12 Maret 2008

Masih Tentang Rhoma Irama dan Saya (mas Andrea ada acara)

Halo-halo-halo, jumpa lagi dengan saya the wisdom seeker (he..he..he.., jujur ini ikutan tetangga sebelah saya. Tapi, bagus juga ya. Oke lah, kalo gitu saya akan menggunakan nama ini sebagai alternative nama Indonesia saya). Dan bersama saya anda tentu akan dibawa menyusuri lorong-lorong gelap untuk menemukan sedikit cahaya (ternyata saya bisa puitis juga ya…). Awas, kalau tidak hati-hati di lorong-lorong ini bukannya dapat cahaya bisa jadi anda malah tersesat.

Baiklah, topik hikmah kali ini masih tidak beranjak jauh dari posting kemarin. Tentang penulis tetralogi Laskar Pelangi? Bukan. Bukan tentang si Ikal. Sekarang ini saya tidak ingin mengganggu ketenangan mas Andrea. Dia lagi banyak job. Jadi, biarlah mas Andrea menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Semoga juga kantongnya makin tebal sehingga mimpinya untuk tinggal di desa tertinggi di dunia bisa segera terwujud. Anda mau kan berdoa untuk dia? Well, kalau demikian pada hitungan ketiga kita ucapkan amin bersama-sama. Satu… dua…tiga… AMIEN!

Nah, kali ini saya akan membicarakan tokoh satunya dari posting kemarin. Siapa lagi kalau bukan Bang Haji Rhoma Irama. Mumpung beliau lagi sepi tontonan dan popularitasnya makin menurun karena usianya yang memang sudah tidak muda serta gara-gara Inul dan mantan istri barunya (betul lho, popularitas Bang Haji mulai redup setelah kasus goyang ngebor Inul Daratista dulu itu dan diperparah sama kasus yang di Indonesia ini masih sangat rawan, POLIGAMI, apalagi yang sembunyi-sembunyi dan terkuak, oleh infotainment lagi). Namun, meskipun demikian, walaupun begitu, however (pilih salah satu saja ya...), bagi saya bang Haji tetaplah seorang idola. Kenapa demikian? Jawaban singkat saya: karena kualitasnya. Maka biar anda tidak penasaran, akan segera saya ulas masalah bang Haji ini setelah jeda baris berikut ini. Jangan ke mana-mana. Tetaplah di tempat duduk anda karena sebentar lagi anda akan melihat sisi lain dari this one and only King of Dangdut.

All right, biar saya mulai. Jujur saja, jika mendengar nama Rhoma Irama apa yang terlintas di benak anda pada satu detik pertama? Dangdut! Masuk akal. Soneta! Sangat bisa diterima. Inul Daratista! Wah yang ini pasti baru kenal sama bang Haji nih. Tapi nggak papa. Yang penting masih ada hubungannya dengan Rhoma Irama. Yang terlintas dalam benak saya juga seperti itu. Dangdut, Soneta, dan, yang ini sebenarnya dipopulerkan bukan oleh bang Haji tapi oleh para penirunya, kata “Terlalu!”. Yang jelas tidak pernah terlintas nama si ratu ngebor, Inul Daratista (I'm so sorry Mbak..)

Itu baru pada satu detik pertama. Kalau saya membiarkan angan-angan saya melayang entah ke mana-mana selama lebih dari semenit maka banyak hal lain yang timbul dalam memori saya saat nama bang Haji disebut. Pacar, Piano, Setan, Siksa Kubur, Tukang Adu Domba, Keluarga Berencana, burung Garuda, Indonesia, Orang Buta, Pengemis, Pengamen, dan banyak lagi yang lainnya. Luar biasa kan? Satu nama bisa memiliki begitu banyak asosiasi. Dalam hal ini anda harus mengakui Bang Haji tidak tertandingi oleh musisi Indonesia lainnya, apalagi oleh musisi dangdut masa kini. (Sori mbak Dewi Perssik. Maaf, mas Syaiful Jamil)

Kalau anda bertanya kenapa bisa demikian. Jawaban saya sangat simple: karya Bang Haji membahas wilayah dan aspek kehidupan yang begitu luas. Lirik-lirik yang dia ciptakan bisa menggambarkan berbagai masalah kehidupan dengan kedalaman pemahaman yang tidak perlu diragukan. Dan, ini yang sangat penting, semua lirik-lirik itu begitu dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dan melegenda. Untuk yang terakhir ini, keberuntungan mungkin memainkan peranan sangat penting. Akan tetapi untuk yang pertama, keberagaman tema serta kedalaman muatan lirik lagu, keberuntungan tidak berlaku. Dibutuhkan seorang berjiwa sekaligus seniman, budayawan, santri, motivator, dan musisi yang benar-benar ulung untuk bisa menghasilkan karya seperti itu. Maka, mendengarkan lagu-lagu bang Haji saya bisa senantiasa melihat sosok yang berbeda. Kadang menjadi santri, kadang budayawan, dan kadang motivator. Adapun jiwa seniman dan musisi bang Haji bisa selalu saya rasakan di tiap dendang lagunya.

Di dalam lagu Istri Solehah, misalnya, jiwa santri bang Haji sedang memegang kendali. Maka perenungan-perenungan religius begitu terasa di tiap liriknya. Saya jamin kalau anda mendengarkan lagu ini secara seksama anda akan sampai pada persetujuan bahwa istri yang akan membuat bahagia tidak harus berparas cantik. Begitupun suami tidak harus berwajah tampan. Yang paling penting adalah baik tidaknya hati. Tentu saja akan baik lagi kalau sudah hatinya baik, parasnya cantik atau tampak, pintar, kaya, dan keturunan orang terpandang. Pokoknya ideal (sekarang ada nggak ya yang seperti ini…?)

Contoh lain, dalam lagu Begadang tampak nyata bahwa bang Haji berjiwa budayawan. Dia bisa memotret fenomena yang terjadi di lingkungannya secara tepat. Dia bisa menggambarkan kebiasaan begadang dan efeknya pada kehidupan pribadi seseorang. Sebutan apalagi yang bisa diberikan pada orang yang bisa melakukan hal semacam itu kalau tidak budayawan.

Nah, oleh bang Haji dua lagu itu bisa dibuat dalam komposisi nada yang begitu enak didengar. Lagu istri sholeha yang terkesan menasehati bisa dengan mudah masuk ke sanubari lantaran musiknya (juga jangan lupa suara penyanyinya yang mendayu-dayu) begitu indahnya terdengar di telinga. Demikian juga begadang. Lagu yang sebenarnya bertema remeh temeh ini bisa menarik hati untuk menyimaknya karena kepiawaian bang haji dalam menyusun nada.

Tentu saja dua contoh belumlah cukup. Tapi biarlah akan saya biarkan anda mencari dan mendengarkan lagu bang haji yang lainnya untuk kemudian menganalisa kualitas apakah yang dominan pada diri bang Haji saat menciptakan lagu tersebut: Budayawan kah, Sastrawan kah, Sufi kah, atau kah-kah yang lainnya.

Akhir kata, dengan kualitas semacam itu apakah saya harus malu mengakui bahwa Bang Haji Rhoma Irama adalah salah satu tokoh idola saya?

3 komentar:

  1. mas pencari hikmah, saya memandang rhoma irama itu ada dua. satu rhoma irama sebagai sosok berdaging, berjenggot, dan (pernah) beristri angel lelga (hahaha... gosssiiiiiip!). satunya lagi adalah rhoma irama sebagai teks, yakni lagu-lagu hasil karyanya (yang waktu saya smp dulu sudah mencapai 500-an judul lebih). kalau rhoma irama secara manusia, well.... saya juga nggak suka. lagian, seingat saya, saya nggak pernah suka spesies langka yang namanya selebritis (hahaha...). tapi, rhoma irama sebagai teks, saya sangat mengaguminya. menurut saya, puncak kebergunaan lagu-lagu dangdut itu ada pada masa-masa "begadang", "judi", "hanya istriiiii sooolikhaaa... (yang adalah ida iasha, :D)", "zulfikar", atau yang semacamnya itu...

    saat ini, lagu-lagu kita (semacam aku cinta kau dan dia, janji di atas inkar, jadikan aku yang kedua) benar-bener berpotensi menanamkan mindset buruk dalam diri manusia indonesia. beruntunglah orang-orang iran yang tidak mengerti bahasa indonesia dan, dus, tidak berkesempatan mendengar racun-racun yang bermelodi indah itu. hmmmm....

    BalasHapus
  2. Assalamu'alaikum duhai para penggemar...

    Hehe.. "Andai yang salam di atas Bang Haji, kedengarannya pasti jauh lebih syahdu ketimbang yang ada dalam kedipan mata kita."

    Itu mungkin hanyalah kiasan sederhana yang mengungkapkan apresiasi mendalam dan tulus terhadap karya-karya Bang Rhoma.

    Terlepas dari sanjung kata Mas Fawisdom, Saya hanya orang dusun yang kebetulan suka berjalan mondar-mandir dikota hampir 10 tahun lamanya. Dalam kemondar-mandiran yang luar biasa, warna-warni hembusan suara telah ikut mondar-mandir dalam fikiran saya. Datang-pergi silih berganti meninggalkan bias silih berganti pula, ada ungu, putih, coklat, ato yang paling lekat ada Mbak Rosa dengan hembusan "Ayat-ayat cintanya".

    Bisa Mas Fawisdom bayangkan apa yang ada dalam benak Sidusun ini setelah mendengar hembusan2 itu?.. Iya benar, Sidusun ini manggut2 dan terhanyut, dan bahkan lupa ato mungkin malu tuk akui kalo dulu Dia juga pernah tergila-gila dengan hembusan merdu nan syahdu Bang Roma.

    Kalo mau jujur, cerita ini akan berbeda jika Sidusun it adalah Bang Roma. Meskipun warna-warni hembusan suara telah mondar-mandir dalam fikirannya, Bang Roma akan tetap tenang dan rela mengakui kalo Dia terhanyut dengan hembusan2itu tapi tidak menjadikannya malu tuk akui kalo Dia telah jatuh hati pada Piano, Begadang, Kiamat, Istri Sholehah, dan seabrek lirik lainnya.

    Intinya apa Mas!!..
    Iya benar, Ditengah-tengah invasi genre musik yang mengombang-ambingkan anak musik bangsa. Bang Rhoma telah berhasil buktikan kalo Dia sosok yang mampu bertahan dalam genre dangdutnya. Bahkan kabar terbaru menyebutkan kalo Bang Roma sudah siap tuk ucapkan "Assalam" pada pendengar di seluruh belahan dunia. Luar biasa bukan?

    Hehe.. Mungkin ini yang tidak sempat mondar-mandir dalam benak Mas Fawisdom!

    I tunggu tarian jemari selanjutnya...

    BalasHapus
  3. @Si Pemimpi:
    terima kasih mas pemimpi. pemisahan antara bang Rhoma sebagai sosok berdaging dan sebagai teks sungguh merupakan kata-kata yang sebelumnya tidak saya temukan. boleh kok mas tidak menyukai bang Rhoma sebagai manausia, tapi "jangan menipu dirimu sendiri dalam menggunakan uang" eh salah, maksud saya jangan sampai teks nya yang benar-benar memiliki makna itu juga tidak mas Pemimpi sukai hanya gara-gara ada musik gendang dan serulingnya alias aliran musiknya dangdut. saluut mas!

    @Speak Up:
    Fawisdom? wah sangat inovatif. saya suka sebutan itu. boleh kan kalau suatu saat nanti saya menggunakannya dalam posting?
    sama mas, saya juga orang dusun yang sudah beberapa lama tinggal di kota. tidak beda pula kalau ungu, coklat, putih, pink, dan Rossa sering mengalun merdu di telinga saya. saya menikmati alunan suara mereka kok. bener! justru karena saya menikmati musik mereka itu tapi tetap saja mereka tidak bisa membuat saya lupa pada Bang Rhoma.
    thanks juga untuk info bang Rhoma mau mengucap salam pada penggemar di seluruh dunia. tapi, benar ya salam yang diucapkan "assalam" bukan "wassalam"....?

    BalasHapus

Informasi Pilihan Identitas:
Google/Blogger : Khusus yang punya Account Blogger.
Lainnya : Jika tidak punya account blogger namun punya alamat Blog atau Website.
Anonim : Jika tidak ingin mempublikasikan profile anda (tidak disarankan).