02 Mei 2008

Sekolah oh Sekolah

Kali ini saya tidak akan berbasa-basi. Jadi, langsung saja.

Tidak terlalu salah kalau dikatakan bahwa saat ini sekolah hanya mencetak manusia yang maju berpikirnya akan tetapi kurang begitu lihai dalam urusan bertindak dan kasih sayang. Tentu anda masih ingat bahwa akhir-akhir ini telah terjadi banyak kasus tawuran antar pelajar. Jika bukan karena cewek, tawuran semacam itu pasti terjadi karena ada adu gengsi.

Mungkin salah satu siswa dari suatu sekolah pernah diperlakukan kurang menyenangkan oleh siswa sekolah lain. Kemudian siswa yang merasa diperlakukan secara tidak menyenangkan itu melapor ke teman-temannya. Dan bisa dibayangkan mereka secara beramai-ramai akan mulai menyerang para siswa dari sekolah yang telah mereka anggap menginjak-injak harga diri mereka. Dalam penyerangan semacam itu yang menjadi korban adalah semua siswa dari sekolah tersebut termasuk mereka yang sama sekali tidak mengetahui duduk persoalan. Bahkan kalau dihitung, antara mereka yang mengerti persoalan dan mereka yang tidak mengetahuinya jumlahnya amat tidak imbang. Jauh lebih besar yang tidak mengetahui. Akan tetapi tetap saja mereka menjadi korban.

 Bukankah dengan demikian berarti sekolah telah gagal mengemban salah satu tujuannya untuk mencetak warga negara yang berbudi pekerti tinggi? Apa hubungannya sekolah dengan palu? Tentu saja tidak ada. Akan tetapi, karena sekolah memang tidak lagi mampu menjadi tempat di mana seorang anak bisa mengembangkan seluruh kemampuannya termasuk dalam hal emosi dan spiritual, maka yang demikian tentu layak terjadi.

Seandainya sekolah bisa menjalankan perannya secara optimal, tentu harusnya bangsa ini menjadi bangsa besar. Kenapa demikian? Karena saat ini sudah hampir semua anak Indonesia mengenyam pendidikan. Hanya segelintir anak saja yang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah. Sayangnya, mereka yang bisa melanjutkan studi justru semakin rusak budi pekertinya. Mereka semakin tidak bisa memahami arti keberadaannya sebagai manusia. Lalu, apakah artinya mencari sekolah favorit? Apakah hanya mencari jaminan masa depan dengan janji-janji untuk mendapatkan pekerjaan. Kalau demikian, apa bedanyanya antara sekolah dengan lembaga pelatihan? Sangat tidak masuk akal yang demikian terjadi.

 Lalu apa solusinya agar sekolah bisa menjadi tempat untuk membuat siswa memiliki budi pekerti tinggi? Tampak tidak ada solusi lain selain berharap agar kurikulum yang ada benar-benar menekankan pada budi pekerti. Sebab, yang sekarang terjadi, kurikulum kita hanya focus pada pengembangan kognitif sementara sisi afektif sama sekali tak tersentuh. Jika demikian, maka meskipun banyak sekolah unggulan di negeri ini, bangsa ini tetap akan menjadi bangsa brengsek yang tidak tahu mana halal dan mana haram. Dan jika yang demikian terjadi, maka jangan kaget kalau dalam beberapa tahun ke depan bangsa akan segera hancur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Informasi Pilihan Identitas:
Google/Blogger : Khusus yang punya Account Blogger.
Lainnya : Jika tidak punya account blogger namun punya alamat Blog atau Website.
Anonim : Jika tidak ingin mempublikasikan profile anda (tidak disarankan).