25 Juni 2008

Sandal, Sandal, dan Sandal

Pernah punya sandal yang Anda sayangi dan tiba-tiba hilang entah ke mana? Pernah? Seperti semua orang pernah mengalami hal yang satu ini. Meski dalam tingkatan rasa sayang yang berbeda-beda, sepertinya semua orang pernah menyayangi sesuatu yang menjadi miliknya. Dan menurut saya sandal adalah barang yang tampaknya paling mungkin untuk disayangi oleh semua orang. Lebih dari itu, barang yang satu ini juga paling rawan hilang. Kenapa? Ya jelas lah, masak ya Jelas dong! Ya jelas karena tidak seperti barang lainnya yang bisa selalu kita kenakan atau kita bawa atau juga kita simpan, di beberapa tempat barang yang bernama sandal ini harus kita lepaskan dari kaki kita tak peduli betapa sayangnya kita padanya. Misalnya saja saat Anda harus ke masjid, mau tidak mau tentu sandal tidak bisa Anda pakai. Ia harus rela kita tinggal di depan masjid. Dan, karena memang di sinilah sandal harus di lepas, maka otomatis salah satu tempat di mana sandal sering hilang adalah di masjid.

Adapun saya, saya pernah beberapa kali kehilangan sandal kesayangan. Kadang sandal yang saya sayangi itu harganya mahal. Kadang juga si sandal tidak terlalu mahal tapi bentuk dan enak di pakai di kaki. Entah itu mahal maupun hanya karena pas di kaki, yang namanya sandal kesayangan jika hilang maka kita akan merasa kehilangan. Begitu pula dengan saya, meski saya sadar sesadar-sadarnya bahwa sandal hilang adalah hal biasa, dan bahwa harga sandal tidak terlalu mahal sehingga kita bisa dengan mudah mencari pengganti, saat sandal kesayangan saya hilang saya betul-betul merasakan kepahitan. Ada rasa sesak di dada.

Well, di antara momen-momen hilangnya sandal saya itu, saya masih ingat dua kejadian di antaranya. Yang pertama terjadi di Yogyakarta. Sedangkan yang kedua terjadi di Cirebon. Meski tempat terjadinya kedua kehilangan saya itu sangat jauh terpisah jarak, dan beda provinsi, namun ada kesamaan yang melatarbelakangi kepergian saya ke kedua tempat itu. Yakni, acara keagamaan.

Kejadian pertama yang di Yogyakarta terjadi saat saya masih berusia remaja. Kalau tidak salah saat itu berusia sekitar 12 atau 14 tahun. Saya pergi ke Yogya bersama keluarga saya untuk Piknik. Hampir semua tempat pariwisata di Yogya dan sekitarnya waktu itu kami kunjungi dengan penuh suka cita. Maklum, masih kecil dan pergi jauh ke luar kota bukan sesuatu yang bisa saya lakukan di hari-hari biasa. Hanya pada saat-saat istimewa saja yang bisa pergi keluar kota dan bersama keluarga lagi.

Nah, pada saat tiba gilirannya piknik di Kebun Binatang Gembiro Loka, kebetulan waktunya pas siang hari dan waktu sholat dzuhur pun tiba. Entah apa yang mendorong hati saya waktu itu, panggilan sholat di sebuah  musholla benar-benar telah menarik keinginan saya untuk sholat. Saya bahkan tidak mengajak satu orang kerabatpun untuk ikut sholat bersama saya. Maka, setelah wudlu saya langsung masuk ke musholla dengan tanpa ada pikiran apapun. Dan saat saya telah selesai sholat dan hendak berkumpul lagi bersama kerabat, oh no! sandal saya yang tadi saya tinggalkan dengan pedenya tidak ada lagi di tempat semula.

Saya yakin seyakin-yakinnya sandal saya bukan sandal ajaib. Karena itu tidak mungkin dia jalan-jalan sendiri saat saya sedang sholat. Saya juga yakin bahwa tadi tidak ada satu orang kerabat pun yang bersama saya ke musholla itu. Jadi, tidak mungkin si sandal di sembunyikan untuk menggoda. Maka, dengan hati agak kecewa (ya gimana nggak kecewa wong kehilangan kok) saya berusaha mencari-cari si sandal di semua sudut musholla. Setelah semua sudut saya telusuri dan si sandal tidak juga kelihatan batang hidungnya, maka saya ambil kesimpulan bahwa si sandal sudah diambil orang. Dengan dipaksa-paksakan, saya harus mengingat ajaran guru ngaji dulu bahwa sesuatu yang lepas dari kita tidak lah benar-benar hilang, hanya sedang diperlukan orang. Dalil inilah yang saya pakai saat kerabat-kerabat saya menanyakan ha ihwal sandal saya. Saat mereka bertanya “Sandalmu Ilang yo?” Dengan lantang saya menjawab “Tidak hilang, cuma sedang dipinjam. Pasti akan diganti.”

Yang kedua terjadi beberapa waktu lalu di Cirebon saat saya ikut ziarah wali songo. Saat hendak ke makam sunan gunung jadi, saya (sebetulnya bukan hanya saya saja, akan tetapi semua peziarah) harus melepaskan alas kaki. Kali ini dengan sangat pede saya juga meninggalkan sandal kesayangan tanpa ada rasa curiga atau firasat akan terjadinya kehilangan. Dengan khusyuknya saya bisa mengikuti ziarah di tempat itu. Dan saat hendak kembali ke bis, lagi-lagi si sandal telah tidak tampak batang hidungnya. Saya cari ke sana kemari, siapa tahu hanya posisinya yang berubah, tapi tak juga saya temukan. Maka, saya simpulkan sandal saya yang satu inipun telah tidak menjadi milik saya lagi. Dengan perasaan masgul yang ditahan-tahan saya kembali ke bis. Saat berjalan ke bis itulah tercetus satu pikiran di benak saya: pasti kejadian ini mengandung pesan khusus untuk saya, buktinya sebegitu banyak orang, dan dengan sandal yang lebih bagus dari milik saya, hanya saya seorang yang kehilangan sandal. Entah apa pesan dari kehilangan saya ini. Tapi saya yakin pasti ada.

Begitulah, sandal saya kini telah berubah. Sekembali dari ziarah, saya memutuskan untuk membeli sandal yang lebih bagus dan harganya jauh lebih mahal. Ya, setidaknya agar saya tidak lagi menyesali kehilangan itu. Dengan sandal yang lebih bagus saya berharap justru bisa mensyukuri hilangnya si sandal.

 

2 komentar:

  1. mungkin jodohnya sama sendal yang lama emang sgitu umurnya...
    musti ganti sendal baru lagi deh
    :)

    BalasHapus
  2. Setuju kak ~tc~. Pasti sendal yang ilang itu sudah nggak jodoh lagi. Tapi, kalau boleh memilih, seperti halnya jodoh kita yang berbentuk manusia :) saya juga berharap jodoh pada hal-hal yang saya sayangi bisa berlangsung selamanya. Tapi, kayaknya gak mungkin ya... :)

    BalasHapus

Informasi Pilihan Identitas:
Google/Blogger : Khusus yang punya Account Blogger.
Lainnya : Jika tidak punya account blogger namun punya alamat Blog atau Website.
Anonim : Jika tidak ingin mempublikasikan profile anda (tidak disarankan).