karena Allah’. Tentu saja kata ‘bertemu’ dan 'berpisah’ di sini tidak digunakan secara denotatif yang berarti ‘bersama dan berjauh-jauhan secara fisik’. Kenapa demikian? Karena, jika makna ini yang dimaksudkan oleh dua kata tersebut, maka akan menunjukkan betapa mudahnya untuk mendapat predikat sebagai calon penghuni surga. Padahal, dalam konteks keagamaan, mencapai surga merupakan salah satu pencapaian tertinggi manusia yang tentu saja hanya bisa diraih dengan usaha yang berat. Seperti halnya untuk bisa menjadi pintar seseorang harus giat belajar, atau sebagaimana untuk jadi kaya seseorang harus kerja keras, untuk menjadi calon penghuni surga seseorang juga harus berjuang keras.

Berdasarkan alasan di atas, saya berkesimpulan bahwa kata ‘bertemu’ di sini mengandung makna konotatif ‘saling mencintai’ sedangkan ‘berpisah’ memuat arti ‘saling melepaskan’. Kedua makna konotatif ini jelas-jelas lebih sesuai dengan kriteria calon penghuni surga karena keduanya sama-sama berat untuk dilakukan. Nyatanya, tidaklah mudah untuk mencintai seseorang karena Allah. Demikian juga sangat sulit untuk berpisah dari seseorang yang dicintai karena Allah.

Selain itu, yang juga perlu dijelaskan dari pernyataan di atas adalah frasa ‘dua orang manusia’. In my humble opinion, frasa tersebut tidak mengacu semata-mata pada dua orang dengan jenis kelamin berbeda alias laki-laki dan perempuan, atau cowok dan cewek. Frasa ini juga bisa mengacu pada dua orang berjenis kelamin sama yang saling mencintai dan saling melepaskan dalam konteks persahabatan atau persaudaraan. Contoh mudahnya adalah persaudaraan yang terjalin antara sahabat muhajirin dan anshor pada masa Rasulullah. Namun demikian, dalam catatan ini saya hanya akan mengulas aplikasi pernyataan di atas dalam konteks hubungan antara laki-laki dan perempuan alias konteks percintaan.

Nah, bagaimanakah implementasi pernyataan tersebut dalam konteks percintaan? Bagaimanakah ‘saling mencintai dan saling melepaskan karena Allah’ ini berlaku dalam hubungan romantis yang melibatkan perasaan cinta? Lebih terperinci lagi, bagaimanakah dua orang (laki-laki dan perempuan) bisa saling mencintai karena Allah dan juga saling melepaskan karena Dia?

Tentu saja tidak mudah untuk menjelaskan jenis percintaan dan perpisahan yang didasari oleh dorongan penghambaan pada sang Khaliq. Saya yakin psikolog berpengalaman pun akan kesulitan membedakan percintaan dan perpisahan yang didorong oleh keikhlasan dan yang dilandasi oleh hal lainnya. Karenanya, saya yakin apa yang akan saya utarakan ini pasti akan memicu pro kontra dan saat menulis ini saya sudah siap menghadapi dan menerima ketidaksetujuan Anda asal disampaikan dengan cara yang baik dan tentu saja dilandasi alasan yang masuk akal nan logis.

Bagi saya, percintaan karena Allah adalah setiap hubungan percintaan yang didasari oleh niat baik dan yang memiliki tujuan baik. Di sini saya menggunakan istilah niat baik dan tujuan baik dengan pemahaman bahwa niat dan tujuan tersebut memenuhi kriteria sebagai niat dan tujuan yang diridhoi Allah. Keduanya (niat dan tujuan) harus ada dan menjadi dasar hubungan percintaan di antara dua insan.

Konkretnya, menurut hemat saya percintaan yang dilandasi oleh niat baik adalah percintaan yang diniati untuk saling mengenal dan menyesuaikan watak pasangan. Sementara itu, tujuan yang baik dari hubungan semacam itu adalah untuk membina rumah tangga melalui pintu pernikahan. Bisa dilihat di sini bahwa keduanya harus selalu ada dan saling melengkapi. Niat atau tujuan baik saja tidaklah cukup. Niat untuk mengenal watak pasangan saja tidaklah memadahi jika tidak dilengkapi dengan tujuan untuk menikah. Begitu pula tujuan untuk menikah saja tidaklah cukup tanpa adanya niat untuk saling mengenal dan menyesuikan watak pasangan.

Sampai di sini, bagi Anda yang saat ini sedang dalam masa ‘berpacaran’ coba dech tengok ke dalam lubuk sanubari Anda. Korek-koreklah nurani Anda untuk mencari tahu apakah hubungan yang selama ini Anda bina dengan pasangan Anda sudah didasari oleh niat dan tujuan yang baik setidaknya seperti yang sudah saya tuliskan di atas. Jika niat dan tujuan semacam itu telah mendasari hubungan Anda, jaga dan sterilkanlah keduanya. Jangan biarkan niat-niat ‘jahat’ menyusup dan mempengaruhi pikiran Anda sehingga membelokkan niat baik Anda. Sebaliknya jika ternyata selama ini niat dan tujuan Anda tidaklah mulia, mulai sekarang luruskanlah niat Anda. Buanglah jauh-jauh pikiran nista dari kepala Anda.

Dalam konteks ini ada satu pepatah lama yang menurut saya relevan: tanamlah padi dan perhatikanlah rumput pasti akan ikut tumbuh. Tanamlah rumput, dan awasi tidak ada padi yang ikut tumbuh. Maka, landasilah percintaan Anda dengan niat dan tujuan baik, karena saat niat dan tujuan Anda baik pun, hal-hal yang tidak baik pasti akan ikut mewarnai hubungan Anda. Sebaliknya, jika Anda sudah melandasi hubungan percintaan Anda dengan niat tak baik, jangan harap hal-hal baik akan mewarnai hubungan Anda.

Selanjutnya, apakah yang dimaksud dengan saling melepaskan karena Allah? Masih dalam konteks hubungan percintaan, secara sederhana frasa ini bisa dijelaskan demikian: secara sadar memutuskan dan mengakhiri hubungan romantisme di antara dua pasangan saat keduanya masih saling mencintai dengan pertimbangan demi kebaikan bersama. Bentuk dari 'kebaikan bersama' dalam konteks ini bisa bermacam-macam. Bisa jadi setelah berusaha saling mengenal dan berusaha menyesuikan watak, keduanya sama-sama merasa mendapati ketidakcocokan watak yang terlalu jauh yang jika dipaksakan untuk dilanjut ke jenjang pernikahan justru akan membahayakan kelanggengan pernikahan itu sendiri. Mungkin juga perpisahan itu disebabkan oleh faktor eksternal semisal tiadanya restu dari orang tua sehingga jika hubungan itu dilanjutkan akan menyakiti perasaan mereka. Nah, saat sepasang kekasih memutuskan untuk berpisah dengan alasan-alasan seperti ini, saat itulah mereka sedang mempraktikkan ‘saling melepaskan karena Allah ‘.

Hanya saja, terkait dengan restu orang tua ada beberapa hal yang harus dicatat. Jika alasan orang tua tidak merestui pernikahan tersebut sesuai dengan syariah semisal calon pasangan si anak terbukti sebagai orang munafik atau kafir atau musyrik, maka si anak yang menolak mengakhiri hubungan percintaan tersebut masuk ke dalam kategori anak durhaka. Namun, jika alasan orang tua tidak dibenarkan oleh syariah, misalnya, karena calon suami atau istri dari si anak berasal dari keluarga yang derajat sosialnya lebih rendah dari derajat sosial mereka sehingga mereka merasa malu jika mendapat menantu dari kalangan tersebut, maka si anak yang menolak untuk mengakhiri hubungannya dengan sang pasangan tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori anak durhaka. Justru, jika dengan alasan seperti itu orang tua tetap memaksa anaknya untuk mengakhiri hubungan percintaannya dengan sang pasangan, maka mereka sendirilah yang mendapat predikat orang tua durhaka.

Nah, bagi Anda yang merasa pernah mengakhiri hubungan dengan seseorang, ingat-ingatlah apa alasan yang mendasari keputusan Anda itu. Jika alasan Anda memang demi kebaikan bersama, maka menurut saya Anda patut mendapatkan predikat calon penghuni surga. Namun, jika ternyata Anda memiliki alasan lain, maka saya tidak tahu harus menyebut Anda apa.

Akhir kata, ternyata percintaan pun bisa mengantarkan kita menjadi calon penghuni surga. Cukup luruskan niat dan tujuan Anda saat membina hubungan dengan seseorang. Dan jika Anda harus mengakhiri hubungan itu, landasilah perpisahan Anda dengan alasan demi kebaikan.

Lanjut...

Avatar di Rumah Kami

Jika Anda termasuk penggemar film animasi dan gemar menontonnya di televisi, saya yakin nama Aang tidaklah asing di telinga Anda. Benar, Aang adalah salah satu nama tokoh dalam serial animasi Avatar yang di putar tiap hari minggu pagi di salah satu televisi swasta. Dan jika Anda benar-benar penggemar serial ini, Anda tentu sudah paham bahwa Aang adalah sang Avatar ke sekian yang digadang-gadang akan dilahirkan di dunia untuk membawa kedamaian bagi seluruh umat manusia.

Nah, bagi Anda yang kurang begitu menyukai serial animasi ini, ijinkan saya memberi sedikit penjelasan pengantar. Di dalam serial ini, digambarkan bahwa pada awalnya dunia diliputi oleh kedamaian meskipun terdapat empat kerajaan berbeda yakni kerajaan air, kerajaan api, kerajaan udara, dan kerajaan bumi. Masing-masing penguasa keempat kerajaan ini menguasai kemampuan khos. Kerajaan Api memiliki ilmu pengendali api, kerajaan air berkuasa mengendalikan Air, kerajaan udara memiliki kemampuan untuk mengendalikan udara, dan begitu pula kerajaan bumi memiliki kekuatan untuk mengendalikan bumi. Keempat kerajaan tersebut bisa hidup damai karena di masa itu terdapat satu orang yang menguasai ilmu khos dari keempat kerajaan tersebut. Avatar, julukan orang itu, memiliki kemampuan untuk mengendalikan api, air, udara, dan juga bumi. Dengan kemampuannya itu dia menjadi symbol yang menyatukan berbagai kerajaan yang berbeda.

Singkat cerita, bersama perginya sang Avatar, hilang pula kedamaian dunia. Perang antar kerajaan segera dimulai. Di antara keempat kerajaan itu, kerajaan api lah yang memulai perang dan berhasil menjadi kerajaan terkuat. Seolah sudah menjadi kodrat alam, yang terkuat selalu berusaha mendominasi. Tak ayal, dengan ambisi menjadi penguasa dari segala kerajaan, kerajaan api terus menerus memerangi kerajaan lain.

Pada saat itulah, muncul seorang anak kecil bernama Aang yang terlahir dari kerajaan udara. Dialah yang diramalkan menjadi Avatar berikutnya. Dengan bantuan teman-temannya yang berasal dari tiga kerajaan lainnya, Aang pun mulai mempelajari ilmu pengendali api, air, dan bumi. Tentu saja kemunculan Aang sang Avatar menjadi berita tak menyenangkan bagi kerajaan api. Jika Aang benar-benar menjadi Avatar maka ambisi kerajaan api untuk menguasai dunia pun di ambang bahaya. Maka, sejak mendengar kemunculan Aang, misi utama kerajaan api adalah untuk menangkap dan memusnahkan Aang.

Well, kira-kira demikianlah alur cerita film Avatar. Dan meski beberapa minggu lalu serial film ini sudah berakhir dengan ending yang sangat memuaskan, di dalam tulisan ini saya tidak akan membahas dan mereview keseluruhan cerita atau pun mengkritisi dan memuji film ini. Di sini saya hanya akan mengait-ngaitkan fenomena Avatar dengan kehidupan nyata dan kehidupan saya.

Nah, jika dikaitkan dengan dunia nyata, tentu saja Avatar hanyalah sebuah simbol yang sengaja diciptakan untuk mengkasatmatakan kekuatan tak kasat mata yang bisa mendamaikan dunia. Di wilayah keagamaan, Avatar mungkin bisa disamakan dengan juru selamat. Sementara itu, dalam dunia pewayangan, Avatar bisa jadi sejajar dengan tokoh Semar. Intinya, Avatar, Juru Selamat, ataupun Semar adalah wujud yang tercipta dari pengakuan manusia akan kekuatan supranatural yang bisa menjaga umat manusia dalam kehidupan yang teratur dan beraturan sehingga melahirkan kedamaian.

Dalam konteks yang lebih sempit, dalam hal ini keluarga saya, Avatar hanya berwujud manusia biasa yang bisa dilihat dan disentuh. Meskipun dalam wujud yang demikian, Avatar di rumah saya ini menguasai ilmu pengendali api, air, bumi, dan udara. Dengan penguasaan keempat elemen dunia ini, dia benar-benar bisa membawa ketenangan dan kedamaian.

Sampai di sini apakah Anda sekalian bisa menebak siapakah sang Avatar yang telah membawa ketenangan di rumah saya itu? Dan, apakah Anda tahu bagaimana dia mempraktikkan kemampuannya mengendalikan api, air, bumi, dan udara?

Baiklah, tidak perlu berpanjang lebar, sosok yang saya maksudkan adalah kakak ipar saya, istri kakak saya. Sekedar informasi, saya memiliki tiga saudara, dua kakak dan satu adik. Kebetulan, kami berempat berjenis kelamin laki-laki. Plus seorang ayah, rumah kami benar-benar diisi oleh para pria. Seperti yang bisa Anda tebak, rumah kami terasa kurang lengkap. Anda tentu tahu bahwa kurang lengkapnya hidup keluarga kami itu disebabkan oleh tiadanya sosok perempuan. Maka, meskipun secara otomatis kami berempat dituntut untuk mandiri sejak kecil, kehadiran sosok perempuan di keluarga kami merupakan hal yang kami semua tunggu-tunggu.

Dan saat yang kami nanti-nantikan itupun benar-benar datang saat kakak tertua saya menikah. Kehadiran kakak ipar pertama saya ini sungguh mengubah secara drastis hidup keluarga kami. Keluarga yang dulunya terasa kering kini menjadi begitu nyaman ditinggali. Ya, kakak ipar pertama saya ini benar-benar bisa menjadi Avatar pertama di rumah kami. Dia begitu lihai mengendalikan bumi, udara, air, dan api sehingga ketentraman bisa kami rasakan. Mungkin Anda bertanya bagaimana cara kakak ipar saya mempraktikkan keempat ilmu pengendali. Nah, biar Anda semua tidak penasaran, beginilah caranya menjadi Avatar di rumah kami.

Dia mengendalikan bumi dengan cara menata, merawat, dan membersihkan lantai dan sekeliling rumah kami. Kakak ipar saya lah yang menjadikan rumah kami nyaman ditinggali dengan senantiasa membuat lingkungan begitu asri. Trus, dia mengendalikan udara dengan cara menata rumah seisinya. Dialah yang selain membersihkan rumah juga menata perabot dan kawan-kawannya dengan lihai sehingga rumah kami yang sebetulnya sempit menjadi begitu lega. Nah, saat berurusan dengan kebutuhan sehari-hari seperti makanan, minuman, dan kebersihan, kakak ipar saya harus menggunakan ilmu pengendali air dan api. Ya, untuk memasak dia harus bisa mengendalikan air dan api.

Itulah Avatar di rumah kami. Dan seperti Avatar yang mau tidak mau harus digantikan oleh Avatar berikutnya, saat kakak ipar pertama saya harus pergi meninggalkan rumah kami untuk membina keluarga sendiri, datanglah kakak ipar saya selanjutnya. Layaknya Aang yang harus melanjutkan tugas Avatar sebelumnya, kakak ipar saya yang kedua pun melanjutkan tugas kakak ipar pertama untuk menentramkan rumah kami. Pertanyaannya, bagaimanakah dengan keluarga Anda? Adakah sosok Avatar yang menjadi penentram di rumah Anda?

Lanjut...